
Sania, saat itu langsung menuju tebing samping bukit iya memasang peralatan manjat nya, Sania, memang gadis manja, tapi dia juga gadis yang multi talenta, Sania belajar semua itu dari YouTube, yang selalu iya tonton di waktu senggang,
"Sania, kamu di mana Sania,,,,ini aku Ari,,,kamu udah sampai atas atau masih di bawah"
Ari berteriak,dari atas bukit sebelah lumayan jauh sih tapi masih bisa di dengar"
"Aku,,, udah di atas sini masih masang tenda kalo kalian mau gabung ayo cepetan waktu nya sudah mepet,keburu kemalaman,,,,"
"Mitha,,,tunggu aku di sana ingat jangan jauh-jauh dari tempat itu"
sandi yang sedang,menelpon Adryan, dia, bahkan, selalu memberitahukan pada Adryan,untuk mengabarkan keadaan Sania.
"dan dimana Sania saat ini ?,,,"
"Sania di atas tebing, bang tuh lihat lagi lambai kemari"
jawab sandi sambil menunjukkan ponsel nya ke arah Sania.
sesampainya sandi dan Ari juga Rido, di atas mereka langsung mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel, yang mereka bawa mereka juga ber kemah di atas tebing sana sambil memasang api unggun, Sania dan sandi tidur satu tenda sementara Ari dan Rido satu tenda juga, Area yang sangat terawat,di sana sangat cocok untuk ber kemah di bawah tebing juga ada tempat perkemahan, anak-anak sebayanya, tepat nya di atas bukit yang hijau dan asri itu, para muda-mudi di sana sangat menjaga lingkungan nya
"Mitha, setelah dari sini apa yang akan kamu lakukan?,,,"
tanya Sandi di depan kedua teman nya yang lain.
"entah lah sandi aku juga belum tahu, mungkin, untuk sementara, Aku, mau di sini dulu menata hati ku yang sudah remuk"
jawab Sania yang saat ini sedang menyangga kepala nya dengan kedua lutut nya .
"Sania,dua Minggu lagi aku akan pergi bekerja di Belanda, karena pas kemaren kita pas bertemu di grup, saat itu aku tidak lolos seleksi, makanya aku pulang lebih awal"
"kerja apa kau di sana, nantinya?,,,"
tanya Sania, pada sandi.
"Aku akan bekerja di restoran, yang baru di buka oleh teman, papa ku di sana"
"owh, bagus lah kalo begitu aku ucapkan selamat, semoga kau sukses"
"Aku, lebih memilih, tinggal di sini dari pada di kota, lebih baik jadi gadis desa saja "
"Sania, kalo boleh aku usulan, ikut lah kesana bersama sandi, ke Belanda dari pada kau terpuruk, di sini"
"Aku masih menanti janji yang di ucapkan nya do, sebenarnya saat ini Minggu-minggu ini dia janji akan menemui ku"
"Mau sampai kapan lagi, kamu nungguin dia, ingat lah dia sudah jadi milik orang lain"
kata Ari, menyahut.
"kau benar, Ar dia sudah punya yang lain Aku saja yang bodoh, kalau dia cintai aku pasti dia akan berjuang bersama ku"
"Sabar ya Mitha, semua sudah takdir dari yang kuasa" iya do aku tahu ko, hmmm kita turun yu do, pulang saja gak jadi kemping Aku besok mau jelajah, pegunungan, yang ada di dekat pantai itu"
"hus, ngaco,ini udah tengah malam,kali mending kita tidur saja"
kata Sandi, yang begitu sayang pada Sania menjaga nya seperti,adik nya sendiri.
