Gadis Desa Ku

Gadis Desa Ku
#Pernikahan#


__ADS_3

tiga tahun berlalu dari saat itu kini Alice, sudah berada di Indonesia, dia bekerja di perusahaan milik Gibran, Daddy sambung nya sebagai direktur keuangan, Alice, sungguh luar biasa, dia tumbuh menjadi gadis cantik dan sangat cerdas, saat ini jabatan tersebut semakin menunjang karir nya, yang ia mulai benar-benar dari nol.


Alice, memutuskan untuk kembali tinggal bersama Michael, yang kini sudah masuk usia empat puluh enam tahun, sementara Gibran empat puluh empat tahun, mereka masih sangat muda,di usia nya saat ini, justru Alice,lah yang terlalu cepat tumbuh menurut nya Merry pun saat ini sudah masuk ke perguruan tinggi, wanita itu bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah, saat ini dia sedang mengejar cita-cita nya.


sementara Miki dan Mike, saat ini sudah kelas tiga SMP, dia masih tinggal bersama dengan Michael, dengan pertimbangan dari Jason, walaupun Piter,sangat menginginkan hak asuh mereka, tapi karena satu alasan yang memberatkan bagi kedua putranya itu, dia tidak mau mengambil resiko, Piter, saat ini masih sering berhubungan baik dengan Michael, demi kedua buah cinta mereka.


Piter, yang masih mencintai Michael, sampai saat ini dia mencoba mengikhlaskan nya hidup bersama cinta pertama nya, asal kan melihat Michael, bahagia itu sudah lebih dari cukup baginya.


Merry, juga sering mengunjungi Daddy nya itu, meski saat ini dia sudah mengerti bahwa Piter, adalah ayah sambung nya, tapi Merry, masih sangat menyayangi Piter, seperti ayah kandung nya sendiri, begitu juga dengan Piter,kasih sayang nya untuk Merry, tidak pernah berubah.


di tengah kebahagiaan mereka, saat ini ada duka yang masih menyelimuti keluarga Gibran dan saudara nya, pasalnya Sania beserta suami telah meninggal dunia,dua bulan yang lalu di susul Ari, dan Sandy, mereka seperti benar-benar sehidup semati, yang tersisa tinggal Rido, yang kini masih berada di Kanada, dia sempat kembali ke Indonesia , saat acara pemakaman keluarga nya tersebut, duka yang begitu dalam mereka rasakan, kepergian para tetua di keluarga nya begitu menyisakan duka terutama bagi anak-anak mereka Gilang, dan Riko yang bahkan belum sempat memberikan mereka cucu,di usia nya yang kini tidak muda lagi.


sementara mereka masih harus meneruskan bisnis keluarga Danang Setiaji, yang selama ini di bangun oleh mereka, usaha pertanian dan perikanan, juga butik dan restoran, semua itu tidak lah mudah tanpa seorang kepala keluarga, beruntung Riko dan Gilang, selalu bahu membahu, untuk membantu ibu, mereka yang sudah tidak muda lagi.


kedua wanita, paruh baya itu, saat ini sudah sering sakit-sakitan, mereka terus menerus mendesak kedua anak mereka untuk menikah hingga Gibran menjodohkan mereka dengan beberapa wanita pilihan nya, tapi Riko, dan Gilang masih enggan untuk menjalankan permintaan kedua ibu nya itu.


Gilang masih tetap menunggu wanita yang dulu, sempat memporak porandakan hati nya, sebelum dia kembali ke negara nya, entah dia masih hidup atau sudah meninggal dunia, yang pasti Gilang masih tetap berharap dia akan kembali, dan itu menjadi pr untuk Gibran, dalam pencarian nya.


sementara Riko, yang trauma karena di khianati istrinya saat itu, dia lebih memilih menduda hingga saat ini kecuali Tuhan menyeretnya dalam takdir pernikahan, dia akan menyerah.


Alice, saat ini sudah berusia tiga puluh tahun, dia masih tidak ingin memiliki kekasih, meski Rio, sudah menikah dengan asisten pribadi nya,satu tahun yang lalu pernikahan mereka adalah sebuah kecelakaan.


Rio,di jebak oleh wanita yang selama ini menaruh hati kepada nya, Rio, tidak bisa berkutik saat kedua orang tua dari wanita itu meminta dia bertanggung jawab atas kehamilan anak nya, betapa hancur nya perasaan Rio, yang dia harapkan adalah Alice, tapi realita tidak sesuai ekspektasi.


setelah anak nya lahir di London Inggris,ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk mengurus perusahaan milik Daddy nya, yang kini sudah tiada.


setelah sekian lama, Rio, masih tetap menyimpan rasa cinta nya terhadap Alice, Alice benar benar telah menjadi ratu di hatinya.


setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu, saat ini mereka di pertemukan di sebuah restoran mewah, saat ini Alice, tengah meeting bersama dengan klien dari luar, untuk mengganti kan Gibran, yang kini tengah berada di pulau as, dia menjalankan perusahaan yang selama ini di pegang oleh Adryan, Daddy nya yang sudah tiada.


