Gadis Desa Ku

Gadis Desa Ku
Berakhir di kamu


__ADS_3

satu Minggu berlalu Adryan, sudah kembali ke ibu kota, Sania yang sudah pulih akhirnya memutuskan untuk pergi ke Belanda, bersama tiga kawan pria nya sebenarnya, orang tua Sania tidak mengijinkan nya untuk pergi tapi demi ketenangan jiwa nya dan sekaligus mewujudkan cita-cita Eyang nya agar ia berkuliah di sana.


sesaat setelah mereka berada di airport, mereka menunggu di ruang tunggu yang tersedia di sana, sementara sang paman yang juga akan kembali ke luar negeri dia sudah terbang terlebih dahulu menuju Amerika, tinggal lah Sania dan tiga kawan nya yang memutuskan untuk tinggal bersama di sana sekalian menjaga sang tuan putri mereka, yang akan menuntut ilmu di negeri kincir angin tersebut.


Sania, tiba-tiba terbengong melihat sepasang suami istri yang sedang bergandengan tangan di ikuti asisten nya beserta kedua orang tuanya dari belakang, sementara sepasang pasutri, yang begitu mesra tersebut sangat lah serasi dan yang lebih menyakitkan bagi Sania adalah Adryan tidak menghiraukan keberadaan nya yang ia lakukan hanyalah, bersikap mesra terhadap Amelia sang istri , Rido yang mengetahui kesedihan Sania iya mengandeng Sania, membawanya pergi ke ruang sebelah Sandi dan Ari pun paham, mereka mengikuti dari belakang sambil menyeret koper mereka.


"Sania, kamu harus kuat semua sudah kehendak yang kuasa, kita hanya bisa berdoa semoga semua akan baik-baik saja"


Ucap Rido yang kini merangkul nya.


"Aku tahu Do aku tidak apa-apa ko semua ini bagian dari keputusan ku untuk menjauh dari takdir yang menyakitkan ini"


Jawab Sania, dengan senyum terpaksa nya.


"Ayo Sania tuan putri ku mulai sekarang kita semua harus semangat menjemput masa depan yang cerah, dan kita harus tetap saling support,,, karena kita semua saudara di sana kita harus saling menjaga Go go go semangat"


Sandi dan kedua teman nya saling berpelukan untuk menyemangati Sania, mereka pun memeluk Sania yang ada di tengah, mereka.


sesaat setelah di dalam pesawat, Sania dan ketiga kawan nya menempati bagian kelas bisnis, yang juga sama dengan Adryan, sungguh semua rencana yang kuasa mungkin untuk menguji kesabaran seorang Sania ruangan Aryan bersebelahan dengan ruang yang di tepati empat sekawan itu, otomatis mereka sempat melewati ruangan tersebut.


Sania yang berjalan membawa kamera kecil di tangan nya iya sengaja membuat konten video tanpa ada siapapun yang tahu dia mulai merekam sesaat sebelum pesawat take off


jujur saja itu semua iya lakukan untuk mengurangi rasa cemas di hati nya karena ini kali pertama mereka naik pesawat.


sandi yang duduk nya tidak jauh dari posisi duduk Sania iya tersenyum pada Sania karena tahu sedang di ambil gambar nya sementara Ari dan Rido memilih menonton di layar kecil di depan nya, untuk menghilangkan ketegangan nya.


setelah melewati penerbangan yang begitu melelahkan, pesawat pun mendarat mereka sudah di tunggu oleh seseorang, yang di suruh Derry untuk menjaga dan melayani mereka ber empat, sebenarnya niat nya Sandi ingin tinggal di mes yang di sediakan di restoran tersebut tapi,Derry bersikukuh memaksa mereka untuk tinggal di rumah yang sengaja Derry beli seminggu sebelum keberangkatan mereka, itu juga bagian dari harta kekayaan yang di peruntukan untuk Sania.


"Nona Sania...!"


teriakan seorang wanita yang akan mengurus kebutuhan Sania.


"Bibi Rebecca ,,,"


balas Sania, dia langsung mengajak, sandi dan Ari juga Rido untuk mengikuti nya menuju Bibi Rebecca, yang akan membawa mereka ke rumah yang sudah di sediakan, oleh Derry untuk nya.


sesampainya di rumah tersebut, Sania menitikkan Air mata kala mengenang hidup nya sewaktu bersama Adryan, kini iya harus membuang semua kenangan bersama nya.


"Sania, saat ini kita menapaki kaki kita di sini untuk menatap masa depan jadi lupa kan lah semua yang akan menghalangi langkah kita sebaiknya kamu hubungi kedua orang tua mu katakan kita sudah sampai di sini dengan selamat"


ucap Rido, yang selalu lebih dewasa di antara mereka.


"Aku tahu Do, makasih untuk kalian semua yang selalu memberi kekuatan untuk ku"


ucap Sania,


"Nona Sania tuan-tuan semua sudah siap, sebaiknya kalian membersihkan diri dulu lalu kita makan bersama"


ujar Rebecca.


"Baik lah Bibi, kami ke kamar dulu"


jawab Sania.


