Gadis Desa Ku

Gadis Desa Ku
#lelah#


__ADS_3

Emily, bangkit dari ranjang iya merasa begitu haus, dia hendak melangkah menuju ke luar kamar, tapi Emily,kaget melihat Gavin, tergeletak di lantai depan pintu balkon.


"kak, kamu kenapa!!"teriak Emily, yang langsung mengangkat kepala Gavin,di pangkuan nya.


"Emily, sayang aku sangat mencintaimu, aku mohon jangan lukai perasaan ku ini, jangan pernah meminta untuk berpisah atau aku akan mati saat itu juga, aku benar-benar lelah Emily, jika kamu kembali meninggalkan aku,lebih baik aku mati"ucap Gavin, yang kini dalam keadaan mabuk, Emily, pun mencoba mengangkat tubuh Gavin membantunya untuk duduk lalu berdiri dan memapah nya ke atas ranjang.


"Emily, jangan katakan itu lagi"ucap Gavin, yang kini menangis.


"kak, kamu sedang mabuk,ayo sebaiknya kamu tidur"ucap Emily.


"tidak... tidak Emily, aku tidak mabuk aku hanya lelah, saat ini karena takut bahkan sangat takut kehilangan mu, kamu adalah nyawaku saat ini dan sampai kapan pun, dan jika kamu pergi aku bisa mati"ucap Gavin, yang masih menatap wajah istrinya itu.


"aku tidak akan pernah, pergi jika kamu tidak pernah berkata bahwa kamu menyesal telah menikah dengan ku, dan karena aku kamu kehilangan kasih sayang keluarga mu"ucap Emily,sambil menitikkan air mata nya, tiba-tiba, Gavin, langsung mendorong Emily, ke atas ranjang nya dia langsung mengungkung tubuh Emily, saat ini entah lah Gavin, sangat murka mendengar ucapan Emily, Gavin, tidak ingin kehilangan wanita yang sangat di cintai nya itu, dia langsung mencium Emily, dengan sangat brutal, Emily, sudah tidak bisa melepaskan diri dari suaminya itu, hingga ia hanya bisa menangis kala Gavin, menjamah tubuh nya dengan sangat kasar.


"hiks hiks hiks,kak, kamu sebenarnya kenapa kenapa bisa seperti ini aku mohon berhentilah"ucap Emily, namun Gavin, yang masih dalam pengaruh alkohol, saat ini dia tidak menggubris perkataan Emily, hingga saat Gavin, mencapai puncak , dia langsung terkulai lemas di samping Emily, yang masih menangis.


"maaf kan aku sayang, aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin mendengar kata apapun lagi yang akan menyakiti kita berdua, aku mencintaimu... aku sangat mencintaimu"ucap Gavin, yang langsung tertidur pulas di samping Emily, sementara itu Emily, bangun ia berjalan menuju kamar mandi, dengan tubuh yang sangat lemas, akibat perbuatan Gavin, suaminya yang sangat brutal tadi, iya bahkan merasakan sekujur tubuh nya tidak memiliki tenaga lagi.


Emily,kini masih berendam dalam bathtub, dia bahkan masih meneteskan air mata nya, hingga Emily, berkata kepada dirinya sendiri, apapun yang terjadi dia harus bisa terima, karena, Gavin, adalah pria yang sangat di cintai nya.


setelah membersihkan diri Emily, langsung mengeringkan rambut nya, karena ini masih pukul dua pagi dini hari, setelah itu ia kembali menggunakan piyama tidur nya, dan merebahkan diri di sofa, dia tidak ingin lagi tidur bersama dengan Gavin, saat ini jika Gavin, belum sadar juga.


tepat pukul tujuh pagi Gavin, terbangun dia langsung mencari keberadaan istrinya, saat ini yang tidak ia temukan di samping nya, Emily masih terlelap tidur di sofa nya saat ini.


Gavin, bangkit, dia tidak sadar dengan perbuatan nya semalam hingga dia kembali salah paham pada istrinya itu yang kini tidur terpisah dengan nya.


