I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
151


__ADS_3

Arjuna memeluk erat tubuh mungil Cherry dari belakang, meletakan wajahnya pada perpotongan leher wanita itu untuk menghirup aroma vanila yang selalu membuatnya merasa nyaman.


"Jangan melamun diluar saat malam begini, sayang"


Cherry menunduk, mengusap tangan kekar yang melingkar pas pada perutnya. Dia tersenyum sebelum akhirnya menoleh, menyambut ciuman singkat namun hangat dari pria dibelakangnya.


"Kamu enggak pulang?" Tanyanya pelan.


Arjuna hanya menggeleng, semakin mengeratkan pelukannya dan memberikan kehangatan pada tubuh yang hanya dibalut oleh kemeja kebesaran miliknya itu.


"Besok kamu kerja loh-"


"Aku akan berangkat dari sini"


Cherry terkekeh pelan, mendongkak menatap langit yang sedang tidak bersahabat malam ini. Kepalanya ia sandarkan pada dada pria dibelakangnya itu, membiarkannya terus memeluknya sebelum akhirnya Cherry bertanya, "Jun, kalau aku menikah dengan pria lain bagaimana?" Cherry bertanya sedikit ragu.


Semenit setelah pertanyaan itu terlontar, tidak ada jawaban apapun dari Arjuna. Pria itu hanya menggeleng, lalu membenamkan wajahnya dan mengeratkan pelukannya. Arjuna tau kalau Cherry sedang menggodanya saja.


"Apa kamu-"


Belum selesai Cherry melanjutkannya kalimatnya, Arjuna menarik wajahnya untuk membalikan Cherry agar menghadap ke arahnya. Menangkup kedua pipi lembut itu dan menatap mata bulatnya dengan teduh penuh kasih.


Haruskah Arjuna tegaskan untuk yang kesekian kalinya kalau, "Kamu hanya akan menikah denganku, Cherry. Jika itu sampai terjadi, aku akan membunuh pria itu!" Serunya masih dengan suara lembut, namun Cherry dapat merasakan adanya emosi di setiap kalimat yang Arjuna lontarkan. Cherry tersenyum, selalu puas dan merasa berharga setiap Arjuna memberikan jawabannya.


Se-cinta itukah pria itu terhadapnya?


Tetapi meskipun begitu, mimpinya tadi malam sedikit mengganggu perasaannya. Cherry tau itu hanyalah sebuah bunga tidur, namun tidak dapat dipungkiri ia takut jika itu terjadi.


"Bagaimana kalau akhirnya kamu yang menikah dengan perempuan lain dan apa yang harus aku lakukan?" Tanya Cherry sedikit ragu, takut jika pria itu marah karena pertanyaannya. Meskipun Cherry belum sepenuhnya memberikan rasanya karena masih terikat dengan Leon, tetapi Cherry merasa harus menanyakannya, ya paling tidak ia bisa merasa lega dengan jawaban dari satu-satunya pria yang selalu ada untuknya itu.


"Sayang, itu tidak akan pernah dan tidak mungkin terjadi! Berhentilah berpikiran seperti itu." Arjuna kembali memeluk Cherry, merapatkan kepala wanita mungil itu pada dadanya. "Kau boleh membenci aku seumur hidupmu jika itu terjadi, Cherry" Lanjutnya sungguh-sungguh.

__ADS_1


Benarkah?


Bukankah tidak ada yang tidak mungkin didunia ini?


Dan nyatanya, mimpi yang menjadi ketakutannya dulu benar-benar terjadi hari ini. Mimpi dimana Arjuna lebih memilih meninggalkannya dan menikah dengan perempuan lain dihadapannya.


"Kamu sudah melupakan kita, Arjuna. Disaat aku masih mempertahankan rasa ini" Rasa yang seharusnya ia sadari tidak akan mengubah segalanya - Takdirnya. "Begitu mudahnya kamu melupakan kalau ada Juna diantara kita" Suara nya menelan, seiring dengan isakan yang mulai terdengar, Cherry tidak bisa menahan rasa sesak nya lagi.


Wanita mungil itu terluka bukan main, hatinya terasa di remat sangat hebat ketika ucapan 'sayang' itu nyatanya bukan kepada dirinya lagi.


"Kamu jahat, kamu jahat Arjuna!" Batin Cherry terisak pilu.