"semua kamar sudah ada nama nya masing-masing di pintu masuk kalian, tinggal langsung masuk saja"


kata Rebecca lagi.


"wah semua nya sudah di atur secara Apik oleh Om Derry"


ujar sandi.


"iya semua begitu sempurna"


ucap Ari.


"Berterimakasih lah pada nya nanti"

__ADS_1


ujar Rido.


"semua Om lakukan demi aku terima kasih Om,,kamu memang yang terbaik"


mereka pun pergi menuju kamar masing-masing, Sania yang sudah terbiasa dengan kehidupan serba ada walaupun hidup di kampung, dia merasa biasa saja berbeda dengan ketiga temannya itu ada yang sampai teriak kegirangan ada yang mengabadikan nya lewat Vidio ada juga yang sampai lompat-lompat di atas kasur saking mewah nya pasilitas kamar yang mereka dapatkan, tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun kehidupan mereka di jamin di rumah itu dengan syarat harus menjaga Sania, di luar jam kerja mereka yang restoran nya pun milik Sania, hadiah dari Om Derry, sebagai kado ulang tahun, yang Sania tahu keluarga Eyang nya memang kaya tapi tidak bisa di bayangkan kalau sebegitu banyak nya harta peninggalan sang Eyang yang kini di kelola sang paman, Sania, bahkan di persiapkan untuk memegang setengah aset yang di wariskan pada sang Bunda, yang selalu hidup dalam kesederhanaan di pedesaan, padahal dulu sewaktu masih kuliah Andara sempat memegang perusahaan yang di berikan sang ayah pada mereka.


"hmmm semangat Sania, hidup ini terus berjalan, dan kamu harus bangkit"


ujar Sania dalam hati.


kini mereka pun sudah selesai membersihkan diri, dan sudah menduduki kursi nya masing-masing bersiap untuk makan.


"hmmm aku jadi kangen suasana di kampung biasanya kalau jam segini itu kita selalu kumpulan di bukit yang indah dan asri"


ujar sandi, di sela makan nya.


"Aku juga ingat Siti lagi apa ya dia sekarang"


ujar Ari.


"hahhh Siti,,,,,,


ujar mereka bertiga kompak.


"Biasa aja kali, kaget ko sampai bareng-bareng gitu"


ujar Ari lagi yang kelihatan nya serius.


"Siapa tuh Siti perasaan di Desa kita gak ada yang namanya Siti yang ada itu Maemunah, hahahaha,,,,"


ujar sandi yang di barengi tawa keras saking lucunya nama yang mereka sebut yang sering di jadikan bahan candaan di kampung nya, padahal di kampung itu adalah nama terkeren menurut sejarah,,, yang ada


"iya jadi penasaran jangan-jangan watu ada Event cross di desa sebelah ya kau ketemu si Siti itu ya?,,,"


tanya Sania, yang juga penasaran dengan nama itu.


"iya siapa Siti itu dodol,,,!" seru mereka kompak.


"mau tahu apa mau tahu banget sih"


Ari makin membuat mereka penasaran.


"Banget" ujar Sania


"Siti itu kambing yang di pelihara oleh bokap gue"


jawab sandi yang sontak membuat mereka ter batuk Karen sendang mengunyah makanan,,,, dan Ari jadi bulan-bulanan mereka sampai kejar-kejaran,di sela makan, Rebecca yang saat itu melihat mereka dengan ke kompakan nya merasa terhibur sekaligus senang melihat Sania, tertawa lepas dengan mereka semua yang Rebecca tahu dari sang bos bahwa keponakan nya itu sedang berduka tepat nya patah hati, Rebecca yang selalu mengabadikan semua momen yang terjadi di sana tanpa mereka sadari Derry sedang tersenyum bahagia melihat putri dari adik kesayangannya itu kembali ceria bersama ketiga temannya itu.


🌹💖💖💖🌹


Dua hari sudah Sania, pergi ke kampus ternama yang ada di sana, iya menjalani hari-hari nya itu dengan, semangat karena dia sekarang memiliki teman baru yang sama-sama berasal dari negara nya itu ada Lima teman nya,di kampus yang berbeda jurusan tapi yang terdekat hanya Yeslin, dan Rara mereka begitu akrab, hingga Sania bisa sedikit melupakan, masalah hati nya kini.Sania yang kini sudah kembali dari kampus iya selalu di antar jemput oleh Rebecca, yang menjadi asisten pribadi di rumah besar tersebut, sesampainya di rumah Sania, menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk nya dan langsung memejamkan mata nya saking lelahnya, hari ini dia tidak datang ke restoran, karena terlalu banyak tugas yang harus segera di kerjakan.


di sebuah Mension, di kediaman Adryan, pria itu baru saja menyelesaikan kewajiban nya sebagai seorang suami, yang iya selalu penuhi untuk kebaikan rumah tangga nya di sela hati nya yang merindukan Sania, perempuan teristimewa yang bertahta di hati nya.


iya berjalan menuju Balkon kamarnya, sementara Amelia terlelap saking lelahnya setelah aktivitas ranjang nya itu .


