Gadis Desa Ku

Gadis Desa Ku
Lebih sakit hati


__ADS_3

Emily, tidak kunjung siuman juga hingga dokter meminta keluarga, untuk menandatangani, surat persetujuan, mencabut alat bantu yang terpasang pada tubuhnya itu, Emily di nyatakan sudah meninggal, dan jika alat itu terus menancap di tubuh nya, akan lebih menderita lagi,itu vonis dokter, saat ini hingga Joe,ngamuk di ruangan itu dia tidak ingin kehilangan putri nya lagi, Joe masih punya keyakinan putri nya akan bertahan hidup walaupun dokter sudah memponis nya mati sekalipun.


"aku tidak pernah setuju, berapa pun biyaya perawatan putri ku, aku akan membayar nya, aku tidak akan pernah mencabut alat yang membantu pernafasan nya"ujar Joe.


"Joe, kasihan putri kita, jika dia terus di pertahankan"ujar Sania.


"tidak Sania, aku yakin putri ku, akan kembali sehat, aku tidak mau dia pergi lagi dari hadapan ku aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi"ujar Joe.


"Joe, kamu tidak boleh egois"ujar Adryan.


"kamu, tidak akan pernah mengerti Adryan karena kalian tidak pernah merasakan nya"ucap Joe, semua orang mengerti kesedihan Joe, saat ini, sementara itu Maxim, langsung membuat keputusan untuk membawa Emily, kembali ke Inggris, siapa pun tidak ada yang boleh melawan kehendak nya, karena wali sah Emily adalah Maxim, semua orang tidak ada lagi yang berhak mengambil keputusan saat ini, Maxim siap pasang badan, semua orang tidak ada yang berkutik saat Maxim, menyatakan bahwa Emily, hanya anak nya karena keluarga nya sendiri sudah membuang nya dan hal itu adalah, sebuah tamparan yang menyadarkan mereka.


"kalian, tidak punya hak, memutuskan apapun, dia itu putri ku, aku heran sejak kapan kalian jadi orang tua nya, apa kalian sadar semua ini adalah hasil dari perbuatan kalian pada putri ku, andaikan saja Emily, tidak pernah kecewa dengan kalian, dia pasti, tidak akan pernah menyembunyikan semua ini dari ku"ujar Maxim murka.


semua orang tiba-tiba terdiam semua orang kini hanya mematung.


"aku akan membawa putri ku kembali, silahkan kalian nikmati ego, kalian masing-masing saat ini"ucap Maxim , lagi.


Maxim, pun meminta dokter, mempersiapkan keberatan Maxim,ke London Inggris, saat itu juga.


singkat cerita, Emily kini sudah berada di rumah sakit terbaik,di London Emily, keadaan nya sudah mulai setabil saat ini, Emily akan segera siuman, jika tidak ada gangguan lain nya, dia akan di operasi, saat itu juga.


Maxim, dan Megan, selalu setia berada di sana, dia tidak pernah ingin jauh dari putri semata wayangnya itu.


sementara itu, Megan,membantu merawat Emily, mulai dari hal kecil menyeka tubuh atau pun, mencukupi kebutuhan Maxim, saat berada di rumah sakit, dia langsung membawa baju ganti dan lain -lainya.


"Hanny, kamu mau makan apa hari ini??"ucap Megan.


"apa saja sayang, aku sebenarnya tidak ingin makan"ujar Maxim.


"tidak boleh begitu Hanny, jika kamu mogok makan maka, Emily , akan sedih jika kamu ikut sakit ,lalu siapa yang akan menjaga nya,selain kita??"ucap Megan, menyemangati.


"kamu benar sayang, Emily, cuman punya kita"ucap Maxim.


sementara itu, di Italia, Gavin,kini tengah marah besar kepada seluruh anggota keluarga nya, yang telah menelantarkan Emily, Gavin baru tahu, semua itu.


