
Happy reading
🌻
"Ada apa?" Rey bertanya. Laki-laki itu hanya menengok sebentar lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Rasa gugupnya tidak bisa ia sembunyikan jika terus menatap gadis itu. Baru kali ini jantungnya bereaksi berlebihan pada wanita yang baru dilihatnya, bahkan dirinya saja belum berkenalan secara resmi.
"A-aku disuruh kesini buat minta hukuman" Griz berdiri menunduk, meremas jari-jarinya karena takut. Doa dalam hati selalu ia panjatkan, "Semoga hukumannya engga disuruh bersihin toilet" ucapnya penuh harap.
"Hukuman, karena?" Rey heran. Ia menyimpan kameranya pada kursi yang ada disana lalu menghampiri gadis yang terus menundukan kepalanya.
"Name tag aku hilang kak, jadi kak Sisil nyuruh aku minta hukuman sama kakak" Ujar Griz. Sebenarnya Griz juga tidak begitu paham, kenapa perempuan itu menyuruhnya untuk menemui Rey. Padahal bisa saja 'kan perempuan itu yang menghukumnya.
Tapi entahlah, turuti saja dan jangan membantah.
DEG
Rey berdehem, lalu melirik tasnya yang tertindih kamera miliknya, didalamnya ada name tag gadis itu yang sengaja atau tidak dirinya simpan, dan karena ulahnya gadis itu dihukum, ia jadi tidak tega.
Tapi, ada bagusnya juga Sisil menyuruhnya kesini dan membiarkan gadis itu meminta hukuman pada dirinya.
"Menurut kamu hukuman apa yang pantas untuk Maba yang tidak taat pada peraturan?" Tanya Rey dingin, matanya yang tajam membuat Griz tidak berani untuk melihatnya.
"Hm, asal jangan bersihin kamar mandi aja kak" Ups! Griz menutup mulutnya yang telah lancang menawar agar diberi keringanan untuk hukumannya. "Ogeb!" Gumamnya.
"Oke! Sekarang tulis biodata kamu lengkap selengkap-lengkapnya beserta apa kesukaan/ketidaksukaan kamu pada sesuatu, tipe laki-laki ideal kamu dan yang paling penting, alamat rumah kamu dan nomor telpon kamu!" Rey berkata tegas membuat Griz mengangguk paham. Tapi jika untuk nomor telpon, apakah Griz harus menulisnya? Ah tulis saja, daripada hukumannya bertambah.
"Serius kak, itu aja?"
"Kamu mau hukuman yang lebih berat lagi?"
"Engga!"
"Ya udah, kerjakan sekarang!"
"B-Baik. Aku ambil buku dulu"
Baru Griz akan pergi, Rey menahannya dan mengatakan, "Pake buku ini!" Perintahnya seraya memberikan buku miliknya.
Gadis itu mulai menuliskan biodata tentang dirinya tanpa melewatkan apa saja yang dikatakan Rey. Sedangkan Rey, laki-laki itu kembali melanjutkan hobby memotretnya dengan sesekali melihat Griz yang sedang fokus.
"Done!" Kata Griz dengan melihat kembali hasilnya, takut-takut jika ada yang terlewat. "Kak, udah selesai" Imbuh gadis itu seraya berdiri, memanggil Rey yang berada sedikit jauh darinya.
"Oke, kamu boleh pergi" Sahut Rey tanpa menoleh.
__ADS_1
Griz tersenyum lalu pergi setelah mengucapkan banyak terimakasih karena sudah memberi keringanan atas hukumannya.
Setelah gadis itu pergi, Rey mengambil bukunya yang sudah terisi biodatanya. Ia tersenyum lalu membacanya. "Grizelle Jovanka, 18 tahun alumni Saint Peterson. Hm, pantes bisa masuk kesini"
Satu persatu Rey membacanya dengan teliti, dari mulai nama orangtua dan dimana dirinya berasal, "Jadi dia benar-benar bukan asli Indonesia, pantas saja wajahnya bule" Dan seulas senyum terbit dari bibirnya saat apa yang diharapkannya tertulis disana, alamat rumah serta nomor telpon. "Bukan dari keluarga biasa rupanya" Imbuh laki-laki tersebut seraya memasukan kembali bukunya ke dalam tas.
🌻
"Ko udah balik, emangnya dikasih hukuman apa sama kak Rey?" Megan bertanya saat jam makan siang tiba. Mereka duduk dibawah pohon bersama dengan kelompok yang lainnya.
