I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
143


__ADS_3

Akhirnya kue pesanan ibu arisan sudah selesai diantarkan. Wanita mungil itu bahagia sekali karena kue buatannya selalu mendapatkan komentar positif dari orang-orang. Bahkan untuk besok pun Cherry mendapatkan orderan lagi.


Tidak sia-sia sewaktu kecil Cherry sering membantu ibu nya didapur untuk membuat kue, nyatanya sekarang ia bisa membuatnya sendiri bahkan menghasilkan uang untuk kelangsungan hidupnya.


"Puji Tuhan, rezeki Juna hari ini. Terima kasih ya tuhan atas kasihmu. Katakan terimakasih kepada Tuhan, sayang"


Juna hanya tersenyum sambil memperhatikan wajah bunda nya dalam gendongan kangguru nya. Bocah tampan itu lalu mengoceh tidak jelas dengan mainan karet ditangannya.


Disepanjang jalan menuju kontrakan yang jaraknya tidak lebih dari 100 meter, Cherry terus tersenyum. Menyapa ibu-ibu yang sedang ngerumpi, kadang ikut mengobrol sebentar. Kehadiran Juna dalam gendongannya terus menjadi pusat perhatian, bayi berumur hampir 4 bulan itu tak jarang mendapat cubitan gemas pada pipi chubby nya dan ya - berakhir menangis jika ibu-ibu atau aunty itu terlalu gemas.


Ya ampun, sudah besar jangan jadi playboy komplek ya sayang. Namun selain itu, Cherry merasa sangat bersyukur karena selalu dikelilingi oleh orang-orang baik.


"Cherry"


Atensinya teralihkan pada sosok jangkung berjas silver yang baru saja turun dari mobil. Ia mengerinyitkan alisnya menelisik, dan ternyata, "Daren?"


Kini keduanya sedang berada disebuah cafe yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal Cherry. Di hadapannya sudah tersedia menu makanan yang dipesankan Darendra tadi. Meskipun Cherry sudah menolak dan beralasan sudah makan, namun Darendra tau kalau Cherry berbohong. Wanita itu selalu saja tidak enakan.


"Apa kabar?"


Memutar bola matanya jengah, Cherry memukul pelan tangan Darendra yang berada diatas meja.


"Hey! Kita baru saja bertemu beberapa hari kemarin"


Darendra tertawa geli dengan jawaban Cherry. Ia beralih menatap bayi mungil yang berada dalam pangkuan wanita tersebut.


"Halo anak uncle, do you Miss me handsome?"


Bayi itu tersenyum, tangan mungilnya terangkat, seperti minta untuk digendong, maka dengan senang hati Daren meraihnya lalu memeluknya. Cherry sendiri tidak keberatan, putranya itu memang tidak judes terhadap orang lain. Dia mau saja kalau digendong meskipun terhadap orang baru sekalipun.


"Sepertinya Juna merindukanmu, Daren" Ucap Cherry karena melihat anaknya begitu anteng berada dalam pelukan Darendra. Tangan mungil itu tak henti memainkan kancing kemeja sang pria.


"Benarkah?" Tanyanya kepada bayi kecil yang ada dalam pangkuannya, "Kamu merindukan uncle? Mau ikut uncle ke Bandung bertemu kakek, hm?" Bayi itu tidak merespon, kancing kemeja itu terlalu menarik daripada ocehannya. Namun tawa gemas itu muncul ketika dua jari tangan dewasa mengapit pipi chubby nya.


"Kau mau pulang ke Bandung?" Tanya Cherry disela kunyahan nya.


Darendra mengangguk, "Iya besok, ada berkas yang harus aku urus disana beberapa hari. Mau ikut?"


Cherry menggeleng, namun dalam hatinya ingin. Ia ingin mengunjungi makan Bu Marni, maid yang sudah ia anggap seperti ibunya.


"Tidak, banyak pesanan kue yang harus aku selesaikan"


"Mau buka toko kue saja? Biar kamu tidak perlu berjualan keliling"


Maunya begitu. Tapi, "Uang dari mana, Daren?" Sahut Cherry dengan kekehannya.


"Ada aku"


Ya, seharusnya Cherry paham apa maksud Darendra menawarinya seperti itu. Pasti pria itu akan melakukan apapun untuknya, namun Cherry tidak mau, Darendra sudah banyak membantunya selama ini.


"Tidak, aku sudah banyak berhutang padamu Daren"

__ADS_1


"Aku yang mau, Cher"


"Tapi aku tidak mau, Daren!"


"Hm, baiklah. Tapi jika ada apa-apa dan kau menemukan apapun, langsung hubungi aku ya?"


Tiba-tiba saja bayi itu mengoceh, tangannya yang mungil terus memainkan rahang tegas Darendra dan sesekali tertawa saat bibir tipis Darendra mengecupi pipinya yang gembul.


"Yayah Yayah Yayah"


Cherry menghentikan kunyahan nya. Ocehan bayi itu membuat Cherry dan Daren saling melempar tatapan. Daren yang mendengar panggilan itu terhadap dirinya sangat terkejut. Apakah Juna menganggapnya sebagai seorang ayah?


Bagus!


"A-apa sayang? Coba ulangi lagi?" Daren mengangkat Juna dan memeprhatikannya.


Bayi itu kembali mengoceh, "Yayah" dan sesekali tertawa geli. Mungkin melihat ekspresi Daren yang memang lucu.


Ya tuhan, Daren membawa Juna kedalam pelukannya. Apakah sebahagia ini dipanggil 'Ayah' oleh seorang anak? Meskipun Juna bukan anak kandungnya, tetapi Daren sangat bahagia sekali.