"udah, kita tidur saja besok kita diskusikan tentang perpisahan, kita nanti"
ujar Rido, semua memasuki, tenda mereka, Sandi, tidur memeluk Sania, mereka tidak merasa risih, karena sedari kecil mereka tumbuh bersama.
di kediaman Stevano, tepat nya di ruang kerja milik keluarga Stevano, yang kini di tempati oleh, Adryan Stevano, iya sedang memijit kening nya yang terasa pening saat ini, tiba-tiba Amelia, masuk dan langsung duduk di pangkuan nya Adryan.
"sayang kenapa?,,, masih di sini aku nunggu kamu dari tadi loh ,,,,eh yang di tunggu malahan duduk,di sini"
ucap Amelia,
"baik lah mari kita tidur,soal nya besok aku mau ada bisnis, luar kota"
Adryan, sengaja bilang ada bisnis luar kota, karena esok iya, akan menemui, kekasih tercinta nya"
dan mereka pun tertidur, bohong,kalo tidak terjadi apa-apa, Adryan, orang yang bertanggung jawab, iya memperlakukan istrinya dengan layak walaupun terasa sakit di ulu hati nya, karena telah mengkhianati cinta Sania.
sementara, keluarga Sania yang baru tiba dini hari tadi, mereka kaget Sania, tidak ada di rumah, asisten rumah nya bilang, Sania, ikuti ajang motor cross,kemaren pagi di desa sebelah, mereka kaget bahkan sang paman, sampai terbengong, karena baru kali ini mendengar,kalo sang keponakan yang manja, itu memiliki hobi,layak nya cowok.
"Andara, sejak kapan, Sania menjalani hobi nya itu?,,,"
tanya Derry sang kakak .
"sejak SMP, KA itu pun tanpa sepengetahuan kami, padahal dia sudah lama berhenti, sejak iya mengalami cedera parah di bagian paha nya"
jawab Andara, ibu dari Sania.
"besok kita cari dia, sekarang sebaik nya kita semua istirahat"
ucap ayah Sania.
__ADS_1
Sonya, langsung bergegas,menuju kamar nya begitu pun dengan Derry yang menuju kamar atas, milik nya,di sana, Andara sengaja menyiapkan kamar khusus,buat sang kakak.jika sewaktu-waktu Derry datang berkunjung, seperti saat ini.
sementara di perkemahan, Sania yang tidak bisa, tidur iya gelisah mengingat kenangan nya bersama Adryan, saat mereka bersama, Sania menangis dalam diam, sikapnya yang so kuat di hadapan teman-temannya , berbanding terbalik, dengan saat ini, iya menangis menjerit dalam hati nya, sambil memukul-mukul,dada nya yang terasa sesak, Sandi, yang merasakan pergerakan Sania, dari arah Sania, iya menoleh ke arah nya,sambil berkata.
"Sania,hey ingat jangan menyiksa diri mu sendiri, sudah ya jangan menangis, tangisan mu, terlalu berharga, untuk terbuang, sia-sia karena di sana belum tentu ada yang mikirin kamu, udah ya kalo kamu begini terus, sebaiknya, kamu ikut aku pergi ke Belanda Minggu depan,ok"
sandi berbicara tanpa jeda,saking sedih nya melihat , teman yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.
"sandi kenapa mencintai itu bisa sesakit ini kalau tau seperti ini, aku tidak mau jatuh cinta lagi"
ucap Sania yang masih menangis dalam dekapan sandi sambil memukul-mukul dada sebelah kiri nya rasanya jantung, Sania seperti di remas-remas.
"Sania semua penyesalan,datang di akhir kalo, datang di awal itu namanya, pendaftaran donk ,,,, hehehe sudah ya Ade manis jangan menangis lagi nanti raja mu ini makin sedih deh, sudah ya"
sandi mencoba menghibur Sania.
🌹💖💖💖🌹
sementara di pagi hari, karena Sania baru bangun, tidur setelah sinar matahari pagi masuk kedalam tenda, Sania mencoba membuka mata, iya pun bergegas bangkit dari tidurnya, iya melihat sandi yang sudah tidak berada di samping nya.
