
"Apa?... seburuk itu aku Dimata mu"ujar Gio.
"Heumm"Alice, hanya berdehem.
"mommy, bilang kalau kamu adalah wanita dingin dan ternyata benar"ujar Gio .
"Kau tahu apa??..."ucap Alice.
"Maaf Nona,ini ada titipan dari tuan, yang ada di sana"ujar seorang pelayan menunjuk ke arah pria, yang sangat ingin ia hindari.
"Maaf, tolong bilang sama tuan yang di sana,saya sedang sibuk"ucap Alice, yang kini langsung berdiri menuju keluar ruangan hendak menuju ke mobil nya, Alice, sedang sangat lelah setelah aktifitas seharian.
Gio, pun mengikuti Alice, saat ini dia tau Alice sedang ada masalah dia tidak ingin Daddy nya menyalahkan dia jika Alice, kenapa-napa .
sesampainya di rumah tersebut, Alice,di ikuti Gio masuk ke dalam rumah tersebut, saat ini Alice langsung memasuki kamar nya, sementara Gio, melihat adiknya Merry, yang sedang giat mengerjakan tugas nya.
"Merry, kamu belum tidur??..."ujar Gio.
"Belum, aku masih mengerjakan tugas,"ucap Merry, yang masih tetap fokus pada laptop nya.
"Alice, tidak punya kekasih??..."ujar Gio.
"dia kakak kita,maka panggil dia kakak"ucap Merry.
Gio, menghela nafas"dia hanya saudara sambung, kita "ucap Gio.
sementara itu Alice, saat ini sedang sangat lapar dia langsung berteriak memanggil pelayan untuk meminta dibuatkan makan malam.
"kamu itu wanita kenapa??... tidak masak sendiri saja, biar saat kau menikah nanti bisa memberikan suamimu makan hasil masakan mu sendiri, seperti Oma"ujar Gio
"kau itu bocah tau apa??..."ucap Alice sinis .
"kenapa?... apa aku salah"ucap Gio.
"jelas sekali salah!!... karena aku tidak akan pernah menikah tanpa mommy di sisi ku"ujar Alice.
"Kak, Gio mau ikut makan gak?.."tanya Merry, yang langsung mendapat anggukan kepala dari pria tampan itu.
"Tentu"ucap nya.
"Tapi ini sudah larut, kalian masih mau makan gak takut gendut apa? ... nanti pacar kalian pada mutusin, hahahaha"ujar Alice, tertawa terbahak-bahak sambil ngebayangin kalo mereka gendut.
"Dasar wanita aneh, yang langsing aja di gantung, bahkan di tinggal nikah sok...so an nasehatin"ujar Gio yang langsung bikin nyesek.
"Dasar pria nggak punya perasaan"ujar Alice, yang langsung pergi, tangis nya pecah dalam diam dia berlari ke kamar nya, entah kenapa, rasanya sangat menyakitkan bila mengingat fakta tentang apa yang di katakan oleh Gio.
Alice, langsung masuk dan menutup pintu kamar nya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dia nangis sesenggukan setelah menutup wajahnya dengan bantal.
di bawah Merry, menatap tajam kearah Gio, yang kini mematung, ternyata Alice, terluka lebih parah dari yang ia bayangkan,rasa bersalah mulai menjalar di hati nya, pria belas Teran Indonesia Taiwan dan Jerman itu terlihat melamun hingga seorang pelayan menghidangkan makanan di meja.
"Tolong siapkan untuk Nona Alice,biar saya antar ke kamar nya"ucap Gio, sementara itu Merry, hanya mesem, karena tidak ada yang bisa membujuk Alice, saat marah kecuali mommy nya dan Daddy Piter.
"Kakak,yakin mau lakukan itu??"ucap Merry.
