
Gavin, masih depresi, saat ini karena kehilangan Emily, lagi dan lagi, dia benar-benar tidak menginginkan hidup lagi jika Emily, benar-benar sudah pergi untuk selamanya, sampai satu ketika Allan, berhasil menemukan keberadaan Emily, saat ini seluruh keluarga sedang melakukan pembahasan demi kesembuhan Gavin, Allan, meminta Adryan untuk melepaskan nya bersama Emily, karena Gavin adalah pewaris tunggal berbagai kekayaan yang di miliki Allan, karena Adryan, sudah mewariskan semua pada ketiga anaknya yang lain, tidak mungkin Gavin, sanggup mengelola bisnis keluarga nya sendirian.
"Daddy, kenapa harus jalan itu yang di tempuh, kita akan mencari Dokter, yang terbaik untuk Gavin, tidak harus dengan membiarkan mereka bersama bukan"ujar Adryan, tetap ngotot.
"kamu,mau putra sulung kita selama nya menderita seperti almarhum, mommy Tias"kata Sania, yang teringat akan mendiang mertua nya, Adryan, langsung tersadar saat mendengar ucapan Sania.
"Daddy, juga berpikir demikian"ujar Allan, lagi.
"tapi Daddy, mereka itu saudara "ucap Adryan lagi.
"apa, perduli nya itu jika ternyata semua sudah terjadi, asal kamu tau Emily, saat ini tengah mengandung anak dari putra mu yang berarti itu adalah cucumu juga,di tambah lagi bayi kembar, laki-laki yang kini ada dalam kandungan Emily"ujar Allan,tegas.
"baiklah jika itu yang terbaik menurut Daddy, tapi aku tidak ingin melihat mereka lagi setelah ini"ucap Adryan, yang tidak pernah menyetujui pernikahan antar keluarga.
"sayang, kamu tega ingin membuang mereka"ujar Sania, langsung berderai air mata.
"ya,kalau memang itu adalah suatu keharusan"ucap Adryan.
"aku tidak mau mereka semua adalah anak ku, dan sudah cukup selama ini kamu buat putri bungsu ku , terluka hingga hampir kehilangan nyawa!!!"""teriak Sania yang kini langsung berlari ke kamar putra nya Gavin, yang masih terlelap karena, pengaruh obat penenang.
sementara, itu Adryan langsung menyusul, dia tidak ingin istrinya kecewa seperti itu.
sesampainya di kamar dilihat nya, Sania, tengah menangis sesenggukan memeluk putra sulung nya itu, yang kini sudah menjelma menjadi, pria dewasa.
"sayang, maafkan aku"ucap Adryan, yang kini duduk di samping Sania.
"tidak, aku tidak akan memaafkan mu, sampai kapan pun, jika semua itu terjadi, aku akan pergi bersama dengan Gavin, dan Emily, terserah kamu mau berbuat apa yang pasti aku tidak akan membiarkan mereka menderita lagi"ucap Sania, yang kini tengah memeluk putra nya itu dari samping.
"baiklah, terserah sekarang urus saja seperti yang kamu inginkan, aku tidak akan berbuat apa-apa pada mereka berdua"ujar Adryan pasrah yang kini tengah memegangi sebelah tangan istrinya.
Adryan memohon maaf, pada Sania, sampai menangis, dia lebih takut kehilangan wanita yang paling berharga dalam hidup nya, ketimbang tahta nya.
Sania, pun meminta Allan, untuk mengantar Gavin, pada Emily, dengan pengawasan dokter di sepanjang perjalanan, menuju Kanada.
Gavin, yang baru mengerejap kan mata nya, saat ini dia sadar dirinya sedang berada di pesawat, dia melihat Allan,sang kakek, yang sudah sangat tua itu kini tersenyum kearah nya.
