Gadis Desa Ku

Gadis Desa Ku
melepas mu


__ADS_3

Adryan, tidak mau menjauh dari hadapan Sania, dia,malah mengikuti kemana pun Sania melangkah.


"yang aku mohon ikut aku ke Belanda, kita bisa hidup bahagia di sana,dan saat mommy sudah sehat nanti, kita meresmikan pernikahan kita,bagai mana sayang"


bujuk, Adryan, namun Sania tetap menolak.


"aku gak mu jadi pelakorr, dan merusak kebahagiaan kamu saat ini dengan istrimu"


jawab Sania yang kini duduk di kursi yang ada di balkon kamar nya.


"kalo aku bahagia menikah dengan nya untuk apa aku berjuang selama ini untuk mu"


"Berjuang, ini yang kamu bilang berjuang,"


Sania tiba-tiba, Sania memberikan Vidio kemesraan Adryan di atas ranjang, yang di kirim oleh istrinya langsung,sontak Adryan, kaget dia langsung merebut ponsel Sania dan membanting nya.


"kenapa,,,, kenapa harus kaya gini caranya kalo memang dulu kamu mencintai nya, kenapa kalian harus menjerumuskan,aku kedalam nya, aku mungkin takkan sesakit ini, sakit Yan,,,,! hiks,,, hiks,, hiks, harus kah aku pergi untuk selamanya darimu atau dari dunia ini bila itu buat kamu puas"


Sania, menangis sejadi-jadinya kini dia melorot kelantai, dia bahkan menundukkan kepalanya di atas lutut nya.


"yang, aku mohon jangan begini, jangan pernah menjauh dari ku,aku ingin melihat mu bahagia, ingat aku ada untukmu,untuk selamanya dan cinta ku murni untuk mu sayang"


"owh murni ya ,,,,ya aku percaya saking percaya nya,aku sampai harus menonton pertunjukan cinta murni mu di atas ranjang bersama nya"


Sania, bangkit iya pergi meninggalkan kamarnya, lalu menuruni tangga dan berjalan keluar di ikuti Adryan,yg setengah berlari iya menaiki motor nya langsung pergi ke luar menggunakan motor itu ,


"yang kamu mau kemana?,,,"


Adryan, berteriak ke arah Sania yang pergi meninggalkan nya, Andara pun menghampiri nya.


"Ada apa?,,, nak kenapa kamu berteriak di sini"


tanya Andara, pada Adryan.


"Sania, Bunda dia pergi ninggalin aku Bun,,, aku mohon Bunda,tolong aku aku sangat mencintai nya Bunda, aku bahkan tidak ingin meninggalkan nya sampai kapan pun aku mencintai nya, aku mohon Bunda aku mohon"


Adryan, bersujud di kaki ibu nya Sania.


"Bangun nak kamu tidak boleh begini kamu ini laki-laki harus lebih kuat"


kata sang Bunda.


"Enggak Bunda,aku gak akan kuat untuk kehilangan nya Bunda aku gak akan kuat please bunda aku mohon tolong aku"


Adryan,masih bersujud di kaki Bunda Sania.


"bangun sayang baik lah Bunda akan membantu sebisa bunda"


kata ibunda Sania karena tidak mau melihat kedua nya mengalami kekecewaan.


"Adryan, masih menunggu kepulangan Sania dari jam 8 malam tapi dia tidak juga kembali, Adryan pun menunggu hingga menghubungi sandi namun sandi tidak tahu Sania di mana namun tiba-tiba sandi berteriak,


"Sania,,,kamu kenapa, apa yang terjadi ini juga kenapa hidung mu berdarah"


sandi, yang sedang menerima telepon dari Adryan, iya langsung melempar ponsel nya membawa Sania masuk ke tempat persinggahan mereka disebuah rumah di pinggir jalan gang masuk itu adalah rumah peninggalan ibu nya sandi dulu sebelum menikah lagi dengan yang menjadi ayah tiri nya kini, iya langsung mengambil air hangat di bantu Ari yang kebetulan mereka lgi ngobrol, Ari mengambil kan handuk dan air hangat untuk membersihkan darah dari hidung dan pelipis Sania, Sania yang tidak sadar kan diri iya seperti seseorang yang sedang tidur.


sementara itu Adryan di temani Sonya, menuju rumah sandi.


"Sonya dimana sebenarnya rumah sandi berada"


tanya Adrian lagi saat mencari kerumah orang tua nya dia tidak ada di sana.


