I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
Episode 28 - SKORSING


__ADS_3

"Kamu tau apa maksud saya memanggil kamu kesini?"


Pria berkemeja hitam itu bertanya, dingin. Tatapannya sukses membuat Fiona merasa terintimidasi. Dia akui, guru itu lebih menyeramkan dibanding dengan yang lainnya.


Pantas jika pemilik sekolah tersebut menempatkan nya dalam posisi cukup penting disekolah ini.


"Tapi saya tidak sengaja, pak!" Jelas Fiona dengan suara lantang, seakan melawan sorot matanya yang tajam itu dengan suara tegasnya.


"But you got in the way of his feet, apa itu yang namanya tidak sengaja? many witnesses if you forget"


Hendry tersenyum miring, wajah Fiona mendadak pias. Dan Hendry selalu puas jika tokoh yang ia bidik selalu berada tepat sasaran.


"Terserah, saya benar-benar tidak sengaja dan itu diluar rencana saya!"


"See? jika sudah terencana itu bukan ketidaksengajaan Fiona" Pria berdarah campuran Indonesia - Chicago itu terkekeh. "Saya tidak tau motif apa kamu melakukan itu terhadap temanmu sendiri but, itu sangat tidak pantas untuk menyelesaikan suatu masalah. Beruntung saya bukan pemilik sekolah ini, jika iya, saya sudah memasukan kamu kedalam catatan hitam diseluruh sekolah di Asia. Teman kamu itu terlalu baik setelah apa yang sudah kamu lakukan terhadapnya. Jadi, kamu hanya mendapatkan peringatan untuk merenungi semua kesalahan kamu selama seminggu" Imbuhnya.


Fiona tidak terima, baru akan melontarkan protes, suara ketukan pintu membuat ia harus menelan kembali kalimatnya.


"Papa?!"


Wajah Fiona mendadak pucat melihat orang paling ditakutinya berada disini, dihadapannya. Seharusnya ia sudah menduga jika mereka pasti memanggil orangtuanya.


PLAK!


Sudut bibirnya berdarah, Fiona menatap sang ayah dengan terluka. Ini bukan kali pertama dirinya mendapat perlakuan kasar dari sang ayah, Fiona tidak ingin mengingatnya.


Setetes air mata melaju melewati pipi. Rasa perih ini tidak sebanding dengan rasa perih dalam hatinya, "Papa tidak pernah mengajarkan kamu bertingkah seperti ini" Sarkas Affandy dengan segala emosinya.


"Mengajarkan?" Fiona tertawa, mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Dia melanjutkan kalimatnya, "Kapan papa ada waktu untuk mengajarkan atau memperhatikan aku? Kalian tidak pernah ada dirumah, kalau kalian lupa. Perusahaan lebih penting dari segalanya, sampai kalian melupakan kalau aku ada!"


Affandy terdiam, hatinya mencelos ketika mendengar untuk yang pertama kali putrinya mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya sekarang. Sang ibu pun sama, Finny tidak menyangka jika Fiona merasa terluka saat dia selalu berkata 'Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri' saat mereka sering pergi keluar kota untuk pekerjaan.


Hendry sendiri sudah menduga dan menyimpulkan jika kelakuan buruk Fiona hanya bentuk rasa kesepiannya.


Pria itu berjalan keluar, meninggalkan keluarga kecil itu untuk menyelesaikan masalahnya.


Wanita itu mendekat, memperhatikan wajah putrinya dengan lekat. "Maaf karena tidak memperhatikan kamu, sayang. Tapi ini salah, kamu mencelakai temanmu sendiri Fiona"


"Dan aku tidak sengaja, ma. Aku hanya bercanda" Fiona mulai menangis, ia selalu lemah jika berhadapan dengan sang ibu.


"Bercanda kamu bilang?!" Affandy mendekat, menatap nyalang pada putrinya. "Kamu tau, gara-gara kamu yang telah mencelakai calon istrinya, perusahaan papa nyaris bangkrut!" Imbuhnya.


Fiona bingung, calon istri siapa yang papanya maksud.


"M-maksud papa?'


"Grizelle Jovanka calon istri dari Bayu Aji Bagaskara!"


BRENGSEK!


🌻


"Kamu yang sabar sedikit dong Bayu, itu Grizelle nya belum benar-benar sembuh loh" keluh mama Raisha kepada putranya yang terus meminta agar acara pertunangannya tetap dilaksanakan besok. "Gak kasihan kamu? Keluarga besar kita itu banyak yang mau ikut, pasti bakalan lama selesainya" Imbuhnya.


