
Meskipun Juna sudah tertidur begitu pulas dalam pelukannya, Arjuna tidak rela jika harus menaruhnya di kasur. Hangatnya pelukan bayi itu membuat Arjuna nyaman, sangat nyaman. Rasanya seperti memeluk seseorang yang sampai saat ini masih menguasai tahta tertinggi didalam hatinya.
"Siapa kau?" Bisiknya pelan disebelah telinga bayi itu. "Kita bahkan baru bertemu beberapa jam lalu tetapi kenapa kau sudah berhasil mengambil semua rasa simpati ku?" Tangan kekarnya terus mengelus kepala bayi itu, dengan rasa sesak yang terus membuncah dalam dadanya.
"Kenapa rasanya sakit sekali, huh? Kau bisa membuatku ingin menangis hanya dengan mata bulat mu itu - yang mirip sekali dengan wanita yang aku cari selama ini"
Arjuna semakin mengeratkan pelukannya, seakan bayi itu adalah miliknya dan tidak ada yang boleh menyentuhnya. "Bolehkah aku berharap kamu adalah anakku?" Dan kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya sebelum ia menghujani pucuk kepala bayi itu dengan ciuman yang bertubi-tubi. "Aku menyayangimu, Juna" Imbuhnya.
Dan lagi, Arjuna menangis, isakan nya mulai terdengar jelas namun secepat kilat Arjuna menghentikan dan mengusap sudut matanya yang berair saat Mawar telah kembali dari kontrakan sebelah setelah mengambil selimut untuk Juna.
"Tuan ada apa? Tuan menangis?" Tanya Mawar terkejut. Meksipun Mawar sempat beberapa kali memergoki Arjuna sedang menangis di kantornya, tetapi wanita itu merasa aneh dengan sikap sang bos yang terlihat enggan untuk melepaskan Juna. Padahal bayi itu jelas sudah terlelap, tangan mungil yang tadinya memeluk lehernya pun kini sudah terlepas. Tetapi kenapa?
"Huh?"
Belum sempat Arjuna menjawab, dering ponsel dalam kantong celana membuat Arjuna segera meletakan Juna ke kasur dengan pelan. Ia takut suara telpon itu membangunkannya. Setelah itu, cepat Arjuna menjawab telpon tersebut.
"Ya"
"Baiklah, Aku kesana sekarang!"
"Hm"
Setelah sambungan telpon terputus, Arjuna duduk disebelah bayi itu yang sedang Mawar selimuti. Ia mengusap sekali lagi pipi gembul nya, dan menciumnya pelan. "Selamat tidur, mimpi indah sayang. Semoga hari selanjutnya kita bisa bertemu lagi" Batinnya penuh harap.
Entah kenapa rasanya berat sekali harus berpisah, belum pergi saja Arjuna sudah membayangkan bagaimana rindunya untuk memeluk tubuh itu lagi. "Uncle akan merindukanmu, Juna"
Kini mereka sedang berada didepan kontrakan, dengan Mawar yang mengantarkan sang bos yang berpamitan untuk pulang.
"Hati-hati dijalan, tuan"
Saat Arjuna melajukan mobilnya meninggalkan kontrakan Mawar, ia dibuat tidak fokus dengan siluet seseorang yang sedang berjalan disisi trotoar. Wanita itu terlihat mungil, rambutnya terurai panjang sampai pinggang dengan poni yang menutupi sebagian dahinya.
Sebenernya Arjuna cukup dekat dan pelan menjalankan mobilnya, namun karena pencahayaan yang remang membuat ia tidak begitu jelas melihatnya. Padahal mereka sama-sama saling memperhatikan.
"Siapa dia?" Gumam Arjuna, ia melihat kaca spion yang ada dihadapannya. Terlihat wanita berpayung itu menghampiri Mawar dan Mawar pun terlihat membantunya membawa barang belanjaannya. "Mungkin tetangganya" Imbuhnya acuh. Tidak penting juga, pikirnya.
Sekarang Arjuna langsung melajukan mobilnya ke sebuah mansion mewah milik ayahnya - Rahardian setelah tadi menelponnya untuk cepat datang. Ck! Mau apa lagi sih orang itu, belum puas kah menghancurkan hidupnya dulu.
FLASHBACK ON.
Ting!
Suara denting lift terbuka langsung membawa tubuh Juna keluar, ia berjalan dengan sorot mata seakan ingin membunuhnya seseorang. Arjuna yang baru saja datang dari Bandung langsung melesat ke kantor ayahnya, ia tidak ingin menundanya lagi, Arjuna butuh penjelasan langsung dari pria itu sekarang.
