I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
Episode 41 - MEMERGOKI


__ADS_3

Leon sudah berada didepan rumah Cherry - kekasih yang baru dipacarinya setahun ini. Kedatangannya itu untuk menanyakan perihal beberapa foto yang sempat ia dapatkan dari nomor tidak dikenalnya. Ditambah, perkataan Ryan beberapa hari lalu yang mengatakan sempat melihatnya dijemput oleh pria yang telah menghancurkan hubungannya bersama Naomi, dulu.


Beberapa kali Leon mengetuk pintu tersebut, namun tidak ada sahutan dari siapapun.


"Kemana dia?"


Helaan nafas berat terdengar, sebelum akhirnya Leon memilih pergi dan akan menunggunya di jalan sebrang sana. Ada bagusnya juga Leon menggunakan mobil milik adik sepupunya, sehingga Cherry mungkin tidak akan menaruh curiga kalau dia sedang memantaunya.


Cukup lama Leon berdiam diri disana, menengok beberapa kali arlojinya yang menunjukan bahwa sudah hampir satu jam dia menunggu. Lagi, helaan nafas berat terdengar dari bibir pria itu, dia menggeram rendah sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil untuk berlalu.


Namun saat mobilnya akan ia jalankan, nampak dari belakang, Leon melihat mobil sport berwarna kuning yang sangat ia kenali memasuki pekarangan rumah kekasihnya.


"Jadi semuanya benar?"


Leon berdecih saat matanya melihat dengan jelas bagaimana pria itu merangkul mesra pinggang kekasihnya, serta tawa riang yang mengalun dari bibir keduanya.


"Kerja bagus Cherry, aku sangat terkejut melihatnya!"


Leon menjalankan mobilnya, meninggalkan tempat tersebut untuk menuju suatu tempat yang sangat ingin dia datangi selama ini. Entah, apakah pantas dia pergi kesana setelah semua perbuatan maupun perkataan jahatnya yang terlontar untuk orang tersebut bisa dia maafkan, Leon benar-benar menyesal.


Cukup lama Leon terdiam didepan pintu apartemen lantai sepuluh itu, ragu, apakah harus ataukah tidak? Namun setelah berperang dengan segala keraguannya, bel pada samping kiri berhasil ia tekan sehingga menampakan sosok perempuan yang selama ini masih menempati tahta tertinggi dalam hatinya.


"Naomi - Arion?"


Terlihat begitu jelas raut keterkejutan dari wajah perempuan manis di hadapannya. Leon pun merasakan hal yang sama, gugup dan juga merasa tidak pantas berada disana.


Setelah kejadian kemarin malam dan mencari kebenaran dari perkataan sang mantan, rasa bersalah seolah mendorong dirinya masuk ke dalam jurang penyesalan - menyesal karena sudah tidak mempercayai penjelasan Naomi selama ini.


Sebelum Leon pergi ke rumah Cherry, dia sempat pergi ke kampus untuk menemui seseorang yang ia yakini mengetahui akar masalahnya selama ini.


"Bianca!"


Perempuan berambut ikal itu menoleh, mengehentikan langkah saat seseorang memanggil namanya.


"Leon?"


Leon sedikit berlari, menghampiri perempuan, sahabat dari kekasihnya itu.


"Kita perlu bicara"


Kini keduanya telah duduk disebuah cafe yang terletak tidak jauh dari kampus.


"Ada apa?" Tanya Bianca, sedikit heran melihat gelagat tidak bersahabat dari pria dihadapannya.


"Kau tau semuanya, kan?" Seringai tercetak jelas pada sudut bibir Leon setelah melihat kegugupan pada wajah perempuan tersebut, "Tidak perlu aku jelaskan, kau mengerti apa maksud pertanyaan ku Bianca" tegas Leon dengan menekan setiap kalimatnya.


Bianca berdehem, mencoba terlihat biasa saja.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu!"


Kekehan pelan terdengar dari mulut Leon, merasa terhibur dengan jawaban bodoh perempuan tersebut.


"Kau tidak mengerti? Bagaimana kalau aku menyuruh Daddy untuk menarik semua saham yang hampir setengahnya pada perusahaan ayahmu?"


DEG!


