
"Jadi mbak Cherry itu-"
Bohong jika Mawar tidak terkejut dengan apa yang baru diketahuinya ini, tentang sebuah kebenaran dari cerita yang pernah ia dengar sebelumnya.
Selama mendengarkan Rahardian dan Diana bercerita, Mawar tidak hentinya meneteskan air mata. Meskipun sebelumnya ia sudah pernah mendengarnya, namun satu hal yang Mawar tidak menyangka sama sekali adalah, Cherry tidak sepenuhnya menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Hatinya terasa di remas begitu kuat, dadanya sangat sesak seperti banyak bongkahan batu besar yang menumbuk hancur jantungnya, ketika orang yang selalu ia puja karena kebaikannya, ternyata pernah berbuat sejahat itu kepada seseorang dan itu adalah Cherry.
Sosok wanita yang begitu kuat yang pernah ia kenal dan wanita paling dalam menghadapi kekejaman takdir hidupnya namun tidak pernah ia sekalipun mendengar wanita itu berkata kebencian tentang takdirnya. Dia hanya selalu berkata semoga kehidupan selanjutnya bisa hidup dengan tenang.
Dan
Dia juga masih ingat.
Malam itu, ketika dirinya akan mengajak wanita itu untuk makan bersama, Mawar tidak sengaja mendengar sebuah kalimat yang membuat dirinya hampir menangis - kalimat yang penuh kasih sayang yang melantun indah dari bibir serta senyum tulus darinya.
Kadang Mawar berpikir.
Apakah hati wanita itu sudah mati sehingga tidak sedikitpun merasakan kesakitan atas perlakuan mereka? Kenapa wanita itu terlihat biasa saja dan tidak menaruh kebencian serta dendam apapun? Dan bagaimana bisa ada seorang berhati malaikat seperti itu di dunia ini?
Cherry..
Bukan hanya namanya saja yang mengandung arti kebaikan, begitu pun dengan sang pemiliknya. Pantas saja jika pria itu (Arjuna) begitu kacau kehilangannya. Ternyata wanita itu begitu sempurna dan luar biasa hebatnya.
Mawar memejamkan matanya, menghalau air mata yang tiada hentinya menetes membasahi pipinya - meremat kain pada dadanya, menahan sesak yang sedari tadi begitu menyakitkan untuknya.
Kenapa bisa sesakit ini hanya mendengarnya?
Apakah karena mereka sama-sama wanita, jadi ia bisa merasakan perasaan yang sama? Meskipun Mawar belum pernah mengalaminya dan wanita itu bukan siapa-siapa dalam hidupnya, tetapi kenapa, ia tidak terima mendengarnya?
"Kalian jahat" Ucapnya dengan suara lirih, namun dapat terdengar begitu jelas oleh mereka karena suasana yang begitu hening di rumah tersebut.
Jika ada kata yang lebih dari jahat, maka Mawar akan melontarkan kata tersebut untuk mereka. Tidak perduli siapa mereka saat ini dan dimana ia berada, karena ia tidak bisa mentolelir perbuatan jahat mereka yang pernah akan membunuh cucu mereka sendiri.
"Iya, kami memang jahat Mawar. Kami minta maaf"
Mawar menoleh. Lagi, air mata nya menetes tanpa ia sadari. Rasanya sakit sekali, meskipun bukan ia yang mengalaminya.
"Kami menyesal"
Menyesal?
Bahkan penyesalan pun tidak dapat menyembuhkan luka dan bagaimana trauma nya wanita itu.
"Kami ingin menemuinya untuk meminta maaf Mawar, tolong bantu kami untuk bertemu dengan Cherry" Pinta Diana dengan lirih. Cukup ia merasakan penyesalan yang begitu dalam kepada Cherry dan hidup yang dihantui rasa bersalah, maka ijinkan dirinya untuk menebus semua kesalahannya kali ini. "Mau, kan?" sambungnya.
Bertemu? Bagaimana mereka bisa menemuinya sedangkan mereka sendiri yang menyuruhnya untuk pergi.
"Kalian tau?"
Mawar menatap Diana, Rahardian dan juga Arjuna secara bergantian. Mengabaikan permintaan Diana barusan.
