I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
(S2) Episode 115 - Penculikan.


__ADS_3

Happy reading


🌻


"Kenapa?" Rey heran melihat Rendy tiba-tiba mematikan sambungan telponnya. Apakah itu bukan nomor telponnya atau malah nomor orangtuanya?


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!" Ucap Rendy sambil memperagakan gaya bicaranya. Rey terkekeh, kemudian merebut kembali ponselnya. Ada untungnya juga nomor gadis itu sibuk, Rey jadi tidak bingung harus berkata apa.


"Sembarangan ambil ponsel orang sih Lo, untung aja gak nyambung. Kalau nyambung gimana coba, gue juga yang gelagapan mau ngomong apa!"


"Greget gue tuh liat loe diem aja. Kalau suka itu ngomong, speak up you know, don't just shut up. Nanti kalau keduluan orang lain, terus galau baru tahu rasa Lo!" Ucap Rendy begitu kesal. Padahal kalau suka tinggal ngomong!


Ternyata sesulit itu kalau orang ganteng jatuh cinta, ribet!


"Ya gak semudah itu, Bambang!" Rey membereskan bukunya, memasukannya kedalam tas lalu pergi begitu saja tanpa menunggu Rendy yang masih kesal kepadanya.


"Woy, kenapa bawa-bawa bapak gue lagi sih Rey!" Teriak Rendy.


"Nama bapak Lo enak disebutin daripada nama Lo!" Sahut Rey terkekeh, kemudian menghilang terhalang pintu sebelum Rendy benar-benar mengejarnya.


Setelah Rey dan Rendy keluar dari perpustakaan, Sisil muncul dari balik rak buku bersama ke 3 sahabatnya. Percakapan mereka membuat Sisil sangat marah.


🌻


"Apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya Megan pada sambungan video. Megan dan juga Fiona masih berada di kampus karena masih ada satu jadwal lagi. Setelah itu, mereka berencana akan menjenguk Griz ke rumah sakit.


"Entahlah, aku sangat hancur. Aku gak kuat!" Sahut Griz disebrang sana. Megan dan Fiona dapat melihat dengan jelas bagaimana Grizelle, wanita hamil itu terus menangis.


"Griz kamu jangan kayak gitu, aku sedih liat kamu"


Melihat Grizelle kembali menangis, mereka jadi ikut menangis sehingga membuat mahasiswa lainnya memperhatikannya.


Shawn yang baru datang bersama Bryand pun datang menghampiri mereka.


"Kenapa si?" Bryand bertanya, lalu melihat layar ponsel dan melihat Grizelle disana.


"Dek!" Panggil Shawn.


Griz yang awalnya menunduk sambil menangis mendongkakan wajahnya dan menatap layar.


"Abang kesana sekarang ya"


Grizelle tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan langsung mematikan video call nya. Shawn sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit, Fiona yang melihatnya merengek meminta untuk ikut.


"Yang ikut!" Menarik tangan Shawn.


"Kamu masih ada jadwal, yang."


"Tapi-"


"Fiona"


"Iya-iya. Ya udah sana, nanti bilang sama Grizelle kalau kita kesana nya nanti sore"


"Iya"


🌻


Monicca sedang berjalan seorang diri diparkiran hotel, wanita berambut panjang itu baru saja kembali untuk mengambil semua bajunya dan berniat untuk kembali ke Amerika besok.


Gertakan Carrol kemarin membuat dirinya berpikir, ia tidak mungkin terus-terusan diam dihotel sedangkan mereka sedang berusaha mencarinya.


Namun saat dirinya akan memasuki mobil, tiba-tiba saja tubuhnya tertarik oleh 2 orang berseragam hitam serta penutup kepala yang membuatnya tidak dapat mengenalinya.


"Hey lepaskan saya!"


Monicca menjerit, namun karena sudah malam jadi tidak ada siapapun disana. Ia berusaha memberontak tapi karena mereka berdua, Monicca tidak bisa berbuat apa-apa saat tubuhnya didorong paksa masuk kedalam mobil.


"Lepaskan saya brengsek! Siapa kalian?" Jerit Monicca.


