
Happy reading
🌻
"Griz!"
Kedua sahabatnya terus memanggil, mencolek tangan bahkan Megan saking kesalnya sampai menepuk pahanya, namun gadis itu tetap acuh seperti tidak terganggu dengan suara-suara berisik yang didengarnya. Ia tetap fokus pada game yang sedang dimainkannya.
"Griz!" Kata Megan sedikit berteriak. Sehingga Griz yang mulai terganggu terpaksa menoleh.
"Apaan si kalian, heboh banget!"
"Udah dengerin aja sana, aku gak tertarik!" Sambungnya. Griz kembali melanjutkan permainannya, untung saja dirinya tidak mati.
"Liat dulu siapa pemilik kampus ini dan juga anaknya" Kesal Megan.
Baru saja Fiona akan membuka mulutnya untuk berbicara, namun lebih dulu Griz memberikan peringatan, "Ssst, jangan bikin aku kesel!" Tegas Griz.
"Ck! Udah nikah jiwa emak-emak nya keluar, ngomel terus!" Ledek Fiona tak kalah kesal.
Suasana yang tadinya riuh ramai mendadak sepi ketika dekan kampus angkasa memberikan sambutannya kepada pemilik kampus dan juga anaknya yang baru saja datang.
Gadis itu terlihat tidak tertarik sama sekali, game diponselnya lebih menarik daripada harus menyimak pidato membosankan yang akan membuatnya mengantuk.
"Selamat malam semuanya" Ucap laki-laki yang memakai sweater turtleneck putih tersebut.
Dari nada bicaranya saja sudah terdengar membosankan, pasti isi pidato penyambutannya juga tak kalah membosankan.
Tapi, tunggu!
Gadis itu mengerinyitkan alisnya, heran. Suaranya seperti tidak asing, ia seperti biasa mendengarnya setiap hari tapi entah dimana.
Perlahan gadis itu Mendongkakkan wajahnya, matanya langsung melotot, mulut nya terbuka lebar dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Griz"
"Are you okay?" Megan memastikan jika sahabatnya itu baik-baik saja.
Griz hanya diam, hatinya masih sangat shock saat menerima kenyataan jika kampus ini adalah milik mertuanya, dan laki-laki yang sedang memberikan sedikit sambutan itu adalah suaminya. Bagaimana mungkin Griz tidak mengetahui jika keluarga Bagaskara mempunyai universitas se-elit ini di Jakarta.
"S-suamiku?" Griz bertanya pada Megan dan juga Fiona jika yang dilihatnya itu benar-benar suaminya, Bayu Aji Bagaskara.
"Iya. Itu suami kamu"
Untung saja suasana disana cukup ramai karena semua mahasiswa disana begitu terpesona dengan ketampanan anak sang pemilik kampus tersebut.
"J-jadi?"
"Iya Griz, pemilik kampus ini adalah om Theo Bagaskara dan anaknya adalah-"
"Suamiku" Potong Griz.
Seperti sebelumnya, reaksi mahasiswa disana sama seperti reaksi murid-murid di SMA nya dulu. Malah Griz berpikir, disini lebih bar-bar dibanding dulu.
"Ganteng banget!"
"Suamiku"
"Pacarku"
"Jodohku"
"Pak, I love you"
__ADS_1
"Oppa, sarang Hae"
Lihat saja kehaluan para mahasiswa baru maupun seniornya itu, terlalu berani dalam menunjukan perasaannya, sampai lupa apa itu rasa malu.
"Halu lu pada!" Griz berteriak, namun dalam hati. Ia tidak berani jika semua orang yang berada disana mengetahui jika laki-laki yang mereka sebut blablabla itu adalah suaminya. Griz tidak bisa membayangkan, akan sebrutal apa nanti fans dari suaminya itu.
Disaat semua orang begitu antusias mendengarkan suaminya berbicara didepan sana, Griz malah menunjukan kekesalan nya.
Matanya menyipit tajam, bibirnya membulat dengan raut wajah menakutkan, gadis itu terus mengomel dalam hati.
"Bisa-bisanya aku gak tau, dan bisa-bisanya juga aku gak curiga sedikitpun saat mas Bayu rekomendasiin kampus ini, dulu."
"Pantesan, ijinnya mulus banget kayak wajahnya!" Mendengkus kesal.
"Ternyata eh ternyata!"
"Nyebelin banget!"
"Awas ya kamu mas! Tidur diluar baru tau rasa!" Katanya pelan.
Cih!
"So ganteng banget, lagi!" Mencebik kesal.
"Emang ganteng kali Griz, banget malahan. Cantik-cantik matanya siwer nih!" Sahut seorang teman barunya yang duduk disebelahnya. Panggil saja Tasya, gadis asli Bandung itu protes tidak terima dengan kata-kata yang ia katakan.
Ha?
Lihat 'kan, bagaimana respon fans nya, bahkan mereka berani membelanya. Griz semakin yakin jika menyembunyikan status pernikahannya adalah pilihan yang tepat, atau hari-harinya akan menyeramkan jika membiarkan mereka tau.
Setelah memberikan sedikit sambutan, ada beberapa senior yang begitu ingin memberikan pertanyaan untuk Bayu sehingga laki-laki itu mengijinkan, tetapi hanya untuk 2 orang saja.
"Pak, tipe perempuan idaman bapak seperti apa?"
Terdengar sorakan dari para mahasiswa lainnya saat salahsatu senior perempuan bertanya tanpa malu. Tetapi mereka juga mendukung karena pertanyaan itu begitu mewakili hati para primadona universitas Angkasa yang begitu penasaran dengan tipe wanita seperti apa yang diidamkannya.
