
hari ini Sania ingin pergi ke bukit, sendirian karena sandi dan Ari sudah pasti sibuk, Sania memakai pakaian santai nya menggunakan celana pendek ketat dan kaos kedodoran miliknya, iya ingin berolahraga panjat tebing saat ini, yang sudah lama ia tinggalkan.
setelah bersih dengan ransel dan juga peralatan untuk memanjat, Sania berangkat menggunakan motor trail nya,agar memudahkan dia untuk naik atau memanjat
yang pasti Sania pergi dangan meminta izin terlebih dahulu, pada kedua ayah nya sekaligus menitipkan Emily putri bungsu nya ke sang ayah, karena selama di kampung, dia yang paling telaten mengurus ketiga putri nya tersebut seperti dirinya dulu.
Sania, melewati jalan, yang ada restoran sandi dan juga Butik Yena. karena memang itu adalah jalan satu-satu nya yang biasa di lalui.
Sania pun berhenti di restoran sandi kebetulan mereka sedang bersiap-siap, untuk buka karena sudah jam tujuh pagi, semua menu juga sudah tersedia, di sana.
"Hay,, pangeran, kamu sibuk ya hari ini, hmmm sangat di sayangkan, aku pergi sendiri hari ini" ucap Sania.
"jangan macem-macem,deh,,mau kemana jam segini?"tanya sandi.
"mau olahraga sekaligus kemping biasa di atas" jawab Sania sambil tersenyum.
senyum nya yang manis mengundang rasa suka banyak orang.
"ingat kamu baru sembuh jangan macem-macem, aku gak ingin kamu kenapa-napa dan satu lagi dengan siapa kesana" ucap sandi.
"sendiri lah sama siapa lagi kalian semua pada sibuk,,," ucap Sania sedih.
"baiklah nanti malam aku nyusul" ucap sandi, dengan Ari kompak.
" owh baik lah,,, aku tunggu" ucap Sania sambil langsung pergi, sementara Joe yang duduk santai di pojokan resto tersebut tersenyum manis, dia akan punya waktu seharian bersama Sania.
Sania pergi, dengan motor nya sambil membawa camilan kesukaan nya yang di berikan oleh sandi untuk nya teman sepi nya di sana.
Sania tidak hanya membawa peralatan panjat tebing tapi juga membawa laptop seperti keseharian nya dia bekerja tanpa ketinggalan satu hari pun karena Sania kembali mengurus perusahaan nya saat ini.
sesampainya di depan tebing yang menjulang tinggi Sania mulai memasangkan alat keselamatan di tubuh nya tidak lupa juga menggunakan pelindung kepala, tanpa iya sadari Joe mengikuti nya dengan motor setelah Yena memberitahu bahwa ada jalan untuk motor cross ke atas tebing sana, Joe sudah lebih dulu sampai ketimbang Sania yang Baru setengah jalan, mungkin karena udah lama Sania merasa kelelahan.
sesampainya di atas, iya langsung melepaskan ransel nya dan menyimpan nya di posisi paling atas karena ia lelah iya pun merebahkan diri dengan posisi kepala di atas ransel nya itu.
Sania memejamkan mata nya terlentang di atas tanah tiba-tiba kecupan di bibirnya terasa sangat nyata, Sania membelalakkan matanya,di lihat nya Joe yang sedang mencium bibir nya.
"Joe,,, apa yang kamu lakukan, heuhhhhh" Sania kaget.
"aku mengikuti istri bayangan ku kemari, apa salah?" ucap Sania.
"Joe,,, berapa kali, aku ingat kan, jangan lakukan itu tidak baik!!" Sania masih dengan sabar menghadapi Joe.
"aku sangat mencintaimu, Hanny please izinkan aku bersama dengan mu,di saat seperti ini" ucap Joe.
"iya aku temani tapi ada syaratnya, jangan cium aku karena kita bukan suami istri Joe itu dosa" ucap Sania.
"menikah lah dengan ku Hanny, aku ingin kau bahagia" ucap Joe.
"Joe,,, aku sudah bahagia dengan semua ini, jadi yang harus nya bahagia itu adalah kamu segera lah cari kebahagiaan mu, sekarang juga, jangan sampai kamu terlambat" ucap Sania lembut.
"hanya kamu yang bisa buat aku bahagia Hanny, please aku mohon.