"Aku sangat terkejut mendengarnya dan tidak menyangka jika cerita yang sebenarnya lebih menyakitkan dari apa yang aku dengar sebelumnya. Tapi sejahat apapun kalian terhadap dia, dia tidak pernah sedikitpun berkata buruk tentang kalian-"
Diana semakin terisak, penyesalan yang terus menghantuinya selama ini semakin besar seiring perkataan Mawar yang terasa seperti tamparan untuknya.
"Dia juga selalu menceritakan bagaimana hebatnya kalian kepada putranya - Juna"
Rahardian mendongak mendengar Mawar mengucapkan nama itu.
Juna? Iya, bayi mungil itu. Bayi yang mirip sekali dengan putranya saat kecil. Tentu Rahardian masih ingat ketika Arjuna membawanya ke rumah beberapa Minggu lalu saat mereka pulang berlibur dari kebun binatang.
Saat pertama kali Rahardian melihatnya, ia sudah bisa merasakan perasaan yang aneh. Perasaan bersalah kepada seseorang terus menekannya setiap melihat wajah polos bayi tersebut.
Rasanya sangat sakit sekali, hatinya terluka setiap ia melihatnya.
Mata bulatnya.
Tatapannya.
Senyumannya.
Dan saat bayi itu menyentuh tangannya, Rahardian sangat berusaha untuk tidak menangis saat tatapan bayi polos itu mengarah kepadanya.
"Jadi namanya, Juna?"
"Arjuna, namanya Arjuna" Mawar menatap pria disebelahnya, "Nama yang dia berikan kepada putranya. Dan kalian tau kenapa dia memakai nama itu? Jawabannya singkat, karena dia terlalu jatuh cinta kepada pemilik nama tersebut - bahkan sampai saat ini"
DEG!
Dunia begitu sempit jika berbicara tentang takdir seseorang, bukan?
Mawar yang hampir setiap hari menceritakan sosok pria yang begitu disukai nya kepada Cherry ternyata wanita yang menjadi tempatnya bercerita lah yang selama ini prianya cari.
Dan anak yang selama ini sering menghabiskan waktu weekend bersamanya adalah, anaknya. Juna adalah anak calon tunangannya.
Arjuna menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa berpikir apapun lagi selain cherry-nya, cintanya yang selama ini ia cari.
Kenapa tuhan mempertemukan mereka disaat seperti ini?
__ADS_1
Kenapa tuhan tidak mempertemukannya disaat Arjuna dengan lelahnya mencari keberadaannya dahulu?
Dulu, disaat Arjuna mati-matian menyuruh puluhan orang cerdas untuk melacak keberadaannya, namun nihil yang selalu didapat. Lalu setelah Arjuna mulai menyerah dan berniat akan melupakannya bahkan sudah yakin melanjutkan hidupnya dengan wanita lain, dengan mudahnya dia kembali - membuat pondasi baru yang ia rasa sudah kokoh itu hancur seketika.
Tuhan benar-benar mempermainkan takdirnya kali ini. Entah apalagi takdir yang akan terjadi, Arjuna hanya ingin Cherry-nya, kembali.
"Lalu,"
Mawar dengan ragu melanjutkan kalimatnya, namun kenapa rasanya sulit sekali. Kerongkongan nya terasa tercekik. Terlebih lagi Mawar sangat yakin dengan jawabannya. Meskipun begitu, Mawar juga butuh kepastian tentang bagaimana nasibnya setelah wanita yang ditunggu-tunggu oleh calon tunangannya telah kembali.
Apakah dirinya akan terbuang?
"Bagaimana dengan kamu, mas? Apakah kamu masih mencintainya dan kalian akan kembali bersama?"
Apalagi dengan keberadaan Juna, Mawar semakin sadar dengan keberadaan nya sekarang. Seharusnya dari awal ia sadar, jika dirinya hanya peran pengganti untuk sebuah penyembuhan hati, bukan akhir sang pemilik hati.
Tapi apakah boleh Mawar berharap?
Berharap Arjuna akan tetap bersamanya?
Bolehkan Mawar egois?