"kamu bahkan enggan untuk tidur dengan ku lagi Emily, apa kesalahan ku"ucap Gavin lirih, Gavin , pun langsung bergegas menuju kamar mandi dan mandi tidak butuh waktu lama Gavin, langsung keluar, dia langsung masuk ke dalam wal-k in closed, saat itu juga dan memakai pakaian kerja nya sendiri tanpa bantuan dari istrinya seperti biasa.


setelah selesai berpakaian Gavin, merapikan rambut nya di depan cermin , saat itu Emily,baru membuka mata, dia perlahan bangkit dari sofa tersebut,sambil meregangkan otot nya yang terasa kaku, dan ngilu.


sementara itu Gavin, tidak menoleh sedikit pun walaupun dia sudah tau Emily, bangun, Gavin, langsung berjalan mengambil ponsel nya di atas nakas dan juga tas kerja nya yang berada di samping nya,ia melangkah begitu saja, Emily, terdiam melihat tingkah suaminya itu, dia merasa sedih, Gavin, bahkan tidak sedikit pun memperdulikan keberadaan nya saat ini.


Gavin turun, setelah menemui, anak nya di dalam kamar mereka, setelah itu dia langsung menuju meja makan, Emily, yang sudah akan menuruni tangga kini ia menghentikan langkahnya sejenak, saat melihat Gavin, pergi setelah meneguk kopi nya hanya sedikit, tanpa menoleh ke arah nya, Emily langsung terduduk lemas di anak tangga tersebut, dia menangis sesenggukan saat ini hatinya terasa hancur, Emily, tidak tau kenapa Gavin, bersikap seperti itu padahal kebiasaan nya dia selalu bergantung pada Emily, mulai dari hal terkecil dan apa pun itu.


"hiks hiks hiks... apa salah ku kak, kamu bahkan tidak ingin melihat ku sedikit pun, apa kamu benar-benar akan pergi meninggalkan kami lagi"ucap Emily,lirih.


Emily, turun ia menuju dapur untuk segera minum air putih tanpa menyentuh sarapan nya dia langsung pergi ke kamar kedua anak nya yang kini tengah minum dari botol susu nya.


"sayang kalian sudah wangi"ucap Emily, yang langsung mencium kedua nya, anaknya itu malah melepaskan botol tersebut dan meminta ibunya menggedong nya saat ini.


"mommy, Belum mandi, jika kalian peluk mommy nanti kalian bisa bau asem "ucap Emily, sambil tersenyum manis ke arah keduanya hingga mereka pun langsung mengerti.

__ADS_1


Emily, pun kembali ke dalam kamar nya,ia langsung mandi dan bersiap untuk pergi bekerja, saat ini dia bahkan memutuskan untuk membawa kedua anak nya kerumah sakit sekaligus untuk imunisasi, karena sudah jadwal nya.


sementara itu di kantor, Gavin, sedang sibuk meeting,di ruangan nya, bahkan Gavin, sangat dingin saat memimpin rapat, saat ini suasana ruangan tersebut seperti, kekurangan udara, saat melihat wajah pemimpin rapat begitu dingin, bahkan tatapan tajam itu selalu terpancar saat ini.


setelah hampir tiga jam, Gavin,baru keluar dari ruangan tersebut di ikuti oleh asisten nya dan sekertaris nya juga , Gavin, langsung masuk ke dalam ruangan nya saat itu juga ia bahkan langsung kembali mengerjakan pekerjaan nya tanpa menghiraukan jam makan siang nya, Gavin bahkan , tidak meminta makan siang nya pada asisten nya itu saat ini hingga membuat asisten nya bingung.


sementara itu di rumah sakit Emily, membawa kedua buah hatinya kedalam ruangan pribadi nya, tepat nya kamar pribadi nya yang sudah sejak rumah sakit tersebut di bangun ruang pribadi nya, adalah prioritas utama yang sangat di pentingkan oleh Maxim untuk kenyamanan putri nya itu.


kedua buah hatinya, saat ini sudah tertidur setelah sempat menangis karena tusukan jarum yang membuat keduanya kaget dan menangis kencang, setelah kedua pengasuh nya berusaha untuk membuat mereka kembali tenang sambil memberikan asi dari botol milik mereka.


