
Menjadi seorang CEO dan juga pemilik perusahaan nyatanya tidak membuat seorang Bayu Aji Bagaskara bisa bersantai diwaktu liburnya.
Lihatlah sekarang, banyak berkas-berkas penting yang harus ia periksa. Pagi-pagi sekali juga dirinya harus berangkat ke kantor yang seharusnya ia gunakan untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya, Grizelle.
Argh! menyebalkan sekali.
Melirik sekilas arloji yang melingkar sempurna pada pergelangan tangannya, Bayu kembali mengambil dan memeriksa pekerjaannya. Ia harus cepat menyelesaikannya, tidak perduli kalau dirinya belum makan siang.
Atensinya dari berkas sedikit teralihkan oleh suara pintu terbuka, pria berlesung pipi itu hanya menatapnya sekilas kemudian melanjutkan kembali pekerjaan nya tanpa terganggu oleh kedatangan tangan kanannya yang membawa beberapa paper bag.
"Makan siang dulu"
"Hm"
Berdecak kesal, pria yang berstatus tangan kanannya itu merebut tumpukan berkas dan memasukannya ke dalam map, membuat Bayu berdecak kesal.
"Tidak ada bantahan, bos!"
Mau tidak mau Bayu beranjak dari kursi kebesarannya, menghampiri pria yang bernama Andra itu. Tanpa berkata apapun, Bayu membuka isi paper bag tersebut dan mulai menyantap makanan yang dibawakannya tadi.
Cukup waktu sepuluh menit saja semua makanan yang Andra bawa ludes seketika. Andra yang melihatnya hanya ternganga, dia saja baru menghabiskan setengahnya.
"Cepat habiskan dan keluar!"
Ya tuhan jika membunuh manusia tidak berdosa, Andra yang sudah merencanakan jika ditanya siapa orang yang paling ingin dilenyapkan nya, Andra akan menjawab dengan lantang yaitu bos nya yang menyebalkan.
"Hais~ Bukannya terimakasih malah ngusir!"
🌻
Sudah lewat jam makan siang, namun tunangannya itu belum mengabarinya sama sekali. Grizelle bosan, ia ingin pergi dari kamarnya dan berjalan-jalan kemanapun asal keluar tetapi tunangannya itu menghilang tanpa kabar.
Kesal, jelas! Dia yang sudah dikuasai kebosanan mengambil benda berbetuk pipih dengan logo Apple tergigit setengah itu dan menelpon seseorang untuk datang ke rumahnya.
"Ke rumah sekarang!"
Tanpa menunggu jawaban dari orang yang berada diseberang sana, Grizelle mematikannya sepihak. Tidak perduli jika orang tersebut terus mengeluarkan mantra-mantra cantiknya karena acara bersantai nya telah terganggu.
Sepuluh menit menunggu dengan ditemani game, akhirnya orang yang di telponnya muncul juga. Umpatan cantik untuk Grizelle tidak tertinggal, namun cepat berganti dengan pekikan mengejutkan karena merasa aneh. Pasalnya Grizelle itu jarang sekali mengajaknya keluar.
"Kerasukan apa?"
Sontak pertanyaan dari sahabatnya itu menyulut kembali emosi Grizelle yang tengah kesal dengan tunangannya. Gadis yang sedang berganti baju itu mendelik kesal.
"Reog!"
Megan yang sedang membaca majalah berdecih, menatap malas Grizelle yang sudah duduk dihadapannya.
"PMS ya?"
Tanpa menjawab apapun, Grizelle mengambil tasnya. Lalu menarik sahabatnya itu untuk segera pergi.
"Jangan banyak bicara, Megan!"
Hari ini cuaca cukup panas, Grizelle terlalu malas membawa mobil sendiri makanya dia menyuruh Megan ke rumahnya. Rencananya hari ini mereka akan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan milik salah satu keluarganya, mungkin dengan berbelanja atau hanya sekedar jalan-jalan bisa meredam rasa kesalnya.
"Kenapa sih?"
__ADS_1
Megan bertanya karena sedari tadi sahabatnya itu terlihat kesal sekali.
