
Pagi-pagi sekali Mawar sudah bersiap untuk pergi. Perempuan berambut panjang itu sedang berdiri didepan kontrakan sambil membenahi rambutnya kembali.
Cherry yang baru kembali dari pasar bertanya, "Udah cantik, mau kencan ya?" Tanyanya sedikit menggoda. Juna dalam gendongan Cherry tertawa saat bibir tipis Mawar beberapa kali menyentuh lembut pipi gembul nya. Cherry memukul lengan Mawar pelan, senang sekali dia mengganggu anaknya.
"Harus nemenin bos cari kado, istri rekan kerjanya lahiran mbak. Anaknya kembar loh" Sahut Mawar, wajahnya bersemu merah - terlihat sekali sedang bahagia. Cherry jadi tersenyum melihatnya.
"Secantik ini? Iya deh yang lagi jatuh cinta sama bos" Goda Cherry lagi.
"Mbak ih, stop. Aku malu tau!" Rengek nya manja. Mawar memeluk Cherry dari samping, ia bersyukur bisa dipertemukan dengan wanita mungil ini. Mawar merasa mempunyai sosok kakak yang akan selalu melindunginya. Terlebih lagi Mawar sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, sama halnya dengan Cherry.
Cherry menggelengkan kepalanya lucu, mengusap kepala perempuan itu lembut. "Hati-hati ya. Kasih tau kalau sudah jadian, traktir mbak gitu" Ucap Cherry yang segera melangkahkan kakinya masuk, sedangkan Mawar mengomel tidak jelas, malu karena Cherry terus saja menggodanya.
"Dasar! Mbak Cherry nyebelin!" Teriaknya. Entahlah Cherry mendengarnya atau tidak, namun terdengar suara gelak tawa didalam kontrakan sana.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam sudah terparkir didepan sana. Mawar yang melihatnya segera menghampiri pria berjas hitam yang baru saja turun.
"Seharusnya tuan tidak perlu menjemput saya-"
"Tidak apa-apa, daripada bolak-balik. Ayo berangkat" Ajak pria itu.
Mawar hanya mengangguk. Membuka pintu sebelah kiri mobil dan melesak masuk kedalam. Tidak lupa memasang sabuk pengaman untuk melindungi tubuhnya dari bahaya lalu lintas.
"Kapan nona Grizelle melahirkan, tuan? Padahal beberapa hari lalu masih makan bersama." Tanya Mawar.
Ya. Saat itu memang mereka makan siang bersama di cafe biasa tempat mereka berkumpul. Bahkan bertambah beberapa orang, diantaranya ada Hendry, Andra, William, Andre dan juga Nena. Sekretaris Bayu yang baru kembali bertugas dari Surabaya. Ada juga seorang pria berstatus dokter termuda juga ikut berkumpul bersama - membahas apa saja yang membuat tawa diantara mereka meledak seketika.
Darendra sendiri tidak hadir, katanya sedang menemani wanita yang pernah dilamarnya namun tertolak karena sebuah kenyataan jika wanita itu tidak akan menikah selain dengan pria yang dicintainya. Sakit memang, namun apa salahnya berteman? Apapun statusnya, bagi Darendra tidak masalah. Kebahagiaan nya juga kebahagiaan untuknya.
"Iya, sudah 3 hari lalu, dan sekarang dia baru pulang ke rumah. Makanya sekarang saya mengajak kamu untuk mencari kado untuk keponakan saya. Saya tidak cukup mengerti tentang perlengkapan bayi yang baru lahir." Kata Arjuna dari balik kemudi.
Mawar hanya mengangguk. Pandangannya ia alihkan pada ramainya kendaraan disisi kirinya. Meskipun begitu, Arjuna yang melihatnya dapat menyadari jika Mawar sedang bahagia, terlihat dari sudut bibirnya yang terangkat ke atas.
"Kau kenapa?" Tanya Arjuna penasaran.
Mawar menoleh, senyumnya masih bertahan dari bibir tipis itu. "Tidak apa-apa, tuan. Hanya sedang bahagia, membayangkan akan setampan apa rupa anaknya mereka" Tuturnya jujur.