Michael, pun kini tinggal di sana bersama dengan Gibran, karena Serry, sudah kembali ke negara nya, bahkan diam-diam selama ini wanita itu telah menikah lagi.


sementara Gio,kini tinggal di sana bersama Gibran dan Michael, pria tampan itu kini sudah mulai menginjak usia dewasa, usia nya saat ini dua puluh satu tahun.dia sudah lulus,S1.


kembali ke restaurant, Alice yang sudah selesai makan siang bersama dengan klien nya itu saat ini dia hendak pergi, dia tidak menghiraukan keberadaan pria yang sedari tadi menunggu nya.


Rio, langsung menghampiri Alice, yang kini sudah berjalan melewati nya.


"honey, please tunggu aku ingin bicara"ucap Rio.


namun Alice,sama sekali tidak menggubris nya, sudah cukup bagi Alice, rasa sakit nya selama ini, yang dia rasakan hingga membuat nya trauma untuk mencintai pria maupun .


"Alice, aku mohon beri aku waktu untuk bicara aku janji tidak akan lama"ucap Rio lagi.

__ADS_1


"maaf kan saya tuan,saya sibuk"ujar Alice.


saat Alice, hendak masuk ke dalam mobil nya, Rio langsung merampas kunci mobil Alice, dia langsung masuk kedalam mobil tersebut sambil menarik tangan Alice, hingga gadis itu terjatuh di pangkuan Rio, Alice, berontak ingin pergi tapi Rio langsung menutup pintu mobil tersebut dan melaju kan mobilnya saat itu juga, sementara Alice, masih berada di pangkuan nya.


"Rio, stop aku mohon jangan pernah lakukan ini lagi, sudah cukup , please jangan pernah mengulang nya kembali, stop, apa masih kurang selama ini rasa sakit yang kamu torehkan, kenapa??.. kenapa kamu tidak menghabisi nyawa ku saja"ucap Alice yang kini menahan tangisnya agar tidak terlihat rapuh Dimata pria yang sudah sangat ingin ia lupakan.


Alice, akhirnya diam tanpa kata dia memalingkan wajahnya kearah lain.


sesampainya mereka di tempat yang bertahun-tahun lamanya tidak Alice, kunjungi tempat yang masih sama tidak ada yang berubah sedikit pun masih sama, Rio menghentikan mobilnya saat ini.


Rio terdiam masih memangku Alice, hingga saat ini Alice, langsung turun setelah itu berjalan menuju bibir pantai, Alice, terus berjalan hingga kakinya terendam ombak kecil yang ber tepian silih berganti.


Rio langsung menghampiri nya, dan memeluk nya erat dari belakang derai air mata mengalir deras di pipi keduanya, mereka memang masih saling mencintai, tapi keadaan tidak pernah merestui hubungan mereka.


🌹💖💖💖🌹


satu jam sudah mereka diam tanpa kata, hanya ada luapan rindu lewat sentuhan tangan dan pelukan juga air mata kesedihan.


Alice,kini memulai percakapan nya.


"ini sudah terlalu siang, aku harus segera kembali ke kantor"ujar Alice.


"sehari ini saja aku mohon, jangan pergi"ucap Rio.


sementara itu Rio, hanya menatap lekat wajah cantik itu yang kini terlihat sembab.


"Aku pulang"ucap Alice, namun kata-kata Rio menghentikan langkahnya.


pergilah sejauh mungkin, dan jangan pernah datang ke pemakaman ku, nanti, jika dulu aku sempat bertahan karena melihat cinta itu di matamu maka saat ini aku tidak ingin lagi bertahan, biarlah rasa sakit ini aku bawa pergi"ucap Rio, yang kini sudah mulai berjalan ke arah ombak, Alice, yang melihat itu langsung berlari memeluk tubuh Rio, dari belakang .


"Rio... berhenti, aku mohon berhenti hiks hiks jangan lakukan itu lagi, sudah cukup Yo.... cukup aku tidak ingin mengulang kembali kejadian di masa lalu, aku biarkan diri ku mendekam di sel yang bahkan tidak seharusnya untuk ku,demi untuk menebus rasa bersalah ku , aku mohon jangan lagi, jika kamu ingin mati kita akan mati bersama, ya itu lebih baik"ujar Alice, yang kini menangis sesenggukan sambil memeluk erat tubuh Rio yang mulai tergenang air.


akhirnya Rio, pun menepi membawa tubuh Alice yang kini sama-sama basah.


Rio kembali memasuki mobilnya Alice, membawa Alice, ke villa milik nya yang dulu selalu ia singgahi bersama dengan Alice, villa itu masih terawat dengan baik dan tidak ada yang berubah, hanya satu yang berubah di sana ada foto mereka berdua terpanggang di setiap dinding , Alice,kaget dan menatap Rio, meminta penjelasan, tapi Rio hanya tersenyum.


"Kak, Rio bagaimana kalau istrimu melihat nya, apa yang ingin kamu jelaskan heuhhhhh"Alice, mencoba menurunkan satu persatu, tapi kemudian tangan nya di cekal oleh pria itu.