Beberapa tetes airmata jatuh membasahi pipinya, tangannya yang mungil terus mengelus lembut punggung kecil yang tertidur dalam pelukannya. Cherry terisak pelan, memeluk tubuh mungil Juna sebelum akhirnya meletakkannya pada kasur lalu menyelimutinya.


Cherry berdiri, membuka koper yang ia simpan disebelah kasurnya lalu mengambil sebuah bingkai foto, dimana seorang pria sedang berdiri tegas dibalut jas yang dipilihkan olehnya sendiri, dulu.


"Arjuna!"


Bagaimana tidak emosi, pagi-pagi sekali Cherry sudah mendapatkan telpon dari nyonya Rahardian untuk membangunkan putranya. Pasalnya hari ini adalah hari dimana pria itu akan mengadakan konferensi pers untuk memberitahukan jika dirinya adalah penerus sekaligus pemilik perusahaan yang sudah ayahnya serahkan untuknya beberapa bulan lalu. Tetapi lihat, bagaimana pria itu menanggapi?


"Sayang ini terlalu pagi, aku masih mengantuk!" Rengek pria yang sudah berhasil Cherry dorong masuk ke kamar mandi itu.


Pria itu berbalik hendak keluar, namun dengan cepat Cherry menahannya dengan sebuah kecupan lembut yang ia daratkan pada bibirnya. Ya siapa tau saja bisa membuatnya semangat, kan?


"Jangan malas!"


Cherry menarik pintu tersebut dan menutupnya, terkekeh geli melihat ekspresi Arjuna yang mematung sebelum akhirnya memukul pelan dahinya sendiri, "Apa yang aku lakukan, memalukan sekali!" Makinya pada diri sendiri. "Kenapa menjadi terlihat murahan seperti ini, ish dasar Arjuna!" Lah, dia sendiri yang mencium tetapi menyalahkan orang lain.


Okay, garis bawahi, wanita selalu benar!


Sedangkan Arjuna setelah pintu itu tertutup, badannya terhuyung ke belakang. Ia menatap menghadap cermin, memegangi bibirnya yang dikecup singkat oleh Cherry tadi.

__ADS_1


"Bukan mimpi kan? Ini Cherry loh yang cium duluan?"


Cherry terkekeh pelan ketika mengingat dimana hari itu ia menjadi sangat sibuk karena harus menyiapkan pakaian yang akan digunakan Arjuna untuk acara pentingnya. Bukannya tidak ada maid atau Arjuna sendiri tidak bisa, namun nyonya Rahardian hanya mempercayakan semua itu kepadanya.


Tetapi sekarang?


Sudah ada seseorang yang lebih baik, menggantikan dirinya disana dan yang terpenting adalah dia ter-restui, tidak seperti dirinya.


"Setidaknya aku bisa tenang melepaskan kamu dengan Mawar, Jun. Dia perempuan yang baik, tidak apa-apa jika kamu bersamanya. Aku turut bahagia melihatnya"


Meski bibir berkata iya, namun hati tidak dapat dibohongi.


Cherry tidak rela.


Cherry terluka!


Mungkin ini sudah saatnya ia pergi. Bukan hanya pergi dari jangkauannya, namun pergi juga dari hatinya. Sesungguhnya ia sudah tidak mempunyai tempat apapun lagi dalam hati Arjuna. Takdir pun dengan tegas menentang mereka bersama, lalu, mau apalagi dia? Memaksa? Tidak.


Namun meskipun begitu, satu hal yang harus Arjuna tau, Cherry akan tetap mencintai Arjuna, ayah dari anaknya - sampai kapanpun.


🌻


4 tahun kemudian.


"Sayang, sudah jam berapa ini kenapa belum bangun juga?"


Wanita yang sedang membuat sarapan itu berteriak nyaring, memanggil semesta-nya yang hampir pukul 7 belum keluar kamar juga. "Arjuna" Panggilnya lagi dan lagi sampai pemilik nama itu terkekeh geli di dalam sana.


"Kau dengar, dia cerewet sekali! Ayok kita harus lebih cepat keluar, atau bunda akan mengeluarkan lengkingan 7 oktafnya lagi." Katanya kepada-


OKE CUT!

__ADS_1


\={R E V I S I}\=


__ADS_2