
Happy reading
🌻
Grizelle terpaku ketika melihat Rey ada dihadapannya, gadis itu menggeleng lalu cepat berjalan melewati laki-laki tersebut. Ia tidak mau jika Sisil menuduhnya lagi, apalagi ingin merebutnya.
Grizelle sudah salah mengambil jalan dan juga keputusan. Ternyata menyembunyikan status pernikahannya bersama anak pemilik kampus ini bukanlah sesuatu yang benar. Ia berpikir kehidupannya akan jauh dari ancaman, namun malah sebaliknya.
Haruskah ia mengatakannya sekarang? Sepertinya tidak, biarlah semuanya berjalan sendiri.
Namun pada saat Grizelle akan melewati Rey, Rey dengan sigap menghalanginya sehingga Grizelle merasa terkejut melihatnya.
"Grizelle tunggu!"
Rey masih berdiri menunggu jawaban gadis yang ada dihadapannya, matanya tertuju pada siku lengannya yang sudah mulai membiru.
"Apalagi kak? Aku beneran gak apa-apa"
"Terus kamu abis ngapain dari gedung belakang?"
"Hm, lihat-lihat aja. Ya udah aku permisi"
Rey hanya bisa diam ketika melihatnya pergi, ia terus menatap punggung gadis itu. Ingin menahan tapi dia siapa, ia tidak berhak melarangnya pergi. Rey hanya tidak mengerti, kenapa sikap gadis itu berubah. Rey menyangka pastinsudha terjadi sesuatu, ya! Dia harus mencaritahu nya.
"Gue harus cari tahu!"
"Griz, dimakan itu makanannya!" Kata Fiona. Gadis itu hanya menggeleng dengan raut wajah yang terlihat muram, tangannya terus sibuk mengaduk-aduk makanan tersebut, padahal itu adalah makanan favoritnya. Namun untuk saat ini, makanan tersebut tidak menggugah seleranya sama sekali.
"Kenapa si, kamu sakit?"
Megan yang duduk disebelahnya terlihat khawatir, lantas menyentuh dahi Grizelle untuk memastikan jika dugaannya tidak benar.
"Tapi gak panas ko, terus kenapa?" Imbuhnya.
"Gak nafsu aja fi, Meg. Serius" Sahut Griz. Akhirnya makanan yang dipesannya tidak dimakan sama sekali, ia hanya diam saja dan memilih mengambil coklat dari dalam tasnya dan memakannya.
"Udah kalian makan aja, kalau mau abisin tuh makanan aku. Aku mau makan ini aja"
Mulai membuka bungkus coklat tersebut dan mulai melahapnya tanpa henti. Megan sampai menelan ludahnya melihat Grizelle yang biasanya tidak begitu menyukai coklat dan selalu komplain dengan rasanya yang terlalu manis, tetapi sekarang dia anteng memakannya tanpa komplain apapun.
"Sejak kapan kamu doyan coklat?" Heran Fiona. Sejak berteman dengan Grizelle, Fiona baru pertama kali melihatnya memakan coklat sebanyak itu, yang Fiona tahu, Grizelle hanya menyukai ice cream saja.
"Sejak sekarang! Kenapa gitu, mau?"
Sepertinya Megan yang menginginkannya. Bahkan gadis itu beberapa kali menelan ludahnya karena melihat Grizelle yang makan begitu nikmat.
"Boleh minta?" Sudah menadahkan tangannya, berharap Grizelle akan membaginya.
"MINTA DIBELIIN SANA SAMA SI BRYAND!"
"Astaga fi, temen Lo nyebelinnya kambuh"
"Bukan temen gue!"
🌻
Beberapa hari telah berlalu, kini acara penyerahan bantuan kepada para korban banjir akan dilakukan. Rey sudah mengintruksikan kepada semua mahasiswa yang ikut berpartisipasi untuk masuk kedalam bus yang sudah disediakan pihak kampus.
