
Happy reading
🌻
Baru beberapa langkah Fiona berjalan, tiba-tiba sekujur tubuhnya membeku saat mendengar suara Shawn memanggilnya.
Rasa ingin berlaripun ada namun tidak bisa, Fiona terdiam ditempatnya dengan perasaan berdebar takut.
Entah kenapa setelah semuanya berubah, Fiona menjadi takut kepada Shawn. Ia baru menyadari jika laki-laki bule itu sangatlah dingin dan juga menakutkan jika marah. Apalagi kepada dirinya.
Gadis itu berbalik dengan wajah yang pias.
"Heh! Budeg ya loe" Sentak Shawn kesal.
"A-apa?" Sahut Fiona tergagap.
"Adek gue mana?" Tanyanya lagi. Laki-laki bule itu celingukan, mencari sang adik yang sudah pergi sejak tadi.
"Udah pergi!"
"APA?"
Shawn berteriak lalu tanpa sengaja mendorong tubuh Fiona sehingga membentur badan mobil miliknya. Sedangkan Fiona, ia yang kaget hanya mengerjap salah tingkah karena jarak wajah mereka yang dekat. Apalagi tatapan Shawn. Benar kata teman-temannya, laki-laki itu memiliki sorot mata yang tajam yang dapat membuat hati perempuan manapun berdebar hebat, termasuk dirinya.
Oh shit! Kenapa bisa!
Fiona merutuki hatinya, bisa-bisa dirinya salah tingkah begini.
"Kenapa dibiarin sih, seharusnya loe tahan Fiona. Nanti kalau pak Bayu tahu gue gak nganterin dia pasti marah!" Imbuhnya.
"S-siapa suruh lama. G-gue juga diomelin tadi"
Sungguh, Fiona sangat tidak nyaman dengan posisinya sekarang. Dirinya yakin jika pipinya sudah sangat merah sekali.
Aaaa, semoga saja tidak!
"Ya tahan aja, 'kan bisa!"
Astaga, kenapa juga Shawn malah menghalangi kedua sisi tubuh Fiona dengan tangan kekarnya, 'kan Fiona menjadi semakin tidak berdaya dengan hatinya yang seperti kalah berperang.
"Ih Shawn apaan sih, jangan deket-deket gini!" Kesal Fiona.
Ia mendorong dada Shawn sampai laki-laki itu menjauh lalu pergi begitu saja sambil memegangi dadanya yang sedari tadi berdetak kacau.
"FIONA!" Teriak Shawn.
Fiona menoleh kesal, lalu melanjutkan kembali langkahnya.
"APAAN SIH TERIAK-TERIAK TERUS, GUE MAU PULANG. BYE!" Sahutnya tanpa menoleh kembali.
"Buset! Gak sadar apa dia juga teriak-teriak. WOY!"
Saat Shawn ingin mengejarnya, terdengar suara petir yang membuat dirinya berpikir lebih baik masuk kedalam mobil sebelum hujan turun daripada mengejar Fiona yang tidak penting.
Fiona tetap melanjutkan langkahnya, ia tidak perduli dengan teriakan Shawn yang terus memanggilnya. Dirinya terus berlari karena merasa takut mendengar suara petir yang cukup keras.
"Ko mendung gini sih!"
"Pasti hujan nih, mana gak bawa jaket lagi, ish!" Rutuknya seraya duduk dihalte yang berada didepan sekolah.
Sedangkan Shawn, ia mulai menyalakan mobilnya lalu mengambil ponsel yang berada didalam saku nya untuk menghubungi Grizelle, ia hanya ingin memastikan jika adiknya baik-baik saja dan semoga saja calon suami adiknya tidak marah dengannya.
"Hallo dek"
"Hallo bang, kenapa?" Sahut Griz disebrang sana yang terdengar masih berada dijalan.
__ADS_1
"Dimana, kenapa gak nungguin dulu?" Omel Shawn.