"sandi kamu di mana?,,, jawab tanya Sania dari dalam tenda.
"keluar lah segera, cuci muka bantal mu itu sebentar lagi kita sarapan,,!"
jawab sandi yang sudah nongol di pintu masuk tenda nya, itu.
"baik lah yang mulia raja ku,"
Sania, menampilkan senyuman di bibirnya walau, sedikit terpaksa.
"di sana sudah ada sabun bahkan jika kau ingin mandi sekali an juga boleh"
kata Ari, yang menunjukkan jari nya mengarah ke arah pondok, yang sengaja mereka bangun sebulan yang lalu melalui gotong royong tentu nya, di sana juga terdapat rumah pohon, yang begitu rapi seperti di buat oleh sang ahli dari bahan yang bangunan yang sangat kokoh, karena rencana nya anak-anak kampung sebelah mau mendirikan, tempat wisata bagi yang hobi panjat tebing.
"wah ternyata semua yang di bicarakan kita dulu sudah tercapai ya, aku kemarin gak tau di sini ada rumah pohon, kalo tau sih gak perlu susah-susah masang tenda segala"
kata Sania.
"hmmm ku kira tahu" kata Rido lagi.
"Ari yu sarapan kopi nya sudah siap ini juga susu kamu tuan putri"
Ari menyodorkan segelas susu pada Sania.
kata Sania.
"sama-sama, tuan putri,Oya ini buat Lo pangeran kodok, hehehehe"
kata Ari memberikan segelas kopi hitam pada sandi.
"nikmati, kebersamaan kita seminggu terakhir ini, setelah nya kita akan berpisah ruang dan waktu"
ucap sandi sambil memandangi ketiga sahabat nya itu.
"cie Ela laga Lo itu sok so an puitis, hahahaha"
Rido, terbahak-bahak menertawakan ucapan sandi.
"Eh dodol gue seriusan, kita bakalan lama tidak bertemu, dan bakalan kangen tentu nya."
kata sandi lagi.
"sudah-sudah, ayo di nikmati sarapan nya nanti keburu dingin"
tepat jam sembilan, mereka turun kebawah, tebing dan sudah bersiap dengan motor nya masing-masing, untuk kembali pulang ke rumah mereka, di perjalanan,menuju rumah Sania, iya berpapasan dengan sebuah mobil yang di kenali ya adalah milik Adryan, tapi Sania tidak mau perduli, dengan itu, di pikirin nya mana ada Adryan, mendatangi nya lagi, Sania langsung, bergegas melaju ke rumah nya dengan ngebut nya tidak sampai lima menit sudah sampai halaman rumahnya, dia kaget melihat sang paman yang sedang bersiap menaiki mobil bersama sang ayah.
"itu dia yang kita mau jemput sudah nongol duluan",kata sang paman iya tidak jadi masuk mobil, karna Sania sedang memarkir motornya,tak lama di susul Adryan, dengan mobilnya mereka langsung memandang ke arah Adryan,
"kamu juga kemari,Yan."
kata Derry bertanya pada Adryan, Sania, menyimpan helmet nya di atas motor lalu iya bergegas masuk tanpa menghiraukan Adryan,dan yang lain nya.
"Sania" ucap Adryan, yang langsung terhenti, karena Sania keburu masuk kedalam rumah nya itu.
"Nak Adryan, ada perlu apa kemari" tanya , ayah Sania, dengan lembut karena takut menyinggung tamu nya.
"saya mau ketemu Sania Om,, ada yang harus saya sampaikan"
"oh kalo begitu, silahkan masuk" kata ayah Sania lagi, mempersilahkan Adryan, masuk,saat itu juga.
sementara itu di dalam kamar Sania pergi ke kamar mandi,dan berendam di bathtub, iya bahkan sesekali menenggelamkan kapal nya yang terasa pening, dia sudah menahan tangisnya, dan berusaha menahan sesak di dada nya.