Sebelum menjawab, Griz membuka kotak makanannya terlebih dahulu. Gadis itu mulai melahap satu-persatu makanan yang dibuatnya sendiri untuk bekal dirinya dan juga suaminya. Sedangkan makanan yang diberi panitia disimpannya dalam tas karena Griz memang tidak menyukai menu makanannya.
"Cuma disuruh bikin biodata doang" Sahut Griz. "Aaa aku laper banget!" ucap nya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"APA?"
"Kak Sisil" Gadis itu terkejut saat mendapati senior yang membimbingnya berteriak tepat dibelakangnya. Untung saja ia tidak sampai menyemburkan makanan yang belum ditelannya karena kaget.
"Gue gak salah denger 'kan? Lo bilang apa tadi, Rey cuma ngasih hukuman bikin biodata doang?" Sisil bertanya dengan emosi hingga mengundang perhatian banyak mahasiswa lain.
"I-Iya kak"
What the ****!
"Heh! Lo gak bohong 'kan?"
"A-aku mana berani, kak"
Hampir saja Sisil membanting minuman yang sedang dipegangnya ke hadapan Griz jika rindy tidak menahannya, "Sil, tahan. Banyak yang liatin!" Katanya, menahan tangan Sisil.
"Si Rey kenapa si, bisa-bisanya ngasih hukuman yang gak masuk akal begitu!" Kesalnya.
"Lo nuduh gue gak punya otak, Ha?" Kata Rey yang baru saja datang bersama dengan Rendy. Laki-laki itu mengeluarkan name tag dari dalam tasnya lalu memberikannya kepada Griz.
"Nih! Name tag kamu jatuh pas kita tabrakan tadi pagi, sorry baru balikin" Kata Rey kemudian pergi.
Ha?
"Rey!" Panggil Sisil.
"Lo diem!" Bentak Rey. Seketika Sisil membeku, ia sangat paham jika Rey sudah bernada seperti itu, itu artinya ia tidak ingin diganggu sama sekali.
"Argh!"
__ADS_1
🌻
Akhirnya hari pertama ospek telah selesai, Griz dan semuanya baru bisa pulang setelah jam 5 sore. Uh! Sangat melelahkan sekali. Ternyata seperti ini rasanya saat ingin menjadi mahasiswa, berbeda sekali saat sekolah SMA.
Melihat Griz yang berjalan sendirian, Shawn yang sedang menunggu Fiona diparkiran menghampirinya. "Dek! Pulang bareng Abang aja" Kata Shawn saat menghadang Griz yang akan keluar, "Udah sore banget" Imbuhnya.
Griz menggeleng, menyingkirkan tubuh Shawn yang menghalangi jalannya. "Mas Bayu udah jemput aku didepan bang. Anteng ya sama Fiona, nanti kalau Adek ikut jadi nyamuk, ih ogah banget!" Griz tertawa, "Bye Abang sayang" Mencubit pipi Shawn dengan gemas. Gadis itu berlari sebelum Shawn membalas nya.
"Woy! Dasar Adek lucknut!" Mengelus pipinya yang memerah, "Sakit dek, gak kira-kira kalau nyubit." Imbuhnya.
Sedangkan dari parkiran khusus motor, Rey yang sedang mengambil kendaraannya tidak sengaja melihat kejadian dihadapannya. Ia terus memperhatikan sampai gadis itu masuk kedalam mobil mewah putih yang menunggunya diluar gerbang dan Rendy uang baru datang tidak sengaja melihatnya.
"Kenapa, cemburu ya?" Goda Rendy, "Kayaknya itu pacarnya deh, mesra banget 'kan cubit-cubitan pipi, awww!" Imbuhnya.
Rey mendengkus kesal, ia tidak mengatakan apapun dan langsung menggunakan helmnya sehingga Rendy panik dan langsung menaiki motornya.
"Prince ice kalau lagi jatuh cinta serem ya?" Goda Rendy kembali sambil tertawa-tawa.
"Ren gue turunin juga Lo!"
Bukannya menanggapi, Rendy malah semakin menggoda Rey.
"Cantik banget ya, namanya siapa ya, gue harus garcep nih. Gak ada yang ngincer ini" Rendy sengaja mengatakan hal itu karena dia ingin tahu bagaimana reaksi Rey saat mendengarnya.
Apakah akan marah atau biasa saja, karena Rendy tidak sengaja melihat biodata gadis itu saat dirinya meminjam buku Rey.
"Silahkan Rendy Pangalila, itu juga kalau si Grizelle mau sama Lo" Sahutnya dengan tertawa-tawa.
"Oh jadi namanya Grizelle, toh?"
Anjir keceplosan gue!
Bayu Aji Bagaskara
Grizelle Jovanka
Reymond Lionard
__ADS_1