Karena Monicca terus-terusan menjerit dan membuat kebisingan, akhirnya kedua orang itu membuatnya pingsan dengan memberikan obat bius.


Tidak terasa, Monicca tertidur cukup lama. Wanita itu mulai sadar dan sedikit demi sedikit membuka matanya.


"Dimana aku, kenapa gelap sekali?" Monicca panik. Ketika menyadari jika dirinya terikat pada kursi disebuah tempat yang entah dimana itu, yang pasti sangat gelap dan kotor.


Tidak ada penerangan disana, hanya ada setitik cahaya yang masuk dalam celah-celah ventilasi udara.

__ADS_1


"Hey brengsek, lepaskan saya!" Teriaknya lagi.


Terdengar suara langkah kaki masuk, Monicca tidak dapat melihat dengan jelas siapa laki-laki yang memakai jas tersebut. Ia hanya melihat kepulan asap yang keluar dari mulutnya, kemudian sedikit terkejut ketika laki-laki tersebut melemparkan sebatang rokok kehadapan nya.


"S-siapa kau?" Monicca sudah ketakutan.


"Apakah kau tidak mengenalku, nona Monicca Evelyn?" Laki-laki itu tersenyum remeh, mendekati Monicca yang terkejut melihatnya.


"K-Kau?" Monicca kaget. Ternyata laki-laki itu adalah Hendry, temannya saat kuliah di Amerika dulu.


"Hai" Sapa laki-laki berdarah Chicago tersebut, "Bagaimana, apakah kau sudah puas bersenang-senang kemarin?" Imbuhnya.


"Kenapa kau menculik ku, Hendry?" Tanya Monicca gugup. Setelah penghianatan nya kepada Bayu dulu, Monicca tidak pernah bertemu lagi dengan Bayu maupun sahabat-sahabat nya. Ia terlalu malu untuk menampakan diri saat itu.


"Haruskah aku menjawab pertanyaan yang bahkan kau sendiripun sudah tahu jawabannya!" Sahut Hendry santai. Ia duduk dikursi yang sudah dipersiapkan bodyguard nya lalu memainkan pistol jenis Desert Eagle ditangannya.


"M-Maksudmu? Aku tidak mengerti!"


"Semua sistem di Asia saja bisa aku lumpuhkan Monicca, bagaimana kau tidak mengerti apa maksudku?"


Deg!


Monicca semakin tersudut, ia tidak bisa mengelak lagi sekarang. Apalagi ketika Hendry menunjukan bukti-bukti Poto ke hadapannya.


"Betulkan ini mobil yang kau gunakan?"


"Sialan, dia mengetahui aku yang sudah menabrak Bayu" Batinnya.


"Seharusnya kau tidak perlu gugup seperti itu Monicca. Hal sekecil itu gampang sekali untukku. Aku hanya perlu bermain-main dengan laptopku, dan sekarang kau ada disini." Kata Hendry terkekeh pelan dan Monicca semakin tidak bisa mengatakan apapun. Ia terlalu takut.


"Kenapa diam saja, kau takut?" Hendry berdiri, mendekati Monicca dan berjongkok dihadapannya.


"Lihat! Senjata buatan Israel ini sudah punya pamor yang mendunia akan kemampuan mematikannya" Menyentuh pipi Monicca dengan pistol tersebut, "Kalau biasanya pistol lain hanya seperti menusuk saja, Desert Eagle ini mampu membuat obyeknya meledak. Bayangkan jika peluru ini menembus jantungmu, pasti sangat keren!" Imbuhnya.


DEG!


Hendry terkekeh pelan, "Ada apa dengan wajahmu, Monicca. Kenapa pucat sekali?" Lalu berdiri dan duduk kembali di kursinya.


"Hendry aku mohon, jangan lakukan itu. Aku mengaku, aku yang sudah menabrak Bayu tapi aku mohon jangan tembak aku?"


"Tidak Monicca. Aku tidak akan menembak mu. Aku hanya ditugaskan untuk menyeretmu kesini saja, selebihnya bukan wewenang ku"


Terdengar langkah kaki memasuki gudang dimana Monicca di culik, Monicca dan Hendry menoleh ketika ketiga orang tersebut datang dengan gagah.