"Ya kenapa enggak"ujar Gio,sambil mengambil nampan dengan makanan kesukaan Alice di atasnya.
pria itu berjalan menyusuri tangga, saat itu juga sesampainya di depan kamar Alice, Gio, langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena menurutnya akan percuma.
"Alice,ini aku bawakan makan malam mu,ayo di makan dulu, karena untuk bersedih juga butuh tenaga ekstra bukan"ujar Gio,datar.
"Bawa pergi saja, aku tidak lapar"ucap Alice.
__ADS_1
"jangan bohong, tadi kamu yang meminta makanan ini, kasihan para koki sudah menyiapkan nya, kamu tidak menghargai mereka sedikit pun mereka juga manusia Alice"ujar Gio, tanpa jeda.
"Gio, kamu itu manusia atau bukan sih, gak lihat apa??... aku lagi sedih semua gara-gara kamu bukan nya minta maaf ke... atau gimana ini malah kasih ceramah sebel tau"ujar Alice, yang masih terisak tidak memperdulikan pemuda yang kini tersenyum mengejek ke arah nya.
"kalo maaf bisa membuatmu berhenti menangisi takdir dan mengobati lukamu kenapa??... dia tidak meminta maaf kepada mu, saja untuk itu"ujar Gio, yang semakin membuat Alice, menangis lebih kencang saat ini.
"Mending kamu keluar deh pria kejam dari pada terus di sini bikin aku tambah kesal,kau memang tidak pernah merasakan apa yang ku, rasakan kau pria angkuh semoga satu saat nanti kau akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini"ujar Alice dengan kutukan nya.
"Itu tidak akan pernah terjadi, karena aku bukan pria bodoh yang akan tetap bertahan demi cinta yang menyakiti diri sendiri, aku akan mencari pengganti nya yang lebih baik lagi"ucap Gio,sambil menatap Alice, yang telungkup di sana, wajah nya ia benamkan di bantal dan sesekali mengangkat nya, melirik ke arah Gio.
"Makan lah, sebelum kesabaran ku habis, atau kamu mau aku panggil dia kemari, dan memperlihatkan seberapa bodoh nya wanita yang di cintai nya itu"ucap Gio tegas.
"Tidak usah di perintahkan aku bisa makan sendiri, pergi dan jangan datang lagi ke kamar ku, ingat itu" ujar Alice.
"Gio, pun turun dan menghampiri Merry, yang kini tengah menikmati makanan nya, tanpa rasa penasaran ingin melihat keadaan Alice, saat ini Merry, justru tersenyum manis ke arah Gio.
"Kakak, sudah berhasil membujuk kak, Alice"ujarnya datar.
"Gio hanya diam dia langsung duduk dan menyantap makanan yang terhidang sedari tadi beruntung masih hangat.
sementara itu Alice, juga langsung makan malam yang tadi di antar oleh Gio, dia tidak ingin kalo Gio, sampai memanggil Rio, yang sedari tadi mencoba menghubungi Alice, namun tidak di jawab.
setelah selesai makan, mereka langsung menuju kamar masing-masing, begitu juga dengan Gio, yang selama ini memiliki kamar khusus dirinya dengan segitu banyak barang-barang miliknya, mulai dari pakaian, jangan lupa wol-k in closed di kamar Gio yang super wah itu, karena dia akan pulang sesekali kerumah besar itu.
Gio, langsung membersihkan diri setelah sedikit menghabiskan rokok dan segelas wine, yang ia nikmati satu jam lalu.
sementara Alice, sudah terlelap, begitu juga Merry, kedua gadis itu sudah terlelap dalam mimpi nya.
di tempat lain, saat ini tengah terjadi keributan, seorang pria, tengah mabuk berat, dan tidak terkontrol saat dia datang ke rumah yang ditempati oleh wanita yang tak lain adalah istri nya sendiri.
dia mengamuk menghancurkan semua yang ada di hadapannya, sementara sang istri terlihat biasa saja, tanpa menggubris nya, karena ini bukan yang pertama kali .