"Oke semuanya, nanti disana kita bagi 3 kelompok. Kita akan membantu untuk membersihkan panti asuhan tersebut dari lumpur sisa banjir kemarin"
"Siap!" Sahut semuanya dengan kompak.
"Oke terima kasih semuanya, semoga saudara-saudara kita disana senang dengan kedatangan kita"
Perjalanan yang lumayan jauh, ditambah kendaraan yang baru pertama kali ditumpanginya membuat gadis bermata coklat terang itu menjadi pusing. Bahkan Megan dan juga Fiona terus memijat tengkuknya menggunakan minyak telon yang selalu dibawanya.
"Anak sultan lebay banget, naik gini aja mabok!"
Sebenarnya Megan sudah memberitahukan Griz untuk membawa mobilnya saja, namun gadis itu tidak mau dan lebih memilih menggunakan kendaraan yang sudah disediakan pihak penyelenggara.
"Aku kira naik bus sama kayak naik taxi, tapi-"
Nah lihat 'kan hasil ke-keraskepalaan-nya sendiri, ia malah terus muntah karena mual.
"Aku telpon suami kamu aja ya, biar dijemput" Fiona sudah mengambil ponselnya untuk menghubungi pak Bayu, namun Grizelle menahannya.
"Ih jangan Fio, dia lagi rapat penting sama Daddy. Udah gak apa-apa, aku cuma butuh coklat aja biar gak enek"
"Tapi 'kan-"
__ADS_1
Belum sempat Fiona menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Rey datang menghampiri kursi mereka bertiga.
"Ada apa nih kursi belakang ribut terus?"
Rey yang sudah berdiri disebelah Fiona terkejut melihat wajah Grizelle yang sangat pucat, bahkan gadis itu memegang kantong kresek ditangannya.
"Grizelle kamu kenapa?" Imbuhnya panik.
"Dia mabok kak, biasa anak sultan baru pertama kali naik bus udah keleyengan" Sahut Fiona yang masih terus memijat tengkuk Grizelle.
"Fiona!" Sergah Grizelle seraya memukul tangannya, lalu beralih pada Rey,. meyakinkan nya jika dirinya baik-baik saja.
"Engga kok kak, cuma enek aja" Kilahnya. Padahal jelas-jelas wajahnya sangat pucat.
"Mau turun aja? Nanti aku pesenin taxi buat kamu"
"Eh gak usah kak, aku cuma butuh coklat aja. Eneknya pasti ilang deh"
Apa-apaan dia ingin memesankan nya taxi. Lihat! Sisil dan ke dua sahabatnya terus menatapnya dengan tajam.
"Manja banget jadi cewek, naik bus mewah aja mabok. Norak!" Sindir Sisil yang memang kursinya tidak terlalu jauh dengan Grizelle dan semua mahasiswa disana ikut menyorakinya.
"SISIL DIAM!" Tegas Rey. Semua mahasiswa yang tadinya ricuh menyoraki Grizelle menjadi diam. Mereka tidak berani bersuara jika Rey sudah bersikap tegas seperti tadi.
Rey kembali duduk ke tempatnya, ia berkata kepada supir bus untuk berhenti terlebih dahulu disebuah pom yang lumayan besar yang difasilitasi oleh kamar mandi dan juga minimarket.
"Silahkan jika ada yang mau ke kamar mandi atau mau ke minimarket, kita akan beristirahat 10 menit" Kata Rey.
Laki-laki berjaket denim itu cepat turun dengan diikuti sebagian mahasiswa lainnya. Ada yang ke kamar mandi hanya sekedar mencuci muka, ada juga yang ke minimarket untuk membeli beberapa cemilan ataupun minuman.
Sedangkan Grizelle, gadis itu hanya diam didalam bus dengan ditemani oleh kedua sahabatnya.
"Katanya kebelet tadi, ko gak turun?" Heran Griz ketika melihat Megan dan juga Fiona yang tetap diam. Padahal ketika diperjalanan, mereka sempat mengatakan ingin ke kamar mandi.
"Kamu sendirian gak apa-apa?"