Sebenarnya Grizelle sudah lumayan sembuh, lukanya juga sudah kering hanya sedikit ngilu saja jika terlalu banyak bergerak, jadi dia tidak merasa keberatan jika acaranya tetap dilakukan sesuai rencana yang telah ditentukan.


"Iya nih kek bocah aja harus langsung terpenuhi" Timpal papa Theo setengah meledek.


Mencebikkan bibirnya kesal, saat semua meledeknya. Pria itu bersandar disebelah Grizelle. Menyenderkan kepalanya nyaman pada pundak gadisnya. Mulai bertingkah diluar sikap dewasanya.


"Mau tunangan saja ngebetnya minta ampun," Celetuk Samuel meledek, "kenapa tidak sekalian saja kalian menikah?" Imbuhnya yang mendapat pelototan tajam dari Grizelle.


"D-daddy jangan bercanda. A-aku masih sekolah loh!" Tolak Grizelle.


Yang benar saja! Mengurus dirinya sendiri saja Grizelle masih belum benar, apalagi mengurus suaminya nanti. Setidaknya berikan dia waktu sampai lulus untuk mempelajari bagaimana menjadi seorang istri yang baik agar suaminya nanti tidak menyesal menikahinya.

__ADS_1


"Why not, you guys can hide your identity as long as you haven't graduated"


Bayu mendongkak, menatap wajah Grizelle dengan tersenyum puas. Seakan mendapat persetujuan atas permintaannya beberapa Minggu lalu. Kalau sudah mendapat ijin untuk langsung menghalalkan, kenapa harus dulu bertunangan?


"J-jangan macam-macam ya mas!" Ancam Grizelle cemas. Ia tau pria itu akan melakukanya jika dirinya tidak segera mencegahnya. Tidak lucu kan kalau ada berita 'Calon mempelai wanita melarikan diri karena belum siap'


"Apa? Mas diam terus loh"


"Tapi gelagat kamu keliatan licik tau gak!"


🌻


Sudah tiga hari Grizelle tidak bersekolah dan sudah tiga hari juga gadis berambut coklat terang itu merasa bosan. Beruntung dia mempunyai sahabat yang selalu datang menemaninya setiap hari, ditambah dengan teman-teman sekelasnya yang kelewat perduli jadi, ia tidak merasa kesepian lagi.


"Terimakasih ya semuanya. Padahal kalian tidak perlu repot-repot seperti ini" Grizelle berkata kepada teman-temann yang datang menjenguknya. Mereka kini sedang bersantai dengan berbagai cemilan dan minuman yang telah disuguhkan.


"Enggak repot ko, seneng malah jadi bisa maen kesini"


Jelas! Apalagi rumahnya sangat besar, bahkan mereka menyebutnya istana raja dalam dongeng. Ditambah lagi dengan fasilitas kamar Grizelle yang mewah, sehingga mereka merasa betah.


"Tau gak beberapa hari lalu gue denger dari ruangan BK kalau si Fiona diskorsing selama satu Minggu, terus perusahaan bokapnya mendadak kolep gitu"


"Serius?"


"Iya!"


"Mamposs! karma seorang anak tukang bullying"


"Gue sih ngarepnya dia dikeluarin tapi katanya kamu yang gak mau dia keluar" Megan berkata, menatap Grizelle untuk mendengar alasannya "Kenapa, Griz?" Imbuhnya.


Memang, setelah dia sadar, Grizelle memang meminta kepada Bayu untuk tidak membesarkan masalah yang sedang terjadi. Dia juga melarang Bayu yang berkata akan mengeluarkan Fiona karena kelakuannya sudah melanggar peraturan. Namun Grizelle mengatakan jika itu tidak adil dengan masa depannya, karena sayang sekolah tinggal beberapa bulan lagi.


"Aku mau mengajak dia untuk berteman"


"APA?" Teriak teman-temannya bersamaan.


Grizelle mengangguk. Ia yakin jika sebenarnya Fiona tidaklah jahat seperti yang terlihat. Maka dari itu, Grizelle ingin lebih dekat dengan gadis berambut sebahu itu.


"Gila kamu! you know she's a psychopath?!"