Bagaimanapun Mawar sudah tenggelam terlalu dalam sebuah perasaan - dalam kebahagiaan cintanya.
Arjuna mendongak, menatap Mawar yang sedari tadi terus menangis. Pria itu merasa bersalah karena setelah kejadian tadi, ia terus diam mengabaikan perempuan itu dan pasti Mawar sangat terkejut dengan masalah ini.
Mengembuskan nafasnya kasar, Arjuna hendak berdiri menghampiri Mawar namun-
BUGH!
Baru saja selangkah kaki lebarnya melangkah, tiba-tiba tubuhnya tersungkur setelah seseorang meninju keras tepat pada sebelah wajahnya, membuat setetes darah mengalir dari sudut bibirnya.
"BRENGSEK!"
Pria itu melangkah mendekati Arjuna yang masih terduduk dilantai, mencengkram kerah kemeja Arjuna lalu meninjunya kembali dengan brutal.
"BAJINGAN KAU ARJUNA!"
"Ren- dra, ap-"
BUGH!
"Diam brengsek! Aku tidak menyuruhmu untuk berbicara!"
Mawar yang ketakutan melihat Arjuna sudah ter-batuk darah segera berlari menghampiri pria yang sedari tadi terus meninjunya, mencoba menahan tangan pria itu yang akan melayangkan kembali tinjauannya.
"KAK DARENDRA, STOP IT! APA YANG KAKAK LAKUKAN, HUH?"
Bentakan yang terlontar serta menghempas tangan Darendra membuat sedikit membuat perempuan itu tersentak dan hampir tersungkur juga, namun dengan cepat mawar kembali melerai, dengan gerakan cepat memeluk tubuh Darendra dari belakang dengan sangat erat lalu menarik pria itu agar berhenti memukuli Arjuna yang sudah terkapar di lantai.
"Tenanglah kak, please!" Mawar berkata lirih.
"Tidak Mawar, aku harus memberi pria bajingan itu pelajaran atas perbuatannya yang telah menelantarkan seorang wanita!"
Arjuna yang semula terus ter-batuk kemudian mendongak, menatap Darendra dengan tatapan kebingungannya.
Wanita?
Menelantarkan?
Siapa yang Darendra maksud?
"Apa maksudmu, Daren?" Tanya Arjuna dengan susah payah. Menahan rasa sakit pada perutnya akibat pukulan Darendra tadi.
Arjuna benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataan Darendra perihal seorang wanita dan meninggalkan. Arjuna juga merasa tidak melakukan apapun yang membuat Darendra se-marah ini padanya.
Namun bukan sebuah jawaban yang Arjuna dapatkan, Darendra malah tertawa, seakan pertanyaan bodoh dari Arjuna adalah sebuah lelucon yang sangat lucu untuk ditertawakan.
Sedangkan Mawar, ia yang paham dengan kemarahan Darendra mencoba menenangkannya dengan menarik lembut tangan pria itu untuk menjauh.
"Kak, tenanglah. Kita sedang membicarakan ini"
Darendra terduduk pada sofa setelah Mawar menariknya menjauh dari Arjuna yang masih terkapar. Menghela nafas, Darendra mencoba meredamkan amarah yang sedari tadi membuncah belum ia kedal-kan seluruhnya.
Kepergian Cherry kali ini benar-benar membuat dirinya kalut, emosinya semakin meradang karena penyebabnya adalah sahabatnya, Arjuna.
Namun bukan hanya karena itu saja Darendra marah, tetapi ingatan bagaimana Cherry menceritakan kehidupannya dahulu saat ia dipaksa pergi oleh mereka - orangtua Arjuna lah alasannya.
Tetapi jika dipikir-pikir, tidak seharusnya dia marah kepada Arjuna karena Darendra tau, ini bukan salah pria itu.
Terlebih, ia juga tau, dahulu Arjuna pernah mencarinya, meskipun berakhir nihil dan memilih untuk menyerah lalu melupakan.
Tetapi melihat bagaimana pesan Cherry kepadanya sore tadi, membuat Darendra terluka, sangat terluka.
