
Hari demi hari berlalu mereka pun sudah mulai bisa menerima takdir dari yang maha kuasa, tentang kepergian kedua orang tua mereka yang sangat mereka sayangi, sementara Sania, meminta kakak, nya sandi untuk mengurus semua peninggalan ayah bunda nya yang berada di kampung, karena mereka berdua yaitu Sonya dan Sania, masih harus ikut suaminya di kediaman mereka masing-masing.
empat bulan berlalu,kini adalah hari yang di tunggu-tunggu, oleh Gavin, yang kini masih tinggal di Kanada bersama dengan Emily, istri tercinta nya yang sudah dia nikahi secara sederhana, dan hanya di hadiri oleh Maxim dan juga Allan.
sementara itu Joe, tidak pernah di beritahukan atas permintaan Maxim, yang sangat kecewa dengan sikap Joe, yang tidak begitu peduli dengan Emily, darah daging nya sendiri.
malam pun tiba, mereka yang hendak memadu kasih seperti biasa, tiba-tiba Emily, mengalami kontraksi, yang lumayan hebat mungkin karena memang sudah waktunya ia untuk melahirkan sesuai prediksi dari dokter kandungan, namun Emily, ingin melahirkan bayi kembar nya itu secara normal, jadi dia ingin semuanya berjalan secara alami, walaupun Gavin sudah menyarankan nya agar melahirkan secara Caesar Gavin, tidak ingin mengambil resiko tapi sang istri tetap kekeuh dengan pendirian nya, menurut nya dia ingin jadi wanita yang sempurna yang bisa merasakan pengorbanan ibu-ibu di dunia.
"ahhh.."pekik, Emily yang kini langsung menahan perut bagian bawah nya.
"Ada apa?? sayang, apa ada yang sakit"ujar Gavin.
"perutku, sakit kak,..."ujar Emily.
"apa kamu salah makan??"ucap Gavin sambil mengelus perut istri nya itu.
"tidak Kak, seperti nya, saat ini aku akan melahirkan"ujar Emily,sambil menahan sakit.
"tahan sebentar sayang, aku akan minta mereka menyiapkan mobil "ujar Gavin,sambil mengambil handphone, milik nya.
Gavin, bukan nya tidak tegang, dia sendiri merasa panik, tapi ia sudah latihan selama ini, untuk menghadapi berbagai situasi, yang menegangkan,Gavin, sendiri mengambil mantel untuk istrinya itu, dan membawa tas yang sudah di sediakan Emily, jauh-jauh hari,tak lupa juga Gavin, membawa tas dan dompet milik nya dan Emily, saat itu di bantu pelayan Mension, dan Gavin, pun membawa Emily, sendirian, hingga sampai di mobilnya, seorang asisten dan juga sopir,turut serta dalam mobilnya tersebut, dan di ikuti satu mobil pengawalnya.
"sakit,kak..."rengek Emily.
"iya sayang sabar dulu ya sebentar lagi juga sampai"ujar Gavin,sambil mendekap tubuh Emily, dan mengecup juga mengelus,perut Emily.
"sayang, Daddy, mohon jangan buat mommy,mu kesakitan, kalian juga harus lahir, dengan selamat"ujar Gavin, berbicara pada kedua anak kembar nya yang kini masih di dalam perut istri nya itu.
tidak butuh waktu lama,kini mereka sudah sampai di rumah sakit, dan Emily, langsung di bawa kedalam ruang bersalin, dan dokter yang menangani nya, mengatakan, bahwa Emily, sudah akan melahirkan, saat ini, karena pembukaan lengkap jadi tidak perlu menunggu lama lagi, dokter saat ini tengah mempersiapkan, semua nya sambil memberikan aba-aba, pada Emily,kapan saatnya Emily, untuk mengeden.
hanya, beberapa menit, pun bayi perempuan itu sudah lahir, tangis nya begitu menggema di seluruh ruangan tersebut, Emily, masih kesakitan, saat ini Sementara Gavin, tersenyum puas karena anak pertama nya itu sudah lahir, tiba-tiba, Emily, kembali merasakan mulas yang sangat hebat, dia pun langsung kembali mengeden walaupun dokter, menyuruh nya, untuk menahan sebentar, tapi, seperti nya bayi kedua nya juga tidak mau kalah, dokter langsung menangani nya, dan akhirnya, bayi laki-laki pun lahir dengan selamat dan sehat, Emily, pun menangis haru, saat ini Gavin, mengecup seluruh wajah Emily, dia begitu bahagia dan sangat bersyukur ketiga nya baik-baik saja, saat ini .