"Gak apa-apa Meg, fi. Aku mau tiduran aja"
"Beneran nih gak apa-apa?"
"Serius. Lagian masih ada beberapa kakak senior yang gak turun"
"Ya udah bentar ya, nanti aku beliin coklat"
Setelah Megan dan juga Fiona pergi, Grizelle mulai membaringkan tubuhnya. Ia merasa puyeng dikepalanya belum juga mendingan. Ah, ia baru pertama kali merasakan mabok kendaraan dan rasanya sangat mual sekali.
Baru saja ia akan memejamkan matanya, tiba-tiba saja kehadiran seseorang dengan kantong kresek berwarna putih ditangannya, membuat Grizelle cepat beringsut lalu duduk kembali.
Gadis itu kaget ketika Rey menyerahkan bungkusan tersebut kepadanya.
"Kak?" Griz bingung.
"Ada coklat sama minuman dingin, biar kamu enggak enek. Ada juga permen hangat, biasanya kalau aku mual, aku tinggal makan permen itu dan mualnya hilang"
"Tapi-"
"Jangan menolak Grizelle" Sela Rey kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu ucapan apapun dari Grizelle. Rey mengerti, pasti gadis itu akan tetap menolak jika dirinya tetap berada disana.
"Terima kasih kak"
Sejujurnya Grizelle merasa ragu ketika akan memakannya, namun karena ia merasa butuh sekali coklat untuk menghilangkan rasa mualnya, jadi ia mengenyampingkan terlebih dahulu perasaannya.
"Griz ini coklat- Loh?"
Bingung karena melihat Grizelle sedang memakan coklat, padahal ia saja baru datang membelikannya. Lalu dari mana Grizelle mendapatkan coklat tersebut? Tidak mungkin kan Grizelle ke minimarket, padahal dirinya saja tadi mengantri pada saat akan membayar.
"Kak Rey yang ngasih"
Apa?
"Griz!" Merebut coklat tersebut dan membuangnya keluar jendela.
"Astaga Fiona! kamu apa-apaan si, aku kan lagi makan itu coklat!" Griz merasa kesal, padahal ia begitu menikmatinya tapi Fiona malah membuangnya begitu saja.
"Nanti ada peletnya, bahaya!"
Astaga, apa itu pelet?
"Pelet apaan? Lagian ya, itu tuh cuma coklat bukan apa-apa. Mana enak banget lagi coklatnya, nyebelin banget!"
__ADS_1
"Bahaya Griz nanti di jampe-jampe sama kak Rey!" Bisik Fiona, Grizelle semakin bingung dibuatnya.
"Apaan lagi, jampe-jampe apaan aku gak ngerti Fiona Affandy Wijaya!"
"Emang di Amerika gak ada dukun ya?" Heran Fiona.
"Ya kali atuh Fiona!" Megan ikut menyahut.
🌻
Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, kedua bus itu telah sampai di lokasi.
Semua mahasiswa langsung turun dan memberikan bantuan tersebut kepada ketua yayasan tersebut dan mereka sangat bahagia menerimanya.
Mereka juga langsung membantu orang-orang yang sedang membersihkan sisa-sisa lumpur dan juga yang lainnya.
"Pucet loh dek, istirahat aja gih"
Shawn yang memang berbeda bus dengan Grizelle diberitahu oleh kekasihnya, Fiona. Laki-laki bule itu langsung menghampiri adiknya dan menyuruhnya untuk tidak ikut bersih-bersih.
"Sisa enek tadi doang ini bang, gak apa-apa" Kilahnya.
"Ngeyel dia, rese banget!" Sahut Fiona. Gadis itu terlalu kesal karena Grizelle sangat keras kepala. Lihat saja sekarang, bahkan perkataan kakaknya pun tidak didengarnya sama sekali dan tetap melanjutkan aktifitasnya.
"Jangan resse deh dek, nanti Abang yang diapa-apain sama suami kamu karena gak bisa jagain kamu"
Seketika Grizelle mengentikan aktifitasnya, gadis itu menatap Shawn dan juga Fiona dengan jengah karena terus mengganggunya.
