
Happy reading
🌻
"Apa kau sudah gila?" Geram Diandra ketika mendengar saudaranya memberitahukan rencana apa yang akan dilakukannya nanti. Wanita itu tidak habis pikir dengan rencana gila tersebut dan sialnya ia dipaksa terlibat didalamnya.
"Terus saja berteriak Diandra! Memangnya ada yang salah dengan rencana ku ini, kau hanya perlu ikuti saja dan jangan banyak berbicara."
Oh tuhan!
Sebenarnya ia tidak ingin ikut campur, karena kali ini saudaranya benar-benar sudah gila sekali.
"Aku tidak mau!" Tegasnya.
"DIANDRA!" Laki-laki itu ikut kesal dengan penolakan saudaranya, "Kau sudah berani membantahku?" Imbuhnya bertambah emosi ketika melihat saudara perempuannya itu beranjak pergi.
Namun saat sampai diambang pintu, wanita itu menoleh sarkas.
"Kau bukan saudaraku, kau seorang iblis! Silahkan lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, tetapi jika kau terkena masalah, aku bukan siapapun untukmu dan jangan pernah meminta bantuan dariku." Desisnya kemudian. Dan akhirnya wanita itu benar-benar pergi, meninggalkan Apartemennya.
Biarkanlah laki-laki itu bertindak semaunya, ia sudah cukup pusing meladeni kegilaan saudaranya itu.
"DIANDRA!!"
"Bahkan saat ini aku malu mengakui kenyataan jika kau benar-benar sepupuku, Jasson! Kau terlalu brengsek!" Desisnya.
Diandra keluar dari lift dengan penuh emosi, Jasson membuat mood nya hancur hari ini dengan ide gilanya.
"Cinta cinta dan cinta. Persetan dengan itu semua!" Terus menggerutu dengan tangan yang sibuk mencari ponselnya didalam tas.
"Ponsel aku kemana, lagi?!" Karena terlalu sibuk mencari, ia sampai tidak sengaja menabrak seseorang yang akan masuk ke dalam lift sehingga berkas-berkas orang yang ditabraknya berserakan kemana-mana.
"Sorry! Aku benar-benar tidak sengaja" Ucap Diandra merasa menyesal. Ia berjongkok membantu orang tersebut memunguti kertasnya yang berserakan.
"Tidak apa-apa nona" Sahut laki-laki tersebut. Diandra menyerahkan beberapa lembar kertas dan pandangan mereka bertemu.
"Tunggu! Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya" Ucap laki-laki tinggi itu.
Diandra jadi berpikir, apakah benar mereka pernah bertemu sebelumnya. Lalu dimana? Wanita itu mengingat kembali sampai akhirnya ia menyadari jika laki-laki tersebut adalah, "Tuan Andra Pradipta?" Tanya nya sedikit ragu, namun melihat anggukan dan senyuman laki-laki tersebut yang membuatnya yakin jika tebakannya benar.
Diandra juga ingat terakhir mereka bertemu ketika mereka menghadiri sebuah rapat disalah satu perusahaan Jovan'K Realty Trust beberapa bulan lalu.
"Ingatanmu sangat kuat ternyata. Apakabar? Ah, apakah kita harus berdiri seperti ini terus atau kau mau kita ke cafe sebelah?" Andra memberi usul dan langsung dijawab anggukan oleh Diandra.
"Boleh"
Mereka berjalan bersama ke sebuah cafe yang berada didekat apartement tersebut dan Andra tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Ia mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan pada seseorang untuk memberitahukan dengan siapa dia sekarang.
[Coba tebak, gue lagi sama siapa?] Pesan terkirim, dan tidak lama kemudian seseorang itu membalas.
Boss : [Gak penting!]
__ADS_1
Andra merengut membaca balasan dari orang tersebut yang ternyata boss nya, Bayu Aji Bagaskara.
[Gue rasa sih penting, soalnya gue lagi sama sekretarisnya si Jasson]
Coba kita lihat apa balasan bos nya yang maha menyebalkan itu.
"Sangat baik. Bagaimana denganmu, tuan Andra Pradipta?"
Kini mereka sudah duduk dengan minuman masing-masing dihadapannya. Andra juga memesankan kue untuknya.
"Seperti yang kau lihat, hanya saja hatiku yang tidak baik" Seloroh Andra yang membuat Diandra terkekeh pelan menanggapinya.
"Kau tinggal disini?" Imbuhnya.
Diandra mengangguk, "Belum lama ini, baru beberapa Minggu. Kamu?" Tanyanya balik.
"Aku tinggal disini, lantai 10"
Sementara Andra sedang asyik mengobrol dengan Diandra, Bayu dikantor terus mondar-mandir kesal karena pesan nya tidak dibalas sama sekali oleh laki-laki tersebut.
"Bener-bener nih si Andra, mau gue pecat kayaknya!"