"Kau pasti paham jika itu terjadi bagaimana nasib kalian setelahnya?" Leon mencondongkan badannya, "Hancur!"


Bianca pucat, sudah tidak bisa menyembunyikan lagi rahasia yang selama ini dia simpan untuk membantu sahabatnya.


"Bagaimana?" Leon kembali bertanya.


Tidak ada pilihan lain selain menceritakan semuanya, Bianca tidak mau hidup susah karena terus menyembunyikan kejahatannya selama ini. Dia tidak perduli kalau Cherry membencinya, yang terpenting keluarganya tidak menderita karena ulahnya.


"Oke aku akan menceritakannya dengan detail. Tolong! Jangan potong penjelasan ku dan tahan emosimu"


Selama mendengar penjelasan Bianca, umpatan tidak pernah berhenti terucap dari dalam hatinya. Leon menyumpahi Cherry, tidak menyangka kalau wanita yang sangat dipercayainya begitu tega melakukan hal jahat seperti itu demi membalaskan dendam nya.


"Maafkan aku"

__ADS_1


Naomi terkejut saat tiba-tiba Leon memeluknya. Dia berusaha melepaskan, namun rengkuhan mantan kekasihnya itu begitu erat.


"Arion!"


"Biarkan seperti ini sebentar saja"


Naomi diam, membiarkan Leon memeluknya. Ada rasa sesak saat dia mulai merasakan ada setetes air yang membasahi dahinya.


Leon menangis?


Kenapa?


"Arion"


Naomi mencoba melepaskan rengkuhan pria itu, mendongak untuk menatap wajah yang sudah memerah karena tangisnya.


"Maafkan aku, maafkan aku Naomi"


🌻


Menarik kursi disebelah Shawn, Grizelle mulai mendudukinya. Dia mendelik, merasa kesal karena Shawn sempat memotret dirinya dalam keadaan berantakan.


"Awas ya kalau kau kirimkan itu kepada mas Bayu!"


Karena setelah Shawn memotretnya, dia berlari serta mengancam kalau akan mengirimkan foto tersebut kepada calon suaminya jika tidak membelikan barang yang ia inginkan.


"Tidak janji"


"Shawn!"


Gelengan pelan serta kekehan lucu dari Aiko terdengar melihat perdebatan antara dua bersaudara itu dari dapur, sebelum akhirnya menghampiri mereka untuk melerainya.


"Berdebat juga butuh tenaga, makan dahulu sebelum melanjutkannya"


Aiko meletakan masakan yang ia buat, tersenyum saat ucapan terimakasih mengalun lembut dari putri dan juga putranya.


"Makan yang banyak ya"


Shawn lebih dulu selesai, menunggu sang adik yang baru menghabiskan setengah makanannya. Ponsel yang disimpan tidak jauh dari tangannya ia ambil, tersenyum saat melihat notifikasi masuk pada ponselnya.


Janine, kekasihnya.


^^^DEAR :^^^


^^^[Sedang apa, sudah makan?]^^^


[Send a picture]


^^^DEAR :^^^


^^^[Dia lucu sekali, sampaikan salam ku untuknya]^^^


[Kapan kau kesini? Aku merindukanmu, sangat!]


^^^DEAR :^^^


^^^[Aku juga merindukanmu]^^^


Shawn meletakan kembali ponselnya, melihat sudah tidak ada lagi siapapun disebelahnya. Kemana Grizelle, pikirnya. Pemuda itu mulai berdiri, memanggil sang adik yang ternyata sudah duduk santai dengan se-toples keripik kentang dipangkuan nya.


"Dasar bocah!" Gumamnya pelan sebelum akhirnya menghampiri lalu duduk disebelahnya, "ada salam dari Janine"


Perhatiannya dari televisi teralihkan sesaat.


"Kapan dia akan kesini?"


Grizelle mengerutkan alisnya bingung saat melihat riak murung dari wajah kakaknya.


"Dia tidak menjawabnya"

__ADS_1


Hanya anggukan rasa paham sebagai jawabannya. Grizelle cukup mengerti bagaimana Janine pernah bercerita tentang hubungan keduanya yang sedikit merenggang. Entah apa masalahnya, ia tidak berani bertanya, apalagi ikut mencampuri masalah mereka.