"Joe,,, stop aku tidak mau membahas itu aku kesini mau menenangkan jiwa ku, aku mau merasakan ketenangan, saat ini" ucap Sania yang kini tengah merentangkan tangannya menatap kearah matahari terbit, tiba-tiba Joe memeluk nya erat dari belakang, seperti adegan film Titanic saja hanya bedanya Joe memeluk Sania di atas tebing.
"Joe,,,lepas, Joe" pinta Sania.
"biar kan seperti ini dulu sebentar saja Hanny aku mohon, please ya aku sangat merindukan mu" ucap Joe berbisik di telinga Sania.
ada satu hal yang mereka tidak tau Joe adalah cinta pertama dari pemilik jantung yang Sania miliki saat ini.
ya, Eren Eliana, adalah kekasih Joe cinta pertama Joe yang di paksa menikah oleh kedua orang tua nya, karena saat itu Joe belum sekaya saat ini, Eren, meninggal dunia satu tahun pas Sania datang kerumah sakit itu Sania yang di nyatakan akan meninggal kalo tidak langsung mendapat kan donor jantung Maxim langsung, mendonorkan jantung milik istrinya itu, yang baru saja di nyatakan meninggal dunia, Maxim bukan nya tidak bersedih tapi dia juga tidak boleh egois dengan tidak menyelamatkan nyawa Sania setidaknya akan ada kenangan, untuk nya dari wanita yang ia cintai, selama ini, walau pun Maxim tau cinta nya tidak terbalas kan.
__ADS_1
hingga saat ini Joe sendiri pun tidak pernah tau kalo Eren sudah meninggal.
sepuluh menit, terlama Joe memaksa kan Sania untuk di pelukannya, walau rasanya hati Sania tidak bisa menolak entahlah dia juga tidak mengerti.
"Joe sudah cukup, aku akan bekerja sebetar lagi dan ku harap kau tidak menggangu saat aku meeting dengan suamiku saat ini" ucap Sania.
"baiklah, aku akan di sini aku juga akan bekerja, sama seperti mu aku juga membawa laptop ku kemari tadi" ucap Joe.
"tidak di sini Joe ini tidak akan nyaman untuk mu, kamu bisa gunakan, rumah terindah ku tapi tidak satu ruangan" ucap Sania sambil menunjuk rumah pondok yang begitu nyaman.
"waw...ini benar-benar indah Hanny untuk kita berbulan madu"ucap Joe sengaja bercanda.
"Joe,,, jangan mulai deh, aku, harus segera bekerja ucap Sania yang langsung naik ke bagian atas dengan ransel di punggung nya.
"hati-hati Hanny,awas licin!" ucap Joe.
"tidak Joe,ini setiap hari di bersihkan, dan ada orang yang merawat nya" jawab Sania.
"owh pantesan begitu terawat" ucap Joe
" Joe aku akan bekerja di teras kamu di dalam saja ya" kata Sania.
"Ok Hanny" ucap Joe,,,
mereka pun saling sibuk bekerja, saat ini dan Sania membuat kan kopi dan membagi dua camilan milik nya saat ini lalu dia bergegas kembali,ke teras
"thanks, Hanny" ucap Joe.
dua jam mereka sibuk dengan laptop mereka Sania pun sudah selesai meeting dengan Adryan suaminya itu, setelah selesai Sania menyimpan laptop nya kembali dan ia langsung turun kebawah untuk bersantai di atas tali rajutan yang di desain senyaman mungkin, seperti ayunan bayi.
saat Sania tertidur pulas di atas nya, penjaga pondok datang dan karena di beritahukan oleh sandi bahwa adik kesayangannya ada di sana dia pun datang dan suami istri itu memasak nasi liwet, paforit Sania dengan ikan bakar, Joe yang melihat Sania tidur iya memanfaatkan momen itu untuk mengambil gambar nya, beberapa kali dengan berbagai arah ia coba.
🌹💖💖💖🌹
"Hanny,Bagun makan siang sudah siap" ucap Joe Sambil mengecup bibir Sania sekilas, tanpa rasa bersalah dan malah semakin ingin memiliki nya saat ini.
Sania pun bangun setelah itu, dia turun dan mencuci muka di depan teras pondok yang tersedia di toren air tersebut, Sania membasuh wajah nya yang putih mulus bak porselen itu makin menambah ketertarikan Joe pada nya.
setelah itu, ia duduk berhadapan dengan pengurus pondok yang selalu, menemani dia makan, seperti biasa nya.