"Taxi! Abang lama banget, ya udah adek pergi deh. Eh Fiona mana, bang?"
"Kabur dia"
"Jangan galak terus deh bang. Cinta loh"
Shawn mulai melajukan mobilnya, laki-laki itu berhenti tepat didepan gerbang karena melihat Fiona yang sedang duduk sendirian disana.
"Impossible!"
Shawn terus memperhatikan Fiona, ia juga melihat hujan mulai turun dengan derasnya dan perempuan itu masih diam saja disana. Ia baru sadar jika Fiona tidak membawa mobilnya.
"NOTHING IS IMPOSSIBLE IN THIS WORLD!"
"Whatever! Udah sana pacaran, Abang pulang dulu. Hati-hati kamu"
"Iya"
Setelah mematikan ponselnya, Shawn mulai melajukan kembali mobilnya. Ia melewati Fiona begitu saja tanpa berniat memberikan tumpangan apapun, namun Shawn yang ragu akhirnya menghentikan mobilnya tepat didepan halte dimana Fiona sedang duduk kedinginan.
Shawn keluar dan berlari menerobos hujan yang sangat deras.
"Heh, lagi ngapain loe disini?" Tanya Shawn dengan ketus.
Fiona mendelik kesal, sudah tahu jawabannya malah bertanya.
"Nungguin Abang tukang bakso! Ya bus lah, pake nanya lagi" Sahut Fiona tak kalah ketus. Perempuan itu tidak berani melihat wajah dingin Shawn dengan lama. Dirinya masih deg-degan karena kejadian tadi yang masih membuat jantungnya berdetak tidak normal.
"Yakin mau naik bus, serius loe bisa?" Shawn tidak yakin. Pasalnya Fiona terkenal karena kesombongan hartanya, Shawn menjadi tidak yakin jika perempuan itu bisa pulang menggunakan angkutan umum seperti itu.
"Ya... Bisa!" Sahut Fiona yang juga ragu dengan keputusannya. Apa benar jika dirinya bisa pulang dengan selamat?
Tapi mau bagaimana lagi, ia harus berhemat sebisa mungkin karena dirinya tidak seperti dulu lagi. Apalagi sekarang dirinya sedang berusaha agar masuk universitas favorite nya karena biaya masuk universitas tersebut sangatlah mahal.
Mendelik kesal karena Shawn terus saja meremehkannya, Fiona lebih memilih diam dan tidak menanggapinya.
"Heh!"
Mulai kesal karena diacuhkan. Shawn terus saja meledeknya.
"Apaan sih, udah sana pulang. Ngapain juga sih loe kesini, ganggu banget!" Kesal Fiona yang sudah berdiri karena bus yang ditunggunya sudah ada dan berhenti tepat dibelakang mobil Shawn.
"What?"
"APA?!"
Fiona segera naik kedalam bus, perempuan itu berbalik lalu menjulurkan lidahnya seakan meledek Shawn yang masih berdiri memperhatikannya.
"Awas loe ya, berani sama gue!" Geram Shawn.
Fiona tertawa didalam bus lalu kembali meledek Shawn saat bus nya mulai berjalan.
"Ngeledek dia, awas aja besok!"
Shawn kembali memasuki mobilnya hendak pulang ke apartemennya, diperjalanan ia baru sadar jika mobil nya berada tepat dibelakang bus yang Fiona tumpangi.
Awalnya biasa saja, namun setelah Shawn sadar jika bus tersebut bukan jurusan yang Fiona tuju, Shawn yang tadinya akan berbelok jadi mengikuti bus tersebut.
"**** banget sih tuh cewek, salah naik bus gitu. Gue 'kan yang repot!"
"Ngerepotin aja!"
"Tunggu!"
__ADS_1
Memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, laki-laki itu mulai berpikir. "Ngapain juga gue repot-repot ikutin tuh cewek, biarin aja dia nyasar"
🌻
"Kenapa mah?"