"bangun lah boy ,,, sebentar lagi kamu akan bertemu pujaan hati mu, Emily, kamu akan segera sembuh bahkan setelah tau anak kembar mu kini sedang tumbuh di rahim nya"ujar Allan, memberikan semangat.
sementara itu Gavin,kini tengah berusaha bangkit dari tidurnya, dia tersenyum, saat mendengar nama wanita yang sangat di cintai nya, Gavin, mungkin masih belum sembuh seratus persen, tapi saat mendengar nama gadis yang sangat di cintai nya itu dia lebih cepat merespon.
"kakek, tidak bohong kan"ujar Gavin, sedikit menekan kata-kata nya.
"untuk apa Kakek, berbohong kepada mu, Kakek membawa mu menuju tempat tinggal nya, saat ini, mungkin satu jam lagi kita akan sampai"ujar Allan.
Gavin pun turun dari tempat tidur nya saat ini, dia menuruti kata-kata Allan, untuk bersiap dan segera membersihkan diri, termasuk bercukur, karena rambut nya saat ini sudah gondrong, akibat beberapa bulan ini terbaring lemah.
Gavin, pun di Bantu, oleh seseorang yang sengaja Allan, pekerjakan untuk mengurus keperluan Gavin, termasuk merawat tubuh cucunya itu.
saat ini Gavin tengah berada di dalam kamar mandi setelah sebelumnya, mencukur rambut nya,di Bantu oleh asisten pribadi nya itu,kini penampilan nya tampak berbeda saat ini.
setelah selesai mandi Gavin pun langsung mengenakan stelan jas mahal nya, dan menyisir rambut nya dengan sangat rapi, tidak sampai satu jam setelah Gavin bersiap bahkan kini dia tengah menikmati, makan malam nya, Allan, sangat bersyukur, melihat keadaan cucunya kini Gavin, sudah jauh lebih baik saat ini, ternyata bukan obat-obatan yang dia butuhkan melainkan cinta nya.
__ADS_1
mulai saat ini, Allan berjanji untuk membuat mereka bahagia.
perjalanan pun berakhir, saat ini mereka bahkan sudah di jemput oleh sopir pribadi Allan, maklum saja sultan itu bebas punya banyak aset di berbagai negara, jadi tidak akan pernah mengalami kesulitan dimana pun dia berada.
hanya butuh satu jam perjalanan dari bandara menuju rumah Emily, tepat nya Mension milik keluarga Maxim.
sesampainya di sana, keadaan begitu sepi, saat ini jam menunjukkan pukul tiga dini hari, mungkin Emily, dan para pelayan pun sedang terlelap, hanya ada penjaga gerbang yang kini terjaga.
sopir, Allan, pun langsung menemui nya, dan meminta orang tersebut, membuka gerbang, sebelum, Allan, yang meminta nya.
tidak berapa lama,mobil pun sudah masuk halaman depan mension, dan Allan, juga Gavin, sudah di persilahkan masuk, oleh pelayan yang mengenali Gavin, kebetulan saat ini adalah, waktu dari mereka mulai bekerja membersihkan mension, maupun mengurus kebutuhan Emily.
"dimana, Nona, muda kalian"ujar Allan.
"masih di kamar nya tuan, dan mungkin jam segini Nona, muda,baru istirahat, karena sudah menjadi kebiasaan nya"jawab sang pelayan.
"Gavin, masuk lah kakek, akan menunggu mu di sini"ucap Allan.
"baiklah kek"ujar Gavin yang langsung menuju kamar Emily.
semua pelayan pun mendapat kan, perintah untuk melayani mereka dengan baik, saat itu juga, Allan,bicara panjang lebar saat ini dan semua orang mengerti dan menggunakan kepalanya
sesampainya di dalam kamar, Gavin,kini berjalan menghampiri Emily, yang tertidur sambil terduduk di sofa, dengan laptop nya yang masih menyala Gavin, yang melihat itu dia langsung mengambil laptop itu perlahan, dan ia membawa tubuh Emily, keatas ranjang nya, Gavin merebahkan tubuh Emily, perlahan tapi pasti, setelah itu menyelimuti nya.