"DADDY!"
Sandra, sekretaris ayahnya merasa terkejut dengan kedatangan putra tunggal pemilik perusahaan ini, apalagi dengan ledakan emosi yang baru didengarnya tadi.
"KELUAR KAU BAJINGAN!"
"Tuan-"
"Diam kau, jalang!" Bentak Arjuna saat Sandra akan berbicara. Dia pikir Arjuna tidak tahu apa kelakuan wanita itu terhadap Daddy nya. Cih! Menjijikan.
Arjuna berusaha membuka pintu dihadapannya, namun tidak bisa.
"Tuan tunggu, tuan Rahardian sedang ada ta-"
"Diam atau kepalamu akan meledak dengan senjataku!"
Seketika mulut wanita itu terkatup rapat, ia membiarkan anak dari bos nya berteriak seperti kesetanan didepan pintu yang masih tertutup rapat.
"RAHARDIAN WIRYAUTAMA, KELUAR!"
Arjuna yang dikuasai amarah tidak bisa mengontrol emosinya. Bagaimana bisa ia bersikap biasa saja setelah mengetahui alasan Cherry pergi ternyata karena ulah ayahnya sendiri dan lebih parahnya lagi, ayahnya sendiri yang menyuruh Cherry untuk menggugurkan kandungannya.
"Ada apa ini? Jangan kurang ajar-"
Melihat ayahnya keluar dengan seseorang perempuan berpakaian sexy, Arjuna langsung menarik kerah kemeja pria tersebut dan menyudutkannya pada tembok. Persetan dengan status jika pria itu adalah ayahnya, kali ini Rahardian benar-benar keterlaluan dan Arjuna tidak bisa mendiamkannya.
Meskipun harus menjadi anak durhaka sekalipun, Arjuna tidak perduli! Karena bukan hanya dirinya dan juga Cherry yang tersakiti, namun sang ibu juga yang sudah banyak di khianati oleh si bajingan itu. Lihatlah pakaian pria itu, menjijikan! Pasti pria tua itu telah bercinta dengan jalang yang keluar tadi.
Meludah setelah melihat jalang itu pergi, fokus Arjuna tertuju pada pria yang berada dalam cengkraman nya.
"Gen ku begitu kental menguasai tubuhmu, son. Lihat kelakuan kurang ajar mu, kau seperti ku saat masih muda dulu"
Rahardian terkekeh, masih dengan tangan Arjuna yang mencengkram kerah kemejanya, ia tidak terganggu dan masih berkata santai.
Arjuna memicing tidak suka.
"Cih! Jangan katakan itu, jelas kita berbeda! Aku tidak se-bajingan kau, Rahardian!" Tekan Arjuna.
Lagi, Rahardian terkekeh. Membuat Arjuna sangat jengah. Jika tidak ingat dengan sang ibu, tentu Arjuna akan membunuh pria bajingan ini detik ini juga. Dan sialnya, dia adalah ayahnya.
__ADS_1
"See, bahkan sifat mu sama persis denganku"
"Hentikan omong kosong mu!"
Rahardian mengisyaratkan kepada Sandra untuk pergi, ia tidak mau sekretarisnya yang cantik itu melihat kebengisan anak kepada ayahnya. Wanita itu mengangguk, melenggang pergi menuju lift untuk turun.
"Lepaskan! Kita akan berbicara dengan kepala dingin"
"Kau pikir aku masih bisa berpikir tenang setelah mengetahui semuanya?"Arjuna berkata pelan, namun terasa sekali aura mencekam disekelilingnya. "KAU GILA!" Imbuhnya dengan suara keras. Arjuna mulai frustrasi, ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. "Kau yang membunuh anakku, dad-" Suaranya kembali memelan dengan airmata yang mendesak keluar. Arjuna menjambak rambutnya, berteriak dan membanting apa saja yang berada dalam jangkauannya dan Rahardian membiarkan itu. "Kau mengancamnya untuk menggugurkan anakku, CUCUMU SENDIRI!"
Prankk~
Guci mahal seharga ratusan juta itu terlempar jauh. Pecahan keramik mahal berserakan dimana-mana, membuat beberapa pekerja yang berada satu lantai dengan pemilik perusahaan itu mulai keluar.
"Kau benar-benar biadab, Rahardian!"