"Guru kamu enggak ada kabar sama sekali, padahal sudah janji ajak makan siang!"
Oh jadi ini penyebab tuan putri Grizelle uring-uringan terus dari tadi. Megan tidak tau jika pengaruh guru tampan yang telah resmi menjadi tunangan sahabatnya itu begitu berpengaruh bagi mood seorang Grizelle.
"Jangan seperti anak kecil, CEO's job is not easy"
Benar juga apa yang Megan katakan, tetapi memberi kabar tidak akan menyita seluruh waktunya bekerja 'kan? Grizelle kan jadi kesal.
"Tapi-"
"Hey! Kita mau bersenang-senang, jangan pasang wajah seperti itu. Cukup cuaca saja yang membuat aku kesal, kamu jangan!"
Grizelle cemberut, kadang Megan itu bisa terlihat sangat galak meskipun wajahnya yang manis tidak mendukung sifat aslinya, kadang juga terlihat menyebalkan. Tetapi meskipun begitu, Grizelle sangat bersyukur mempunyai sahabat sepertinya.
"Iya-iya, galak sekali pacarnya Bryand Orlando"
Eh ngomong-ngomong soal pemuda ter-playboy seantero Saint Peterson itu dan sialnya dia adalah kekasihnya, Megan jadi ingat kejadian kemarin saat berlibur ke Ancol. Kekasihnya secara tidak sengaja melihat guru - anak dari pemilik sekolah itu sedang bersama seorang perempuan.
Megan yang sedang makan hampir mati tersedak karena Bryand mengajaknya untuk menghampiri guru tersebut. Namun dengan bakat akting dadakan seorang Megan, Bryand tidak jadi menghampirinya.
"Tapi kemarin kalian hampir saja ketahuan sama dia"
Grizelle yang sedang bergelayut manja memeluk sebelah tangan Megan mendongak, menatap wajah Megan dengan riak kebingungan.
"Maksudnya?"
"Si Bryand liat kalian pas kemarin di Ancol"
APA?!
Grizelle penasaran. Semoga saja kekasih sahabatnya itu tidak menyadari jika itu dirinya, karena kalau sampai Bryand tau, bisa-bisa seluruh rakyat Saint Peterson beserta para fans tunangannya bisa mengamuk.
"Untungnya aku pinter akting, pura-pura sakit perut gak buruk juga untuk pengalihan isu" Dan Megan juga menceritakan bagaimana dia dibawa ke rumah sakit oleh kekasihnya itu, lalu berakhir dengan Megan yang menyuruh sang dokter untuk berpura-pura mengatakan bahwa dirinya mengalami diare berat.
Suara tawa dalam mobil itu seketika pecah, Grizelle memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa. Sedangkan Megan hanya memasang wajah kesal, karena ide mendadak demi melindungi sahabatnya itu dia menjadi kesusahan sendiri.
"Ututututu~ Makasih ya sahabatku yang paling wow!"
Akhirnya setelah satu jam terkena macet, mobil berwarna kuning yang membawa keduanya telah sampai pada tujuan. Megan menyuruh kepada seseorang untuk memarkirkan mobilnya di parkiran VVIP, parkiran yang dikhususkan hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Setelah itu keduanya masuk ke dalam, membeli beberapa barang keperluan maupun yang diinginkan. Grizelle juga membeli beberapa dasi untuk tunangannya, begitupun Megan yang membelikan sepatu basket untuk kekasihnya.
"Lapar gak?" Tanya Megan.
Mereka berjalan keluar toko tersebut, berjalan menuju resto yang tidak jauh dari sana. Grizelle yang masih ingin berbelanja menoleh lalu mengangguk karena perutnya juga sudah mulai minta di isi.
"Makan dulu deh, tapi aku mau beli kemeja dulu. Kamu duluan aja, pesan makanan dulu" Kata Grizelle yang disanggupi oleh Megan.
Akhirnya mereka berpencar, Megan menuju resto dan Grizelle memasuki toko baju ternama disebelahnya.