"Hai Monicca" Sapa Andra yang baru saja datang bersama Theo. Laki-laki itu tersenyum manis sambil melambaikan tangan.


"Andra!"


Lalu, seseorang muncul dibalik tubuh Andra "Kau lagi kau lagi, kenapa wanita secantik dirimu harus jahat sih. Sangat disayangkan sekali" Kata laki-laki berdarah Jepang tersebut. Dia adalah William, laki-laki pemilik bar terbesar diseluruh Asia.


"William!"


Laki-laki itu berdecak kagum, "Keren! Bahkan kita tidak pernah bertemu lagi hampir 6 tahun, tapi kau masih mengingatku?" Sambil bertepuk tangan didepan Monicca yang sudah ketakutan.


Wanita itu dibuat terkejut lagi dengan seseorang yang baru saja datang, "Andre?" Dan langsung berdiri sejajar dengan yang lainnya.


"Jangan sebut nama gue!" Bentaknya, kemudian beralih menatap Andra dan juga William yang telah tega meninggalkannya lebih dulu. "Tega nya Lo berdua pada ninggalin gue, mana kamar mandinya serem banget lagi! Kalau gue diculik, mau tanggung jawab Lo?" Imbuhnya yang mendapatkan toyoran dikepala dari Andra dan juga William.


"Lo lama!"


"Yee gue kan kebelet tadi"


Theo menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya jika sahabat putranya setengil ini jika sudah bersama. Padahal diluar sana, mereka sangat terkenal dingin dan menakutkan.


"Kalian boleh keluar jika tidak biasa melihat darah!" Perintah Theo yang dijawab anggukan oleh Hendry, Andra, William dan juga Andre.


"Tunggu Hey! Kalian harus melepaskan saya!" Teriak Monicca ketika melihat satu-persatu orang-orang luar dari ruangan dimana dirinya disekap, dan meninggalkannya.


"Sorry ya Monicca, kita gak kenal Lo!" Sahut William sebelum benar-benar menutup pintunya, "Bye!" Imbuhnya.


Kini hanya ada dirinya dan juga Theo diruangan tersebut, Monicca terus berusaha melepaskan ikatan pada tangannya.


"T-tuan Theo, saya sangat memohon kali ini. Lepaskan saya" Kata Monicca benar-benar ketakutan.


"Jangan panggil namaku dengan mulutmu yang menjijikan itu. Aku tidak Sudi namaku yang baik ini diucapkan oleh wanita jalang sepertimu!" Sentak Theo.


"Maafkan saya tuan-"

__ADS_1


"Maaf? Apakah dengan maaf kau bisa menyembuhkan putraku dari masa kritis? Apakah dengan maaf mu kau bisa mengembalikan semuanya seperti semula?


Saya tidak tahu kenapa Bayu sampai berurusan dengan wanita sepertimu. Untung saja kau tidak menjadi menantuku, jika sampai itu terjadi, aku lebih baik mati daripada memanggilmu sebagai menantuku.


Cih!


Aku hanya akan bercakap-cakap sebentar denganmu. Kau tahu apa dampaknya jika kau berurusan dengan keluargaku? Bukan hanya kau yang hancur, tetapi keluarga mu juga. Lihat!" Memperlihatkan ponselnya dan menunjukan gambar dimana semua keluarganya sudah mati, "Mereka juga sama" Imbuhnya.


Monicca berteriak, memaki Theo yang sudah tega membunuh semua keluarganya di Amerika sana.


"Kau benar-benar iblis Theo Bagaskara!"


"Haha, bukan saya yang melakukannya. Tetapi kau sendiri yang sudah memancingku untuk melakukannya" Sela Theo.


"Kau-"


"Saya tidak pernah menyesal melakukannya, sudah lama sekali saya mengincar mereka. Kau tahu, mereka adalah salah satu dari ratusan musuhku. Mereka juga yang sudah mencuri uang perusahaan beberapa tahun lalu saat kami menjalin kerja sama. Hm, kau pasti tahu 'kan, jadi saya tidak perlu menceritakannya lagi"


Samuel terkekeh melihat wajah Monicca yang pucat.