"mungkin di rumah yang satunya lagi Yan di rumah milik sandi "


jawab Sonya.


"memang nya rumah nya ada berapa ?,,,


tanya Adryan lagi.


"setahuku sih ada dua di jalan yang tadi pertama kita lalui mungkin mereka lagi kumpulan di sana"


kata Sonya lagi.


"kenapa tadi tidak langsung kesana saja sih Sonya"


"ya habis aku kira di rumah tinggal nya"


jawab Sonya.


sesampainya di sana Sonya langsung masuk karena rumah itu pintunya terbuka,dan mereka berdua pun masuk"


"Sania, kamu di mana"


kata Sonya Sabil berjalan ke arah kamar sandi tapi tidak ada di sana, lalu dia berjalan ke ruang keluarga, betapa terkejutnya Adryan iya melihat Sania sedang di obati dan di bersih kan oleh mereka berdua.

__ADS_1


"sayang kamu kenapa"


Adryan langsung mendekat dan memeluk Sania iya melihat darah segar keluar dari hidung Sania yang belum mau berhenti iya melihat wajah Sania juga ada luka lecet dan lebam,


"sabar lah sebentar lagi dia juga akan bangun hidung nya sudah mulai mereda tidak seperti tadi saat diya datang, darah nya mengucur dari hidung nya, tangan nya sedikit memar mungkin kena benturan, entah bagaimana kejadiannya"


Kata Ari yang langsung menjelaskan, Sania pun sadar dari pingsan dia langsung memeluk sandi yang berada di samping nya.


"Sania kamu sudah sadar de"


syukur lah de aku sampai panik.


"sayang, ada apa dengan mu kenapa semua ini bisa terjadi?,,,,"


tanya Adryan yang langsung menarik Sania kedalam dekapannya.


"sandi tadi tiba-tiba ada sekelompok orang memakai, penutup kepala bertubuh besar tiba-tiba menggadang jalan ku mereka bahkan mereka mau memperkosa ku di tebing, itu dia bilang ingin memberikan aku pelajaran agar aku menjauhi seseorang yang kini berada di depan ku"


"sandi menatap kearah ada Adryan,,


siapa mereka


"aku tidak tahu,tapi akan diselidiki nanti "


kata Adryan.


"Sonya,ayo kita pulang ke rumah, Bunda mencemaskan,mu saat ini"


"Aku pulang besok saja KA, bilang sama Bunda aku baik-baik saja,dan akan menginap di sini"


ujar Sania .


"sayang sebaiknya kita pulang, bahaya kalau kau tetap di sini"


Sania, hanya diam tak menjawab, tapi iya bangkit dari kursinya,dan mencoba melangkah kan kakinya, berniat akan pulang dengan motor nya.


"de, jangan keras kepala, kamu itu sedang terluka dan apa bisa kamu bawa motor itu dalam keadaan begini?,,,,,"


Sonya, memperingati sang adik.


"Kaka pikir aku kesini di antar oleh para bajingan itu,,,, dalam keadaan terluka pun aku bisa membawa nya apa lagi sekarang"


Sania langsung menghidupkan motor nya lalu pergi semua yang ada di sana geleng-geleng kepala melihat Sania yang benar-benar nekat.


"tidak usah ribut sebaiknya kalian, ikuti motor nya cepat sebelum terjadi sesuatu"


"Adryan, ayo cepat kita ikuti Sania"


kata Sonya, Adryan,,, pun mengikuti mereka dari belakang, Sania dengan mobil.


sesampainya,di sana Sania langsung bergegas menaiki tangga tanpa menghiraukan yang sedang ada di ruangan tengah, iya masuk kamar dan langsung mengunci pintu kamar nya.


🌹💖💖💖🌹


mentari pagi pun menampakkan sinarnya


Sania,kini membuka mata nya, yang agak sedikit, ngilu mungkin karena luka yang ada di pelipis nya agak bengkak, iya merasakan bagian perut nya juga terasa sakit, mungkin karena tendangan yang di lakukan oleh beberapa orang suruhan Amelia semalam.


"ahhh,,, sakit, dasar manusia sialan binatang"


Sania berteriak, sambil memaki-maki orang yang tidak ia kenal.


"tok,,, tok,,, tok,,, sayang ini ayah apa kau baik-baik saja nak buka lah pintunya tuan putri ku, ayah mau melihat keadaan mu, ayah mohon"


suara sang ayah terdengar memohon Sania pun bangun dia berjalan sempoyongan, karena perut nya yang terasa sangat sakti iya membuka kan pintu,dan betapa terkejutnya nya sang ayah melihat keadaan putri nya, yang terlihat mengenaskan.