"kalian,itu sadar, tidak sih perbuatan kalian itu hanya akan membuat kita dalam masalah"ujar Gavin.


dua hari kemudian, Emily, pun sadar dia mulai bisa merespon, makanan yang di berikan kepada nya, walaupun hanya seujung sendok.


"sayang, Daddy mohon, bertahan lah Daddy sedang mencari donor yang sangat cocok untuk mu"ujar Maxim.


Emily, hanya merespon dengan tersenyum,sambil menahan sakit, saat ini dia sudah tidak mungkin untuk bertahan lama lagi.


"da Daddy... aku sudah... tidak kuat lagi"ucap Emily,sambil tersenyum dan menahan rasa sakit yang teramat menggrogoti tubuhnya.


"tidak sayang, jangan pernah bicara begitu, Daddy, tidak bisa kehilangan, mu sayang"ucap Maxim, Sambil berurai air mata.


"Daddy, kenapa tidak pernah di coba aku yang di cek,dulu biar kita tahu semoga saja sum-sum tulang belakang ku cocok"ucap Megan.


Maxim pun mengangguk, dan menyetujui nya, semoga saja, dengan semua itu ada keajaiban, tuhan, untuk putri nya Emily.


Emily, pun kembali memejamkan mata nya setelah dokter menyuntikkan, obat kedalam infus, tersebut .


"dokter, apa ada kemungkinan putri ku bisa selamat jika pendonor nya tidak pernah punya hubungan darah dengan nya"ujar Maxim .


"tentu, jika ternyata ada kecocokan, semua itu bisa berjalan dengan sangat baik, tidak melulu harus keluargganya, namun itu adalah sebuah keajaiban tuhan yang sangat langka"ujar sang dokter.


"tolong periksa, sampel istri saya dokter"ucap Maxim.


"baiklah nyonya silahkan ikuti saya, ujar dokter itu mengajak Megan untuk melakukan pemeriksaan.


selama pemeriksaan, dokter pun langsung tercengang, ternyata Megan memiliki kecocokan dengan Emily.


tidak menunggu lama lagi, mereka pun langsung bergegas melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang tersebut, setelah menghabiskan waktu yang cukup lama akhirnya operasi pun berhasil di lakukan walaupun, kini masih menunggu perkembangan selanjutnya, dan itu membutuhkan waktu yang lama Emily dan Megan di tempat kan di ruang ICU, saat ini dengan pengawasan yang sangat ketat,dokter yang berjaga hampir setiap waktu keluar masuk untuk memantau nya.


Megan, sudah mulai siuman, saat ini Maxim, berkali-kali mencium kening nya, dia begitu menyayangi Megan, saat ini betapa tidak wanita itu mampu, berkorban untuk putri semata wayangnya itu.


saat ini, dokter menyatakan bahwa Emily, sudah ada kemajuan perkembangan yang sangat baik, Maxim, berjanji setelah Emily, sembuh dia akan menjaga nya lebih ketat lagi.


berbulan-bulan kemudian, Emily sudah mulai membaik,kini dia sudah tidak menderita lagi meski ia masih harus terus melakukan pemeriksaan saat ini, dan masih mengkonsumsi berbagai macam jenis suplemen vitamin, dan berbagai macam makanan yang terus dalam pantauan.


setelah dinyatakan sembuh total Emily, mulai beraktivitas kembali, sebagai dokter anak, yang selama ini ia cita-citakan.


Maxim, dan Megan kini semakin bahagia, saat ini mereka tengah berlibur di Kanada, sambil menemani, Emily tinggal di sana.


"Emily, Daddy senang kamu sudah jauh lebih baik, tapi Daddy mohon jangan terlalu lelah ingat saran dokter,tolong ingat, Daddy tidak sanggup jika harus melihat mu drop lagi.

__ADS_1


"iya Daddy, aku tau"ucap Emily.


"setelah ini aku akan istirahat Dad.."ujarnya sambil tersenyum.


