
Gavin, masih memeluk erat Emily, saat ini dia bahkan tidak ingin melepaskan nya, hingga Emily, meminta untuk melepaskan nya, dengan alasan akan ke kamar mandi .
Gavin, pun menurut dan menunggu di atas ranjang nya,sambil bersandar di kepala ranjang, dia tidak ingin kehilangan Emily, walaupun hanya sekejap, setelah Emily,keluar dari kamar mandi, sehabis mencuci wajah nya yang sembab dia pun keluar, dan menghampiri ranjang empuk nya itu,Gavin, langsung menyambut nya dengan senyuman dia menggenggam tangan Emily, istrinya dan berkata bahwa Emily, hanya milik nya dan selamanya akan tetap begitu.
"kak, tidur lah ini sudah malam besok kita harus pulang ke Indonesia, untuk menemui Daddy dan mommy mu"ujar Emily.
"Emily, aku tidak ingin kan itu"ucap Gavin.
"sudah lah aku tau kamu hanya menyangkalnya dan ingat jangan pernah berdebat apa pun yang terjadi sebelum dan setelah nya kamu harus terima konsekuensi nya.
"sayang aku mohon jangan pernah lakukan itu, aku tidak ingin pergi"ucap Gavin.
"please,kak, aku tidak ingin selamanya menjadi beban untuk mu, aku tidak ingin hidup dalam keraguan, apa pun keputusan Daddy mu, nanti kita harus bisa terima"ucap Emily,sambil merebahkan diri di samping Gavin.
Gavin pun memeluk erat tubuh istrinya sambil mencoba memejamkan mata nya, saat ini dia merasa tidak tenang karena takut Emily, pergi dari nya.
cinta Gavin benar-benar besar untuk Emily, hingga dia rela menentang kedua orang tua nya bahkan saat ini putra-putri nya hasil dari hubungan terlarang Emily, sebelum mereka menikah sudah, berusia delapan bulan, mereka sangat aktif, dan sangat menggemaskan.
pagi-pagi sekali, Emily, sudah berkemas dia tidak ingin menunda lagi untuk rencananya Emily, hanya bisa pasrah apa pun yang terjadi nanti dia harus siap kehilangan atau pun tetap bersama dengan suami nya itu yang pasti dia hanya ingin mengobati luka Gavin, setelah selama ini merasa dibuang oleh keluarga nya.
"semua, sudah selesai kak,ayo bangun dan kita harus secepatnya kesana"ucap Emily, Sambil membangun kan suaminya itu, tapi Gavin, kekeuh tidak mau bangun dia benar-benar tidak ingin pergi , dia tau semua hanya akan membuat nya terpisah dengan Emily, dan dia tidak ingin kan itu.
"sudah kukatakan Emily, jangan memaksa kan kehendak mu, jangan mencoba melukai hati mu sendiri, dan aku tidak rela jika nanti kita harus terpisah, kamu hanya milikku, dan hanya aku, aku tidak akan pernah melepaskan mu walaupun nyawa ku taruhan nya"ucap Gavin, yang kini menatap lekat wajah cantik Emily.
tapi kak,mau sampai kapan kita hidup seperti ini selalu di liputi penyesalan , aku cape cobalah untuk mengerti, selama nya kita tidak akan pernah bisa bahagia, bagaimana pun restu orang tua itu sangat di perlukan, dan kita harus siap menerima apa pun keputusan mereka nantinya"kata Emily.
"kau ingin berpisah dengan ku Emily,iya??...kau ingin meninggalkan ku , saat mereka benar-benar tidak merestui kita seperti selama ini, ia begitu??... katakan Emily, jawab!!!""teriak Gavin, yang kini mulai tidak bisa mengontrol lagi emosi nya, kenapa Emily, begitu keras kepala, padahal Gavin, sudah menguatkan hati untuk tidak pernah goyah dengan pilihan nya memilih, hidup terbuang dari keluarga nya dari pada harus melepaskan wanita yang sangat di cintai nya, yang kini sudah menjadi ibu dari anak-anaknya.
"sudah lah terserah kamu saja, aku cape, tapi ingat jika suatu hari aku mendengar kamu mengeluh lagi,maka jangan salah kan aku jika aku pergi meninggalkan mu, bersama dengan anak-anak"ucap Emily tegas, dia langsung berganti pakaian dengan pakaian dinas nya saat ini dia langsung pergi ke bawah tanpa pamit, dan pergi begitu saja, menuju rumah sakit.