Ya, sedaritadi sebelum berangkat, Mawar memang terlihat antusias ketika sang bos mengatakan akan menjenguk bayi Grizelle. Dia terus saja membayangkan akan setampan apa rupa anak dari sepasang pasutri yang terkenal itu. Pasti akan sangat sangat menakjubkan sekali.
Ugh, Mawar jadi tidak sabar ingin segera melihatnya.
"Jelas! Kamu tidak lihat rupa orangtuanya seperti apa" Timpal Arjuna dengan tersenyum tipis. "Seharusnya Grizelle dan Bayu sudah mempunyai 3 anak, tapi karena kejadian mengerikan itu, mereka harus kehilangan anak pertamanya." Imbuhnya.
Senyum dari bibir Mawar memudar bersamaan dengan pernyataan yang bos nya lontarkan, apa maksudnya? Ia menatap Arjuna lebih menuntut, meminta penjelasan dari kalimat tersebut.
"Akan saya jelaskan nanti."
Mawar berdecak kecewa dan memilih diam sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai disebuah pusat perbelanjaan mewah, Mawar masih enggan bersuara. Pikirannya terus berpusat pada ucapan sang bos tadi.
"Simpan rasa penasaran mu sebentar Mawar, kita belanja terlebih dahulu"
"Baik tuan"
🌻
Tidak biasanya Juna rewel ketika pagi, bayi yang semula anteng duduk pada bouncer nya merengek minta di gendong dan tidak mau lepas dari sang bunda. Cherry bingung, padahal ia harus segera membuat pesanan kue ibu-ibu arisan komplek depan untuk sore nanti.
"Sayang kenapa sih, ada yang sakit hm? ko rewel. Bunda disini sayang"
Cherry masih belum mengerjakan apapun, ia harus menenangkan Juna terlebih dahulu. Membawanya ke kamar, Juna masih menangis kencang. Bahkan Cherry sudah memberikan mainan yang sering Juna pegang namun bayi itu masih menangis sesegukan.
"Juna sayang, kamu kenapa? Jangan membuat bunda panik sayang"
Disela tangisnya, tangan mungil itu terus meronta. Menunjuk figura foto yang tertempel disana. Dan Cherry paham apa penyebab Juna menangis pagi ini.
"Rindu dengan ayah?" Cherry bertanya saat bertatap dengan mata suci anaknya. Tangannya mengambil figura yang tergantung ditembok kamar, lalu mengambilnya. "Ini ayah sudah disini, kau senang?" Cherry tersenyum, Juna langsung berhenti menangis dan tangan mungil itu terus mengusap foto tersebut.
Cherry tertegun melihatnya, air matanya mendesak keluar secara tiba-tiba. Dadanya terasa sangat sesak, kala menyadari sang anak begitu merindukan sosok ayahnya. Apa yang harus Cherry lakukan sekarang? Akankah ia kuat menjelaskannya ketika Juna sudah besar nanti?
Menghapus air matanya, Cherry membawa Juna keluar kamar dan meletakkannya kembali pada bouncer. Tidak lupa ditemani dengan figura kecil bergambar sosok tampan pujaan hatinya, Arjuna Alaric Rahardian.
"Ayah ada disini, kau senang?"
Lagi, bayi itu tertawa dan memeluk figura tersebut.
"Baiklah, kamu duduk yang anteng ya dan ayah akan menemanimu. Biarkan bunda membuat kue dahulu ya sayang, jangan rewel lagi."
Juna sudah anteng dengan ayahnya, ya meskipun hanya sebuah foto namun bayi itu tidak menunjukan protes. Cherry sendiri masih diam, menatap sang anak dengan perasaan terluka. Hatinya mencelos kala bibir mungil itu bergumam memanggil sang ayah. Air matanya semakin mendesak keluar, bahkan kata pertama yang terdengar dari mulut sang anak adalah 'Ayah' ya meskipun masih terdengar tidak jelas, Cherry masih bisa mengartikannya dengan yakin.