🌹💖💖💖🌹
Rio, benar-benar merasa sakit hati, karena Alice, sudah benar-benar tidak perduli lagi dengan nya.
padahal Rio,salah paham, Alice, sampai saat ini masih memiliki perasaan pada nya, hanya saja dia masih merasa sakit hati,atas penghianatan yang Rio lakukan terhadap nya.
ke esokan hari nya, Gio, membawa kedua saudara perempuan nya, pulang ke pulau as, saat ini mereka masih dalam perjalanan menggunakan mobil,menuju pulau pribadi itu sungguh sangat melelahkan.
saat di perjalanan, Gio, yang menyetir bergantian dengan kedua saudara nya itu kini meminta, Alice, untuk menggantikan nya, membawa kendaraan tersebut.
Alice pun menurut , Gio langsung mengubah posisi kursi bekas Alice duduk tadi menjadi sedikit rebahan dia pun langsung menempati nya,tak lama suara dengkuran halus itu terdengar, Gio sepertinya kelelahan.
Alice, sejenak menepikan mobilnya, saat ini dia mengambil handphone nya dan memotret dan merekam suasana di dalam mobil, tepat saat mereka tengah tertidur.
"Dua saudara yang cukup kompak"gumam nya lirih, setelah itu dia langsung menyimpan ponsel nya itu kedalam saku celana nya,lalu kembali melajukan mobilnya,sambil memberikan isyarat pada pengawal bayangan yang sedari tadi mengikuti nya.
Alice, tersenyum manis, entah kenapa?...ada rasa bahagia, saat ini dia memiliki keluarga yang selalu menyayangi nya, walaupun dia jelas-jelas tidak memiliki hubungan darah dengan semua nya, cinta tulus mereka lah yang membuat Jason, mempercayakan putri semata wayangnya untuk memilih hidup bersama dengan mereka.
Alice, pun mengemudi kan mobil nya, hingga sampai di pulau as, dia tidak meminta kedua saudara nya, mengganti kan nya, meski saat ini dia benar-benar lelah,satu hari full dia mengemudi menuju pulau As tersebut.
singkatan dari Adryan dan Sania nama mereka abadi di kenang di sana atas kebaikan nya terhadap warga di pulau sebelahnya yang merupakan kampung nelayan, Adryan,membeli semua hasil tangkapan ikan mereka dengan harga yang cukup tinggi sesuai dengan kerja keras mereka, sehingga kehidupan mereka yang tadinya jauh dari kata layak sekarang sudah lebih baik, dan hampir semua warga sana datang saat prosesi pemakaman itu dilangsungkan.
Alice, memarkirkan kendaraan roda empat itu di halaman Mension yang megah itu.
kedatangan nya langsung di sambut oleh Michael dan kedua adik tampan nya, saat ini mereka memeluk erat Alice, dan tak lupa cipika cipiki, seperti biasa, Alice, nyelonong masuk gitu aja tanpa membangun kan kedua saudara nya yang masih tertidur bagi kebo di dalam mobil tersebut, hingga mommy nya, yang membangunkan mereka.
"Apa...? kalian mau tidur terus, setelah seharian penuh, tertidur...di mobil ini dasar tidak berperasaan, kalian biarkan saudara kalian, menyetir sendirian tanpa giliran"ujar Michael, sontak keduanya terbangun.
"maaf momm... aku lelah semalam tidak bisa tidur gara-gara dia merajuk"ujar Gio,sambil menunjuk Alice, yang sudah tidak ada lagi di samping mereka.
__ADS_1
"Owh ya ampun ada apa ??..dengan kakak kalian"tanya Michael, penasaran.
