
Sementara Mawar dan Diana sedang berada didapur untuk menyiapkan makan malam, Arjuna dengan damainya menjaga Juna yang tertidur pada sofa ruang keluarga.
Sebenarnya Arjuna menyarankan Mawar untuk menidurkannya di dalam kamarnya saja, namun Mawar menolak dengan dalih tidak bisa memantaunya dan takut jika Juna terbangun lalu menangis.
Ya, Arjuna paham itu.
Arjuna tidak sendiri, sedaritadi Rahardian terus memperhatikannya. Bahkan pria paruh baya itu banyak bertanya, membuat Arjuna jengah mendengarnya.
"Dad, kau bisa membangunkannya. Nanti dia menangis!"
Setelah pertemuannya beberapa hari lalu saat Rahardian meminta maaf. Perlahan batu yang menyelimuti hati Arjuna untuk kedua orangtuanya mulai terkikis, Arjuna tidak sedingin saat itu. Sekarang saja keduanya tidak segan untuk saling melempar candaan, ya meskipun terdengar menyebalkan dan tidak normal jika untuk sebuah banyolan.
"Jawab saja pertanyaan Daddy, apa sulitnya sih!"
"Tidak perlu berpura-pura tidak tahu, dad! Bukankah tadi kalian sudah berkenalan, dia sekretaris aku"
Rahardian berdecak pelan, tidak puas dengan jawaban singkat sang putra. Lantas menggeser duduknya sampai memepet Arjuna.
"Bukan itu maksud dari pertanyaan Daddy, Arjuna!"
Memutar bola matanya jengah, "Bertanyalah yang jelas pak tua, kau membuatku pusing dengan pertanyaan tidak penting mu itu!" Seru Arjuna malas.
Plak!
Rahardian memukul kepala anaknya dengan koran yang sudah ia gulung, cukup keras sehingga kedua wanita yang sedang memasak itu menoleh "Yak! Arjuna Alaric Rahardian, kau-"
"Dad astaga, kau pikir itu tidak sakit huh!" Keluh Arjuna sambil mengusap-usap kepalanya, "Bagaimana kalau otakku bergeser. Ck! Dasar pak tua"
"Lebay sekali! Dia kekasihmu?" Tanya Rahardian cukup keras, membuat Mawar yang mendengarnya merona malu.
Arjuna menoleh dengan tatapannya yang tajam. Ia tidak mau orangtuanya ikut campur lagi dengan asmaranya. Meskipun dirinya sendiri belum yakin dengan perasaan nya saat ini.
"Dad, ingat janjimu untuk tidak ikut campur lagi dengan hidupku." Arjuna menjawab setengah berbisik dengan nada terkesan dingin, membuat Rahardian meringis mendengarnya.
"Daddy hanya bertanya son. Daddy berjanji tidak akan ikut campur lagi dengan asmara kamu. Maafkan Daddy-"
Rahardian mengerti dengan respon sang putra, ia merasa ditampar kembali mengingat kebodohannya dulu. Sungguh, Rahardian sangat menyesal karena perbuatannya dan semoga dengan keputusannya untuk tidak ikut campur lagi, Arjuna akan memaafkannya dan tetap melanjutkan hidupnya dengan bahagia.
Rahardian sangat menaruh harapan besar kepada perempuan yang dibawa putranya. Semoga dia bisa membuat Arjuna bahagia dan melupakan masalalu nya.
"Sudahlah dad, jangan mengingatnya lagi, aku sudah melupakannya"
Dan malam itu mereka berempat makan malam bersama, saling bercanda dengan perdebatan kecil antara Arjuna dengan sang ayah. Mawar yang menyaksikannya merasa bahagia berada ditengah keluarga yang sebenarnya sangat harmonis ini.
