
Semenjak beberapa tahun lalu ketika wanita itu memilih meninggalkannya, keduanya tidak pernah bertemu maupun mengetahui kabar masing-masing. Leon yang sakit hati memilih memblokir semua akses yang akan mengingatnya pada wanita itu.
Leon benci, sangat benci.
Di saat dia memberikan semua kepercayaannya dengan merelakannya pergi ke luar negeri untuk mewujudkan cita-citanya, wanita itu malah dengan tega mengkhianatinya. Bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa dia sudah tidak mencintainya lagi.
Leon memberikan ponsel yang sempat terjatuh tadi, dia segera berlalu menuju mobilnya. Namun saat tangannya hendak membuka pintu mobil, tangan wanita itu menahannya terlebih dahulu.
Mau tidak mau Leon menoleh.
"Ada apa?"
"Apakabar?" Tanya wanita itu.
"Baik"
Leon menjawab dengan malas. Matanya ia arahkan kemana saja asal tidak melihat wajahnya. Sedangkan wanita itu hanya tersenyum, menatap pria yang lebih terlihat dewasa itu dengan kagum.
Enam tahun tidak bertemu dengan mantan kekasihnya sewaktu SMA itu membuatnya terkejut, dia sangat tampan dan dewasa.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya wanita itu lagi.
"Menemui sahabatku"
Mendapat respon dingin dari mantan kekasihnya itu, ia hanya tertawa pelan sebelum akhirnya mengangguk paham.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi, Monica?"
"Tidak ada, aku hanya-"
Sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Leon menyelanya dengan sengaja karena terlampau malas kalau harus berlama-lama.
"Kalau begitu saya harus pergi, permisi"
Setelah mengatakan itu, Leon memasuki mobilnya. Meninggalkan Monic yang tertawa kesal karena perlakuan dingin mantan kekasihnya itu. Sedangkan Leon, pria tinggi itu terus menggerutu kesal dan mengatakan bahwa hari ini dirinya benar-benar sial.
Sudah tertipu oleh sahabatnya yang berakhir menjadi seorang model dadakan, lalu bertemu sang mantan yang dulu telah membuat Leon merasakan patah hati paling berat.
Sial!
Leon benar-benar berada dalam mood terburuknya. Dia butuh penyegaran, nongkrong misalnya. Kebetulan saat dirinya baru kelaut dari perusahaan, beberapa temannya mengajak bertemu sebelum dirinya menjemput kekasihnya ke bandara.
Sepuluh menit perjalanan, mobil mewah berwarna merah itu memasuki sebuah cafe dimana temannya berada.
"Bro, disini!"
Teriak seseorang ketika melihat Leon baru saja memasuki cafe.
Leon yang mendengarnya segera menghampiri, duduk dihadapan kedua pria yang mempunyai wajah yang sama itu. Iya, mereka kembar. Hanya sifat saja yang membedakannya.
"Sudah lama?"
"Sudah habis dua piring kentang goreng nih" Sahut salah satunya, Reyhan - Pria yang lahirnya hanya berbeda sepuluh menit dengan kembarannya, Ryan.
"Pesan lagi aja, nanti aku yang bayar"
"Benar?"
Leon mengangguk, membuat pria itu segera memanggil pelayan untuk memesan kembali makanan. Tidak menghiraukan kakaknya, Ryan, yang mencegahnya.
"Rezeki jangan ditolak, kakak"
Sementara membiarkan si kembar berdebat, Leon mengambil tissue basah dari dalam tasnya. Mengambilnya beberapa lembar untuk ia gunakan menghapus make up yang belum sempat ia bersihkan tadi.
__ADS_1
"Sejak kapan seorang Leonardo Arion bedakkan?" Ejek Reyhan saat baru menyadari wajah temannya ternyata menggunakan make up.
"Gara-gara si kampret Martinez bule sialan itu!"
"Kenapa?"
"Pemotretan"
"Woah~ keren! Alih profesi nih"
"Keren pala kau! Cepat apa yang ingin kalian katakan!"
"Tentang Cherry"
"Kenapa?"
"Tadi pagi aku melihatnya di jemput oleh Arjuna. Tapi kau bilang dia sedang ke luar kota?"
Untuk sejenak Leon terdiam, apakah benar Cherry berselingkuh dengan Arjuna?
Sebelumnya juga Leon pernah mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal yang berisi beberapa foto dimana kekasihnya sedang dirangkul mesra oleh seorang pria - pria dahulu pernah menghancurkan hubungannya.
"Apa ada masalah? Perlu bantuan?"
Leon menggeleng atas tawaran temannya. Dia bisa mencaritahu nya sendiri setelah mengumpulkan semua bukti.
"Tidak perlu, terimakasih"
Tidak lama setelah itu, mereka kembali seperti biasa. Ryan dan Reyhan yang tidak berhenti berdebat dan, Leon yang tidak sengaja menangkap sosok yang pernah mengisi ruang hatinya dulu.
"Naomi"
Sedangkan perempuan yang bernama Naomi nampak acuh, meskipun dia tau bahwa ada mantan kekasihnya disana yang memperhatikannya, ia tidak perduli.
Memangnya Naomi harus apa? Menyapa dan menanyakan kabar apakah setelah berakhir dengannya dia baik-baik saja atau sebaliknya? Begitu? Lagipula meskipun Naomi melakukan itu semua, Leon tidak akan pernah menganggapnya.