Dan sejak saat itu hubungan keduanya sangat tidak baik. Arjuna yang terlampau membenci sang ayah memilih pergi dari rumah untuk tinggal di apartemennya yang baru ia beli - ternyata jaraknya cukup dekat dengan kantor. Ia juga tidak pernah pulang ke rumah karena terlalu malas bertemu dengan pria brengsek itu.
Bagaimana dengan ibunya? Ya, setiap weekend Diana akan mengunjungi apartemennya dengan membawa masakan favorite putranya.
Arjuna juga sudah membatalkan perjodohannya dengan Chelsea. Ia tidak perduli dengan undangan yang siap disebar, biarkan saja ayahnya malu, Arjuna tidak perduli. Terlebih setelah ia mengetahui niat jahat wanita itu, Arjuna merasa sangat beruntung karena tepat sebulan pernikahannya akan dilangsungkan, tuhan memberinya kesempatan untuk memergoki perempuan laknat yang akan menjadi istrinya itu sedang berkencan dengan seorang pria bule berkewarganegaraan Canada - Mark.
Namun bukan hanya itu yang membuat Arjuna membatalkan semua rencana pernikahannya secara sepihak - Tidak! Arjuna tidak cemburu atas perselingkuhan wanita itu sama sekali, tapi yang membuat Arjuna sangat marah karena alasan perempuan itu menawarkan perjodohan tersebut untuk mengambil semua aset kekayaan yang dimiliki Arjuna dan mengambil alih semua perusahaan Rahardian yang sudah dipastikan akan diwariskan kepada Arjuna.
Cih!
Mengingatnya saja sudah membuat Arjuna naik darah. Jika saja saat itu Dion serta Mawar tidak menahannya, susah dipastikan Arjuna akan menginap dalam sel penjara karena menembak kepala kedua orang menjijikan itu sampai mati.
FLASHBACK OFF.
Sebelum pulang ke rumahnya, Arjuna membelokan mobilnya ke sebuah toko bunga. Ia ingin membawakan bunga kesukaan ibunya, Diana. Pria itu turun dan mulai mencari bunga yang akan ia berikan pada wanita berharganya setelah masuk.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pemilik toko bunga tersebut. Seorang gadis berumur 27 tahun melayaninya begitu ramah. Namun gadis itu terlihat kaget setelah melihat siapa pelanggan yang harus ia layani sekarang itu adalah, "Arjuna?" Ucap gadis yang ternyata sahabat dari Cherry, Joya.
"Joy?"
Kini mereka sedang duduk pada kursi tunggu dalam toko bunga yang ternyata milik Joya. Ya perempuan itu memang sangat menyukai bunga, bahkan cita-citanya saja ingin memiliki taman bunga terluas di Indonesia.
"Apa kabar?" Tanya joya setelah meletakan dua minuman berwarna orange diatas meja.
"Buruk" Sahut Arjuna sekenanya. Ia membuka botol tersebut dan meneguknya sampai habis. Haus sekali sepertinya.
"Tidak perlu menjelaskan, aku tau alasan hari-harimu menjadi sangat tidak menggairahkan, Arjuna"
Joy terkekeh pelan, tersenyum setelah ada seorang pelanggan masuk dan mengisyaratkan kepada pegawai untuk melayaninya. Huh, sudah sangat malam saja pelanggannya tetap ada, sayang juga kalau tutup lebih awal.
"Kalau aku tau sudah aku katakan saat kau datang ke rumahku, Arjuna" Jawab Joy santai. Ya, karena Joy sendiripun tidak tahu dimana keberadaan sahabatnya itu. Bahkan semua nomor telponnya terblokir. "Tapi-"
Arjuna menoleh, menatap wajah Joy yang terlihat terkejut.
"Aku tidak yakin itu adalah Cherry" Ujarnya ambigu.
"Maksudmu?"
"Beberapa bulan lalu saat aku iseng membuka akun Instagram ku, aku melihat ada seseorang yang memosting sebuah foto, tapi aku tidak tahu itu akun siapa dan aku merasa tidak pernah berteman dengan akun itu. Aku curiga bahwa akun itu milik Cherry yang sengaja di ubah karena setelah aku mencarinya, akun bernama cherry_a92 telah menghilang dari daftar followers ku" Ujar Joy panjang lebar.
Arjuna terdiam, ia mengambil ponselnya dan segera membuka akun Instagram nya. Ia mulai curiga dengan cerita Joy tadi dan langsung memeriksa apakah benar?
"Siapa namanya?"