Gavin, pun melihat perut Emily, yang dulu rata,kini sudah sangat besar ya usia kandungan Emily saat ini sudah jalan tujuh bulan, Emily, bahkan mengandung bayi kembar laki-laki.
🌹💖💖💖🌹
ke esokan pagi nya, Emily, sudah mengerejap kan matanya, dia kaget saat ada tangan seseorang yang kini berada di atas perut nya, Emily, pun menoleh ke samping, dilihat nya, seseorang yang selalu di rindukan nya, Emily, tiba-tiba meneteskan air mata, betapa rindunya dia terhadap pria yang sudah merenggut mahkota nya, dan menanamkan benih di rahim nya, yang kini sudah mulai tumbuh besar di dalam sana.
"Gavin"ujar Emily, yang benar-benar tidak percaya.
"sayang, selamat pagi, apa tidur mu nyenyak heummm"ujar Gavin , menatap Emily, yang kini berlinang air mata.
"apa kah,ini nyata, dan ini bukan balasan karena selama ini aku kesepian bukan, aku sangat merindukan mu, tapi aku tidak berani mengharapkan itu, aku kesepian, dan saat ini aku melihat mu"gumam Emily, yang masih tidak percaya.
"aku nyata sayang ku, aku sudah ada di hadapanmu , saat ini jadi jangan bersedih lagi, mulai saat ini dan selamanya, aku akan terus bersama mu"ucap Gavin.
"terimakasih"ucap Emily,pelan.
Gavin pun langsung menyambar bibir Emily, saat ini dan langsung pindah posisi, berada di atas Emily, walaupun kini Gavin, menahan agar tubuh nya tidak menindih kandungan Emily, kedua putranya.
"sayang, aku akan menjaga mu mulai saat ini dan selamanya"ucap Gavin setelah melepaskan ciuman nya.
Emily, hanya tersenyum pipinya begitu merah saat mendapat serangan mendadak, dari gavin.
"tidur lah lagi, sayang mungkin kamu selama ini kurang tidur, lihat wajah mu pucat, dan mata indah mu itu kini memiliki kantung mata"ucap Gavin.
"baiklah temani aku"ucap Emily.
Gavin pun,kini kembali memeluk tubuh Emily,membawa nya kedalam dekapannya, Emily, sedang menikmati waktu nya saat ini dengan pria yang sangat di rindukan nya, dia enggan untuk bertanya sampai kapan semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
mereka pun tertidur lagi hingga jam menujukan pukul sepuluh pagi, sementara Allan,kini sudah tidak berada di Mension Tersebut, dia tinggal di hotel untuk mengawasi kesehatan Gavin, sebelum benar-benar pergi, kembali ke Italia.
kini Emily, sudah selesai mendi dan berpakaian begitu juga dengan Gavin, setelah siap, mereka pun langsung bergegas menuju meja makan karena perut sudah minta di isi dengan sarapan pagi yang sudah terlewat saat ini.
"sayang, kamu mau makan apa??"ucap Gavin,sambil berdiri dan mengambil piring yang ada di hadapannya saat ini.
"aku ambil sendiri saja, sayang kamu makan saja "jawab Emily.
"tidak biarkan aku yang,mayanimu tuan putri ku,agar anak kita tahu bahwa Daddy nya, sangat menyayangi nya"ucap Gavin.