Megan, langsung mengelus puncak kepala Emily.


"istirahat lah sayang dengarkan Daddy mu, kamu tau saat keadaan mu kritis dia tidak pernah memperhatikan kesehatan nya sendiri Daddy mu, adalah orang yang sangat terpukul"ucap Megan dengan lembut.


"iya,momm... Emily, akan berhenti bekerja untuk sementara"ujar Emily, yang kini memeluk Megan.


🌹💖💖💖🌹


dua Minggu setelah itu mereka kembali ke London, saat ini mereka begitu bahagia, hari-hari nya, Emily, di jalani dengan riang gembira.


Megan, selalu menemani, Emily, untuk aktivitas apapun, sesuai pesan Maxim, Megan pun merasa sangat bahagia, saat ini dia seperti sedang menemani putri nya sendiri.


sementara itu di kantor, Maxim tersenyum dia mendapat kiriman Vidio, dari Emily, dia sedang mengerjai Megan yang tengah sibuk membuat kue kering.


"sayang kamu itu, nakal ya mommy mu sendiri kamu kerjain, bagaimana kalau dia membalas nya"ujar Maxim berbicara sendiri sambil tersenyum Damian, pun langsung bergegas untuk bertanya kepada Maxim, saat ini.


"Tuan, apa malam ini akan lembur,atau langsung pulang"ucap Damian.


sesekali, nikmati lah hidup ini jangan selalu terpaku, dalam pekerjaan, saat ini masih banyak,hal yang harus di lakukan selain itu, dan jika kita tidak melihat kedepan maka kita akan menyesalinya, intinya selain pekerjaan kita juga harus bisa dinikmati hasil dari kerja keras kita"ucap Maxim sambil tersenyum.


"baiklah tuan, aku permisi dulu"ucap Damian.


mereka pun, berpisah, untuk pulang.


sesampainya di Mension mereka langsung berbaur di meja makan, setelah itu mereka pun istirahat dengan tenang sementara Emily kini sedang sibuk, menyiapkan barang bawaan nya untuk pergi ke Indonesia, dia sedang rindu suasana di sana dia ingin menemui omah nya saat ini.


Emily, sudah belasan tahun terakhir tidak pernah kesana, dia rindu dengan keluarga ibunya itu.


setelah semua nya selesai, Emily, langsung menghampiri ranjang empuk nya itu.


dia pun tertidur pulas, hingga pagi hari, Emily,di antar oleh Maxim dan Megan,ke bandara Emily pergi dengan jet pribadi milik Maxim saat ini.


perjalanan yang panjang, Emily, hanya bermalas-malasan,di kamar yang tersedia di jet tersebut dia tidur, hingga perjalanan berakhir hanya sibuk bermain game, dan melihat video lainnya di sana.


Emily pun kini sudah mendarat di bandara Sukarno Hatta, dia langsung di jemput oleh asisten Maxim yang ada di Indonesia saat ini dengan, jalan yang sedikit terburu-buru, dia hampir terjatuh karena menabrak seseorang yang kini, berjalan satu arah dengan nya, pria itu menoleh, dan alangkah terkejutnya mereka berdua .


"Emily" ucap Gavin yang kini tengah bersama dengan sang istri.


Gavin, pun langsung menelpon seseorang, untuk mengikuti Emily, saat ini.


mereka pun, langsung melakukan, apa yang di perintahkan oleh Gavin.


sementara Emily, sudah melesat dengan mobil sport nya, saat ini Emily tidak akan pernah perduli lagi, dengan mereka.


setelah sampai di kediaman Omah nya Emily kini langsung memeluk omah, nya yang kini sudah duduk di kursi roda, Omah nya mengalami stroke, karena begitu terkejut mendengar kabar kematian Emily , saat itu.