Emily, pun saat ini sedang di bersihkan oleh perawat setelah dokter menjahit robekan pada daerah V Emily, saat ini dan itu sangat wajar karena Emily, yang baru pertama kali melahirkan, apa lagi ini adalah bayi kembar, setelah selesai di bersihkan akhirnya Emily,di pindah ke ruang perawatan VVIP tepat nya rawat inap, dan di susul oleh kedua bayi yang sangat menggemaskan itu.
"sayang, terimakasih, atas semua pengorbanan mu, aku sangat mencintaimu, dan makin mencintai mu, lihat lah buah cinta kita, mereka begitu lucu dan menggemaskan"ujar Gavin, yang terus menerus tersenyum bahagia, dia juga menghujani Emily, dengan ciuman.
seketika itu, Maxim dan Megan, datang dia langsung memeluk putri kesayangan nya, sementara Megan langsung menggendong bayi kembar tersebut, secara langsung di bantu Suter yang berjaga di sana.
"wah,cucu mommy, sudah lahir welcome to the world,ujar Megan, yang antusias, dia sendiri begitu menyukai, bayi tapi sayang mereka berdua benar-benar dinyatakan mandul jadi mereka tidak pernah saling menyalahkan, mereka menerima takdir mereka,malah semakin saling menyayangi satu sama lain.
"sayang, Daddy, begitu bahagia, kamu sudah melahirkan dengan selamat, Daddy, takut kamu kenapa-napa, dan saat di perjalanan Daddy, tidak hentinya berdo'a semoga kamu baik-baik saja"ujar Maxim, yang masih menggenggam erat tangan putri nya itu.
"Daddy,mu begitu panik dan menangis, saat dia mendengar kabar kalau kamu akan melahirkan, bahkan mommy, sampai tidak bisa membuat nya tenang ujar Megan, Emily, pun langsung mengelus pipi sang Daddy.
__ADS_1
"Daddy, jangan takut, Emily akan baik-baik saja, semua berkat doa dari Daddy"ujar Emily, Maxim, pun berulang kali mengecup tangan putri semata wayangnya itu.
sementara itu Gavin, tersenyum, melihat kasih sayang mereka berdua, dia juga mengelus, bayi kembar yang sangat gembul itu, dan mengecup nya bergantian.
"sayang, apa mereka sudah di beri nama"ujar Maxim bertanya.
"belum, Daddy, aku ingin Daddy, saja yang memberikan nama"jawab Emily.
"tentu saja Sayang"ujar Maxim.
"bagaimana kalau Eleanor, Anderson dan Geand Anderson"ujar Maxim.
"tentu saja Daddy, itu adalah nama yang bagus."ujar Gavin.
mereka pun setuju, dan kini mereka semua tersenyum bahagia saat ini.
Maxim, pun menyuapi putri nya, itu dan dengan telaten, Maxim membersihkan sisa makanan di bibir Emily, Maxim benar-benar begitu menyayangi Emily, putri sambung nya itu, dan tidak akan ada bedanya dengan putri kandung.
sementara itu Gavin,kini tertidur di sofa mungkin karena lelah belum tidur hingga hari ini dia pun tidur dengan lelap nya, sementara Megan,dan juga Maxim bergantian menjaga cucu mereka.
satu Minggu berlalu dari saat itu kini mereka sudah tinggal di mension, dan Gavin,sibuk dengan urusan pekerjaan dan juga hal lain nya, tapi Emily, bisa mengerti posisi suaminya yang super sibuk itu,di sela kesibukan Gavin, dia selalu menyempatkan untuk pulang ke Mension, sekedar makan siang atau melihat putra-putri kesayangan nya itu, beruntung Megan, masih setia mendampingi Emily, saat ini, untuk merawat mereka berdua,meski di Bantu babby sister sesuai permintaan Maxim dan Gavin.