"Dia enggak seburuk itu, aku yakin, Megan"


Megan menggelengkan kepalanya, "Gak ngerti sama jalan fikiran kamu, sumpah! Kamu terlalu baik makanya she feels free to hurt you"


"Kamu percaya sama aku, dia cuma butuh orang dekat untuk menceritakan hidupnya"


"Terserah kamu aja, aku gak yakin sama keputusan kamu"


Apalagi Megan tau kedekatan Grizelle dengan anak dari pemilik sekolah, yang juga adalah incaran Fiona.


MY COLD TEACHER :


[Apa mereka masih ada?]


^^^Me :^^^


^^^[Sebentar lagi pulang, sabar ya?]^^^


MY COLD TEACHER :


[Okay! Mau mas bawakan apa?]


^^^Me :^^^


^^^[Beli bolen aja 20 bungkus, buat teman-teman aku. Nanti mas simpan didapur] ^^^

__ADS_1


MY COLD TEACHER :


[With pleasure, my dear]


Grizelle terkekeh pelan membaca pesan terakhir yang calon suaminya kirimkan, Megan yang duduk disebelahnya tidak sengaja sedikit melihat lantas bertanya, "Siapa?"


"Mas pacar, hehe"


"Tell me! But, kamu kan lagi Deket sama," Megan mendekatkan wajahnya, berbisik disebelah telinga Grizelle karena khawatir jika teman-temannya mendengar "Pak Bayu. Lalu gimana kedekatan kalian?"


"I don't know"


Megan tidak puas dengan jawaban Grizelle, dia beringsut semakin merapatkan tubuhnya dan kembali berbisik. "Ayolah Grizelle, aku itu orang paling tepat untuk menjaga rahasia" Ucapnya pelan.


Grizelle tertawa, sahabatnya yang satu ini memang paling tidak bisa diam jika rasa penasarannya mencapai level tertinggi.


"Lihat nanti aja ya, sebentar lagi dia datang. Kamu jangan pingsan, jangan naksir juga!"


"Idih Mon maaf nih ya kepada ibu Grizelle yang cantik jelita, bang Bryand segalanya"


"HAHAHAHA"


🌻


"Kamu membawa apa, nak?" Tanya mommy Aiko ketika melihat Bayu meminta bantuan kepada maid untuk membawa banyak sekali bungkus makanan ke dapur.


"Bolen mom, buat teman-temannya Grizelle. Buat mommy sama yang lain juga sudah Bayu pisahkan"


"Terimakasih ya?"


"Sama-sama, mereka belum pulang ya?"


"Belum. Kamu mau langsung ke atas?"


"Enggak, nanti mereka pingsan liat Bayu disini"


"Oh iya, mommy lupa"


Akhirnya Bayu menunggu diruang tv. Sambil menunggu teman-teman Grizelle pulang, ia mengambil iPad nya dan memeriksa beberapa pekerjaan disana.


"Tante kita pulang dulu ya, terimakasih atas makanan nya"


Bayu sedikit mengintip dari balik sofa yang didudukinya, ia melihat teman-teman Grizelle sedang berpamitan.


"Sama-sama semuanya. Oh iya, tadi pacarnya Grizelle bawa ini untuk kalian, dibawa ya untuk dirumah" Aiko memberikan bingkisan bertuliskan 'Kartika Sari' itu satu-persatu. Memeriksa jika semuanya sudah kebagian. Mereka yang menerimanya mengucapkan banyak terimakasih sebelum akhirnya berpamitan untuk pulang.


Setelah memastikan mereka sudah pergi semua, Bayu menutup iPad nya dan berjalan menuju kamar dimana gadisnya berada.


"Sayang"


Grizelle menoleh, begitupun dengan Megan yang sedari tadi dibuat kesal karena Grizelle tidak mau memberitahukan nya. Gadis berkuncir kuda itu terkejut, ternyata 'Mas pacar' yang Grizelle maksud itu adalah gurunya.


Bayu mendekat, mengusak Surai coklat terang gadisnya lalu mendaratkan ciuman pada pucuk kepalanya.


"Baru datang?" Tanya Grizelle.


"Mas ngumpet dulu tadi, takut pada pingsan"


Grizelle tertawa, menyuruh prianya duduk. Sedangkan Megan, gadis berkuncir itu masih diam, melihat keuwuan yang membuat hatinya iri dan juga dengki. Grizelle yang melihatnya berkata, "Meg, katanya mau kenalan?" Ucap Grizelle sambil tertawa pelan. Dia luas karena membuat Megan penasaran.


"Gak perlu!"


"HAHAHAHA"


🌻

__ADS_1


\={R E V I S I}\=


__ADS_2