Joe yang tidak jauh dari Sania duduknya pun berdempetan, Joe tidak menghiraukan orang di hadapan nya, saat ini.
"Hanny jangan makan sambal banyak-banyak nanti kalo kamu sakit perut gimana" ucap Joe Sambil menghalangi tangan Sania saat mau mengambil sambal dengan tangan nya.
"Joe,, hanya sedikit ko please aku mual kalo tidak makan sambal" ucap Sania sambil menggeser tangan Joe.
mereka bertiga pun makan dengan lahap nya, hanya Joe yang tidak terlalu banyak makan karena hati nya sedikit kesal Sania tidak bisa di larang bahkan Joe tidak menghabiskan makanan nya dia langsung turun untuk cuci tangan, karena kesal.
"Joe kenapa makan nya tidak di habiskan?" tanya Sania.
"aku kenyang melihat mu makan sambal" jawab Joe ketos.
"ayolah Joe, jangan ngambek lagi lanjut kan makan nya, aku janji deh gak makan sambal lagi" ucap Sania lembut.
"lanjutkan saja kenapa berhenti bukan nya kalo tidak makan sambal kau akan merasa mual"ucap Joe jutek sambil mencuci tangan nya.
entah kenapa, Sania merasa hatinya seperti di cubit, melihat Joe yang kini ngambek, Joe bahkan pergi ke arah bale-bale jati yang ada di arah Utara menjauh dari pondok, Joe menyalakan rokok nya, dan langsung duduk merenung di sana dengan sebotol air mineral di tangan nya ia meremas botol air mineral tersebut saking kesalnya.
"Joe,,, jangan merokok, itu tidak baik untuk kesehatan mu" ucap Sania.
"untuk apa kamu kemari heeuh, bukan nya kamu tidak perduli lagi pada ku" ucap Joe marah.
__ADS_1
"Joe, kenapa harus begini aku minta maaf, pulang lah sebetar lagi sore dan jalan akan tertutup kabut, jika kamu terlambat untuk pulang, Yena pasti mencemaskan mu"ucap Sania mengalihkan topik pembicaraan.
"kenapa kau tidak senang aku temani di sini heuhhhhh" ucap Joe Sambil berbalik menatap Sania.
"Joe, aku tidak bilang begitu hanya saja aku yakin kau tidak akan merasa nyaman tidur di pondok, pulang lah" ucap Sania menjelaskan.
"bilang saja kalau kamu jijik melihat ku"ucap Joe yang semakin kesal.
"Joe, aku tidak bicara begitu, aku hanya tidak ingin kau menderita di sini," ucap Sania.
"aku sudah bilang pada Yena, akan tidur di sini jadi sandi dan Ari tidak akan kemari" ucap Joe tegas.
"kamu, pulang saja Joe aku tidak apa di sini sendiri juga, sudah biasa ko" ucap Sania lembut.
"sayang, apa salah ku, kenapa kau begitu membenci ku,,, apa rupa ku terlalu buruk hingga kau bahkan tidak mau aku temani aku tau Adryan itu lebih ganteng dan lebih dari segalanya,,, aku sadar diri" ucap Joe.
"Joe,,, please jangan bahas itu, aku ku mohon hiks hiks hiks hiks,," Sania merasa sakit melihat Joe, yang berkata hal yang menurut nya sangat menyedihkan.
"kenapa, apa itu benar, Hanny baiklah-baiklah jika iya, aku akan mengalah, aku pergi Sania kuharap kau akan lebih bahagia lagi" ucap Joe yang berlalu meninggalkan nya.
"Joe,,, please bukan itu maksudku, aku hanya" ucapan Sania terhenti.
"Joe sebenarnya mengerti dengan perasaan Sania, hanya saja rasanya, iya begitu kecewa dan, langsung pergi, meninggalkan Sania dengan motor nya,namun barang nya tidak ada satu pun yang ia bawa, sedang motor Sania di bawah tebing.