Emily, selalu menyambut Gavin, dengan senyuman, dan saat ini dia pun sudah membuat makan siang di bantu Megan, makanan favorit Gavin sudah tersaji di meja.
Gavin, pun datang dan langsung memeluk istrinya itu, menghujani nya dengan kecupan, dan setelah itu dia duduk di meja makan, Gavin, begitu bahagia memiliki istri yang begitu pengertian, saat ini, Emily, sedang cuti dari rumah sakit, tepat nya cuti melahirkan hingga, enam bulan kedepan, setelah itu rencananya Emily, akan kembali bekerja, dan Megan, yang akan mengambil alih menjaga putra-putri nya, selama ia bekerja,ya Maxim pun ikut pindah ke Kanada, dia mengurus perusahaan nya dari sana, tidak jauh berbeda dengan Gavin.
Allan,merasa tidak ada salahnya, menyatukan mereka dengan hubungan pernikahan, sejatinya, kebahagiaan itu bisa menunjukkan sisi positif, untuk Gavin, dan penerus nya, Allan, selalu menyempatkan diri untuk menengok bayi kembar tersebut, dia yang tidak pernah menimang bayi setelah Adryan, dewasa, saat ini Allan, merasakan kebahagiaan bertubi-tubi, entah, kenapa rasa sayang nya pada cicit nya itu lebih besar, dari apapun, Allan, seperti merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
seperti saat ini saat Gavin,sibuk memanjakan sang istri, yang baru dua bulan melahirkan, Allan,sibuk mendampingi cicitnya itu yang sangat menggemaskan, Allan bermain hingga puas, sampai mereka berdua tertidur.
sementara itu Gavin,di siang bolong di hari libur kerja nya, dia tengah asik bercinta dengan Emily, entah apa yang merasuki mereka, hingga tidak perduli dengan keadaan sekitar, yang ada orang tua dan kakek juga anak nya, mereka begitu terbakar gairah,di atas ranjang sana, beruntung, ruangan tersebut kedap suara.
sementara itu di pulau As, Gibran, dan Michael , tengah sibuk mengikuti pelajaran nya, saat ini Gibran, sudah masuk kelas enam SD, dia tidak se posesif, dulu pada Sania, tapi dia tidak suka jika ada yang mendekati Michael.
seperti saat ini, dia duduk di kantin, sekolah dengan Michael, yang beda dua tahun itu artinya, Michael,kelas dua SMP, tapi karena sekolah mereka, berdampingan, jadi mereka selalu makan di kantin yang sama, begitu pun jika jam pulang mereka tiba, Michael, selalu di tunggu Gibran, tidak perduli seberapa lama pun, dia harus menunggu, Gibran akan menunggu nya , sampai Michael,bubar sekolah, dan karena itu Adryan, menyiapkan tempat khusus untuk putra-putri nya itu, Michael sudah jadi anak angkat Adryan, sejak pertama kali dia datang ke mension nya, dia memberikan tempat dan perhatian yang sama untuk keduanya.
pengasuh mereka pun menyiapkan bekal untuk Gibran, selama menunggu Michael di dalam mobil nya,selain itu Adryan, menyulap mobilnya jadi tempat ternyaman untuk putra nya itu, sebelum mereka pulang ke mension nya,kalau dulu, mereka bolak-balik, dengan helikopter, tapi saat ini mereka pulang pergi dengan mobilnya, karena sudah ada jembatan yang di bangun Adryan, yang menyambung kan antara pulau pribadi nya dengan pulau yang di huni oleh masyarakat setempat, walaupun tempat itu di jaga ketat oleh scurity, karena tidak sembarang orang bisa masuk ke pulau pribadi tersebut,selain tukang antar barang dan kebutuhan lainnya.