Emily, pun menurut dan Gavin, dengan telaten mengambilkan apa saja yang di inginkan oleh Emily, saat ini.
mereka pun, sarapan, dengan sangat lahap, rasanya sudah lama Emily, kesepian saat di meja makan, apa lagi Edrick, sudah beberapa Minggu ini berada di luar negeri, bersama anak nya itu.
setelah selesai makan, Gavin, pun mengajak Emily, untuk jalan bareng dan menikmati suasana,di negri itu saat ini.
sementara di Indonesia,kini Sania, tengah berada di kediaman orang tuanya, dia melepas rindu pada sang ayah, yang sudah sangat tua, saat ini Danang, sudah beraktivitas dengan kursi roda yang selalu menemani nya, setelah beberapa tahun lalu, sempat terkena stroke, dan hingga saat ini dia hanya bisa pasrah menerima keadaan nya.
tapi Andara, yang selalu setia berada di samping nya, tidak pernah membuat dia, merasakan ketidak berdaya an nya selama ini,Andara selalu merawat nya penuh cinta dan mengajak nya berjalan-jalan di taman,hal sesederhana itu pun, bisa menjadi obat kerinduan pada saat masa jayanya dulu.
Danang, hanya bisa mengelus pelan putri kesayangan nya itu, yang kini berada di hadapan nya, mencium pipi nya, dengan sayang.
"ayah, aku sangat merindukan mu"ujar Sania.
"ayah juga sayang, tapi kamu tau sendiri ayah sudah tidak seperti dulu, lagi jadi ayah tidak bisa mengunjungi kalian semua, bagaimana kabar semua nya"ucap Danang perlahan.
"semua baik-baik saja ayah, maafkan aku yang tidak pernah bisa berbakti kepada mu"ucap Sania.
"ayah, sudah sangat bahagia memiliki Kelian berdua, tetap lah rukun, sampai akhir hayat nanti, saat ayah sudah tidak bisa menjagamu lagi"ucap Danang, yang kini menoleh ke arah Sania dan Sonya, mereka berdua memang memutuskan untuk berkumpul di Mension Tersebut, karena asisten ibu nya memberitahu kabar, tentang kesehatan sang ayah saat ini.
"tentu saja ayah"jawab Sonya, yang kini mendekat dan mencium pipi Ayah nya itu.
"segera lah,sehat, ayah setelah itu aku akan membawa mu, keliling dunia, seperti cita-citaku dulu"ujar Sania.
"ayah, sudah tidak bisa untuk melakukan itu lagi sayang, sudah cukup dengan melihat kebahagiaan kalian, saat ini ayah sudah merasakan bahagia nya keliling dunia, karena kalian berdua adalah dunia yang ayah miliki"ucap Danang lagi,sambil memeluk kedua nya.
Andara,terharu saat ini, melihat ketegaran suaminya, padahal, dia sering mengeluh ingin mengunjungi kedua putrinya yang saat ini berada jauh dari tempat tinggal nya, tapi saat mereka sekarang berada di hadapan nya, seperti nya,rasa itu menguap begitu saja.
setelah itu mereka pun makan malam bersama,sambil sesekali menyuapi Ayah nya, saat ini Danang berlinang air mata, dia ingat saat dulu, dia sering menyuapi kedua putrinya, dan saat ini giliran dia yang sedang di suapi oleh keduanya.
bertahun-tahun lamanya, mereka hidup bahagia bersama, dengan keluarga nya, tapi saat ini, setelah Sania, pindah jauh dari tempat tinggal nya yang dulu dekat dengan rumah mereka seperti nya kesepian sudah menyelimuti, kedua orang tua mereka.
Sania, langsung menghapus air mata ayah nya itu, dan begitu juga dengan Sonya.
"ayah,kami janji, tidak akan pernah meninggalkan ayah lagi, mulai, saat ini kami akan tinggal di sini di sisi ayah bunda"ucap Sonya.
"terimakasih sayang,kami sangat mengharapkan itu sedari dulu, hanya mungkin waktu nya yang tidak tepat"ucap Andara.
Sonya, pun memeluk wanita, yang sedari dulu merawat dan sangat menyayangi nya, melebihi ibu kandung nya sendiri, Sonya, bahkan tidak pernah lupa, dengan pengorbanan Andara.
Andara, adalah sosok ibu, yang selalu di rindukan nya, sedari bayi, hingga saat ini, dia tidak pernah membedakan kasih sayang,nya pada dia dan adiknya.
__ADS_1