Emily, tidak ingin lagi berdebat tentang apa pun,itu baginya kini dia hanya ingin fokus dengan hidup nya dan kedua anak nya, terserah Gavin, yang masih suka hidup dengan emosi, dan menjadikan wanita lain di luaran sana sebagai pelampiasan nafsu nya, saat mereka bertengkar yang pasti, Emily, sudah benar-benar pasrah.
sementara itu di Hongkong, Sandra dan sandrina , tengah mengadakan meeting, setelah jam pulang kantor, mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu, hanya untuk sekedar pergi berbelanja atau jalan-jalan, mereka wanita gila kerja, walaupun keluarga nya sudah sangat menginginkan mereka untuk menikah.
kedua adik kembar Gavin, tersebut sebenarnya bukan tidak tertarik dengan, percintaan atau pernikahan, tapi dia trauma dengan pernikahan kakak, nya yang kini di tentang oleh keluarga, hingga, mereka terpisah, dan kedua cucunya bahkan tidak pernah di akui oleh Adryan, hingga saat ini.
meski sandrina, sudah berkali-kali, meyakinkan Daddy nya bahwa dia harus menerima kenyataan apa pun, itu adalah takdir Allah SWT,namun Adryan, tetap keras hati tidak menerima pernikahan mereka, dan masih mempertahankan menantunya dari hasil perjodohan tersebut.
Sandra, diam-diam mempunyai hubungan dengan klien nya, saat ini tapi dia juga enggan meresmikan hubungan tersebut, dikarenakan adanya masalah itu, dia hanya bisa pasrah dengan hubungan nya saat ini seberapa lama cowok nya itu akan bertahan dengan nya, apa dia akan menunggu atau akan menyerah pada keadaan ini.
sementara itu di Mension milik Adryan, yang ada di Hongkong,kini Sandra, sedang mengobrol dengan kekasih nya itu, sementara sandrina, masih asik dengan mimpinya itu, hari ini adalah weekend, jadi mereka masih malas-malasan di rumah nya.
"sayang,jalan yu"ucap Steven, yang kini tengah menggenggam tangan Sandra.
"aku tidak ingin keluar,kalau kamu mau pergi ya pergi saja nikmati hari libur mu saat ini"ucap Sandra.
__ADS_1
"heumm, susah amat di ajak jalan, aku tuh maunya jalan berdua sama kekasih ku,kalo sendiri kan gak enak"ucap pria asli Indonesia itu, dia tinggal di sana sama-sama mengurus bisnis milik keluarga nya.
Steven, sudah lama mencintai Sandra, sejak mereka satu sekolahan, saat itu dia masih kecil SMP, namun mereka kembali terpisah, karena mereka selalu berpindah-pindah tempat, mengikuti mommy nya atau kakek nya, sejak saat itu Steven, bertekad jika suatu saat nanti mereka kembali bertemu maka dia akan menjadikan Sandra, sebagai istri nya.
"sayang ayolah, aku mohon"ucap Steven lagi.
"kita di sini saja aku lelah Stev..... aku ingin istirahat"ucap Sandra.
"kenapa kamu tidak menikah saja, dengan ku, setelah itu kamu tidak perlu lagi ngurus perusahaan, aku bisa mencukupi kebutuhan mu, dan kamu hanya perlu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak"ucap Steven, tapi Sandra hanya bisa membuang nafas kasar, dia baru bisa terbebas dari pekerjaan nya, setelah Gibran, dewasa dan dia yang akan mengambil alih perusahaan tersebut.
🌹💖💖💖🌹
Dua tahun berlalu, dari semejak saat itu, Sandra dan Steven, memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, karena Sandra belum siap untuk menikah sementara Steven,di jodohkan oleh keluarga nya dengan anak rekan bisnis nya, Steven, pun berkali-kali, menolak hingga dia sempat mencoba bunuh diri, karena dia hanya mencintai Sandra, tapi Sandra, sudah menyerah dengan itu , Steven, pun menyerah dengan keadaan nya saat itu, walaupun dia masih terus berusaha untuk mendapatkan cinta Sandra, hingga saat ini.
Sandra,baru kembali dari kantor, setelah meeting, hingga jam dua dini hari, meeting yang sangat melelahkan, saat ini cuaca sedang kurang baik ada hujan yang disertai angin kencang, tapi Sandra, ngotot untuk pulang, tidak mungkin dia tidur di kantor nya, walaupun di sana dia memiliki tempat istirahat.
hingga, saat melintas di jalan, yang sepi Sandra, hampir saja bertabrakan dengan kendaraan lain nya, hingga ia membanting setir, dan mobilnya menabrak pembatas jalan, Sandra, sangat beruntung tidak sampai terluka parah saat ini dia hanya mengalami, benturan di kepala, nya tapi masih bisa di bilang ringan walaupun keningnya berdarah, dia keluar dari dalam mobil nya, sedikit gontai karena merasa pusing.