Cherry sendiri gelisah. Wanita itu kembali fokus pada makanannya, mengabaikan Darendra yang sedang bercanda dengan anaknya. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan, ia hanya takut - takut jika Juna melupakan ayahnya dan malah menganggap Darendra sebagai orangtuanya.


🌻


Mobil mewah berwarna hitam legam itu sudah terparkir rapih didepan kontrakan Mawar. Mereka keluar setelah Mawar menawarkan kepada sang bos untuk mampir, dan entah kenapa pria itu mengangguk iya.


Sudah setahun Arjuna mengenal Mawar, namun baru kali ini ia mengetahui kehidupan wanita itu lebih dalam.


Ternyata


Bisa bekerja pada perusahaan itu tentu tidak mudah bagi seorang Mawar yang hanya berasal dari keluarga serba kekurangan.


Sejak sekolah menengah pertama, Mawar selalu mengikuti beasiswa untuk tetap melanjutkan pendidikannya sampai masuk ke universitas. Wanita itu tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan. Ia terus berjuang agar kehidupan selanjutnya lebih layak untuk dijalani dan ya, perjuangannya tidak sia-sia ternyata.


Dengan modal nekat, Mawar melampirkan lamaran pada perusahaan besar milik sang bos yang sekarang sedang memeriksa keadaan kontrakannya.


"Maaf kalau tuan tidak nyaman, kontrakan saya sangat kecil"


Sangat kecil, bahkan hanya ada satu kamar tidur dan ruang tamu. Lalu dapur yang sangat sempit sekali dan kamar mandi juga yang tak kalah kecilnya.


"Kamu tinggal disini? Apa ini tidak terlalu sempit?"


Setelah menjenguk bayi Grizelle, Arjuna mengantarkan Mawar untuk pulang terlebih dahulu. Tadinya Arjuna hanya berniat mengantarkannya saja, namun ia penasaran juga dengan tempat tinggal sekretaris nya itu.


"Iya tuan. Tidak, ini lebih dari cukup" Jawab Mawar setelah kembali dari dapur, membawa dua gelas minuman coklat hangat dalam nampan nya. Lalu meletakkannya diatas meja.


"Tidak mau pindah ke apartemen?" Tawar Arjuna. Sesungguhnya ia merasa kurang nyaman dengan keadaan kontrakan ini. Memang tidak kumuh dan lumayan bersih, namun tetap saja - sangat tidak layak untuk seorang perempuan seperti Mawar yang notabenenya adalah seorang sekretaris dari seorang CEO perusahaan ternama.


"Tidak, saya sudah nyaman disini. Orang-orang disini sangat baik"


Apalagi setelah Mawar mengenal Cherry, ia merasa mempunyai keluarga lagi.

__ADS_1


"Oh"


Hening, hanya suara gemuruh langit memercikan kilatnya. Sepertinya akan hujan.


"Boleh saya menumpang ke toilet?" Ucap Arjuna.


"T-tapi kamar mandinya kecil dan-"


"Tidak apa-apa, daripada saya mengompol" Potong Arjuna.


Mawar tertawa canggung. Perempuan itu berdiri, mengantar Arjuna ke belakang.


"Disini tuan, maaf tempatnya sangat kecil"


Arjuna hanya tersenyum dan langsung masuk kedalam untuk menuntaskan hajatnya. Sementara itu, Mawar kembali ke depan karena mendengar suara Cherry yang memanggilnya.


"Kenapa mbak?"


"Mbak pinjam payung, mau ke toko depan beli bahan buat kue"


"Oh. Juna di ajak mbak? Mau hujan loh. Sini sama aku aja, mbak sendiri gak apa-apa? Bos aku ada disini soalnya jadi gak bisa nemenin mbak"


Untuk sejenak Cherry berpikir. Jika ia membawa Juna, ia takut anaknya akan kedinginan karena sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Tetapi kalau dia menitipkannya kepada mawar, Cherry takut merepotkan karena bagaimana pun Mawar sedang ada tamu besar, yaitu bos nya sendiri.


"Ngerepotin gak, kamu lagi ada tamu special loh, nanti Juna rewel malah mengganggu kalian"


"Ih siapa tamu special, mbak mah goda aku terus! Ya sudah sana sebelum hujan mbak cepat pergi, Juna biar sama aku saja."


"Beneran? Ya sudah, mbak titip Arjuna ya. Kasihan juga kalau di bawa nanti kedinginan dia"


"Iya mbak pergi saja, biar Juna sama aunty ya sayang"


"Ya udah terimakasih Mawar, maaf mbak merepotkan kamu terus. Mbak pergi dulu ya. Kamu, jangan rewel ya sayang, nurut sama aunty Mawar atau pipi kamu akan habis di makan dia"


"Jangan dengarkan bualan wanita itu ya Juna sayang, aunty tidak akan memakan pipi kamu tapi tangan kamu yang gemoy ini"


"Dasar!"


Tidak lama setelah Cherry pergi, Arjuna kembali dari toilet. Pria itu mengerinyitkan alisnya heran, kenapa ada bayi disini?


"Ada siapa, terus itu anak?"


"Oh, ini yang saya


keponakan saya tuan. Namanya sama seperti tuan"


DEG!


🌻


Aneh gak sih TAKDIR lanjut disini?

__ADS_1


ILYM kan novel bucin, sedangkan takdir itu penuh bawang ..


Aku terlalu males kalau harus bolak-balik, jadi ya gini aja deh ya wkwkwk


__ADS_2