"Semoga seterusnya kalian tetap harmonis seperti ini. Saya memang orang baru disini dan masih belum paham dengan masalah yang sebenarnya, tapi saya berharap semuanya akan membaik"
🌻
Karena Cherry membuat kue lebih banyak dari biasanya, jadi dia berencana untuk berkeliling taman yang berada disebrang jalan raya. Biasanya Cherry hanya berjualan disekitaran komplek kontrakannya saja, namun karena hari ini Juna tidak ikut dengannya, ia akan mencoba berjualan disana.
Taman itu cukup terkenal karena memang sangat bagus untuk bersantai bersama keluarga atau sekedar nongkrong dengan teman. Banyak juga yang berjualan disana jadi Cherry tidak perlu takut jika ada satpol PP yang mengusirnya.
Di taman banyak sekali orang, Cherry mulai menjajakan kue buatannya pada sekelompok ibu-ibu yang sedang bersantai bersama keluarganya dan tanpa diduga mereka memborong semua kue nya.
"Puji Tuhan terimakasih Bu sudah membeli semua kue saya"
"Sama-sama nak. Ibu boleh meminta nomor ponselnya, kebetulan beberapa hari lagi ibu akan berkunjung ke rumah saudara dan ingin memesan kue buatan mu"
"Tentu boleh Bu" Sahut Cherry bersemangat.
Dia mengeluarkan ponselnya, memberikan nomor telponnya dengan perasaan bahagia. Akhirnya kue nya banyak diterima baik oleh orang-orang.
"Nanti ibu hubungi lagi ya"
"Iya Bu, sekali lagi saya berterima kasih"
Akhirnya setelah kue nya habis diborong, Cherry memilih untuk ke pasar membeli bahan-bahan kue yang mulai habis. Kebetulan besok juga ia mendapat kue pesanan dari tetangga kontrakannya yang akan mengunjungi saudaranya besok.
Sebelum pergi ke pasar, lebih dulu Cherry menghubungi Mawar untuk menanyakan kapan mereka akan pulang. Cherry takut mereka akan cepat pulang sementara dirinya tidak ada.
"Halo Mawar, kalian pulang kapan?" Tanya Cherry sambil menunggu angkutan umum datang.
"Sepertinya malam mbak, bos mengajak aku ke rumahnya terlebih dahulu" Cicit Mawar disebrang sana.
Cherry mengulum senyum, pasti wajah perempuan itu sangat merah saat mengatakannya.
"Ciye, sukses nih pendekatannya" Cherry menggoda, sedangkan Mawar mendengus malu.
"Ih mbak apaan sih, goda aja terus!"
"Hehe, tapi Juna tidak rewel kan. Mbak tidak enak sama bos kamu, nanti terganggu"
"Tidak mbak, bayi tampan itu sangat manis. Sekarang dia sedang tertidur pulas, sepertinya dia kelelahan karena banyak tertawa"
"Syukurlah kalau Juna tidak merepotkan kalian. Ya sudah, mbak mau ke pasar dahulu. Kamu hati-hati pulangnya"
"Iya mbak juga hati-hati, jangan khawatirkan kita"
"Iya"
Cherry memasukan ponselnya setelah sambungan telponnya terputus, ia segera berdiri karena angkutan umum yang ditunggunya sudah datang. Dengan semangat ia berjalan kepinggir jalan sampai tidak sengaja menyenggol seseorang disebelahnya.
"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja"
Cherry berjongkok, membantu wanita hamil itu untuk mengambil kantong kreseknya yang terjatuh.
"Cher-"
DEG!
__ADS_1
Kenapa wanita hamil itu mengetahui namanya?
Dengan cepat Cherry mendongkak, menatap wajah si wanita yang tidak sengaja di senggolnya tadi.
"Kau-"
Cherry segera memberikan kantong kresek tersebut, ia berjalan cepat menghindari wanita itu. Jangan sampai dia mengetahui Cherry tinggal didekat sini, atau persembunyiannya selama ini akan sia-sia. Bahkan lebih buruknya, wanita itu akan memberitahukan Arjuna. Jangan sampai!
"Cher tunggu!"