🌹💖💖💖🌹


Sore itu Emily, pulang lebih awal, dia bahkan sudah memasak untuk suaminya, Emily,tau Gavin, pasti saat ini belum makan karena dia tau itu adalah kebiasaan suaminya, ketika marah.


setelah selesai ia pun kembali ke dalam kamar nya untuk membersihkan diri, dan kembali ke bawah untuk menunggu Gavin pulang.


dua jam sudah Emily, menungu,tapi nihil ia bahkan tidak melihat kedatangan suaminya itu, Emily, menghela nafas panjang dan bangkit dari kursi meja makan tersebut lalu menuju kamar tidur anak nya, ia melihat keduanya terlelap dalam tidur nya, Emily, langsung mencium kedua nya, saat ini dia langsung membetulkan selimut keduanya, dan pergi meninggalkan mereka.


Emily, langsung berjalan menuju kamar nya saat itu juga dia langsung merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, dan dia pun tidur hingga larut malam,ia terbangun saking merasa lapar, tapi saat dia bangun dia tidak mendapati suaminya dimana pun, saat ini.


"kamu,marah sampai tidak pulang, apa salah ku"ucap Emily, lirih.


Emily, turun ke bawah ia bahkan melihat makan di atas meja masih utuh tidak tersentuh sedikit pun, Emily, duduk di kursi meja makan tersebut, dan langsung mengambil makanan nya saat itu juga walaupun makanan itu sudah dingin.


sementara itu di club'malam saat ini Gavin, tengah mabuk berat ia bahkan ditemani oleh dua orang wanita yang sedari tadi bergelayut manja di samping nya, Gavin, sudah berusaha untuk mengusir mereka tapi mereka tetap kekeuh ingin menemaninya minum tanpa rasa malu mereka pun bercumbu mesra saat ini Gavin, kembali ke dunia gelap nya saat ini seperti dulu saat dia kehilangan sosok Emily.


satu Minggu berlalu, Gavin, tidak pernah pulang atau memberi kabar pada Emily, sampai Emily, menerima kiriman foto, kebersamaan Gavin, dengan para wanita nakal tersebut, bahkan foto Gavin, saat sedang tertidur dengan wanita-wanita ****** lainnya, Emily, tidak pernah menyangka, Gavin, bisa melakukan semua itu, handphone Emily, terjatuh bersamaan dengan dirinya yang langsung tidak sadarkan diri.


pelayan yang melihat itu dia langsung berteriak histeris dan memanggil nama nyonya muda nya itu, dan langsung bergegas menolong, nya membawa Emily, kerumah sakit terdekat, sementara seorang pelayan yang tinggal di rumah nya menghubungi Gavin, yang kini tengah memimpin rapat, dia pun menghentikan rapat nya sejenak lalu pergi menuju rumah sakit, sudah hampir dua jam saat ini Emily, masih belum sadarkan diri, Gavin menatap wajah Emily, yang begitu pucat dan tirus, dia langsung merasa bersalah, karena selama satu Minggu ini dia tidak pernah pulang untuk melihat ketiga orang yang berarti dalam hidup nya.


"maafkan aku Emily, aku pikir ini adalah jalan terbaik yang bisa membuat mu sadar akan kesalahan mu, tapi kamu bahkan tidak pernah berusaha untuk menghubungi ku, sekali saja"ucap Gavin, lirih dia masih enggan untuk mendekat pada Emily, dia merasa dirinya telah melakukan dosa besar selama satu Minggu ini.


Emily, pun terbangun setelah tiga jam tak sadarkan diri, Emily, langsung membuang pandangannya saat itu juga dia membelakangi Gavin, Emily, begitu terasa sakit hati dan hancur saat ini.