"sayang apa yang sebenarnya terjadi pada mu nak siapa yang berani melukai mu sayang"


sang ayah memapah sang putri,ke tempat tidur nya iya merebahkan, Sania untuk tiduran,.


"Bun,,, Bunda,,, cepet panggil Dokter, anak kita terluka, cepat Bun,,,,"


teriakannya, sampai ke telinga semua orang di sana, tiba-tiba saja Derry berlari ke kamar Sania di susul oleh Adryan, dan juga sang bunda, karena Sonya, sudah pergi berjoging sedari tadi


"ya ampun sayang, kamu kenapa siapa yang berani melukai mu"


kata sang paman, namun Sania hanya terdiam tanpa kata.


"KA anak ku terluka,KA siapa yang berani melukai nya"


tangisan sang Bunda pecah saat melihat semua nya Adryan, langsung mendekat ke tempat Sania terbaring.


"sayang bagian mana lagi yang terasa sakit,biar aku lihat"


Adryan, mencoba berbicara perlahan, agar Sania bisa memberitahu nya.

__ADS_1


Sania pun mengangkat sedikit kaos yang di kenakan nya ke atas, semua orang membelalakkan matanya.


"kurang ajar siapa orang yang berbuat ini pada putri kesayangan ku"


teriak Derry, sang paman yang begitu menyayangi nya, iya begitu marah tapi Sania tidak mau memberitahukan nya pada mereka, cukup Adryan, yang tahu semalam, waktu di rumah sandi.


"sayang, lebih baik kita kerumah sakit saja biar, perawatan nya cepat, bagaimana"


Adryan, bertanya pada Sania dengan hati-hati.


"iya kamu benar Yan,,,lebih baik kita bawa Sania , kerumah sakit"


"tidak usah Om,,, Sania akan baik-baik saja ko,aku tidak mau di rawat di sana"


pinta Sania.


"sayang bilang sama bunda mana yang sakit"


tanya Andara dengan penuh kelembutan.


"di sini Bun,,,, hampir semua nya sakit tapi yang di sini lebih sakit lagi"


Sania, menunjuk ke arah dadanya yang berarti menunjukkan jantung hati nya yang sakit. tak lama dokter pun datang menggunakan motor nya,lalu bergegas, masuk ke arah yg di tunjukkan oleh pembantu di rumah besar tersebut.


"maaf saya terlambat, karena tadi ada banyak pasien"


kata sang dokter,sambil cepat cepat memeriksa Sania,


Astaga, apa yang terjadi luka ini sangat serius kata sang dokter melihat bagian perut dan paha Sania, orang-orang tidak menyadari luka akibat penganiyayaan semalam yang di lakukan oleh, orang suruhan Amelia melukai paha bagian kirinya ada robekan, seperti bekas pisau yang sengaja di gores kan di sana, semua orang terkejut. menutup mulut mereka


"sayang,bicara lah siapa yang begitu kejam telah melukai mu, aku Om,,mu yang akan menghajar mereka langsung"


kata Derry yang geram saat ini"


"percuma om, semuanya tidak ada di sini walau Sania gak tahu apa mereka masih bisa bertahan hidup, Karen mereka Sania lukai dengan, begitu parah, sebelum Sania pergi karena, sudah gak kuat"


"ya ampun nak kamu berkelahi melawan mereka sendiri an ya ampun, ya ampun kenapa kau tidak minta bantuan orang lain, bagaimana kalau kau sampai ahhhhhh,,, tidak ayah tidak berani membayangkan nya untung kau masih hidup, ayah tidak tahu kalau sampai kau tiada"


"tenang lah ayah aku masih hidup walaupun sudah terluka berkali-kali,aku tidak bisa mati dengan mudah kecuali takdir sudah tiba"


"Boleh saya minta tolong bawakan air di wadah untuk membersihkan luka dan sedikit untuk mengompres,perut nya "


kata sang dokter yang sedang membersihkan jahitan di paha kiri Sania dengan kain kasa dan alkohol.


sementara Adryan, dari tadi menggenggam erat tangan Sania penuh cinta,sambil sesekali mengecup kening Sania, Sania tidak menolak karena dia tidak mau ribut, didepan mereka.


setelah pengobatan selesai kini Sania di pasang infus di tangan nya, dia masih dengan posisi tiduran di atas ranjang nya karena dokter melarang nya untuk bergerak setidaknya setengah hari ini agar obat nya Bekerja dengan cepat, Adryan, yang selalu setia menemani Sania, iya menyuapi sang kekasih, yang begitu di cintai nya walau sebenarnya, dia terlihat egois, karena sudah memiliki istri, Sania mencoba, mengobrol pelan.