"Pergilah, jangan menggangguku!"
"Please Cher, ada yang ingin aku katakan. Sebentar saja"
Menghembuskan nafasnya kasar, percuma juga dia menghindar, wanita itu sudah melihatnya. Akhirnya mau tidak mau Cherry berbalik, menghampiri wanita hamil itu.
Kini mereka berada didekat cafe yang tidak jauh dari tempat tadi mereka bertemu, sebelumnya Cherry menolak namun ia tidak tega melihat wanita hamil itu terlihat kelelahan membujuknya.
"Apa kabar Cher, lama sekali tidak bertemu. Kepergian kamu membuat semuanya kacau, sangat kacau" Ujar wanita hamil itu.
Cherry menunduk, enggan melihat wajah wanita hamil itu. Rasanya masih terasa sangat menyakitkan hatinya jika melihatnya, seolah wajah menderita sang ibu terus terbayang dalam otaknya.
"Katakan apa yang ingin kau katakan!"
Wanita itu menghela nafasnya pelan, memaklumi rasa benci Cherry terhadapnya.
"Pulanglah Cher, ayah sangat menderita setelah pertemuan kalian waktu itu. Dia terus mencari kamu sampai saat ini"
Cherry berdecih, memaksakan matanya menatap wanita itu dengan sorot tidak suka. "Ayah siapa yang kau maksud Naomi Agnesia Herlambang?" Tanya Cherry dengan sengaja menekan nama 'Herlambang' pada akhir kalimatnya.
Ya, wanita hamil itu adalah Naomi Agnesia, anak dari seseorang yang sudah menghancurkan keutuhan keluarganya dahulu. Sebenarnya tidak seharusnya Cherry membenci ya, namun wajah Naomi sangat mirip sekali dengan wanita yang sudah membuat ayahnya pergi.
"Dan untuk apa dia mencari ku setelah sengaja membuang ku?" Sambungnya dengan tenang. Meskipun hatinya terasa sesak, Cherry mencoba terlihat kuat. Mereka tidak boleh melihat kesengsaraan dalam dirinya. "Aku sudah menganggap jika ayahku sudah meninggal kalau kau ingin tau"
"Cher!"
"Jika memang tidak ada hal penting yang akan dibicarakan, aku pergi!"
Baru Cherry akan beranjak, tiba-tiba Naomi meringis memegangi perutnya. Cherry yang khawatir langsung menghampiri Naomi, "Are you okay? Oh ya Tuhan, kau merepotkan saja!" Lalu membawanya ke rumah sakit setelah memesan taxi.
Sudah pukul enam sore, Cherry masih berada dirumah sakit mengantarkan Naomi. Dokter mengatakan jika kandungan Naomi memang sedikit lemah, dan sangat rentan.
"Kalau sudah tau lemah, berdiam dirilah dirumah. Mau apa-apa tinggal memesannya, kenapa repot keluar? Lihat! Karena kecerobohan mu, nyawa anakmu terancam!" Sedaritadi Cherry terus mengomeli Naomi yang masih berbaring di ranjang rumah sakit, tidak boleh pulang kalau infusan belum habis katanya.
Awalnya Cherry akan menelpon Leon untuk menyusulnya, tapi kata Naomi dia sedang berada di kantor dan kenapa Naomi sampai di taman itu karena ia merasa bosan berdiam diri terus dirumah, makanya ia meminta supir untuk mengantarnya berjalan-jalan ditaman yang tidak jauh dengan rumahnya.
Naomi mengulum senyumnya, merasa senang karena Cherry mengomelinya. Ia merasa menjadi adik yang nakal, lalu diomeli sang kakak karena ceroboh. Alih-alih sedih karena disebut ceroboh, Naomi malah ketagihan diomeli wanita mungil itu.
Ia jadi ingat kata-kata Arjuna dulu, 'Kamu akan ketagihan saat diomeli oleh Cherry dan berakhir terus berbuat ulah' dan ternyata ucapan Arjuna sangat benar, Naomi juga ketagihan.