"Semoga kemeja itu belum ada yang membelinya"
Grizelle tersenyum lebar melihat baju incarannya ternyata masih terpajang rapih, namun ketika ia akan mengambilnya, tangan yang lain juga sama akan mengambilnya membuat Grizelle menoleh kesal. Tidak tau apa bahwa dia yang memegangnya lebih dulu.
"Maaf Tante cantik, tapi aku lebih dulu mengambilnya"
__ADS_1
Mendapat panggilan yang terkesan tua kepada dirinya, wanita yang dipanggil Tante itu mendengus kesal. Bahkan tatapan terkesan mengajak Grizelle untuk bertarung.
"Tetapi saya yang lebih dulu melihatnya!"
Wanita berambut hitam itu merebut kemeja tersebut dari tangan Grizelle dan tentu Grizelle tidak terima dan kembali merebut kemeja tersebut.
"Melihat bukan memegang dan saya yang lebih dulu memegangnya!" Grizelle membalas tak kalah sengit. Menatap kesal pada wanita yang lebih tinggi darinya itu sebelum akhirnya pergi dari sana meninggalkan wanita yang meneriakinya itu.
"Hey jangan kurang ajar kamu ya! Sialan!" Teriak wanita itu kesal, mengundang atensi beberapa pengunjung yang sedang memilih juga.
Baru saja dirinya akan mengejar gadis tersebut, dering pada ponsel mengurungkan niatnya dan memilih mengangkat telpon tersebut.
"Where are you now?!"
Wanita itu sedikit menjauhkan ponselnya ketika mendengar teriakan dari seseorang diseberang sana. Ia berdecak, lalu mendekatkan kembali benda pipih tersebut pada telinganya.
"Mall, ada apa Carol?" Sahutnya malas.
"Waktu mu kembali hanya dua puluh menit dari sekarang, Monica!'
Sambungan telponnya terputus begitu saja sebelum wanita yang bernama Monic itu menjawab. Sialan! Managernya itu selalu saja seenaknya menganggu waktunya bersantai. Tidak bisakah sehari saja membiarkan Monic menikmati waktu senggangnya?
Sementara itu, Grizelle yang sudah selesai membayar barang belanjaannya segera menghampiri Megan yang sudah menunggu di restoran sebelah.
"Ngobrol sama siapa tadi?" Megan bertanya karena sempat melihat Grizelle mengobrol dengan seorang wanita. Sepertinya bukan orang Indonesia asli.
"I didn't know, he took my coveted clothes!" (Aku tidak tahu, dia merebut baju incaranku) Sahutnya acuh namun sedikit kesal, "Untung aku pintar" Imbuhnya.
Megan hanya mengangguk saja menanggapinya dan tidak mau bertanya lagi karena mulutnya sudah sangat ingin menyantap hidangan yang sudah dipesannya tadi dan akhirnya mereka mulai menyantap makan tersebut dengan diiringi celotehan menggelikan keduanya.
Megan menatap Grizelle yang membiarkan ponselnya terus berdering. Dia menyuruh Grizelle untuk mengangkat telpon dari id yang bernama 'Calon suami' terlebih dahulu.
Sebenarnya Grizelle masih kesal dan sangat malas, namun melihat ponselnya terus berbunyi bahkan ratusan pesan memenuhi room chatnya, dengan malas Grizelle menggeser tombol hijau tersebut.
"Halo sayang"
"Apa?" Jawab Grizelle malas.
"Marah ya? Maaf ya mas sibuk banget sayang"
"Tidak, iya gak apa-apa"
Mendapat respon datar dari tunangannya, diseberang sana Bayu mendadak gelisah. Pria kelahiran February itu berdiri, mengambil jas lalu memakainya.
"Mas jemput sekarang, ya?"
"Tidak usah, lagian aku lagi enggak di rumah"
Gerakan langkahnya yang ia susun untuk keluar dari ruangannya terhenti. Bayu memberitahukan kepada Andra bahwa dirinya akan pulang terlebih dahulu sebum akhirnya memasuki lift.
"Kamu dimana sekarang?"
"Di mall xx sama Megan"
"Oke. Tunggu mas disana, jangan kemana-mana. Sepuluh menit lagi mas sampai"
🌻
__ADS_1
\={R E V I S I }\=