"Sangat rindu ayah rupanya. Apa bunda harus membawamu menemuinya? Tapi bagaimana dengan kakek dan juga nenekmu? Mereka membenci kehadiran kita. Bunda bingung, sayang"
__ADS_1
🌻
"Untuk siapa?" Tanya Arjuna saat melihat Mawar membeli beberapa pakaian balita dan juga sepatu. Perempuan itu juga membeli beberapa popok dan juga susu formula. Tidak mungkin kan itu untuk anaknya Bayu dan Grizelle, batin Arjuna.
"Untuk keponakanku, tuan" Sahut Mawar. Tangannya masih sibuk memilih beberapa setel pakaian hangat, karena akhir-akhir ini cuaca sangat tidak bersahabat. Kadang panas dan mendadak hujan.
"Kau mempunyai saudara disini?" Arjuna kembali bertanya. Ia jadi penasaran dengan keponakan yang mawar maksud.
"Tidak, dia hanya tetangga kontrakan ku. Anaknya sangat tampan dan lucu, jadi tidak masalah 'kan kalau aku membelikan beberapa pasang baju dan sepatu? hehe"
Arjuna tersenyum tipis, ia mengangguk pelan. Jujur, hatinya sedikit menghangat melihat bagaimana cara Mawar berbicara. Wanita itu cantik dan ya, Arjuna mengakui itu. Dia juga sangat suka terhadap anak kecil dan sifat ke-ibuan nya akan sangat terasa meskipun hanya melalui bahasa.
"Ambilah sesukamu Mawar, saya yang akan membayarnya."
"Tidak perlu tuan, uang saya cukup-"
"Jangan membantah dan pilih saja!" Final Arjuna tanpa ingin dibantah.
"B-baiklah" Mawar tidak bisa berkutik jika suara deep itu sudah terdengar.
Setelah semua keperluan sudah dibeli, mereka keluar dari pusat perbelanjaan tersebut dan melajukan mobilnya ke sebuah kawasan mewah di Jakarta Selatan.
Mereka turun dari mobil setelah menempuh kurang lebih setengah jam dari lokasi sebelumnya, berjalan berdampingan masuk kedalam mansion mewah milik keluarga Bagaskara.
Baru beberapa langkah kedatangannya sudah disambut hangat oleh beberapa keluarga yang sedang berkumpul diruang tamu. Di sana ada keluarga Bagaskara yang sepertinya baru datang dari Bandung dan juga Jogjakarta.
Ada juga keluarga Jovanka yang dari Amerika maupun Jepang. Sepertinya Arjuna datang di waktu yang salah, dia menjadi canggung dibuatnya. Apalagi disana sudah ada Arjuna, dia adik sepupunya Bayu yang dari Bandung.
Ck! Kenapa namanya bisa sama sih.
"Buset, baru ketemu lagi punya gandengan baru aja. Kemana tuh si ular Chelsea?" Celetuknya.
"Koit"
"Sadis amat!"
"Dah bocah minggir aja"
"Ck! Gue udah kuliah ya sekarang bang!"
Pemuda bernama Arjuna itu mendengkus, berlalu begitu saja dengan raut wajah yang menyebalkannya. Hih, Arjuna jadi ingin memukul kepalanya. Keponakan sahabatnya itu memang sangat menyebalkan.
"Lancar om, apa kedatangan Arjuna menganggu?"
Dasar pria, bisnis saja yang dibicarakan, sampai-sampai kedua pria itu melupakan sosok wanita dibelakangnya.
"Siapa dia, cantik sekali Jun? Kekasihmu?" Dan itu mana Raisha yang asal nyeletuk. Huh, sepertinya keluarga disini salah faham semua.
"Bukan Tante, dia sekretaris Juna" Papar Arjuna canggung. Bagaimana tidak, keluarga Bagaskara dan Rahardian terbilang sangat dekat, jadi apapun pasti mereka akan mengetahuinya.