"Kenapa?" Ketus Cherry.
"Tidak apa-apa"
"Sayang! Cher- Sedang apa kau disini huh?"
Leon berteriak, membuat Cherry menjatuhkan jeruk yang sedang dikupasnya ke lantai. Naomi sendiri terkejut, "Mas jangan berteriak, ini rumah sakit!"
"Heh, mau apa kamu disini hah? Kamu akan berbuat jahat kepada istri saya kan?" Leon tidak mendengarkan protes sang istri, fokusnya hanya pada Cherry, perempuan yang sudah membuat hubungannya bersama Naomi hancur dulu.
Alih-alih menjawab, Cherry berlari keluar ruangan. Meninggalkan keranjang kue nya yang ia simpan pada meja. Leon yang melihatnya tidak tinggal diam, dia mengejar Cherry sampai pada parkiran rumah sakit - Leon berhasil mencekal kuat tangan mungil Cherry.
"Lepaskan saya Leon, sakit!" Rintih Cherry ketika tangannya digenggam sangat keras oleh Leon, mantan kekasihnya.
"Kamu yang membuat Naomi sakit kan? Kamu ingin mencelakainya, karena iri melihat Naomi bahagia bersama keluarganya? Terlebih kamu iri karena saya lebih memilih Naomi daripada kamu!" Sarkas Leon.
PLAK! Cherry menampar keras pipi kiri Leon, membuat pria tinggi itu meringis memegangi pipinya. Cherry tidak terima mendapatkan tuduhan seperti itu dari mantan kekasihnya.
"Se-benci apapun saya terhadap dia, saya tidak pernah ada niat untuk mencelakainya Leon! Dan saya tidak pernah sedikitpun iri terhadap keluarganya! Permisi"
🌻
Mawar menelusupkan wajahnya pada bantal. Tubuhnya tengkurap dengan kaki menghentak serta tangan memukul malu. Jika saja ada yang melihatnya, mungkin menyangka dia sedang kerasukan setan.
Jangan tanyakan kenapa perempuan itu begitu gemas, ia teringat kembali kejadian di parkiran kebun binatang sore tadi saat keduanya-
"Argh!"
Dia berteriak, namun tertahan oleh rasa malunya. Oh, bahkan wajahnya sudah sangat memerah jika bisa digambarkan.
"Tuan Arjuna mencium ku? Sungguh? Apa itu artinya dia-" Mawar tersenyum bahagia, namun kemudian kepalanya menggeleng ribut, "Enggak mungkin, bahkan aku masih ingat saat nyonya Diana menceritakan tentang masa lalunya."
Wajah Mawar berubah sendu, dia membaringkan tubuhnya lalu memeluk sebuah boneka kesayangan pemberian neneknya. Mawar mengingat kembali percakapan saat dirinya membantu Diana menyiapkan makan malam tadi.
"Kamu mengingatkan saya kepada seseorang, Mawar"
Mawar yang sedang memotong wortel pun menoleh dengan riak wajah kebingungan. Masih diam, Mawar menunggu Diana melanjutkan kalimatnya. Terlebih, ia juga penasaran dengan cerita apa yang ingin diungkapkannya.
"Dia itu cantik, rambutnya lebih panjang dari kamu dan sangat tebal berwarna hitam. Tubuhnya mungil dan sexy kalau kata Arjuna-" Diana tertawa, melihat Arjuna yang sedang menjaga bayi - entah anak siapa, tetapi Diana merasa kerinduannya terhadap wanita mungil itu selama ini terobati. Aneh, kenapa rasanya ia langsung menyayangi bayi itu. "Dasar anak itu! Mereka sering bertengkar kalau berkunjung kesini. Entah apa yang diributkan, Arjuna senang sekali menjahilinya. Mungkin karena Arjuna terlalu mencintainya." Imbuhnya.
DEG!
Mawar diam, ia tahu siapa yang Diana maksud dan arah dari pembicaraan ini.