"Yan pulang lah ke istri mu, dan jalani hidup mu yang selama ini kau jalani bersama nya aku ikhlas, menerima semua ini mungkin sudah takdir kita, cukup bertemu sampai di sini aku tidak mau memaksakan takdir, yang tidak pernah berpihak pada kita, sebelum, semua nya menjadi kacau ku harap kau bisa lupakan aku, karena sebelumnya kau memang mencintai istri mu aku yakin itu dari cara mu memperlakukan nya,aku ikhlas melepas kan mu"


Sania bicara panjang lebar,tapi Adryan, tidak mau mendengar nya, iya tutup telinga nya.


"sudah cukup, sayang, jangan di terus kan lagi semua keinginan mu itu Aku tidak bisa memenuhi nya,aku tahu aku salah, aku penyebab cinta kita tersakiti, aku juga yang sudah bermain-main dengan waktu tapi sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kan mu, camkan itu"


jawab Adryan, pada orang tercinta nya.


"Tuhan tidak adil kenapa membuat ku tersakiti seperti ini, kenapa iya menempatkan aku di posisi, yang sulit kenapa kau tidak mengambil nyawa ku saja semalam"


Sania menangis sesenggukan di pelukan Adryan, karena sedari tadi Adryan memeluk nya penuh cinta.


"stop sayang, jangan bicara sembarangan tuhan sudah melakukan yang terbaik untuk kita tinggal kita nya yang berusaha, begini saja aku akan, memberikan waktu untuk mu berpikir, nanti setelah kau siap langsung hubungi aku ok sayang"


"Sania mencoba mengikuti kemauan, Adryan, walau sebenarnya dia hanya butuh waktu untuk menjauh dari kehidupan nya nanti" Sania, yang tidak mengunakan kalung, Adryan menanyakan nya, saat itu juga.


"sayang dimana kalung mu,aku tidak melihat nya, apa kau menjatuhkan nya di suatu tempat"


tanya Adryan, gelisah.


"Aku lupa menyimpan nya di mana saat aku akan bertanding saat itu"


"sayang apa kamu tau kalung itu kalung khusus aku buat untuk mu aku juga yang buat desain nya itu bukti cinta ku padamu sayang"


Sania,malah terdiam, tak mau bicara karena sebenarnya iya menyimpan kalung itu di suatu tempat, yang tidak seorang pun tahu.


"lain kali aku akan mencari nya mungkin terjatuh di atas tebing pas aku memanjat karena saat itu aku hanya mengikuti setengah pertandingan, karena sedang tidak mood,,, aku putuskan untuk memanjat dan ber kemah di sana"


jawab Sania.


"apa tempat itu begitu istimewa, hingga kau selalu datang ke sana?,,,"


"ya tempat itu obat rindu juga pelepas kesedihan, yang teramat menyakitkan, awal nya aku kesana saat SMA kelas sebelas, saat itu aku baru kehilangan Eyang, yang sangat aku sayangi, hingga aku mendapat kan luka parah di bagian paha kiri ku terkena goresan batuan yang tajam, dan ayah kesulitan mencari ku, aku mengajak pangeran, ku kesana dan dia juga membawa dua orang teman nya yang kini sama-sama menjadi teman ku,tapi mereka punya banyak pasukan anak-anak motor yang bisa di ajak gotong royong, membangun jalur juga tempat perkemahan di atas sana tapi itu di khususkan untuk anak motor seperti kami, lain kali kalau berjodoh aku akan mengajak mu kesana,"


"jadi, aku bukan satu, satunya cowok di hati mu sayang,dan apa yang kamu bicarakan kalo ,,, sesulit apapun takdir hidup menjauh kan kita kita akan tetap bersatu, itu janji ku"


Sania, hanya menitikkan air mata ia tau semua hanya ilusi,dan kini iya mencoba melepaskan dan mengikhlaskan Adryan, hidup bersama orang lain.

__ADS_1


"melepas mu adalah jalan terbaik bagi kita, walau rasa sakit ini tidak akan ada seorang pun tahu"


gumam Sania dalam hati.


__ADS_2