"De,,,kamu di dalam, Kaka nunggu kamu dari tadi loh apa kamu gak kangen sama kakak mu ini"
Sonya, berbicara sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar nya Sania, yang tidak menjawab, entah karena tidak mendengar nya atau karena, dia menahan tangisnya nya yang pecah bersama deras nya air dari shower itu.
__ADS_1
"Kaka, sedang apa ?,,,"
tanya sang Bunda,pada Sonya.
"kakak, mau ketemu Ade Bunda,tapi tidak menyahut, tidak biasanya"
jawab Sonya, yang bisa di dengar dari, bawah oleh ketiga orang pria yang sedang berbincang, di bawah sana.
"ada apa dengan Sania, tidak biasanya anaku itu seperti ini" ucap sang ayah,sambil berdiri bergegas menaiki tangga.
sesampainya di sana iya mengetuk pintu, dan langsung, mengetuk.
" sayang, ini ayah boleh ayah masuk?,,,
tuan putri sedang apa di dalam ko gak jawab Dosa tahu jika marah sama, orang tua"
tiba-tiba, pintu terbuka, Sania muncul, memakai kimono mandi dengan lilitan handuk di kepala, iya terlihat segar walaupun wajah sembab nya tidak bisa di tutupi.
"kalian sedang apa rame-rame depan kamar ku"
tanya Sania yang bergegas masuk dengan cueknya,tak se hangat dua Minggu lalu, sebelum iya terluka, sifat nya kini menjadi dingin.
"tuan putri marah ya karena ayah, terlalu lama meninggal kan kamu , sayang"
tanya sang ayah.
"Aku gak marah hanya aku sedang lelah, sebaiknya tinggal kan, aku aku ingin istirahat,ok,,,"
Sania, tiba-tiba mengusir, semua orang yang sedang memperhatikan nya, termasuk, Adryan yang kini telah memasuki kamar nya Sania, semua yang ada di sana terlihat sedih, melihat perubahan sikap Sania, yang biasa nya ceria sekarang, bahkan senyuman nya pun hilang dari bibir manis nya itu, Sania keluar dari kamar ganti dia menyeret koper besar,ke arah ranjang, otomatis, semua orang yang ada di sana langsung bergegas,ke arah nya dan menanyai Sania,
"sayang, kamu mau pergi kemana dengan koper sebesar ini "tanya sang Bunda.
"Sania, sudah putuskan, akan menetap, di luar negeri Bunda"
"kenapa, sayang kamu ko tiba-tiba saja ingin pergi dari kami, apa ayah ada salah sama kamu sayang, apa ayah sudah tak berharga lagi di mata mu nak"
"ayah bukan begitu, aku hanya ingin, menata hidup ku kembali, lagian aku pergi sama sandi dan Ari juga Rido, kami sudah memutuskan untuk menjelajahi dunia luar, di sana juga aku akan kuliah, menuruti wasiatnya Eyang" jadi aku mohon izin kan Aku untuk pergi ayah"
ucap Sania meminta izin.
"sayang, apa ini semua gara-gara aku, kamu mau menjauh dari ku",,,,
tanya Adryan, tiba-tiba namun Sania tidak menjawab nya.
"ayah akan pikir kan ulang bersama bunda mu, ingat jangan terburu-buru mengambil keputusan, ayah takut, yang sudah terjadi Ter ulang lagi, sekarang bicara lah dengan Adryan, baik-baik"
kata sang ayah lagi,sambil menggandeng,bahu sang istri, yang kini sedang menangis mendengar keputusan, dari anak nya itu, kini suara di kamar Sania terasa hening, Adryan, mencoba mendekati Sania yang sedari tadi pura-pura sibuk, beres-beres kamar nya hanya untuk menghindari Adryan.
"sayang, apa aku boleh bertanya?,,,"
Adryan, mencoba berkata pelan pada Sania.