"Hentikan, tidak ada yang boleh membuang nya,ini rumah kita tidak akan ada siapapun yang datang kemari"ucap Rio.


"Kak... aku bukan siapa-siapa mu"ujar Alice.


"Sayang, sekarang aku tanya apa di sini sudah ada pengganti ku, tolong jawab jujur sekarang juga"ucap Rio, tegas.

__ADS_1


"Aku sudah akan menikah dengan nya"Alice, berbohong.


"siapa??... katakan siapa, sayang aku ingin tahu"ujar Rio,pelan tapi penuh penekanan.


"Dia pria yang sangat ku cinta,suatu hari nanti, kamu akan bertemu dengan nya"ucap Alice.


"Dia tidak akan pernah bertemu dengan ku, karena dia tidak pernah ada, sayang, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, sekalipun dia ada aku tidak akan pernah membiarkan lelaki manapun mendekati mu, camkan itu"ujar Rio tegas .


Alice, mengambil satu persatu pigura foto tersebut ia melempar nya ke sembarang arah namun lagi-lagi Rio, menghentikan nya.


"Sudah kubilang jangan merusak semua tentang kita, aku tidak rela, sekalipun itu hanya gambar mu"ujar Rio yang kini menyeret Alice, kedalam kamar nya.


"pergilah mandi dan ganti pakaian mu, semua sudah tersedia di sana"ujar Rio lagi sambil menunjuk ke arah waddrob


"Aku sudah harus kembali, aku akan mandi di rumah nanti"ujar Alice, sambil melangkah pergi menuju pintu kamar, tapi Rio, menahan nya.


"mulai saat ini, disini rumah kita, kamu tidak akan pergi ke rumah mana pun lagi, kita akan segera menikah dan kita akan segera memiliki buah hati kita"ucap Rio.


"Kak... Rio!!!... kapan kamu sadar bahwa kita tidak pernah ditakdirkan untuk bersama"Alice, berteriak kesal karena laki-laki yang kini berada di hadapan nya, tidak ingin melepaskan nya.


"Sayang, kamu hanya perlu waktu untuk memahami nya, itu saja jadi tidak usah khawatir dengan yang lain nya"ucap Rio, yang kini malah mendekap erat tubuh Alice.


tiba-tiba, dering handphone milik Alice, menghentikan perdebatan mereka, ternyata Gibran yang menelpon karena anak buah nya bilang Alice,dibawa pergi oleh seorang pria muda.


"Halo Daddy, ya baiklah aku akan segera kembali"ujar Alice, tapi seketika handphone nya melayang dan bugkk , handphone, Alice, hancur berkeping keping.


"Kak, kenapa??... kamu lakukan ini"ujar Alice, sambil berlalu pergi meninggalkan Rio, yang terus berjalan untuk mengejar nya, hingga sampai di mobil, Alice, langsung menyalakan mobil nya dengan sidik jari nya, mobil keluaran terbaru itu bisa di kendalikan dengan sidik jari pemilik nya, karena mobil itu rancangan khusus, sahabat Jason, tidak di jual di pasaran.


mobil itu pun berlalu meninggalkan Rio yang kini mengamuk di depan villa tersebut, Rio benar-benar murka saat ini dia langsung tersungkur di lantai saking tak kuasa menahan kesedihannya saat ini kenapa?... lagi-lagi waktu tidak pernah adil pada nya, kenapa dia lagi-lagi harus pergi itu yang kini menjadi tangis pilu seorang Rio Wijaya.


sementara Alice, saat ini, masih menangis sesenggukan di dalam mobil yang sedang melaju kencang, Alice, tidak perduli lagi dengan kondisi nya, yang dia perduli kan saat ini adalah rasa sakit nya yang tidak tertahankan, dia tidak pernah bisa menggapai cinta nya.


dua bulan berlalu, semenjak saat itu, mereka tidak pernah lagi bertemu hingga sebuah undangan ulang tahun perusahaan yang kini tiba di meja Alice, untuk Gibran, yang sudah pasti harus dia yang menghadiri.


Alice, mengajak Merry, untuk datang bersama dengan nya, tapi Merry, sedang sibuk belajar untuk ujian semester .


Alice, pergi seorang diri, saat ini, bahkan dia datang setelah pesta setengah berjalan, Alice, yang baru saja datang, dia menjadi sorotan, bukan karena dia seorang wanita bule, tapi kecantikan Alice, saat ini benar-benar terlihat jelas, dia lain dari yang lain.


semua mata tertuju pada nya, setelah mengucapkan selamat kepada pemilik pesta, dia langsung mencari tempat duduk, di sofa yang sedikit jauh dari kebisingan, saat ini Alice, tengah fokus dengan handphone nya.


Alice, langsung mendongak ketika, seseorang terlihat menghampiri nya, karena sepatu tersebut sudah tepat berada di hadapan nya.


Alice, mengalihkan pandangannya ke handphone nya lagi, orang itu langsung duduk disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2