Mawar tersenyum canggung kala wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu mendekat. "Menjelang siang Tante, saya mawar-"
"Calonnya Arjuna. Tante tau ko. Sekretaris? Cih! Embel-embel saja, mari duduk sayang"
Ya ampun, kenapa? Mawar tidak tahan lagi. Ia ingin berlari ke dalam hutan untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.
"Bukan tante-"
"Iya untuk sekarang bukan, tidak tau kan untuk besok dan selanjutnya."
Iyakan saja Mawar, wanita itu tidak akan berhenti berbicara kau tau.
Sebelum ke tujuan awal, dua tamu yang disangka sepasang kekasih itu mengobrol terlebih dahulu diruang keluarga dengan yang lainnya.
"Kalian belum melihat cucu kembar ku, naiklah" Itu Aiko yang menjawab. Wanita berdarah Jepang itu tersenyum, menyuruh Arjuna dan juga Mawar untuk langsung naik ke atas.
"Baik Tante, semuanya saya permisi"
Arjuna undur diri, menaiki anak tangga bersama Mawar yang mengekorinya. Sesampainya di pintu besar dihadapannya, Arjuna mendorong pintu bercat putih itu, "Halo ponakan, uncle handsome datang!" Ucap Arjuna begitu saja masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Bayu yang sedang damai menatap kedua putranya yang tertidur berdecak kesal, ingin sekali melempari pria berkulit Tan itu dengan remote AC disebelahnya.
"Berisik setan! Gimana kalau anak gue kaget terus nangis!"
"Eits, dilarang mengumpat! Ingat, sudah ada ekor dua harus lemah lembut" Peringat Arjuna seperti menggoda.
Grizelle memijat pelipisnya pusing. "Kambuh lagi gilanya" Gumamnya pelan. Namun atensinya teralihkan pada sosok perempuan yang memekik tak kalah berisik dari sang pria, membuat ketiga manusia yang melihat nya menggeleng tidak percaya.
"Astaga, apakah bayi-bayi ini adalah manusia? Kenapa mereka tampan sekali?"
Mawar ternganga melihatnya. Dua bayi tampan dihadapannya seperti tidak nyata, mereka terlalu tampan untuk ukuran seorang bayi manusia. Tetapi setelah melihat dan menyadari rupa orangtuanya, Mawar meringis pilu - ya, cetakan tidak akan pernah gagal, bukan? Apalagi adonannya berasal dari sesama serbuk berlian yang sangatlah berkualitas.
__ADS_1
Sangat menakjubkan!
Ibu nya yang cantik dan bule serta ayahnya yang - Jangan ditanya lagi, Mawar tidak sanggup mendeskripsikan nya seperti apalagi. Dia merasa berubah menjadi kentang busuk jika berada diantara Bayu dan juga Grizelle.
"Kakak pikir mereka hantu?" Seloroh Grizelle. Mawar berdecak, bukan begitu maksudnya!
"Mereka terlalu tampan untuk ukuran seorang bayi manusia" Celetuknya.
Grizelle terkekeh, "Berlebihan sekali kekasih kak Arjuna ini."
"Hey! Siapa yang kekasih siapa! Jangan mengada Grizelle."
"Ciyeee malu"
"Terserahlah. Selamat ya, sekaligus dapat dua." Ucap Mawar seraya meletakan beberapa kado disebelah Grizelle yang dibelinya tadi.
"Terima kasih kak Mawar. Seharusnya tidak perlu repot membawa banyak hadiah seperti ini."
"Tidak apa-apa Grizelle, mumpung ada yang mentraktir, aku pilih saja sesukanya tanpa berpikir"
Kedua perempuan cantik itu terkekeh geli. Mereka melirik dua pria tampan yang sedang mengobrol disofa sana.
"Pintar sekali wanita ini, kuras lah lebih dalam, uang dia tidak akan habis meskipun anaknya seratus dan masing-masing memiliki mobil sport mahal." Ujar Grizelle bercanda.
"Matre sekali didikan mu adik kecil" Mawar mencubit hidung Grizelle gemas. Keduanya memang sudah sangat dekat, meskipun baru beberapa kali bertemu, namun namanya juga perempuan asal ada topik pembicaraan maka tidak ada yang namanya rasa canggung.