"Kalian tahu gak?"
"Apa?" Sahut Shawn dan juga Fiona secara bersamaan.
"Kalian tuh bener-bener cocok tau, cocok karena sama-sama bawel! Pecah nih lama-lama gendang telinga aku." Kata Griz seraya pergi. Sementara itu, Fiona dan Shawn hanya saling menatap tidak percaya.
"Shawn Adek Lo!" Mulai kesal dengan sikap Grizelle yang akhir-akhir ini lebih suka mengomel. Padahal biasanya meskipun ia terus mengganggunya, Grizelle tidak pernah menyebalkan seperti ini.
"Yang! Gue jitak ya panggil-panggil nama gue"
"Hehehe, lupa. Ngambekan" Kata Fiona seraya mencubit hidung mancung Shawn lalu pergi menyusul Grizelle yang entah pergi kemana.
"Dasar! Gak adek gak pacar, sama-sama nyebelin njir!"
🌻
Dibalik jendela kaca, ia melihat anak-anak kecil sedang bernyanyi begitu riang. Grizelle terus memperhatikan mereka dengan tersenyum dan juga perasaan yang begitu sedih. Bagaimana bisa mereka tetap bisa tersenyum meskipun dalam keadaan seperti ini, apakah mereka malaikat?
Tidak terasa airmatanya jatuh, begitu pedih rasanya melihat wajah-wajah malaikat itu sudah menderita diusia mereka yang masih terlalu kecil, bahkan mereka dipaksa menanggung beban hidup seperti ini. Anak yang seharusnya masih mendapatkan kasih sayang orangtua, tetapi mereka malah dengan tega membuangnya.
Gadis itu tersenyum ketika ada seorang anak perempuan berambut ikal melambaikan tangan kepadanya seakan berkata agar dirinya kesini.
"Grizelle" Ucap seorang laki-laki yang sedang duduk memegang gitar ditangannya. Ia cukup terkejut mendapati Grizelle yang berdiri diambang pintu.
"Boleh gabung?" Kata Grizelle ketika ia sudah masuk dan berdiri disebelah laki-laki tersebut.
"B-Boleh, silahkan masuk" Sahut laki-laki tersebut yang ternyata adalah Reymond Lionard, ketua BEM universitas Angkasa. Laki-laki itu memang sering datang ke panti asuhan ini, tidak heran jika semua anak-anak disini begitu dekat dengannya.
Setelah mendapatkan ijin, Grizelle menyapa anak-anak tersebut dan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Gadis itu juga mencoba menunjukkannya beberapa trik sulap yang dipelajarinya dari Leon saat kecil dulu. Ya meskipun itu bukan sulap sungguhan, tetapi mampu membuat tawa anak-anak itu pecah.
Bahkan Rey juga sampai tidak tahan untuk tertawa, ia sampai mengeluarkan air matanya karena terlalu geli melihat tingkah Grizelle yang menurutnya sangat kocak.
"Kakak Grizelle cantik sekali, pasti kakak pacarnya kak Rey ya?" Celetuk salahsatu anak perempuan bermata hitam pekat yang melambaikan tangan kepadanya tadi.
"Kak Rey ganteng dan kak Grizelle cantik. Pasti anak nya cantik dan ganteng" Imbuhnya kemudian.
Ha?
"Tapi kita gak pacara-"
"Semuanya ayo kita makan siang terlebih dahulu, teman-teman sebagian sudah menunggu"
Belum sempat Griz menyelesaikan kalimatnya, suara seseorang membuat semuanya menoleh ke arahnya.
"Ayo anak-anak, kita makan dulu" Ajak Rey.
Sementara Rey sibuk mengajak anak-anak tersebut, Griz masih diam ditempatnya. Sampai ia tersentak kaget ketika gadis kecil itu menyentuh tangannya.
"Kak Griz ayo" Ajak gadis kecil tersebut.
"Eh ayo sayang"
__ADS_1
🌻
Bersambung ..