"kamu sudah sadar??"ucap Gavin,sambil mendekat.


"apa perduli mu, pergilah aku tidak butuh perhatian palsu mu itu,urus saja kesenangan mu di luar sana, mulai saat ini kita akan segera bercerai"ucap Emily.


"diam...!!!! Emily, apa kamu sadar dengan yang kamu katakan, heuhhhhh, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu"ucap Gavin, dengan emosi yang meledak-ledak.


"Terserah, yang pasti mulai saat ini, kita tidak akan pernah bertemu lagi"ucap Emily,sambil berusaha bangkit, dan melepaskan jarum infus itu dengan sangat kasar, hingga darah mengalir deras di tangan nya, Emily, langsung turun dari ranjang tersebut dan hendak pergi, tapi Gavin , langsung menahan nya dia langsung memencet tombol emergency, tidak lama dokter pun datang di ikuti oleh perawat.

__ADS_1


"ada apa ini kenapa jarum infus nya bisa lepas"ucap Dokter, yang langsung menangani Emily, yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Gavin , yang begitu erat, saat ini.


"Dokter, aku ingin pulang sekarang juga"ucap Emily.


"tapi nyonya, kondisi anda baru saja sadar, tolong tunggu, sampai kondisi anda benar-benar pulih"ucap dokter tersebut, yang kini tengah menghentikan pendarahan di tangan Emily, Emily, menolak ketika seseorang perawat hendak kembali memasang infus.


"aku tidak mau di sini aku akan pulang sekarang juga"ucap Emily, namun Gavin, masih memeluk nya erat tanpa menghiraukan Dokter dan perawat yang kini tengah menolong Emily.


"aku mau pulang lepas"ucap Emily, yang mendorong kuat tubuh dada Gavin, sehingga pelukan nya terlepas saat ini,dokter pun hanya terbengong melihat sikap Emily saat ini, dia pun menganggukkan kepalanya,memberi izin pada Emily, yang sudah berlari keluar dari ruangan nya itu, Gavin, mengikuti nya dengan cepat ia meraih tangan Emily, membawa nya kedalam pelukannya.


"lepas Gavin, mulai saat ini jangan pernah menyentuh ku lagi aku jijik dengan mu,lepas"ucap Emily, yang kini menangis, sesenggukan menahan sakit yang teramat di hati nya, saat melihat video dan foto, yang di kirim ke ponsel nya.


"kita pulang"ucap Gavin, dingin tanpa ekspresi, dia langsung menarik lengan Emily, tanpa sadar dia mencengkram kuat lengan istrinya itu, saat ini, dia bahkan tidak menghiraukan tangis istrinya saat ini Gavin,membawa Emily , kedalam mobil nya dan langsung tancap gas setelah memakai kan sabuk pengaman nya pada Emily.


"turun kan aku sekarang juga, aku mohon sudah cukup rasa sakit ini , aku tidak ingin lagi, kita berpisah saja"ucap Emily, terus-terusan minta berhenti.


Gavin, masih mengemudi dengan kecepatan tinggi, dia sangat tidak ingin mendengar kata-kata cerai itu hingga saat sampai di Mension Gavin, langsung menarik Emily, membawanya masuk ke dalam kamar nya tanpa memperdulikan sekitar nya, saat ini bahkan Gavin, dengan kasar nya, mendorong Emily, keatas ranjang nya.


"Gavin, jika kau ingin membunuh ku,ayo bunuh aku sekarang juga, aku lebih baik mati saja dari pada harus seperti ini"ucap Emily, Namun Gavin malah menampar pipi Emily, hingga Emily, tersungkur di ranjang nya.


"kau bahkan berani menamparku, terimakasih Gavin, terimakasih untuk semua rasa sakit ini, aku akan ingat ini sampai kapan pun, ucap Emily, yang berusaha bangkit, Emily, berlari ke kamar mandi dia langsung mengunci pintu nya dan duduk di bawah guyuran shower, dia menangis sejadinya di sana,rasa sakit dari tamparan itu, lebih menyakitkan lagi penghianatan Gavin, hatinya benar-benar hancur.