Sandra,membawa tasnya dia hendak pergi menjauh dari mobil nya, tiba-tiba tubuh nya limbung tapi seseorang berhasil menahan nya hingga tak sampai terjatuh, pria itu adalah mantan kekasih nya, Steven, yang kebetulan lewat setelah mengantar istri, dari bandara, saat itu Steven, sengaja menghentikan mobilnya karena mengenali mobil yang mengalami kecelakaan tunggal tersebut.
"Steven"ujar Sandra, sebelum benar-benar tidak sadarkan diri.
Steven, langsung membawa Sandra,ke apartemen nya, dan menyuruh anak buahnya untuk mengurus, mobil Sandra.
setelah meminta dokter datang ke apartemen pribadi nya, Steven, duduk di samping Sandra, dia mengganti pakaian yang di kenakan Sandra, dengan kemeja nya, Steven, melakukan itu dengan sangat terpaksa, karena tidak ada siapapun di sana, dan Steven, mati-matian menahan hasrat nya, sebagai laki-laki normal, siapa yang akan tahan bila melihat keindahan tubuh wanita yang sangat di cintai nya, tapi Steven, tidak ingin menyakiti wanita tersebut, dia masih berharap suatu saat Sandra bisa menerima dirinya kembali.
sandrina, pun mencoba menerima, laki-laki yang bernama Riyan, tersebut dia pria tampan dan mapan, hanya saja Riyan, juga sudah memiliki kekasih, hingga dia pun harus pasrah menikah dengan wanita yang sama sekali tidak di cintai nya, tapi mereka berkomitmen untuk menjadi sahabat, dalam ikatan pernikahan, tersebut, entah lah semua begitu rumit.
kembali pada Sandra, yang kini mengalami demam setelah kejadian tersebut padahal luka nya hanya luka lecet,di keningnya, dan dokter sudah mengobati luka tersebut, Sandra menggigil hebat dia bahkan mengigau memanggil nama mommy nya saat ini.
"momm... Sandra ingin pulang, Sandra, sudah lelah, sampai kapan Sandra harus bertahan seperti ini"ucap nya di tengah demam tinggi nya, sementara itu Steven, sudah memberikan dia obat lewat bibir nya tadi karena Sandra tidak kunjung sadar.
"Sandra, apa maksud mu dengan tidak kuat, aku tau kamu tersakiti karena masalah yang menimpa kita, selama dua tahun ini, tapi aku mohon bertahan lah,di sini agar cinta kita akan kembali bersatu"ucap Steven, lirih, dia menyelimuti tubuh Sandra,sambil menempelkan handuk kecil yang sudah di basahi sebelum nya dengan air hangat kekepala nya.
Steven, pun memeluk tubuh Sandra, yang masih menggigil, meski, sudah terpasang selimut tebal di tubuh nya, saat ini dia memeluk Sandra dengan selimut tebal nya itu Steven, berharap Sandra akan segera sembuh
tanpa mereka sadari mereka pun kini terlelap dalam mimpi mereka masing-masing, hingga pagi menjelang, Sandra, yang sadar terlebih dahulu, dia melihat kesekeliling nya, saat ini hingga dia sadar ada seseorang di samping nya walau pun tidak satu selimut dengan nya, Sandra, kenal dengan kamar tersebut, karena itu adalah tempat kenangan terakhir nya bersama Steven, saat Steven, mencoba mengakhiri hidup nya, hanya karena Sandra,menyerah dengan perjodohan yang terjadi pada dirinya saat itu.
"Steven"gumam Sandra lirih, Air mata nya menetes begitu saja, perlahan dia mencoba untuk pergi dari ranjang tersebut dan melepaskan tangan Steven, yang berbeda di atas perut nya tepat nya di atas selimut tebal itu
namun baru saja Sandra, hendak melepaskan tangan nya, Steven, terbangun dan langsung menatap wajah Sandra, yang kini basah dengan air mata nya.
"sayang, aku mohon biarkan seperti ini sebentar saja"ucap Steven.
"Steven, kita bukan siapa-siapa lagi, dan ini tidak pantas kamu lakukan"ucap Sandra lirih.
__ADS_1
"tanyakan saja pada hati mu apa di sana masih ada aku"ucap Steven, yang kini bangkit menatap wajah Sandra, yang masih tersisa Air mata di sana.
"Steven, jangan bahas perasaan, kita sudah tidak punya hubungan apa pun lagi"ucap Sandra, yang kini mencoba bangkit, tapi tangan Steven, menahan nya.
"istirahat lah, baik'lah, terserah kamu mau menyangkalnya sedemikian kuat pun, aku tidak akan perduli karena yang aku tau cinta kita tak pernah musnah dan akan selalu ada"ucap nya sambil bangkit berdiri, dan berjalan menuju pintu kamar mandi, Steven, sudah lima belas menit di dalam sana, sial nya, Sandra, tidak bisa pergi dari ranjang tersebut, karena, kepalanya masih sakit.