"Sial, aku melupakannya Ar"
Rrrr~
Arjuna sudah memeriksanya berkali-kali namun tidak ada nama yang mencurigakan dalam Instagram nya. Dia hanya berdecak ketika mendapati Andra yang mengunggah Poto dirinya bersama Nena di sebuah wahana permainan. Ck, bulol.
"Baiklah, aku akan segera pulang, ini sudah malam."
"Okay. Terima kasih karena sudah berbelanja di toko bungaku"
"Sama-sama"
Arjuna berpamitan setelah mengatakan jika ada ada kabar dengan keberadaan Cherry dia harus memberitahukan nya, ia melajukan kembali mobilnya menuju mansion mewah milik orangtuanya.
"Selamat datang tuan muda. Tuan besar sudah menunggu tuan diruang kerjanya"
Tadinya Arjuna ingin menemui Diana terlebih dahulu, namun saat ia melihat arlojinya sudah menunjukan pukul 11 malam, Arjuna yakin jika ibu nya sudah tertidur. Ia hanya memberikan satu buket bunga mawar putih dan menyuruh pelayan itu menyimpannya dalam vas berisi air agar bunga itu tetap segar sampai besok.
Biarkan saja, ia akan menemuinya besok pagi karena sepertinya Arjuna akan menginap disini, untuk malam ini saja.
Karena tidak mau berlama-lama, Arjuna segera melangkahkan kakinya ke ruangan kerja Rahardian. Pria yang baru ditemuinya lagi setelah beberapa bulan lalu bertengkar dengannya.
"Ada apa Daddy memanggilku kesini?"
__ADS_1
Pria paruh baya yang sedang menatap iPad nya itu mendongkak setelah mendengar suara pintu terbuka. Didepannya sudah ada putranya yang sedang berdiri dengan wajah dinginnya.
"Duduklah. Tidak sopan berbicara sambil berdiri" Perintah Rahardian yang langsung dituruti Arjuna.
Rahardian melemparkan minuman kaleng pada putranya, dengan sigap Arjuna menangkapnya. Tanpa menunggu perintah, Arjuna langsung menenggak minuman tersebut sampai tersisa setengahnya.
"Langsung saja, aku tidak suka basa-basi!"
"Daddy minta maaf"
Huh?
Apakah Arjuna tidak salah dengar?
Seorang Rahardian meminta maaf kepadanya?
"Maaf untuk yang mana?" Tanyanya acuh.
Kaleng minuman ditangannya sepertinya lebih menarik daripada harus melihat wajah ayahnya yang ia benci.
"Terlalu banyak kah sampai kau bingung?" Rahardian bertanya dengan pelan. Terlihat dari caranya menatap wajah Arjuna, ia menyesali semuanya.
"Tidak perlu diperinci, kau sudah tahu semuanya"
Mengembuskan nafasnya kasar. Seharusnya Rahardian sudah menduga tidak akan gampang mendapatkan maaf dari putranya itu. Terlebih atas semua kelakuan dirinya kepada Arjuna maupun istrinya.
Tetapi Rahardian bersumpah, dirinya sudah berubah. Ia ingin memperbaiki hubungan dengan Arjuna dan kembali memulai kehidupan yang sempat kacau.
"Maafkan Daddy memang salah. Daddy menyesal"
"Penyesalan Daddy bisa membuat Cherry dan anakku kembali tidak?"
"Jun-"
🌻
Tuan Arjuna
[Mawar]
^^^Mawar Maheswari^^^
^^^[Ya tuan, ada apa?]^^^
Tuan Arjuna
[Apa hari Minggu kau ada acara?]
^^^Mawar Maheswari^^^
^^^[Tidak tuan. Kenapa?]^^^
Tuan Arjuna
[Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat, bisa?]
^^^Mawar Maheswari^^^
^^^[Bisa tuan]^^^
Tuan Arjuna
[Tapi]
[Apakah kau bisa mengajak, Juna?]
^^^Mawar Maheswari^^^
^^^[Aku ijin dulu ya tuan, takutnya mbak Eri khawatir tiba-tiba tuan ingin mengajaknya jalan]^^^
Tuan Arjuna
[Biar aku saja yang meminta ijin, tidak sopan jika aku menyuruhmu untuk meminta ijin]
^^^Mawar Maheswari^^^
^^^[Baiklah, terserah tuan saja]^^^
🌻
TEMUIN JANGAN YAAAA ? 😂
CHERRY & ARJUNA
__ADS_1