
Raisha menarik nafasnya dalam, agar emosinya tidak meledak. Sejak turunnya ia dari mobil lalu melihat putranya, entah kenapa rasanya ingin marah terus. Raisha berusaha tidak menggubris pertanyaan sang putra, ia terus berjalan dengan anggun melewatinya.
"Ma, Grizelle mana?!" Tanya Bayu sedikit keras, namun Raisha tetap mengabaikannya. "Ma!"
"Kamu pikir mama akan memberitahukan keberadaan putri mama sama kamu setelah apa yang sudah kamu lakuin ke dia?" Sahut Raisha masih biasa saja, ia terus berjalan menaiki anak tangga dan mengabaikan Bayu yang mengekorinya. "Tidak akan pernah! Kamu sudah keterlaluan!"
"Gak lucu ma, ini sudah seminggu mama nyembunyiin istri aku!" Masih berusaha membujuk Raisha. "Ma! Bayu mohon kasih tahu dimana istri aku sekarang, mama sudah melewati batas untuk ikut campur masalah kita. Mama gak berhak-"
"Apa kamu bilang?" Raisha mengentikan langkahnya, menoleh sarkas pada putranya. "Mama gak berhak?" Ulangnya lagi. "GRIZELLE PUTRI MAMA KALAU KAMU LUPA. SEORANG IBU TIDAK AKAN MEMBIARKAN PUTRINYA DILUKAI OLEH SIAPAPUN, TERMASUK KAMU, SUAMINYA SEKALIPUN!"
Akhirnya emosi yang ditahannya daritadi meledak juga, Raisha sungguh marah kepada putranya, sebagai seorang ibu dirinya benar-benar malu terhadap menantunya.
"Siapa yang melukai sih ma, Bayu cuma gak sengaja bentak dia. Tapi mama malah membesar-besarkan masalah. Dan soal Airin, jujur Bayu hanya mau membantu ibu nya yang sedang sakit parah, itu aja tidak lebih!"
"Atas dasar apa kamu ingin membantu?" Pertanyaan tersebut nyatanya membuat Bayu kelu, ia terdiam seakan membisu. "Atas dasar kamu masih mengharapkan perempuan itu, begitu?" Imbuh Raisha.
Tentu bukan, sebagai teman Bayu hanya menyayangkan Airin bekerja seperti itu. Lagipula Bayu juga tidak menaruh perasaan seperti dulu, setelah mengetahui perempuan itu berubah. Dan cintanya sekarang hanya untuk Grizelle seorang, tidak ada yang lain.
"Gak bisa jawab kan kamu!"
🌻
"Lihat, apa yang aku dapatkan hanya sekali bertemu dengannya" Wanita itu berseru, seraya mendudukkan dirinya pada sofa mewah berwarna putih apartemennya.
Selembar kertas dengan tertulis nominal uang berjumlah fantastis ia simpan diatas meja, membuat wanita paruh baya dihadapannya tersenyum girang. "Wow! Ini sangat banyak sekali, cukup untuk mommy liburan ke Paris selama seminggu. Bahkan kita bisa shopping disana" Lalu mencium beberapa kali check tersebut. Ia menyesal, kenapa tidak dari dulu saja menyuruh putrinya untuk mendekati pria itu, jadi kan ia tidak perlu pusing setelah bangkrutnya perusahaan suaminya dulu.
Dulu Sonia tidak begitu menyukainya karena dia tidak sekaya sekarang, dan Sonia sangat menyesal karena itu. "Bagaimana kau mendapatkannya, apakah istrinya ada disana?" Imbuh wanita itu.
Airin mendesah, menyenderkan punggungnya yang terasa pegal. "Aku menjual nama mommy, hehe. Aku bilang mommy sedang sakit parah dan itulah hasilnya. Dia juga menyuruhku untuk berhenti menjadi wanita 'Malam'." Airin terkekeh pelan, tidak mungkin ia melepaskan pelanggan-pelanggan nya yang sangat kaya itu. Namun ketika mengingat wajah istrinya Bayu, Airin menjadi kesal. "Istrinya sangat cantik mommy, aku benci melihatnya" Ucapnya dengan sebal.
Sonia mendekat, mendudukkan dirinya disebelah putri satu-satunya, berusaha untuk menghibur. "Airin mommy juga sangat cantik, banget malah. Buktinya dia memberikanmu uang yang sangat banyak, meskipun kalian baru bertemu lagi"
Benar apa yang dikatakan mommy Sonia, tetapi jika Airin tidak bisa memilikinya tetap saja. "Aku tetap tidak ada apa-apanya kalau tidak bisa memiliki dia, mommy"
"Kenapa kau tidak merebutnya?" Usul Sonia.
Airin tersenyum miring, menyenderkan kepalanya pada pundak sang mommy. "Aku akan melakukannya mommy, lihat saja! Dalam waktu dekat ini aku akan membuat Bayu menjadi milikku"
__ADS_1
"Ini baru Putri mommy, Airin Vigatama"
🌻
"Mas, aku kangen banget"
Malam itu Grizelle tidak bisa tidur karena perutnya terasa tidak enak. Rasanya sangat kencang dan berdenyut ngilu sekali. Biasanya jika perutnya seperti itu, suaminya akan sigap mengusap-usap perutnya sampai ia tertidur pulas, namun sekarang ia harus kuat menahannya.