Steven pun keluar, setelah itu dia langsung masuk ke dalam ruangan ganti, hingga saat Steven,baru selesai berpakaian, santai,dering ponsel nya begitu nyaring saat ini, dia langsung bergegas mendekati nakas di samping tempat tidur yang kini di tempati oleh Sandra.
panggilan dari istrinya, awalnya Steven, enggan untuk mengangkat telepon tersebut, dan berkali-kali menolak nya, hingga Sandra , berkata.
"angkat atau aku pergi sekarang juga, jika kamu merasa risih dengan keberadaan ku"ucap Sandra,mau tidak mau Steven, pun mengangkat telepon tersebut.
Steven, berjalan menuju balkon, terdengar suara istrinya yang sudah tidak sabar mendengar suara Steven, saat itu mereka mengobrol cukup lama hingga Sandra, berpura-pura tidak mendengar nya, Sandra mencoba kembali untuk bangkit dari ranjang nya dan hendak menuju kamar mandi, walaupun saat ini rasanya lemas dan sedikit pusing tapi dia tidak ingin berlama-lama di tempat orang lain, saat ini.
setelah berhasil masuk ke dalam kamar mandi, Sandra, menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya, dia berharap bisa kembali segar setelah mandi, tidak lama di dalam sana, dia kembali dengan berjalan sekuat tenaga keluar dari dalam sana, menggunakan bathroob milik Steven, yang tersedia di sana dan itu bersih bukan bekas.
sesampainya di sofa,kamar Steven, Sandra,mengambil ponsel miliknya dari dalam tas, dia hendak menelpon seseorang untuk membawakan nya baju ganti dan menjemput nya untuk pulang, tapi tangan nya di hentikan oleh tangan Steven, yang kini masih menerima telepon dari istrinya itu, Steven, duduk di samping Sandra, dia menggenggam tangan Sandra, sedikit menahan nya, agar tidak melakukan apapun.
setelah itu, dia langsung menutup sambungan telepon nya.
"jangan lakukan apapun, kamu masih sakit, tinggal lah di sini, sampai kamu benar-benar pulih, aku sudah menelpon asisten mu, dan dia pun sudah menghendel semua pekerjaan mu, sampai dua hari kedepan, setelah kamu benar-benar pulih kamu bisa kembali"ucap Steven lembut.
"aku ingin pulang, Steven, aku akan istirahat di rumah ku saja, aku juga harus ganti baju, dan aku juga sudah lapar"ucap Sandra, tegas.
"baju,mu sedang dalam perjalanan, dan makanan mu sudah siap itu ada di atas meja, tunggulah aku akan mengambil kan nya untuk mu"ucap Steven, lembut.
"tapi Steven, aku harus pulang, aku tidak ingin tinggal di tempat orang lain"ucap Sandra.
Deg ....
jantung Steven, seperti di hantam batu besar, saat ini terasa begitu sakit.
"Sandra, aku bukan orang lain, kamu lupa dengan kita"ucap Steven,pelan tapi penuh penekanan.
"aku tidak lupa, Steven, kita hanya mantan, dan saat ini kita sudah tidak pantas lagi, tinggal bersama, kamu sudah punya istri ingat itu"ucap Sandra.
"persetan dengan semua itu, Sandra, aku hanya mencintai mu dan hanya kamu yang bisa membuat ku bahagia, aku mohon, Sandra, menikah lah dengan ku, please "ucap Steven,sambil menggenggam tangan Sandra.
"aku tidak ingin jadi perusak rumah tangga orang lain, Steven, kamu harus nya bersyukur karena sudah memiliki istri yang lebih baik segala nya dari ku, dia bahkan seorang model papan atas dan punya banyak bisnis, hingga mancanegara, tubuh nya sempurna, kurang apa lagi heuhhhhh"ucap Sandra, yang membandingkan dirinya dengan istri nya Steven, yang super sempurna.
"aku tidak butuh itu semua, aku hanya butuh kamu dan cinta mu, hanya itu buat apa semua kesempurnaan itu jika didalam nya tidak ada cinta kita"ucap Steven.
"Steven, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, dan kamu pasti akan lebih bersyukur nantinya"ujar Sandra.
"aku hanya mencintai mu, dan selamanya hanya akan begitu"ucap Steven,tegas, Sandra hanya bisa pasrah tanpa ingin berdebat lagi rasanya percuma saja, semua hanya akan menyakiti hati nya saat ini.
__ADS_1
"aku cape sekarang juga aku akan pergi"ucap Sandra, tapi Steven , menarik nya dan mendorong tubuh Sandra ke atas ranjang nya.