"omah, Emily sudah ada di sini, Emily akan merawat omah"ucap nya sambil mencium pipi Omah nya itu dengan Sayang, wanita itu langsung mengangguk.


beberapa hari kemudian,di kediaman yang hanya di huni oleh para pelayan, dan kedua majikan nya itu tiba-tiba, seseorang datang membawa bunga, dia adalah Gavin, yang kini tengah menunggu di ruang tamu.


"siapa yang datang BI??"tanya Emily.


"seorang pria, Nona muda dia ingin bertemu dengan anda"ucap pelayan tersebut.


"baiklah tolong bawa Oma, kembali ke kamar nya"pinta Emily.


"baik Nona"ujar pelayan tersebut.


Emily, pun pergi tanpa berpikir terlebih dahulu, dia langsung menemui pria yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu, dia masih menggunakan topi dan masker juga kacamata.


"maaf,ada perlu apa ya mencari saya"ujar Emily.


"apa, aku sudah tidak punya hak untuk menemui, wanita yang sangat kucintai" ujar Gavin sambil membuka masker dan kacamata hitam nya itu.


"apa maksudnya kata-kata mu itu, kita sudah tidak punya hubungan apa pun lagi, Emily yang dulu, sudah lama mati bersama kepergian mu saat itu"ucap Emily.


Gavin, langsung berdiri dan menghampiri Emily, dia membawa, Emily, pergi dengan paksa saat ini, Emily sudah mencoba untuk memberontak, namun tidak bisa mengalahkan tenaga. Gavin, pria itu begitu kekar, meskipun terlihat seperti cowok, element lain'nya.


"lepas, kamu mau membawa ku Kemana, heuhh aku tidak mau"ujar Emily.


"diam lah Hanny, aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi kali ini, aku sudah sangat lama bersabar demi bisa bersama dengan mu"ujar Gavin yang kini memeluk nya erat di kursi penumpang saat ini.


"kak, aku bukan siapa-siapa lagi, untuk mu kamu bahkan sudah memiliki anak istri hidup mu sudah sangat bahagia, apa lagi yang kamu inginkan"ucap Emily.

__ADS_1


"aku hanya ingin, kamu Hanny, aku tidak ingin yang lain nya lagi"ujar Gavin.


Emily, hanya menangis saat ini.


"seharusnya Tuhan, mencabut nyawa ku, saat itu juga, agar semua ini berakhir"ujar Emily lirih.


"segitu bencinya kah kau padaku Hanny, sehingga kamu tidak ingin lagi melihat ku??"ucap Gavin menatap nya, penuh kecewa.


"kamu, harus ingat hubungan kita sudah berakhir "ujar Emily, yang meminta sopir menghentikan mobilnya, Namun Gavin tidak ingin menyerah begitu saja.


"tetap jalan terus, jangan pernah berhenti sekalipun,di ujung dunia, aku tidak akan pernah melepaskan cinta ku lagi,dengar kan itu"ujar Gavin.


"kak, aku harus pulang omah, tidak ada yang merawat, saat ini"ujar Emily.


"aku tidak tau siapa yang kau panggil kakak, saat ini"ujar Gavin begitu dingin.


"Gavin, tolong turun kan aku di sini, aku harus pulang"ujar Emily, Air mata nya bercucuran, dia merasa begitu sakit saat harus memanggil orang yang berada di hadapan nya, dengan sebutan nama secara langsung.


"hentikan mobil nya"ucap Gavin, dan sopir pun langsung menghentikan mobilnya saat ini.


"keluar lah"ujar Gavin sambil tetap fokus kedepan tanpa menoleh ke arah Emily, yang kini tengah menatap nya sambil bercucuran air mata.


Emily, langsung keluar dari dalam mobilnya itu, dia tidak kuasa lagi menahan tangisnya, yang kini tidak kunjung berhenti, dia langsung berlari menuju sebrang jalan , dia berjalan kaki, sampai akhir nya, sebuah tangan menghentikan nya.


"masuk lah, aku akan mengantarmu pulang"ujar Gavin yang tidak tega melihat wanita yang di cintai nya itu, terduduk lemas di atas trotoar, saking lemas nya setelah menahan begitu banyak kesedihan.