"Brengsek! Seharusnya kau tidak perlu membunuhnya, akan ku ganti semua uannya!" Murka Monicca.


"Apa, ganti? Kau pikir aku memerlukan uangnya? Tidak! Aku memerlukan darah mereka sebagai gantinya"


"Sialan!"


"Hahaha! Apa ada pesan-pesan terakhir sebelum selongsong ini menghancurkan tubuhmu?"


DEG!


🌻


Keesokan harinya, ketika Griz bersiap-siap akan ke rumah sakit. Ia mendapatkan telpon dari mama Raisha yang mengatakan jika Bayu sudah melewati masa kritisnya.


Grizelle begitu bahagia mendengarnya, dan meminta kepada mommy Aiko untuk cepat-cepat mengantarkannya ke rumah sakit.


Setelah sampai, Grizelle langsung menghampiri suaminya dan memeluknya. Meskipun belum sadar, tetapi setidaknya suaminya sudah melewati masa-masa kritis.


"Mas, bangun dong. Aku kangen banget pengen dipeluk sama kamu" Kata Grizelle sambil tiduran disebelah suaminya.


Wanita hamil itu begitu bahagia ketika semua alat-alat bantu pada tubuh suaminya sudah terlepas, sehingga ia terus memeluknya begitu erat. Sesekali tangannya jahil mencubit hidung mancungnya dan memainkan pipinya pada bagian dimana lesung pipi nya akan muncul begitu manis ketika tersenyum.


"Mas. Waktu malam aku ngidam coklat. Aku abis 4, hehe" Griz terkekeh pelan, tangannya terus memainkan hidung mancung suaminya begitu gemas.


"Kamu gak marah 'kan?" Masih berceloteh, menceritakan kebiasaan dirinya memakan coklat tengah malam yang membuat seseorang menderita karena seperti biasa, tidak ada toko yang buka saat jam tengah malam seperti itu.


"Aku nyuruh Shawn buat nyari, dia ngomel-ngomel coba. Katanya anak kita nyusahin, nyebelin banget 'kan tuh cowok" Terus berceloteh, "Pokoknya kalau mas udah bangun, mas harus omelin dia. Enak aja sebut anak kita nyusahin!" Imbuhnya sebal.


Ketika sedang memainkan jari-jari suaminya, Grizelle begitu terkejut saat ada pergerakan-pergerakan kecil, ia langsung bangkit dan memastikan jika suaminya tadi benar-benar bergerak.


"Ya tuhan, tangan kamu gerak sayang. Sebentar ya, aku panggilin dokter dulu" Ucap Griz begitu bahagia, ia meraih tombol darurat lalu menekannya.


"Mas kamu sadar mas!"


Saat dokter Richard yang menangani suaminya datang, Bayu sudah sepenuhnya sadar dan dokter Richard langsung memeriksanya. Grizelle menghampiri kedua orang tuanya lalu memeluknya, dan membiarkan dokter memeriksa suaminya.


"Hai Bayu, kau sudah sadar. Bagaimana, apa kau bisa mendengar dan melihat saya?" Ucap dokter Richard seraya melambaikan tangannya dihadapan Bayu untuk memastikan jika penglihatan pasiennya baik-baik saja dan tidak ada kerusakan apapun.


"Ya" Sahut Bayu singkat.


Dia melihat ke sekelilingnya, mengamati setiap orang yang berada disana dan menyebutkannya satu persatu.


"Mama, papa-"


Raisha dan Theo begitu bahagia, ternyata Bayu masih mengingat segalanya. Namun saat Bayu melihat Grizelle, laki-laki itu hanya diam dan terus memegangi kepalanya, seperti menahan sakit yang begitu hebat.


"Kau-


BERSAMBUNG GUYS HEHE


Jangan berpikir yang macem-macem, aku tidak sejahat itu hehe


Ini anaknya.



Ini emak-bapaknya.

__ADS_1


THEO BAGASKARA & RAISHA



__ADS_2