"tuhan, cabut saja nyawaku sekarang juga, aku tidak ingin hidup lagi jika harus merasakan rasa yang teramat sakit ini aku mohon ambilah nyawa ku"ucap Emily,lirih.


sementara itu Gavin, terduduk di lantai dia begitu menyesal karena sudah berani menggunakan tangan nya, untuk menampar wajah cantik istri nya itu, yang kini mungkin sedang merasa hancur karena ini adalah pertama kalinya dia melakukan itu, Gavin, bangkit dan berjalan menuju pintu kamar mandi, dia mengetuk pintu meminta maaf kepada Emily, dan meminta Emily, keluar dari kamar mandi, Gavin, ingin memastikan kondisi wajah Emily, yang kini terdengar menangis.


"sayang aku minta maaf aku mohon keluar lah, aku sangat menyesal, ucap Gavin, yang kini terus menggedor pintu Namun tidak kunjung di buka, dan Gavin, terpaksa mendobrak pintu tersebut, dia langsung menghampiri Emily, yang menundukkan kepalanya di atas lutut dibawah guyuran shower, Gavin, berusaha menggenggam tangan nya, namun di tepis oleh Emily, Gavin mematikan shower dan langsung mengangkat paksa tubuh Emily, yang masih bergetar hebat karena menahan tangisnya ketika itu.


Gavin, langsung mendudukkan Emily di ranjang nya tanpa aba-aba dia melepaskan pakaiannya Emily, dan langsung menyelimuti tubuh istrinya itu, walaupun Emily, berontak, tapi tenaga Gavin , lebih kuat, dari Emily.


"Emily sayang, aku mohon maafkan aku, aku sangat bersalah pada mu, aku khilaf Emily, maaf kan aku"ucap Gavin.


"jauhkan tangan kotor mu dari ku, pergi jangan temui aku lagi karena mulai saat ini aku bukan istri mu lagi"ucap Emily, lantang.


"tidak sayang tidak, aku mohon jangan katakan itu aku sangat mencintaimu"ucap Gavin.


"heuhhhhh... cinta... cinta macam apa yang kamu ucapkan, apa yang seperti ini "ucap Emily, yang langsung memberikan ponsel nya pada Gavin, sementara itu dia bangkit dan berjalan menuju wal-k in closed, Gavin, mematung saat ini saat melihat bukti video dan foto dirinya selama satu Minggu ini .


"sudah di lihat,itu bukti perceraian kita, dan mulai besok aku tidak akan tinggal di sini lagi, aku akan pergi dengan kedua anak ku, kamu bisa lebih bebas untuk bersenang-senang dengan mereka"ucap Emily, yang kini sudah berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambut nya, Emily, tidak lagi menangis dan wajah nya terlihat datar tanpa ekspresi, dia sudah putuskan untuk pergi dari kehidupan Gavin.


"maafkan aku Emily, aku mohon, jika kamu ingin pergi dari ku,maka aku akan mati saat ini juga"ucap Gavin, yang sudah memegang pistol dan menodongkan senjata tersebut di kepala nya.

__ADS_1


"tidak Gavin, aku tidak bisa di ancam lagi, silahkan kamu lakukan apapun yang kamu inginkan aku sudah tidak perduli"ucap Emily, yang kini mengepalkan tangannya, sebenarnya dia sangat takut jika Gavin, benar-benar bunuh diri"dan satu lagi Gavin, setelah kepergian mu, aku akan menerima Edrick, yang sudah sangat lama menunggu ku"ucap Emily,agar Gavin tidak nekad.


"tidak Emily, kamu hanya milikku, tidak ada pria manapun yang akan bisa merebut mu, dari ku atau akan aku pastikan mereka akan memohon untuk kematian nya"ucap Gavin, yang kini melempar pistol tersebut dan memeluk Emily.


__ADS_2