Keduanya menoleh saat terdengar suara seseorang yang baru saja datang, tangannya menenteng dua kresek berisikan cemilan serta minuman yang ia beli di minimarket sebelumnya.


"Halo adik kesayangan, lihat apa yang aku bawa?"


Grizelle bertepuk riang, berpindah tempat untuk duduk disebelah pria tersebut, membuat Shawn memutar bola matanya malas.


"Terimakasih abang Leon sayang"


"Sama-sama kesayangan"


Leon menyeringai menatap pemuda yang duduk tidak jauh dari tempatnya, memasang tampang meledek setelah berhasil mengambil perhatian gadis yang kini sedang khusyu memakan coklatnya.


"Apa lihat-lihat?" Ketus Leon kepada Shawn.


"Cih, siapa juga yang melihatmu!" Balasnya tidak kalah ketus.


Leon terkekeh pelan melihat gelagat saudara yang menurutnya menyebalkan itu.


"Kau terusir hingga pindah ke Indonesia?"


"Bukan urusanmu!"


Menatap keduanya dengan malas, Grizelle tidak perduli dengan perdebatan yang terjadi dihadapannya. Biarkan saja, sampai mulut mereka berbusa pun dia tidak perduli. Karena sungguh, hal seperti ini sering sekali terjadi saat mereka masing menetap di Amerika.


🌻


Berada dibarisan paling belakang, Grizelle memasang wajah malas sejak sepuluh menit berlalu saat pelajaran olahraga dimulai. Disaat yang lain begitu bersemangat mengikuti pelajaran tersebut, Grizelle malah ogah-ogahan.


Tadinya dia ingin ijin untuk tidur saja di ruang kesehatan, namun melihat gelagat guru yang terlihat sedang memperhatikannya dilantai dua itu selalu berusaha mendekati, dengan terpaksa Grizelle mengikuti.


Sementara Grizelle sedang berusaha memasukkan si kulit bundar tersebut ke dalam ring, dari atas seorang pria sangat berusaha menahan tawanya ketika melihat gadis pujaannya selalu melenceng memasukkannya. Dia jadi ragu, apakah benar kekasihnya itu bergelar sabuk hitam sementara bermain basket saja gadis itu tidak bisa.


"Lucu sekali"


"Siapa yang lucu?"


Menyadari ada seseorang disebelahnya, Bayu kembali memasang riak dingin, pun menggeser tubuhnya saat merasakan seseorang tersebut terlalu dekat.


"Bukan urusanmu!"


Wanita tersebut tersenyum kecut, kesal karena merasa sulit untuk mendekati anak pemilik sekolah tempatnya bekerja itu. Padahal, dia sudah berusaha tampil semenarik mungkin untuk mendapatkan perhatiannya, namun tetap saja selalu perlakuan dingin yang ia dapatkan.


Belum sempat wanita yang bernama Jessica, guru bahasa Inggris itu mengatakan tujuannya yang ingin mengajak makan siang bersama, Jessica mendengus kesal saat dia menoleh, pria dingin tersebut sudah tidak ada disebelahnya.


Grizelle tertawa pelan melihatnya, merasa sedikit kesal juga dengan guru wanita tersebut karena berani mendekati disaat dia tau kalau calon suaminya sudah mempunyai tunangan, yaitu dirinya.


Apakah wanita itu pura-pura tidak tahu atau memang sengaja ingin menjadi hama perusak dalam hubungannya? Jangan harap!


"Eh ini sudah selesai kan?"


"Sudah"


"Aku ke toilet dulu ya?"


"Oke"


Setelah mencuci wajahnya serta mengganti pakaiannya disana, kembali ke kelas kini menjadi tujuannya. Namun semuanya tidak berjalan mulus saat seseorang menarik tangan serta menyeretnya ke dalam gudang yang memang bersebelahan dengan toilet.


Grizelle kalap, ingin berteriak namun mulutnya dibekap. Dia berusaha berontak, namun tenaga orang tersebut lebih kuat.


Klik!


Pintu gudang tersebut berhasil orang itu kunci.


"S-siapa kamu?"


Kenapa membawanya ke gudang gelap seperti ini? Apa jangan-jangan Fiona? Tetapi tidak mungkin, Fiona tidak sebesar itu.

__ADS_1


🌻


\={R E V I S I}\=


__ADS_2