"Kekasihnya tuan Arjuna, ya?" Tebak Mawar pelan. Ia ragu , namun hatinya yakin jika yang Diana maksud adalah itu.
Diana tersenyum, seolah tidak perduli dengan wajah sendu yang diperlihatkan perempuan dihadapannya. Mungkin Mawar berpikir kenapa Diana sampai harus menceritakannya? Namun Diana merasa harus menyampaikannya.
"Iya. Dia pintar sekali membuat kue, apalagi memasak. Arjuna hanya mau makan kalau Cherry yang masak" Kata Diana dengan sedikit kekehan kecil. "Kamu tau?" Diana menghentikan sejenak aktifitas memotong sayurannya, ia menoleh, menampilkan wajah sendu yang sudah setahun ini diperlihatkan nya, seolah menunjukan jika dirinya sangat menyesal. "Setahun yang lalu tubuh Arjuna tidak sekurus ini, dia berisi dengan pipi chubby. Dia berisik dan tengil." Imbuhnya.
__ADS_1
Benarkah bos nya seperti itu, rasanya sangat aneh mendengarnya. Dan mungkin itu terjadi sebelum dirinya menjadi sekretarisnya. Oke, Mawar akan diam saja, mencoba menjadi pendengar sebelum mengutarakan semua pertanyaan nya.
"Tapi setelah kami melakukan hal yang sangat bodoh, Arjuna kami berubah menjadi seorang monster dingin mengerikan" Diana menghela nafas sejenak, "Dia tidak pernah pulang kesini dan menganggap kami orang asing."
Melihat Diana hampir menangis, Mawar meletakan pisau nya. Dia mendekat, mengusap pelan bahu rapuh yang penuh dengan penyesalan itu nan lembut, seolah memberi kekuatan dan memaklumi jika semua orang pernah melakukan hal yang salah.
"Kami selalu berusaha memperbaikinya, tetapi sampai saat ini kami tidak bisa menemukannya. Kami sangat menyesal, Mawar."
Mawar terus mengusap bahu itu, lembut. Ia dapat melihat penyesalan terdalam dari sorot mata wanita paruh baya itu.
"Tapi semenjak Arjuna dekat dengan kamu, kami mulai melihat Arjuna yang dulu, Arjuna yang kami rindu"
DEG!
Benarkah?
"Tolong tetap berada disisinya, Mawar. Kami percaya jika kamu adalah pengganti yang tepat setelah kepergiannya."
Pengganti?
"Mungkin ini sedikit jahat menyebut kamu adalah pengganti, tapi kami sangat berharap kamu bisa membuat Arjuna lebih baik lagi. Kami hanya ingin dia bahagia-"
Mengingat kembali kesalahan mereka saat dulu membuat hati Diana hancur. Dia kehilangan segalanya saat itu dan tidak seharusnya dia melakukannya jika sudah tau akan seperti apa hasilnya. Diana merasa dirinya sangat bodoh saat itu yang diam saja ketika ide konyol itu muncul.
"Tapi Mawar hanya sekretaris nya, nyonya. Tidak mungkin-"
Diana menghentikan kalimat Mawar, membawa perempuan cantik itu untuk duduk saling berhadapan dengannya.
"Kami sudah tau latar belakang kamu, kami tau Mawar. Dan itu tidak menjadi masalah untuk kami, cukup dulu kami menyesal membuat hidupnya hancur - tidak untuk kali ini, kami membebaskannya untuk memilih takdirnya sendiri."
Ya, Diana dan Rahardian sebenarnya sudah mengetahui kedekatan Arjuna dengan sekretarisnya beberapa bulan lalu.
Mereka mendengar aduan para pimpinan perusahaan milik Arjuna yang mengatakan jika Arjuna sedikit berubah dalam menyikapi sebuah masalah, tidak seperti dulu yang sangat tempramental jika ada sedikit saja kesalahan. Dan mereka menyimpulkan perubahan tersebut karena kehadiran Mawar sebagai penenang Arjuna, karena perempuan itu yang terus berada disampingnya.