Tunjuk salah satu temannya kepada Naomi, panggil saja Sherly. Perempuan berambut ikal yang memang mengetahui hubungannya bersama anak dari salah satu arsitektur terkenal.
"Biarkan saja" Naomi menjawab santai.
Melihat perubahan sikap Naomi yang murung, Sherly menyesal karena telah memberitahukan bahwa ada mantannya disana. Sherly mengerti Naomi tersakiti, tapi sebagai teman ia tidak bisa seenaknya mengikut campuri. Meskipun Sherly masih sangat berharap mereka kembali, biarkan Tuhan yang menghendaki.
"Kenapa tidak mencoba untuk menjelaskannya lagi?"
Menjelaskan ya? Naomi menggeleng sebagai jawabannya.
"Percuma"
🌻
Tepat pukul delapan malam Leon mengemudikan mobilnya setelah menjemput dan mengantar kekasihnya, Cherry. Leon memutuskan untuk pulang ke apartemen karena merasa tubuhnya sudah sangat lelah.
Semuanya nampak biasa, tidak ada kendala apapun dijalan. Jalanan yang lumayan lengang membuat mobilnya melaju dengan tenang.
Alunan music yang melantunkan beberapa lagu mengiringi perjalanannya sampai akhirnya ia mematikan musiknya, Leon terkejut ketika mendapati seseorang yang sangat dia kenal sedang berdiri seorang diri di bahu jalan.
"Ada apa?"
Leon bertanya setelah memarkirkan mobilnya tidak jauh dari sana. Perempuan itu menggeleng lemah, matanya sudah memerah menahan tangis karena bingung dan juga ketakutan. Ingin menelpon orang bengkel namun ponselnya mati karena kehabisan baterai.
"Aku tidak tau, tiba-tiba saja mati"
Leon terkekeh pelan melihat wajah mantan kekasihnya itu memerah, dia hanya menggeleng lalu segera melihat apa penyebab mobil itu karena Alternator yang rusak, tercium dari bau karet terbakar saat Leon memeriksanya.
__ADS_1
"Aku akan menghubungi mobil derek untuk mengantar nya ke bengkel"
"T-terimakasih, Arion"
"Sama-sama, ayok!"
"K-kemana?"
Naomi gugup, sangat gugup! Bahkan jantungnya sudah berdetak tidak beraturan sekali saat merasakan pergelangan tangannya ditarik oleh mantan kekasihnya itu. Leon yang paham melihat kegugupan Naomi lantas segera melepaskan genggamannya setelah mengucapkan maaf.
"Pulang, kau mau disini terus?"
"Aku bisa memesan taxi"
"Menggunakan ponselmu yang mati? Jangan membantah dan cepat masuk!"
Menghembuskan nafasnya kasar, mau tidak mau Naomi menurutinya, daripada dia terus berada ditempat gelap ini.
Hening.
Tidak ada percakapan sama sekali setelah mereka berada didalam mobil. Rasanya sangat canggung sekali setelah setahun putus sampai tidak bertegur sapa, tetapi sekarang malah berada dalam satu mobil berdua.
"Apakabar?"
Akhirnya si pria membuka suara setelah hampir dua puluh menit keadaan begitu senyap.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja" Jawab sang perempuan.
Leon mengangguk, tersenyum tipis mendengar nya.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Arjuna?"
Mendengar pertanyaan seperti itu, Naomi menatap Leon tidak suka. Lagipula siapa yang berhubungan siapa? Sejak awal ia menjelaskan, ia hanya dijebak!
"Aku tidak pernah mempunyai hubungan apapun dengan dia!"
Karena memang itu kenyataannya, Naomi tidak pernah sedikitpun untuk dekat dengan siapapun setelah hubungan bersama pria disebelahnya kandas.
"Tidak memiliki hubungan apapun tetapi berani berciuman, keren!"
"Aku sudah beberapa kali menjelaskannya, itu hanya jebakan saja, Arion. Terserah jika kamu tidak percaya, aku tidak masalah, tetapi tolong jangan pernah membahasnya lagi-
Naomi sesak, hatinya sakit.
-karena percuma, apapun penjelasan yang aku katakan, kamu tidak akan pernah percaya sama sekali"
Entah sejak kapan mobil yang mereka tumpangi sudah sampai didepan rumah mewah milik keluarga Naomi. Perempuan itu langsung membuka sabuk pengamannya.
"Buka kuncinya, Arion"
Namun Arion hanya diam, memperhatikan bagaimana Naomi menahan tangis. Leon sesak, ia tidak suka melihat Naomi menangis namun ia juga merasa sakit karenanya.
Jika kalian berpikir Leon sudah melupakan Naomi, jawabannya salah! Sampai kapanpun Naomi akan tetap menjadi satu-satunya perempuan yang menempati tahta tertinggi dalam hatinya.
"Arion!"
Naomi benci, ia tidak suka terlihat lemah di mata siapapun.
"Buka kuncinya, please"
Tanpa mengatakan apapun, Leon menarik Naomi masuk kedalam dekapannya. Mengucapkan beribu maaf atas sikapnya selama ini.
"Maafkan aku"
__ADS_1
🌻
\={R E V I S I}\=