Sudah menelpon Andra beberapa kali, namun hasilnya tetap sama. Laki-laki itu tidak menjawabnya sama sekali.
"Andra sialan!"
🌻
Merasa namanya dipanggil, gadis yang sedang berjalan dikoridor kampus itu menoleh. Wajahnya terlihat terkejut ketika melihat Silsila Andriana serta ke-2 temannya berjalan menghampirinya.
"Ya kak?"
"Ikut gue!"
Tiba-tiba saja tangannya ditarik paksa oleh Sisil dan kedua temannya, entah akan dibawa kemana gadis itu, yang pasti mereka menyeretnya kebelakang kampus yang jarang sekali mahasiswa datangi.
"Kak jangan tarik-tarik dong!"
Griz berusaha melepaskan tangannya, namun karena genggaman Sisil sangatlah kuat dan jika Griz tetap berontak, pergelangan tangannya pasti akan lebam.
"Jangan bawel lu mahasiswa baru!" Rindy ikut menyahut, membentak Griz dengan sebuah dorongan yang membuat gadis itu hampir tersungkur.
"Jangan kasar kak, aku bisa laporin su-"
"Laporin aja! Kalau Lo bisa!" Potong Sisil.
"Kak lepasin! Aku mau dibawa kemana sih?!"
Griz sudah ketakutan saat dirinya didorong masuk kesebuah gedung kosong dibelakang kampus, apalagi saat teman-temannya mengunci gudang tersebut. Tidak ada penerangan dalam gudang tersebut, hanya ada Sinaran matahari yang masuk dari celah-celah ventilasi udara.
Sisil yang sudah terlihat emosi langsung mendorong Griz sehingga membuat gadis itu membentur sesuatu, entah meja atau kursi, ia tidak perduli.
__ADS_1
"Lo ngapain kemarin diperpustakaan berduaan sama si Rey, Ha?" Bentak Sisil. Emosinya kembali terpancing ketika Rindy memperlihatkan bukti foto Grizelle sedang berduaan bersama Rey diperpustakaan.
"Gak ngapa-ngapain kak, sumpah. Dia-"
"BOHONG!!" Sergah Sisil dengan emosi. Wanita itu mencengkram kerah baju Grizelle dan menyudutkannya.
"Gue gak akan tinggal diam kalau menyangkut cowok gue!" Ancamnya lagi.
"Sumpah demi tuhan aku juga gak tahu kalau kak Rey nyamperin aku, dia cuma ngasih proposal penggalangan dana doang kak" Tentu Griz berkata jujur, hanya itu yang dibicarakannya kemarin dan tidak ada hal lain.
Namun Sisil ya tetap Sisil, wanita itu tidak percaya sama sekali.
"Alah! Alasan saja. Dasar wanita penggoda. Belum cukup jadi simpenan pak Bayu, terus sekarang mau godain si Rey juga?"
"M-maksud kakak?"
"Denger ya Grizelle Jovanka! Loe jangan macam-macam disini, gue punya kartu AS loe! Mau tau, pertama gue pernah ngeliat loe jalan berdua sama CEO BA Development dan gue yakin loe itu simpanannya dia, terus Sisil juga lihat loe keluar dari ruangan dekan dan gak lama kemudian pak Bayu juga keluar dari ruangan itu. Gue tambah yakin kalau loe emang bener-bener simpanan dia"
What?
Jadi mereka berpikir Grizelle adalah simpanannya.
"Ha? Kak tapi aku istrinya dia, bukan simpanannya"
"Jangan mimpi Grizelle, loe emang cantik tapi gak pantes buat ngaku-ngaku istrinya dia! Loe masih bocah, sadar diri!" Timpal Mela.
"Tapi emang kenyataannya-"
"Inget Grizelle! Jangan macam-macam, dan awas kalau sampai gue lihat loe deket-deket sama Rey lagi, loe tau akibatnya bakal lebih parah dari ini!" Potong Sisil.
Setelah mengatakan itu, mereka pergi begitu saja tanpa membantu Grizelle yang terjatuh akibat didorong Sisil sebelum dirinya pergi.
Grizelle berusaha bangun, lalu membersihkan celananya dan keluar dari gedung tersebut dengan perasaan kesal.
"Astaga aku dikatain simpenan nya mas Bayu. Terus siapa juga yang deketin kak Rey, gila kali!"
Griz mengaduh kesakitan ketika menyadari sikunya sedikit lebam karena pada saat Sisil mendorongnya, tangannya terbentur meja.
"Sakit!"
Dan pada saat itu juga ada seseorang yang memanggilnya, "Griz, tangan kamu kenapa?" Ucapnya khawatir.
Bersambung ..
Apakah di daerah kalian terkena banjir? di daerahku banjir ya meskipun rumah gak kena tapi beberapa akses jalan terendam banjir 🤧
Hati-hati ya kalian jaga kesehatan terus 😘 dan maaf ya sedikit dulu.
__ADS_1