"aku akan pulang sendiri, tidak usah perduli kan aku"ujar Emily yang kini mencoba untuk bangkit berdiri, dia langsung menyetop taksi saat ini.


namun Gavin langsung membopong tubuh Emily membawanya ke dalam mobilnya kembali, saat ini.


"lepas kan aku, biarkan aku pergi sendiri"ujar Emily, yang begitu lemas, saat ini dan akhirnya pingsan.


"sayang bangun lah"ucap Gavin menggoyangkan, wajah pucat milik Emily saat ini.


Gavin, tidak mengantar kan Emily pulang melainkan membawanya, kesebuah rumah yang terpencil di sebuah desa.


mereka saat ini tinggal di sana.


saat Emily sadar,ia berada dalam pelukan Gavin saat ini.


"kamu"ujar Emily.


"kenapa HM...ada yang salah??"ujar Gavin pura-pura cuek.


"lepas aku ingin pulang"ujar Emily.


"pulang lah jika kamu bisa"ujar Gavin cuek.


"apa mau mu, kenapa tidak membunuh ku saja sekalian"ujar Emily.


"sayang, apa alasan aku untuk membunuh mu"ujar Gavin masih dingin.


"tidak butuh alasan, semua agar kau puas"ujar Emily.


"kamu mau tau apa yang bisa membuat ku puas heuhhhh"ujar Gavin yang kini memeluk Emily dari belakang.


"lepas"ujar Emily.


"lepaskan saja jika bisa"ujar Gavin, yang kini menciumi tengkuk Emily, Emily menahan agar suaranya tidak keluar, Emily menggigit bibir bawahnya begitu kuat.


"lepaskan aku"ujar Emily.


"aku tidak akan melepaskan mu sampai kamu tau apa yang aku mau"jawab Gavin.


Gavin langsung membawa Emily keatas ranjang dan mengunkung nya, saat ini Emily, berusaha melepaskan diri, Namun Gavin , lebih kuat dari Emily, saat ini dia hanya bisa menangis dan memukul-mukul dada bidang milik Gavin.


"lepaskan aku aku mohon, jangan lakukan itu"ujar Emily memohon,namun Gavin, tidak menggubris nya, dia begitu di liputin nafsu.


akhirnya, semua yang tidak di hendaki pun terjadi, Emily, hanya bisa menangis,di balik selimut semua terasa hancur, Emily, sudah tidak memiliki apa yang selama ini di jaga nya mahkota nya sudah di renggut paksa oleh pria yang masih di cintai nya, tapi satu hal yang tidak mungkin membuat mereka bersatu selain hubungan keluarga pria itu juga sudah memiliki istri.


Emily, pun bangkit dan berjalan, gontai langkah nya sedikit di seret dia langsung masuk kedalam kamar mandi, Emily menangis sejadinya di dalam sana.


Emily merasa begitu jijik dengan dirinya saat ini, Emily, menggosok seluruh bagian tubuh nya, dengan sangat kuat apa lagi di bagian tanda merah hasil perbuatan Gavin.


"aku lebih baik mati saja dari pada harus terus jadi beban bagi orang lain, dan menghentikan semua kesalahanku ini"Emily, melihat sebuah kaca,di dalam kamar mandi sana dia langsung memecahkan nya, dan mengambil , serpihan tersebut, bermaksud untuk menggores kan nya di pergelangan tangan nya, Namun tiba-tiba Gavin mendobrak pintu.


"jangan mendekat, aku tidak ingin lagi hidup di dunia ini"ucap Emily.

__ADS_1


"kamu mati aku pun akan ikut mati ucap Gavin yang kini, mengambil pecahan kaca yang lain nya, Emily langsung membuang pecahan tersebut dia pergi ke luar dari kamar mandi dan langsung mengambil bajunya yang berserakan saat ini.


__ADS_2