"Baby pengen di elus-elus sama kamu" Tidak terasa air matanya tumpah, bersama kerinduan yang begitu dalam. "Aku juga pengen dipeluk sama kamu, mas"
Mengambil ponsel yang mama Raisha belikan, Grizelle bimbang harus menelpon suaminya atau tidak, ia sangat bingung dengan perasaannya. "Tapi kalau aku telpon nanti aku keceplosan ngasih tahu tempat dimana aku sembunyi" Padahal mama Raisha sudah berusaha menyembunyikannya, agar suaminya itu berpikir.
"Aduh sayang, makin kenceng aja perasaan. Mommy ngilu banget"
Lagi-lagi perutnya terasa ngilu, seakan sang bayi menyuruh Grizelle untuk menelpon Daddy nya. "Oke-oke sayang, kita telpon Daddy ya? Tapi ini udah jam 11 malem loh sayang, Daddy pasti lagi tidur"
Berjalan menuju kamar dengan sambungan telpon yang belum terhubung, Grizelle memilih duduk disebuah sofa empuk disana.
"Hello"
Suara perempuan, malam-malam begini?
Siapa?
Suara mama Raisha tidak seperti ini, mbak Khanaya juga bukan, lantas siapa? Akhirnya Grizelle memutuskan untuk mematikan telponnya. Jantungnya bergemuruh kuat dengan dada yang begitu sesak. Pikirannya sudah menjelajah entah kemana.
...**Suatu saat, aku berharap akan lenyap dari dunia ini. Seluruh dunia tampak sangat gelap, dan aku menangis setiap malam. Apakah kau akan baik-baik saja jika aku menghilang dari segalanya?...
...Aku begitu takut dengan semua kenyataan ini. Selama hari-hari tanpamu, aku begitu kesakitan. Aku membenci diriku sendiri karena tidak bisa bersikap tegas....
...Aku harus apa, harus melakukan apa?**...
"Siapa yang menelpon?"
Airin tersentak dengan suara dingin dibelakang tubuh nya. Ia menoleh, terenyum canggung bersamaan dengan pria itu yang duduk kembali dihadapannya setelah kembalinya dari toilet.
Pyuh! Untung saja ia sudah menyimpan kembali ponselnya kembali, nomor tanpa nama yang sempat menelpon juga sudah ia hapus dan tidak mungkin jika pria itu mengetahui kalau dirinya sudah lancang menyentuh ponselnya.
__ADS_1
"Itu ponsel aku yang bunyi ko. I-iya ponsel aku" Kilah Airin gugup.
Pria itu berdecih dalam hati. "Kadang tupai yang pandai meloncat saja akan tiba saatnya untuk terjatuh!" Batinnya. Bagaimanapun Airin yang dulu tidak sama dengan yang sekarang, ia harus mewaspadainya, meskipun ia akui merasa iba terhadapnya.
Duduk saling berhadapan disebuah restoran privat, Airin mengajaknya bertemu disini setelah menelponnya tadi.
"Langsung pada intinya saja Airin, hal penting apa yang ingin kamu katakan?" Tanya pria itu begitu dingin.
"Mommy Sonia akan di oprasi, uang yang kamu beri kemarin hanya cukup untuk pengobatannya saja" Ujar Airin terus terang.
"Berapa?"
"1 M. Itu sudah termasuk biaya perawatannya"
Airin bersorak dalam hati ketika Bayu mengeluarkan cek dan menulis nominal yang disebutkannya tadi. Dirinya tidak menyangka jika akan semudah itu meminta uang kepadanya.
"Cukup?"
"I-iya, sangat cukup"
"Wah, ini sih bisa jalan-jalan ke berbagai negara dan shopping sepuasnya. Hihi, mommy pasti sangat bahagia" Batinnya.
"Di rumah sakit mana ibumu akan melakukan operasi?" DEG! Sial, Airin tidak terpikir sampai sejauh itu, dan kenapa juga Bayu harus menanyakannya. "Aku ingin berkunjung dan melihat ibumu" Imbuhnya santai.
"Eu- Aku lupa nama rumah sakitnya, tapi jika kau mau besok aku akan mengajakmu kesana" Usul Airin. Ah bodoh sekali! Bagaimana Airin menyiapkan rumah sakit hanya dalam semalam, dan bagaimana dia mencari dokter untuk diajaknya bersandiwara?
"Baiklah, besok jam 8 pagi"
What? Kenapa pagi sekali, bahkan Airin belum bangun dari tidurnya. "B-baiklah" Sahutnya gugup.
Semalaman Grizelle tidak bisa tidur. Pikirannya terus bertanya-tanya siapa wanita yang menjawab telpon pada ponsel suaminya. Apakah dia Airin, wanita yang pernah seseorang kirimkan foto nya beberapa hari lalu?
Meremat kain yang menghalangi perutnya yang mulai terlihat membuncit, Grizelle kembali menangis. Kenapa semuanya terjadi disaat kebahagiaan ini hadir diantara mereka. Anaknya, buah cinta dari kisah manisnya bersama guru tampannya.
"Aku harus pulang. Iya, besok aku akan kembali ke Jakarta. Aku harus mendengar langsung dari mulut mas Bayu!"
...Jangan emosi dulu, siapa tahu cuma prank kan? wkwk...
__ADS_1