"Biasa momm...si oir..."ujar Gio membalik nama Rio, yang tidak tahu apa-apa, padahal kejadian nya sudah dua hari yang lalu, dan Merry, pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala, ternyata kakak, nya adalah orang licik seperti yang mereka tau sifat ibunya sedikit menurun pada nya.
mereka semua pun, masuk ke dalam Mension, mereka kaget saat melihat Alice, sudah tertidur di sofa dengan posisi kaki terbaik ke atas Michael,sangat tahu kebiasaan putri nya itu saat ini dia membiarkan hal itu karena dia tau alasan Alice, tidur seperti itu.
terlintas bayangan masa kecil anak gadis nya itu.
"Alice, kenapa??... kamu tidur seperti itu na, dan lagi kenapa?.. kakinya harus seperti ini"tanya Michael.
Alice, kecil menjawab"kaki ku pegal mom... aku ingin dia beristirahat dan mengembalikan beban berat yang sudah seharian di topang nya, kasihan mereka"ujar Alice,sambil menunjuk ke arah kedua kakinya.
tawa,itu pun pecah atas tingkah menggemaskan dari putri angkat nya itu.
saat ini dia langsung mengecup kening putri nya yang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, yang hanya berbeda lima belas tahun dengan nya.
"Kau masih seperti yang dulu putri ku, sayang"gumam nya dan langsung menyelimuti tubuh putri nya itu dengan posisi tetap seperti itu, sementara kedua anak nya yang tadi datang bersama dengan Alice, mereka langsung merebahkan diri di sofa tempat di hadapan tempat Alice, tidur saat ini Gio yang memperhatikan wajah Alice, saat tertidur nyenyak seperti itu pun kagum dengan paras cantik kakak angkat nya itu.
diam-diam ia mengabadikan momen langka itu, dengan jepretan kamera, ponsel nya tanpa siapapun yang mengetahui nya.
dia langsung memposting itu di akun Instagram pribadinya, dengan caption, (Punya kakak perempuan sudah tiga puluh tahun usia nya tapi kebiasaan jelek nya baru tahu saat ini 😁).lalu dia langsung menutup kembali ponselnya itu.
Alice, masih dalam posisi yang sama, hingga Gibran meminta Gio, memindahkan tubuh kakak nya itu,ke kamar Alice, meski posisi usia Gio , berbeda sembilan tahun dari Alice, tapi postur tubuh Gio lebih besar dari Alice, dan jangan lupa dengan tubuh yang kekar itu, selain tampan dia juga sangat mengagumkan.
Gio, berjalan menyusuri anak tangga meski di sana terdapat lift yang menuju lantai kamar mereka tapi Gio, tidak ingin menggunakan itu.
sementara itu Alice, tetap tidur nyaman di gendongan Gio saat ini ala bridal style, Gio bergumam dalam hati"Andaikan kau bukan Kakak,ku sudah pasti aku akan menjadikan mu, sebagai kekasih ku, dan mungkin akan ku jadikan istri tidak akan ku sia-sia kan, kamu wanita cantik dengan sejuta pesona"ujarnya.
sesampainya di dalam kamar tersebut, Gio, meletakkan tubuh Alice,di atas ranjang, setelah itu menyelimuti nya hingga dada lalu mengelus puncak kepala Alice,sambil berkata"semoga kamu menemukan bahagia mu,satu hari nanti.
Gio.. langsung bergegas pergi ke luar kamar Alice, menutup pintu itu perlahan.
pemuda berusia 21tahun itu kini hanya bisa berharap suatu hari nanti, Alice, akan menemukan bahagia nya, meski rasa cinta nya terhadap Alice, harus tetap menjadi rahasia nya.