Michael, dan Gibran,memang berbeda dua tahun, tapi pertumbuhan Gibran,lebih cepat dari Michael, hingga mereka, seperti seumuran, Gibran, memiliki paras tampan, wajah nya lebih mirip Sania, saat ini, bahkan tidak sedikit anak seumuran dengan nya, banyak yang mengagumi nya, saat ini.
sesampainya di Mension, Gibran, langsung mandi dan bersiap untuk makan, karena dia merasa sangat lapar, dia pun masuk kedalam kamar Michael, untuk mengajak Michael makan, dan hal itu mau tidak mau harus di turutin oleh Michael.
"Michael, kamu sudah mandi ayo kita makan"ajak Gibran.
__ADS_1
"sudah,tunggu sebentar, lagi aku belum menyisir rambut ku"jawab Michael.
Gibran,pun rela menunggu untuk Michael, kebiasaan itu, juga mengajarkan Gibran untuk bersabar, dalam setiap hal, dan Adryan,sangat suka dengan perubahan putra bungsu nya itu.
sementara itu Sandra dan sandrina, saat ini mereka sibuk mengurus perusahaan milik Adryan, mereka begitu pekerja keras, dan tidak main-main, seharusnya mereka sudah menikah saat ini tapi jangan kan menikah, memiliki pacar saja tidak, bukan tidak ada yang mau, tapi mereka selalu menolak untuk menikah saat ini, mereka selalu beralasan, untuk berkarir terlebih dahulu sebelum waktu itu tiba.
padahal Sania, ingin mereka segera menikah, dan memiliki keluarga seperti dia dulu, Sania bahkan ingin segera menimang cucu, dari mereka, karena Adryan, menolak menerima cucunya, yang sangat lucu si kembar yang terlahir dari Emily, seperti nya, Adryan, tidak juga memaafkan mereka berdua, apa lagi karena mereka hubungan nya dengan Allan,sang ayah harus,renggang.
Michael dan Gibran, pun langsung menuju meja makan, dan makan makanan favorit, nya setelah itu mereka berdua selalu tidur siang,di depan televisi, setelah lelah belajar, itulah kebiasaan mereka, sementara Sania, membiarkan proses alami yang di lewati putra bungsu dan putri angkat nya itu.
mereka bahkan tidak jarang tidur sambil berpegangan tangan, seperti kebiasaan mereka saat kecil dulu.
di Kanada, setelah enam bulan terlewat,kini kedua bayi kembar itu, sedang belajar bergerak kesana kemari dengan merangkak, saat ini pertumbuhan mereka begitu cepat, mereka tak jarang berebut mainan, bahkan kadang juga saling memberi, dan hal itu hanya sesekali di saksikan oleh Gavin, dan Emily,saking sibuknya mereka berdua.
Emily,sibuk dengan pekerjaan nya, sebagai dokter spesialis anak, dan Gavin, dengan perusahaan raksasa nya itu.
tapi, setiap hari mereka selalu menyempatkan mengajak putra-putri nya bermain sebelum mereka tidur.
"Geand, sayang Geand, harus sayang Ade , dan harus bisa menjaga nya, sampai kapan pun Daddy berharap kelak kalian berdua bisa saling berdampingan, hingga akhir hayat, jangan sampai tercerai berai seperti Daddy, dan yang lain, jujur Daddy,sangat sedih, tapi Daddy,lebih memilih hidup dengan mommy mu dan saat ini kalian bertiga adalah sumber kebahagiaan Daddy, semoga kalian baik-baik saja, hingga nanti.
Gavin, yang kini tengah menjaga mereka, sementara Emily, tengah membersihkan diri di kamar mandi, dia tidak menyadari bahwa istrinya sedari tadi, mendengar kan perkataan Gavin, pada kedua anak nya, Emily, berurai air mata, ternyata sampai saat ini Gavin, masih merasa terbuang dari keluarga nya, sendiri dan penyebab nya adalah dirinya.