Ia tahu Cherry hancur, bukan hancur karena masalalu yang terkenang kembali, namun hancur karena dia telah mengetahui bagaimana pria yang selalu menjadi alasannya menolak pria yang begitu mencintainya ternyata telah melupakannya - bahkan dengan gampangnya untuk melanjutkan kembali hidupnya dengan seseorang yang bahkan dekat dengannya, disaat dia tetap mempertahankan rasanya.
Darendra sesak bukan main, ia merasa lemah jika bersangkutan dengan wanita pemilik hatinya itu. Mencintai bukan alasan Darendra harus menjadi egois, ia rela - sangat rela jika wanita yang menempati tahta tertinggi dalam hatinya harus kembali dengan pria yang dicintainya, tetapi melihat keadaannya berbeda seperti ini, Darendra tidak bisa! Darendra sudah cukup untuk berdiam diri melihat bagaimana wanitanya terluka.
Tidak salah kan jika Darendra jika menjadi egois sekarang? Jika Arjuna tidak bisa membahagiakan Cherry, Darendra dengan senang hati akan membahagiakannya sampai mati.
__ADS_1
Emosinya yang sejak datang membuncah kini mereda seiring usapan lembut pada tangannya, ia menoleh pada seseorang yang sedari tadi menenangkannya, "Kak, aku tau bagaimana perasaan Kakak sekarang. Aku juga sama"
Menatap Mawar yang terduduk disebelahnya. Mata perempuan itu terlihat bengkak dan disini Darendra baru sadar, jika bukan hanya dirinya dan Cherry yang terluka - juga dengan Mawar. Perempuan lugu yang dikenalnya beberapa bulan lalu nyatanya yang paling hancur.
Disaat semua mimpinya akan terwujud, semuanya terasa mengikis setelah kenyataan itu terkuak. Mawar pasti sangat terluka.
"Kakak pikir kakak saja yang terluka, aku juga, kak"
Mawar, perempuan itu kembali menjatuhkan air matanya. Entah sudah sebanyak apa jika bisa ia tampung, yang jelas semuanya sama-sama terluka.
Membiarkan Darendra dan Mawar berbicara, Diana membantu Arjuna untuk bangkit dan membawanya duduk disofa sebrang. Mengambil kotak P3K yang telah diambilkan oleh maid lalu mengobati luka pada sudut bibir sang putra yang lumayan parah.
Sementara Rahardian, pria paruh baya itu hanya diam.
"Aku-"
Darendra menarik Mawar kedalam pelukannya, menenangkan tangisan perempuan itu.
"Tapi sesakit apapun aku merasakannya, rasa sakit ini tidak apa-apanya dibanding dengan rasa sakit mbak Cherry selama ini"
Mawar semakin menangis ketika membayangkan kembali bagaimana sulitnya hidup wanita mungil itu. Mengandung seorang diri, melahirkan tanpa ditemani sang suami dan membesarkan anak tanpa bantuan siapapun tentu semuanya sangat berat untuk seorang perempuan.
Namun Cherry, wanita mungil itu selalu tersenyum, mengatakan jika tuhan selalu punya kejutan indah disetiap cobaannya.
"Aku siap melepas mas Arjuna untuk mbak Cherry, kak"
Perkataan lirih itu dapat terdengar oleh telinga Arjuna. Pria dengan beberapa luka lebam serta darah kering pada sudut bibirnya itu berdiri, "Mawar!" Suaranya nyaring, sedikit membentak ketika mendengar Mawar mengatakan itu.
Mawar melepaskan pelukan Darendra, menatap Arjuna dengan terluka.
"Mas, aku tau hati kamu cuma buat mbak Cherry dan Juna, anak kamu-"
"Kamu tidak perlu melepaskan dia, Mawar! Aku tidak akan pernah membiarkan Arjuna mendekati Cherry lagi, apalagi sampai dia menyentuh Juna!" Darendra memotong kalimat Mawar, mata elangnya menatap tajam pria di seberangnya dengan nyalang.
Apa maksudnya, kenapa Darendra berkata seperti itu? Dan fakta apa yang sudah Arjuna lewatkan selama ini.
"Aku tidak akan pernah membiarkan dia menyentuh mereka, lagi" sambungnya.