Mengerinyitkan alisnya heran saat Raisha tiba-tiba masuk kedalam ruang kerja nya dan meletakan amplop coklat dihadapannya. Bayu membuka kacamatanya, meraih amplop tersebut lalu membukanya.
Tidak lama kemudian setelah melihat beberapa Poto, Bayu tertawa begitu juga dengan Raisha.
"Lagi?"
Bayu mengerti dan tahu siapa orang yang sudah melakukan hal ini. Siapa lagi memamgnya jika bukan mantannya yang pernah juga melakukan hal yang sama dulu.
"Iya" Sahut Raisha disela-sela tawanya.
"Terus?" Tanya Bayu penasaran, pasti mamahnya sudah merencanakan sesuatu. Bayu dapat melihat kejahilan Raisha dari caranya tertawa saja.
"Mamah pura-pura percaya dan bilang kalau mamah akan membatalkan pernikahan kamu, terus dia juga kasih mamah kartu nama dia" Sahutnya seraya menunjukan kartu nama Monicca dan memberikannya kepada Bayu.
"Hahaha, kocak nih mamah. Terus reaksi dia gimana?" Tanya Bayu kemudian seraya membuang kartu nama Monicca kedalam tong sampah yang berada disamping meja kerjanya.
"Kesenengan gitu, ih mamah sebel banget lihatnya. Mana pakaiannya seksi banget lagi, gak pantes jadi menantu mamah"
Sesekali Bayu hanya tertawa menanggapinya.
"Kamu ini, dosa apaan sih bisa pacaran sama perempuan model begituan"
Bayu tidak menjawab, laki-laki itu malah tertawa atas kesialannya selama berpacaran dengan Monicca dulu. Mau-maunya dia menuruti semua keinginan perempuan licik itu dan betapa bodohnya ia bisa tertipu oleh keanggunan nya dulu.
Tetapi, ada untungnya juga Bayu tidak cepat-cepat memperkenalkannya kepada keluarganya dulu, jadi, dirinya tidak terlalu malu pernah berpacaran dengan perempuan seperti Monicca.
"Kena pelet mungkin, haha"
"Ish, kamu ini. Tapi mamah khawatir sama Grizelle, mamah takut dia macem-macem sama menantu mamah"
Telat!
Bahkan Monicca pernah menghasut Grizelle dengan mengatakan jika mereka sudah melakukan... Ah sungguh, wanita itu bermimpi terlalu tinggi dengan semua kata-kata kebohongannya.
"Nanti Bayu urus"
"Sayang, kamu tuh jangan leha-leha kayak gini. Ini gak bisa dibiarkan loh. Perempuan ular itu bahaya. Mamah gak mau ya terjadi sesuatu..."
Raisha kesal karena Bayu terlihat bisa saja menanggapinya. Padahal tanggal pernikahan Bayu dan Grizelle semakin dekat. Raisha saja sampai berpura-pura mempercayai perkataan Monicca dengan tujuan jika perempuan licik itu tidak mengganggu segalanya nanti. Tapi Bayu, dia malah santai begitu.
"Mamah tenang saja, mamah tahu 'kan siapa Bayu?" Potong Bayu sebelum Raisha memberikannya ceramah yang tidak akan pernah habis jika menyangkut keselamatan calon menantu kesayangannya itu.
"Iya tapi 'kan..."
"Mah... Percaya sama Bayu" Yakinnya
Alexi Reviano Shawn
Fiona Affandy Wijaya
🌻
Segini juga uyuhan sih, maaf ya kalau ngebosenin.
Shawn sama Fiona emang masuk ke cerita, mereka juga gak kalah seru nya dari Bayu dan Griz, pokoknya greget deh bikin emosi kalian meludak 😅
__ADS_1
Oke, jangan tanya Up lagi kapan, otak aku kadang cerah kadang gelap 😂
Selamat malam semuanya 🤗