"kak, jika kamu merasa sedih jauh dari mereka,kembalilah, aku tidak akan menahan mu, dan soal mereka,biar aku yang mengurus mereka berdua"ucap Emily, yang sontak membuat Gavin, hampir berhenti bernafas, karena mendengar perkataan Emily, yang menyuruh nya kembali pada keluarga nya itu.
"sayang, kamu bicara apa sih aku tidak mengerti"ujar Gavin, berpura-pura tidak mengerti padahal jelas-jelas, dia begitu kaget dengan ucapan Emily.
"Aku,dengar semua nya,kak dan jika kamu merasa menyesal karena memilih ku, silahkan tinggalkan kami, aku tidak ingin merusak kebahagiaan kalian, aku tau kamu sedih jauh dari keluarga dan istri pilihan ayahmu itu"ujar Emily, yang kini langsung menggendong mereka berdua.
"sayang, kamu salah paham, aku tidak pernah berkata menyesal, aku bahkan sangat bahagia"ucapan Gavin, tercekat di tenggorokan, karena Emily,menutup pintu kamar dengan kasar tepat nya menendang nya, karena kedua tangannya menggedong kedua anak nya itu.
Gavin, langsung beranjak menyusul, Emily ke dalam kamar, kedua anak nya itu di lihat nya Emily, tengah duduk sambil memeluk, kedua nya, yang saat ini tengah berusaha melepaskan diri dari pelukan ibunya.
"sayang, kita harus bicara"ujar Gavin, ingin menjelaskan, perkataan nya tadi, tapi Emily, hanya diam tanpa kata air mata nya terus menerus terjatuh tanpa henti, dia begitu terluka saat ini, dia tau dia adalah penyebab, Gavin, bersedih.
Gavin, duduk,di hadapan Emily, dia mencoba menggedong anak nya, tapi tangan Emily, tidak mau melepaskan mereka berdua.
"sayang, please dengar kan aku, aku tidak pernah berkata bahwa aku menyesal, memilih kalian, aku justru sangat bahagia bisa bersama dengan kalian"ujar Gavin.
"kamu bohong, aku tidak tuli, aku mendengar semua nya dengan jelas, aku tau aku adalah penyebab utama dari semua kesalahan ini, sekarang kamu bebas pergi, kapan pun, dan kembali pada istri mu dan dengan begitu, mereka akan kembali menganggap mu, sebagai anak mereka, lagian, selama ini aku tidak pernah memaksa mu untuk memilih ku, aku bisa melanjutkan hidup ku, dengan atau tanpa kalian semua, aku bisa merawat anak ku, yang terlahir karena kesalhan"ucapan Emily, terpotong oleh ciuman, dari Gavin, dia begitu sakit hati, saat mendengar kata-kata Emily, dia tidak ingin Emily, menyalahkan dirinya sendiri.
"anak kita, adalah buah cinta kita, mereka sudah seharusnya, terlahir dari kita, karena Tuhan yang takdir kan, dan aku tidak pernah menyesal mencintai mu, dan kamu adalah sumber kebahagiaan ku"ujar Gavin, tapi Emily, masih enggan untuk menatap Gavin.
Emily, pun bangkit dan memberikan kedua anak nya pada sang pengasuh, Megan dan Maxim, sudah kembali ke London, karena pekerjaan yang tidak bisa di tunda.
__ADS_1
Emily, langsung bergegas menuju kamar nya, setelah memastikan mereka minum susu formula nya, dan bersiap untuk tidur, Emily, tidak melirik Gavin, sedikit pun, saat ini Gavin tengah merokok di balkon kamar mereka,sambil meneguk Wine, dari gelas yang hampir terisi penuh, padahal Dokter, sudah menyarankan agar dia tidak terlalu banyak pikiran dan larut dalam masalah yang bisa mengakibatkan, penyakit depresi nya kembali.
sementara itu Emily, menangis di dalam selimut nya, hatinya begitu terluka mengingat semua yang terjadi dulu, dan perkataan Gavin, membuat nya teringat kembali akan masalalu nya yang pahit itu.