"Sania, sayang kamu sedang apa di sana, semoga kamu bisa menunggu ku untuk mewujudkan mimpi kita, maaf karena aku selalu meng hianati perasaan mu tapi asal kau tahu hatiku berhenti di kamu, maaf kan aku sayang"


Adryan, meneteskan air mata nya.sesunggunya iya menderita, dengan semua belenggu di hidup nya itu tapi demi sang mommy, iya harus mengorbankan perasaan nya, hingga iya harus merelakan, Sania cinta dalam jiwa dan raga nya.


di rumah besar, Sania sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah nya di saat teman-teman kembali dari restoran nya tersebut,


"Sania, kamu sedang apa,kami baru pulang, kita kumpul di bawah yu"panggil sandi di depan pintu kamar Sania.


"masuk saja,,,! pintu tidak di kunci ko aku lagi beresin tugas sebentar lagi selesai ko"


sahut Sania dari dalam, mereka bertiga pun masuk,dan langsung menduduki sofa di dalam kamar Sania.

__ADS_1


"Mitha, gimana kuliah mu hari ini, apa masih bisa di atasi"


tanya Rido.


"lumayan, sih tapi masih bisa di atasi karena Dosen yang membimbing hari ini berasal dari negara kita"


Jawab Sania


"Oya, rasanya aku juga pengen kuliah juga, kalau begini"


"kalian kenapa gak kuliah saja sih malah milih kerja, sayang kan kita pergi jauh dari negara kita"


"lalu biyaya nya dari mana tanya mereka lagi"


kalian kan lagi bekerja nanti aku bicarakan dengan Om ku biar kalian dapat beasiswa dari kampus, secara otak kalian kan cerdas.


"Gak usah lah Mitha kita bekerja saja, udah cape apa lagi di tambah kuliah,hmm kurang tenaga,,,,"


sahut Rido lagi.


"ya sudah kalian tanpa berkuliah pun sudah mulai merintis karir, dan nanti kalo aku sudah memegang perusahaan kalian lah asisten pribadi ku kita akan berjalan bersama seirama suksesnya sama-sama jadi tetap lah semangat ok"


ujar Sania yang memberikan semangat untuk sahabat nya itu.


"Oya Mitha di kampus ada teman cewek bule yang dekat kamu gak sih lain kali kenalin kita-kita ok"


kata Ari.


"Sania, kamu tahu enggak si sandi di resto dapat gebetan cewek bule yang sangat cantik aku jadi iri"


ujar Rido pura-pura iri


"masa sih memang benar gitu Sandi,,?"


tanya Sania pada sandi.


tapi yang di tanya malah geleng-geleng kepala, karena sandi tidak menyukai wanita bule.


"Aku masih cinta produk negara sendiri Sania,,,


dan lagi aku tidak mau ribet dengan semua urusan kewarganegaraan"


ujar sandi


mereka pun asik mengobrol, tanpa mereka sadari,jam sudah menunjukkan 09:30 waktu Belanda.


"Nona Sania makan malam sudah siap dari tadi apa kalian mau makan atau tidak kalau mau aku akan menghangatkan nya lagi"


tanya Rebecca, karena memang sudah dua jam yang lalu ia menghidangkan nya.


"tidak usah kita langsung makan saja"


jawab Sania.


"yuk turun makan"


ajak Sania pada ketiga sahabat nya itu.


mereka pun menikmati makan malam yang sudah telat dua jam itu, mereka mengobrol dan bercanda seperti biasa nya tidak ada waktu makan yang hening jika di antara mereka yang berada di meja makan, bahkan seperti anak kecil yang suka berlarian saat makan mereka melakukan itu dengan kebebasan, di sana setiap mereka berkumpul selalu saja ada yang lucu hingga mereka tertawa terbahak-bahak tapi itulah mereka.malam pun mulai larut mereka beristirahat untuk mengembalikan tenaga yang sudah terkuras di siang hari.


Sania, yang selalu bermimpi buruk, akan kenangan saat bersama dengan Adryan, dia terbangun dengan peluh yang membasahi wajah dan tubuh nya, sekarang iya berdasar di kepala ranjang sambil berurai air mata, iya merindukan, pria yang jelas-jelas sudah menjadi milik wanita lain, akan tetapi ia tidak bisa melupakan nya Adryan, tetap bertahta di lubuk hati terdalam nya


Sania pun mencoba membuka laptop nya iya membuka, Aku pribadi nya,dan betapa terkejutnya nya Sania, yang mendapat kan sebuah pesan dari Adryan, berisi foto-foto kebersamaan nya di desa saat mereka bersepeda, menikmati suasana pedesaan,


tubuh Sania, bergetar Air mata nya lolos begitu saja, iya menangis sesenggukan, hatinya terasa di iris-iris oleh silet .


"kenapa,,, kenapa Yan, semakin aku coba melupakanmu mu semakin, sakit yang aku rasakan, kenapa,,, semua ini menyiksa ku aku begitu menderita sendiri an di sini Adryan Stevano kamu satu-satunya orang yang tidak pernah bisa ku singkirkan dari hati ini.

__ADS_1


__ADS_2