Alice tidur hingga larut malam, setelah terbangun dari tidurnya, Alice, langsung membersihkan tubuh nya yang terasa lengket, dia baru menyadari itu setelah habis mandi, dia berpikir siapa yang memindahkan nya dari bawah ke atas.
tapi beberapa detik kemudian, Alice, menepis pikiran nya, lagi pula selama ini tidak pernah ada yang memangku tubuh nya kecuali Piter dan Jason, mungkin kah itu Gibran, karena tidak mungkin pria dingin seperti Gio,mau melakukan nya, tapi kemudian Alice, kembali menepis nya.
dia turun ke bawah, setelah menyelesaikan mandi dan berganti pakaian nya, saat ini wajahnya tampak segar, tapi perut Alice,sangat lapar, karena tidak ada yang berani mengganggu tidur nya saat dia sedang sangat lelah.
sesampainya di bawah tepat di samping tangga, Alice, melihat Gio, tengah memangku laptop nya dan fokus dengan monitor nya, entah apa yang sedang dia kerjakan.
Alice, berusaha untuk tidak perduli dengan nya, dia berjalan menuju ruang makan dia membuka lemari pendingin yang ada di sana untuk mengambil minum dan saat itu juga langsung meneguk nya langsung dari botolnya tetesan air yang menetes di lehernya membasahi dadanya yang kini hanya menggunakan tank top itu membuat seseorang menelan Saliva nya, Gio, yang sedang haus pun merebut botol di tangan Alice, tanpa permisi hingga Alice, melongo.
"Aku juga haus, jangan menatap ku seperti itu nanti kamu jatuh cinta kan jadinya berabe harus berurusan dengan pria tengil itu"ujar Gio, tanpa dosa.
Alice, hanya bisa menarik nafas panjang, dia tidak ingin berdebat dengan pria yang jelas-jelas egois, yang hanya ingin menang sendiri, adiknya itu tidak bisa di bantah meski dia salah.
Alice, langsung duduk di kursi meja makan kebetulan pelayan sedari tadi ada yang masih berjaga di sekitar dapur,sambil menyiapkan bahan untuk sarapan pagi nanti tuan rumah nya, sebenarnya mereka baru mendapatkan kiriman bahkan makan, setiap tiga atau empat kali dalam seminggu, dengan jumlah besar setiap kali pengiriman.
Alice, langsung di layani oleh mereka yang kini langsung membuat makanan paforit nya, Alice memang sering makan larut malam apa lagi saat dia di sibukkan dengan pekerjaan nya, tapi tubuhnya tidak pernah gemuk, justru tetap langsing meski jarang berolahraga.
sementara Gio, saat ini terdengar sedang mengobrol menggunakan bahasa Mandarin, dan Alice , paham Gio tengah mengobrol dengan ibu kandung nya, yang selalu diam-diam menghubungi nya, Alice mungkin tidak bisa terjemahan bahasa Mandarin, tapi dia bisa melihat ekspresi wajah Gio, saat ini yang sedang menolak permintaan Serry, untuk tinggal bersama dengan nya.
wanita itu ketahuan menginginkan kekayaan Gibran, yang sudah di wariskan kepada Gio meski tidak semua nya, karena sebagian adalah harta keluarga turun temurun.
Alice, pura-pura tidak mendengar atau melihat Gio, saat ini yang tampak frustasi, hingga saat Alice,baru menghabiskan setengah dari makanan nya, Gio, tiba-tiba duduk di samping nya dia mengambil tangan Alice, dengan cueknya dia mengarahkan sendok yang di pegang oleh Alice, ke arah mulutnya dan memakan makanan itu.
Alice, bengong tapi tidak di hiraukan sama sekali oleh Gio, pria itu masih menggunakan mode datar nya.
Alice, langsung mengganti sendok tersebut dengan yang baru dia masih sangat lapar saat ini tapi setelah satu suapan dia kembali di kejutkan dengan tingkah Gio, yang persis seperti tadi.
__ADS_1
"Gio!!!....kalau kamu lapar kenapa??.. tidak meminta makanan mu pada pelayan, kenapa??..kau suka sekali mengganggu kenikmatan orang"ujar Alice,lantang hingga pelayan menoleh ke arah mereka, beruntung yang sudah tertidur tidak pada keluar karena kamar mereka kedap suara semua.