Mawar masih terdiam. Perempuan itu tidak tahu harus merespon apa.
Hatinya senang mendengar mereka tidak mempermasalahkan latar belakangnya yang hanya perempuan miskin dan tidak mempunyai siapa-siapa lagi, tapi disisi lain ia merasa menjadi perempuan jahat karena jika dirinya mengiyakan permintaan Diana, itu artinya dia jahat karena merasa semua ini tidak adil untuk perempuan itu, kekasih bos nya.
Dan, apakah benar Arjuna mulai menyukainya, terlebih saat mereka saling berciuman didalam mobil, tadi. Mawar merasakan itu bukanlah sebuah ketidaksengajaan yang dilakukan bos nya, melainkan sebuah perasaan yang sedang disalurkannya.
Mawar berteriak didalam kamarnya cukup keras, ia jadi pusing sendiri memikirkan semuanya.
"Apa aku harus tanyakan semua ini pada tuan Arjuna?" Gumamnya.
Ponsel yang tergeletak di atas meja di raihnya, lalu membuka chat room antara dirinya dengan sang bos.
Mawar Maheswari
[Tuan]
^^^Tuan Arjuna^^^
^^^[Sudah berapa kali saya katakan, jangan memanggil saya tuan ketika kita berdua dan diluar jam kerja, Mawar!]^^^
^^^[Ada apa, kenapa belum tidur?]^^^
Mawar menggigit bibirnya, "Galak sekali!" Batinnya sebal.
Mawar Maheswari
[Maaf, hehe]
[Saya hanya mau menanyakan sesuatu, soal-]
Mawar berdecak pelan, memukul dahinya cukup keras dengan ponselnya. "Bodoh, kenapa juga harus salah menekan tombol send!"
^^^Tuan Arjuna^^^
^^^[Soal apa?]^^^
DEG!
Baru saja Mawar mau membalas, ternyata bos nya masih mengetik jadi Mawar tahan dulu untuk melihat balasan apa selanjutnya yang akan bosnya itu katakan.
^^^[Soal saya mencium kamu diparkiran itu?]^^^
Mawar melebarkan matanya, apakah bos nya itu cenayang bisa menebak apa yang sedari tadi menjadi pengganggu pikirannya?
^^^[Maaf sebelumnya karena membuat kamu terkejut dengan kekurang-ajaran saya, tapi saya merasa harus melakukannya dan mengatakannya kalau saya merasa nyaman berada didekat kamu]^^^
Mawar Maheswari
[Tuan bercanda ya?]
Read
Sudah sepuluh menit setelah Mawar membalasnya, namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda balasan dari sang bos.
"Masa marah, aku tidak salah kan mengirim kata itu?" Gumamnya pelan.
Sudah satu jam tidak ada balasan, Mawar memutuskan untuk tidur. Sudah jam sebelas malam juga dan besok dirinya harus fresh karena harus menemani bos nya meeting keluar kota. Biarlah, itu urusan nanti bos nya marah atau tidak, yang penting sekarang dia harus cepat tidur. Dia tidak mau tertidur didalam mobil sedangkan ia belum menyiapkan berkas-berkas yang akan dibahasnya nanti.
🌻
...Terimakasih untuk respon kalian sama kisah Cherry. Jangan khawatir, mereka pasti ketemu ko cuma enggak untuk sekarang karena aku sendiri lagi cari waktu yang pas untuk mempertemukan mereka .....
...Gak sabar ya? Sama aku juga udah greget banget pengen nemuin mereka....
...Apa mau loncat aja? Tapi bakalan kecewa gak nih sama cara mereka bertemu? Jangan ya, hehe....
__ADS_1
...Komentar ya kalau pada setuju loncat :)...
...Ada yang kangen Grizelle sama mas Bayu dan kedua bayi kembarnya?...