"owh,,, sayang, apa aku tidak salah dengar tuan, aku bukan siapa-siapa buat kamu lagi,dan satu lagi , mau apa anda kembali ke mari, setelah anda memutuskan, untuk pergi meninggalkan ku demi menikahi wanita lain, heuhhhh aku lupa, aku lah yang tidak tahu diri mendekati, laki-laki yang sudah memiliki tunangan, maaf saya lupa, silahkan anda keluar dari kamar saya"
Sania, mengusir Adryan, saat itu juga tapi Adryan,kekeh tetap tinggal, walau kata-kata Sania, teramat sangat menyakitkan, Adryan,memeluk Sania dari belakang iya bahkan menangis, tepat di bahu Sania Adryan, membenamkan, wajahnya nya sambil sesekali, berkata memohon ampun pada nya.
"sayang,,,,aku mohon maaf kan aku aku tidak ingin melukai mu,maaf kan kesalahan ku aku mohon jangan begini hati ku sakit yang melihat kamu begini, aku akui aku yang salah, dan aku juga yang telah mengkhianati cinta kita, tapi aku mohon kau bersabar, sebentar lagi aku janji akan menikah dengan mu saat itu tiba"
kata Adryan, dengan nada memohon, iya bahkan berlutut,di hadapan Sania, memohon pengampunan.
"tuan berdiri lah aku bukan tuhan yang selalu bisa memaafkan hamba nya,dan lagi untuk apa kau memohon, pada ku jelas-jelas aku yang salah karena telah berani mencintai yang jelas-jelas milik orang lain"
Sania, tetap dengan dingin nya tanpa mau menatap wajah pria yang jelas-jelas iya cintai.
"pergi lah tuan, saat ini istri mu mungkin sedang cemas menunggu mu pulang"
Deg,,, perkataan Sania makin membuat dada nya sesak, Adryan bangkit seketika dia langsung mencium bibir Sania, dengan paksa karena Sania, menolak nya.
"Sania Paramitha, sebaiknya dengarkan aku baik-baik , aku tidak akan melepaskan mu, sampai kapan pun dan di mana pun kau berada aku akan tetap datang menemui mu itu janji ku, kau akan tetap jadi istri ku apa pun yang terjadi kelak"
Adryan, terduduk, di lantai samping ranjang, Sania iya memandangi wajah Sania yang sedang berdiri di hadapan nya, dengan, tubuh bergetar menahan tangisnya.
"tidak cukup kah kau melukai hati ku, apa lagi yang kau inginkan dari ku"
"Besok lusa aku akan pergi ke Belanda, dengan Amelia, makanya aku datang untuk meminta mu ikut pergi bersama ku di sana aku sudah menyiapkan rumah untuk mu kita bisa menikah sekarang di sini"
kata Adryan, yang langsung di potong oleh Sania.
"kau pikir aku cewek macam apa heuh ?,,, tega sekali kau mau menjadikan aku sebagai istri simpanan, kamu pikir aku perempuan gampang an apa,,,,hiks hiks hiks,,,, tega kamu Yan, begitu tidak berharga nya diriku ini di mata mu"
" bukan, gitu sayang, kamu bahkan lebih berharga dari apapun, yang ada di dunia ini,Ki cinta sejati ku selama nya tidak akan ada yang gantikan itu tapi setidaknya, kamu mau menanti, sampai kondisi mommy ku membaik"
kata-kata Adryan mampu, membuat Sania terdiam, sejenak tapi tiba-tiba, Sania berkata.
"pergilah, jangan berikan aku harap palsu karena yang aku tau kau sudah bahagia dengan istrimu itu kau bahkan sangat menikmati permainan ranjang nya bukan?,,, dan satu lagi aku sudah bodoh mengikuti kata hati ku, untuk menanti kan janji mu, ternyata penantian kosong, yang selama ini aku nanti.
__ADS_1