"andai kau datang lebih awal dalam hidup ku, dan andaikan semua yang kau inginkan kan, adalah saat Lima belas tahun yang lalu aku akan menerima mu dengan senang hati tapi kau terlambat Joe" gumam Sania lirih.
malam pun tiba Sania, pergi ke kamar tidur nya setelah tadi membersihkan diri, Sania mengirim pesan pada Adryan, bahwa besok ia akan kembali ke Jakarta, Adryan pun tersenyum .
bagaimana pun dilema hati nya dengan perlakuan Joe,Sania tetap lah istri sah dari Adryan, saat ini walau pun, berkali-kali ia di sakiti.
mungkin, itu lah cinta, tapi entah lah.
sampai tengah malam tiba Sania hanya sendiri benar-benar sendirian, iya pun memejamkan mata nya, di balik selimut tebal dan,di terangi lampu temaram.
pengurus pondok sudah pulang dari tadi sore dengan motor nya,suami istri itu sengaja Sania pekerjakan dengan gaji yang lumayan besar, karena bukan hal mudah untuk naik turun kesana dan membersihkan pondok yang lumayan besar bisa di bilang villa yang di bangun di antara enam pohon, berjajar.
menjulang tinggi dan sangat besar Sania awal nya membangun rumah pohon, dengan bantuan kawan-kawan nya sandi yang dari Kota tapi setelah Sania menjalankan bisnis keluarga nya dia sengaja membangun tempat itu senyaman mungkin, tempat persinggahan nya dengan ketiga kakak angkat nya, saat ini.
Sania bermimpi, ada seseorang yang kini tengah memeluk nya dan mencium nya saat ia tersadar tidak ada satu orang pun di sana.
Sania pun menyala music, setelah itu dia bersandar di sisi dinding kamar rumah pondok tersebut, dia merenung, tentang perjalanan hidup nya saat ini, seperti jalan yang kadang rata, tapi ada tanjakan, kadang berkerikil tapi lurus, Sania. pun berurai air mata,rumah tangga yang ia bangun dengan susah payah dan berkali-kali goyah bahkan saat ini pun godaan hidup itu kembali muncul.
"teguh kan hati ku tuhan jangan biarkan, semua nya semakin memburuk, semoga setelah hari ini hidup semakin berwarna dan kebahagiaan yang hakiki, aku ingin kami baik-baik saja, aku tidak butuh harta berlimpah tapi yang ku inginkan adalah hidup damai hingga tua nanti"Sania pun kembali tertidur dengan posisi, duduk kepala tertunduk di atas lutut.
sampai seseorang membangun kan nya.
"Hanny,,bangun lah ini sudah pagi, bukan nya kau akan kembali pada suamimu saat ini" ucap Joe, yang berusaha mencoba untuk tegar.
"Joe,,, kapan kamu kembali" tanya Sania.
"entah lah mungkin aku mimpi sambil berjalan" ucap Joe.
"aku tanya serius Joe" ucap Sania.
"aku kembali kemarin saat kau mulai tertidur, dan aku tidur sambil memeluk mu, saat aku turun karena panggilan alam kamu sudah tertidur sambil terduduk aku memindahkan mu lagi, sayang aku mohon jangan lagi lakukan hal ini kamu itu perempuan, aku takut kamu kenapa-napa, bangun lah bukan nya kamu ingin kembali ke suami mu saat ini, aku akan mengantarmu, sekalian aku juga akan kembali ke Australia, semoga hidup mu selalu di kelilingi kebahagiaan, maaf kan aku jika aku keterlaluan, aku hanya"tiba-tiba Sania mencium bibir Joe, dan Joe yang kaget pun kini sadar dan membalas ciuman Sania, Joe berharap ini bukan lah mimpi, tapi Joe tau itu salam perpisahan dari Sania.
"Hanny, kamu tidak menyesal" ucap Joe, Sania menggeleng kan kepalanya.
"Joe,, maafkan aku mungkin itu adalah salam terakhir dari ku semoga kamu secepatnya menemukan bahagia mu, aku tau ini salah tapi anggaplah sebagai penyemangat hidup mu" ucap Sania.
mereka pun bersiap untuk turun dan tidak butuh waktu lama, Sania dan Jo sudah berada di bawah mereka pun menggunakan motor mereka untuk pulang , sesampainya di rumah besar Sania, langsung bersiap bersama ketiga anaknya, untuk kembali ke Jakarta, dia sendiri yang akan membawa mobilnya walaupun Danang telah melarang.
__ADS_1
"tiba-tiba Joe datang ke sana ayah biar aku saja yang menyetir , Sania turun lah aku yang bawa mobilnya " ucap Joe, Sania pun berpindah ke jok samping kemudi sementara ketiga anaknya duduk di belakang Joe sesekali melirik dan tersenyrum kearah mereka.