Sorakan kekecewaan kini terdengar menyakitkan saat anak pemilik kampus itu memproklamirkan secara tidak langsung bahwa dirinya sudah mempunyai seorang istri dan itu artinya mereka tidak mempunyai kesempatan apapun lagi, baik mendekati maupun menjadi istri.
Nasib!
"Ku tunggu duda mu, pak" Celetuk salah-seorang wanita entah siapa karena terlalu banyak Maba dan senior yang berkumpul.
"Wah parah, Griz!" Bisik Megan.
"Udahlah, bilang aja kalau kamu istrinya. Biar gak pada kecentilan tuh. Biar apasi hubungan disembunyikan, nanti banyak yang salah sangka loh" Tambah Fiona.
Benar juga apa yang di katakan sahabatnya, tidak seharusnya ia menyembunyikan hubungannya. Tetapi, tidak mungkin 'kan Griz memberitahukan alasan yang sebenarnya?
"Gak!"
Pertanyaan masih berlanjut, namun kali ini seorang pemuda lah yang bertanya. Dia adalah Rendy, laki-laki berkulit coklat tersebut tak kalah hebohnya.
"Istri bapak bekerja dimana, apakah dia juga seprofesi seperti bapak?"
Sebenarnya pertanyaannya masih terdengar aman dan juga sopan, namun tidak bagi teman disebelahnya. Menurutnya, pertanyaan Rendy mengundang anak pemilik kampus tersebut berpikir jika Rendy akan merebut istrinya. "Lo ngapain nanya begitu sih Bambang?" Khawatir Dikta, mahasiswa tingkat 3 yang satu jurusan dengan Rendy.
"Lah, emang kenapa Jaenudin?!" Sahut Rendy sewot.
"Anjrit nama bapak gue, sialan!" Protes Dikta tidak terima.
"Lu pikir Bambang nama bapak siapa, pe'a?"
Melihat perdebatan antara Rendy dan temannya, semua orang yang berada disana tertawa geli melihatnya. Mereka sudah tidak heran lagi dengan 2 manusia yang sering kali berdebat namun selalu mengundang gelak tawa bagi siapa saja yang melihatnya.
__ADS_1
"Dia masih kuliah" Sahut Bayu singkat.
"APA?!"
Sebagian orang yang memang baru mengetahui merasa terkejut mendengarnya, ternyata istrinya masih sangat muda dan pasti seumuran dengan mereka.
"Bisa-bisanya dia ngomong santai begitu!" Desis Griz.
"Bongkar aja semuanya, bongkar!"
🌻
"Sayang maafin mas"
Setelah acaranya selesai, Bayu memang menyuruh Griz untuk ke ruangan dekan. Bayu hanya ingin mengajak pulang istrinya saja karena sudah tidak ada kegiatan apapun lagi. Namun gadis itu menolaknya dengan tegas dan malah mengomelinya tanpa henti, karena hampir saja laki-laki itu keceplosan dan mengatakan jika istrinya adalah salah satu peserta Maba dikampus ini.
"Gak!"
"Kamu tuh ya mas, tinggal ngomong ini kampus papa Theo apa susahnya sih. Bisa-bisanya aku baru tau sekarang!"
"Ya kamu gak nanya kan-"
"Mas!" Griz bertambah kesal. Gadis itu berusaha melepaskan tangan suaminya yang terus memeluk pinggangnya.
Sedangkan Bayu, laki-laki itu malah mempererat pelukannya dan semakin menelusupkan wajahnya pada perut sang istri.
"Iya sayang, maaf. Ya udah, pulang yuk?" Ajak Bayu kemudian, tetapi bukan mendapatkan anggukan, namun sebuah penolakan serta pelototan mata yang begitu menakutkan yang didapatkannya.
"Gak! Pulang aja sana sendiri!" Tolak Griz ketus.
Gadis itu melepaskan pelukan suaminya dan mundur beberapa langkah saat suaminya berusaha mendekatinya lagi.
"Tapi mas gak mau tidur sendirian, mau peluk kamu"
"Engga ya mas, ini hukuman!"
"Sayang, gak bisa gitu dong. Masa mas harus tahan-"
"Semalam doang mas, jangan lebay!"
"Tapi,"
"Bye!" Potong Griz. Gadis itu cepat-cepat keluar sebelum mendengar suaminya kembali merengek seperti anak kecil.
Apa-apaan suaminya itu, hanya semalam saja sudah berkoar tidak tahan. Dasar, mesum!
Sedangkan Bayu, laki-laki itu menghempaskan tubuhnya pada sofa. Tangannya memijat dahi nya pusing dengan hukuman yang istrinya berikan.
"Puasa dong, hadeuh!"
Baru saja laki-laki itu akan beranjak dari sofa, tiba-tiba saja pintu itu kembali terbuka dan menampakan seseorang disana.
"Kenapa sayang?" Bayu merasa heran, apalagi saat istrinya tidak mengatakan apapun.
Gadis itu berjalan menghampiri suaminya, menarik baju dan satu ciuman lembut diberikannya tepat pada bibir suaminya, "Lupa" Ucapnya.
Ha?
Bayu yang kaget dengan tindakan dah istri dibuat melongo, laki-laki itu masih diam saat istrinya sudah berada diambang pintu untuk keluar.
"Bobo nyenyak suamiku" Ucap Griz dengan tertawa-tawa.
Setelah pintu itu tertutup dan Griz akan pergi, seketika tubuhnya menegang saat ada seseorang yang sedang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Abis ngapain kamu dari ruangan dekan?"
BERSAMBUNG