Arjuna yang tidak terima dengan kalimat Darendra berdiri, menghampiri pria itu dan menarik kerah bajunya.
"Apa maksudmu, sialan?! Dan apa ini, kau mengenal Cherry dan tidak memberitahuku sama sekali?" Arjuna marah. Jika memang benar Darendra mengenal Cherry dan tau keberadaan wanita itu, kenapa dia diam saja? Padahal dia tau Arjuna mencari wanita itu mati-matian.
"Untuk apa?" Darendra melepaskan cengkraman Arjuna dari bajunya, "Untuk menyerahkan nyawa mereka kepada manusia itu?!" Tunjuknya pada Rahardian, "Kau tau sendiri alasan dia pergi karena apa, Arjuna? KARENA AYAHMU INGIN MEMBUNUH ANAKNYA, ANAK KALIAN!! Dia ketakutan Ar, dia menderita"
"Katakan Darendra, katakan Cherry dimana?!"
"Dia sudah pergi"
"BOHONG!"
Tanpa berkata apapun lagi, Arjuna segera menyambar kunci mobilnya untuk memastikan apa yang dikatakan Darendra hanyalah sebuah kebohongan saja, meninggalkan Mawar dan yang lainnya. Arjuna tidak akan percaya sebelum dirinya memastikannya sendiri.
Dibelakang, Mawar segera menarik tangan Darendra, diikuti oleh Rahardian dan juga Diana dibelakangnya.
"Cherry, tunggu aku sayang. Maaf- Maaf"
Maaf karena berniat melupakan dan maaf karena terlambat menyadari jika ternyata mereka begitu dekat.
Beberapa kali Arjuna mengumpat pengendara lain yang terlihat menghalangi jalannya, membunyikan klakson disertai makian untuk pengendaranya. Sungguh, perkataan Darendra yang mengatakan Cherry sudah pergi membuat pikirannya sangat kacau. Karena sungguh, Arjuna sangat merindukan Cherry nya - cintanya.
Setelah satu jam Arjuna dibuat murka oleh kemacetan, kini mobil mewah berwarna hitam itu terparkir acak didepan kontrakan yang sering ia singgahi kala dirinya merindukan sosok balita yang sudah mengambil atensinya itu yang ternyata adalah anaknya sendiri. Arjuna segera mengetuk pintu yang berada dihadapannya, berteriak memanggil nama Cherry dengan keras.
Beberapa penghuni yang merasa terganggu mulai keluar, melihat bagaimana pria tampan itu terus berteriak dan menatapnya takut. Mereka tidak berani mendekati, apalagi melihat bagaimana penampilan sang pria yang terlihat bukan dari kalangan biasa.
"Cherry, buka pintunya sayang. Kamu jangan takut, aku akan melindungi mu, aku janji!"
Mawar segera keluar, menerobos kerumunan penghuni kontrakan dan berjalan mendekati Arjuna.
"Mas-"
"Mawar tolong, Cherry ada didalam kan? Suruh dia keluar"
Mawar hancur, bohong jika hatinya tidak terluka ketika melihat bagaimana pria yang dicintainya menangisi wanita lain. Namun mau bagaimana lagi, ingin egois pun rasanya tidak bisa.
"Mas, mbak Cherry sudah pergi"
Menggelengkan kepalanya, Arjuna berdiri untuk menghampiri Darendra yang berdiri santai tidak jauh darinya. Mencengkram kerah baju pria itu dan bertanya, "Katakan sekarang, dimana Cherry dan anakku, brengsek?!"
Darendra terkekeh pelan sebelum menyingkirkan lengan Arjuna yang menyudutkan nya.
"Apa kau tuli? Aku sudah mengatakannya kalau aku tidak akan membiarkanmu menyentuh mereka lagi! Sudah cukup Arjuna, cukup!"
BUGH!
"Brengsek! Memangnya kau siapa, hah?"
BUGH!
Darendra membalas pukulan Arjuna, mendorong pundak tegap itu hingga terhuyung ke belakang. "Kau masih mempertanyakan aku siapa? Aku calon suaminya Cherry dan calon ayah Juna!"
__ADS_1
🌻