"Bercanda kakak."
🌻
"Ada apa?" Tanya Arjuna heran, kenapa Bayu mengajaknya ke ruang kerja. Apakah ada sesuatu hal penting yang akan dibicarakan mengenai perusahaan? Wajahnya serius sekali.
Bayu mengambil minuman kaleng dalam kulkas kecilnya terlebih dahulu, lalu memberikannya pada Arjuna yang sudah duduk tenang di sofa sebelum memulai pembicaraan yang serius.
"Minum dulu"
Arjuna mengangguk, membuka tutup kaleng tersebut dan menenggak minuman bersoda dengan kadar alkohol 0 persen itu.
"Langsung aja sih" Titah Arjuna mulai penasaran.
"Grizelle liat Cherry saat kita ketemuan beberapa Minggu lalu" Ucap Bayu langsung pada intinya.
DEG!
Wajah Arjuna menegang, bohong jika ia tidak terkejut mendengarnya. Namun mengingat lagi rasa lelahnya mengejar wanita itu, Arjuna hanya menunjukan ekspresi biasa saja.
"Oh"
Melihat ekspresi datar dari sahabatnya, Bayu menaikan sebelah alisnya heran. Pria ber-dimple itu tidak percaya dengan respon yang ditunjukan sahabatnya.
"Oh doang? Loe gak mau nyari dia lagi? Dia udah Deket loh, Ar"
"Gue udah ngelepasin dia, bay"
"Tapi-"
Belum sempat Bayu menyelesaikan kalimatnya jika perempuan itu bersama anaknya yang masih hidup, Arjuna malah melenggang pergi keluar, meninggalkan Bayu sendiri dalam ruangan tersebut.
"Udahlah. Gue kira apa ngajak gue kesini. Lagian gue udah enggak perduli lagi"
Prank!
Cherry terkejut mendengar suara kaca pecah, ia yang sedang mengemasi kue ke dalam plastik menoleh ternyata Juna melemparkan figura sang ayah ke lantai. Wanita mungil itu langsung mendekati Juna, memeriksa seluruh badannya untuk memastikan tidak ada pecahan kaca yang mengenai tubuhnya.
"Kenapa sayang, kenapa kamu membuang foto ayah? Apa tidak sengaja melemparnya?"
Juna kembali menangis namun tanpa suara, bayi kecil itu hanya menunjukan bibirnya yang menukik ke bawah dengan air mata bening yang terus menetes. Cherry merasa sakit, dadanya seperti tertusuk sebilah pedang tumpul - begitu menyakitkan melihat wajah terluka pada sang putra. Entah apa penyebabnya, Cherry langsung membawa Juna kedalam pelukannya lalu membawanya ke kamar dan menyusuinya disana.
Dipandanginya mata jernih nan bulat itu, Cherry dapat merasakan kesedihan didalamnya.
"Apa yang membuat kamu sedih, sayang? Siapa yang membuat putra bunda yang paling bunda cinta ini terluka hm? Apa kamu marah karena bunda sibuk dan mengabaikan mu?"
Mata bening itu hanya mengerjap lucu, tangannya yang mungil mengusap-usap mata Cherry lalu bibir mungil itu tersenyum setelahnya.
"Abaikan semua yang membuat hatimu terluka sayang, cukup pandangi bunda, bunda yang selalu ada untuk melindungi kamu dan menyayangi kamu sepenuh jiwa. Kau hanya perlu mengingat itu."
Tidak lama setelah Cherry mengatakan itu, Juna tertidur pulas dalam pelukannya. Bibirnya sudah terlepas, Cherry beranjak pelan untuk melanjutkan aktifitasnya.
Sebelum keluar kamar, Cherry mengecup kilas dahi anaknya. "Tidak ada yang boleh membuat kau terluka, kau layak bahagia." Bisiknya sebelum benar-benar keluar. "Maafkan bunda karena kau terlahir dari rahim bunda yang tidak berguna ini."
__ADS_1
🌻