
Meskipun baru sehari Shawn bersekolah, tetapi karena gampang untuk dirinya beradaptasi dengan lingkungan baru, membuat pria berdarah Thailand-Amerika-Indonesia itu tidak menemukan kesulitan untuk mendapatkan teman.
Hanya masalah dalam makanan saja lidahnya masih belum bisa menerima. tetapi selain itu semuanya baik-baik saja.
Kepribadian nya yang ramah juga menyenangkan membuat beberapa teman sekelas atau yang lainnya tidak canggung mengakrabkan diri.
Sekarang saja dia sedang bermain basket bersama kelas sebelah setelah Bryand, kekasih dari Megan mengajaknya bergabung. Kebetulan mereka adalah bagian dari team basket sekolah.
"Jadi kamu hanya sepupunya Grizelle?"
Pertanyaan tersebut tidak serta mengalihkan tatapannya dari bola. Shawn tetap berusaha mengambil bola dari pemuda yang memberikannya pertanyaan itu.
Nathan, sebut saja begitu.
"Ya, kenapa memangnya?"
Sial!
Ternyata pemuda yang bernama Nathan itu sangat lihai mendribel bola, Shawn kesusahan merebutnya dan- masuk! Nathan tersenyum setelah berhasil mengecoh Shawn dengan trik andalannya.
"Dia menyukai saudaramu"
Keduanya menoleh.
Nathan, pria yang sempat dekat dengan Grizelle itu melemparkan bola yang dipegangnya ke arah Bryand, membuat ketua team basket itu meringis pelan saat bola tersebut tepat mengenai kepalanya.
Semoga saja dia tidak terkena geger otak setelah memeriksanya nanti.
"Jaga rahasia sedikit kenapa?!" Protes Nathan.
Wajahnya sudah semerah tomat karena malu. Dia benar-benar menyumpahi Bryand karena tidak bisa menjaga rahasianya!
Bryand kembali melempar bola tersebut kepada Nathan, niat ingin membalas namun dia lupa kalau Nathan adalah salah satu anggota yang mempunyai kecepatan dan refleks yang sangat bagus.
"Justru aku membantumu untuk selangkah lebih dekat dengan keluarganya. Sialan! Ini sakit tau" Keluh Bryand sambil mengelusi kepalanya.
Shawn tertawa pelan menanggapinya. Dia jadi berpikir dari ucapan Bryand yang mengatakan bahwa Nathan menyukai saudaranya, tadi. Ternyata menyembunyikan sebuah hubungan itu akan membuat lebih banyak hati yang terluka. Meskipun memang tujuannya memang baik.
"Sebaiknya kamu berhenti menyukai adikku"
Nathan diam, namun sorot matanya seolah bertanya kenapa?
"Dia sudah terikat dengan seseorang. Kamu paham apa maksudku"
Shawn merasa harus mengatakan hal tersebut kepada Nathan sebelum harapan dan perasaan pemuda itu lebih besar untuk sepupunya. Ia tidak mau jika membiarkan temannya itu terluka karena mencintai perempuan yang bahkan selangkah lagi akan menjadi milik orang lain.
"Semoga kamu menemukan perempuan lain yang jauh lebih dari adikku, Nathan"
Perkataan Shawn barusan merasuk memenuhi relung pikirannya, bola yang sebelumnya ia pegang dengan erat kini terjatuh menggelinding entah kemana.
Nathan sendiri tidak merespon apapun. Dia hanya diam dengan banyak pikiran di kepalanya. Apakah ini artinya dia benar-benar harus mengubur perasaannya sekarang? Padahal ia berencana akan mengungkapkannya saat ulang tahun sekolah nanti.
"Nathan-"
Bryand memanggilnya pelan, memastikan kalau sahabatnya itu baik-baik saja walau kenyataan tidak.
Tatapannya begitu kosong, helaan nafasnya terdengar putus asa, itu yang Nathan rasa. Belum juga menyampaikan rasa, sudah tertolak dengan kenyataan.
"Sebelumnya juga aku sudah menduga"
Menduga karena beberapa Minggu lalu saat mereka duduk dalam bangku kantin yang sama, cincin yang tersemat pada jari manis gadis itu membuat otak Nathan bertanya-tanya. Apalagi saat tau cincin tersebut di peruntukan khusus untuk pertunangan maupun pernikahan.
Bryand tidak tau harus mengatakannya apa, dia mengajak Nathan menuju kelasnya. Hampir tiga tahun mereka bersahabat, ternyata rasa kecewa orang yang selalu terlihat ceria itu sangat berbeda.
Ah, semoga saja sahabatnya ini bisa menemukan gadis lain untuk melengkapi hatinya.
🌻
Shawn tidak menyangka bahwa berlari dari lapang ke lantai tiga bisa membuat jantungnya nyaris meledak. Nafasnya terdengar berantakan, dadanya sangat sesak dan rasanya seperti tercekik.
Pemuda itu ambruk di sebelah saudaranya, mengambil beberapa lembar tissue untuk menyeka keringat lalu mengambil botol entah milik siapa untuk menyejukkan tenggorokannya yang terasa kering.
Tolong ingatkan Shawn untuk berterimakasih dan minta maaf, nanti.
Namun, baru saja nafasnya kembali normal. Pertanyaan, "Kenapa sih, habis dikejar setan ya?" yang terdengar polos dari saudaranya itu hampir saja merenggut nyawanya kembali karena, air yang sedang di minumnya tiba-tiba terasa menyakitkan di tenggorokan nya.
__ADS_1
Astaga, lagian mana ada setan di siang bolong seperti ini.
Memilih untuk tidak menjawab pertanyaan aneh tersebut, kini netra nya menangkap beberapa bekas tissue yang berserakan di atas mejanya. Dia yakin kalau saudaranya itu habis menangis. Terlihat juga dari mata yang merah dan suaranya yang parau.
"Ada masalah?"
Bukannya menjawab Grizelle malah kembali terisak dengan lucunya. Shawn bukannya kasihan, tapi sumpah kalau melihat saudaranya menangis itu, lucu sekali.
"Dia salah paham dan tidak mau mendengarkan penjelasan aku. Menyebalkan!"
Shawn tertawa geli mendengarnya. Ia pikir bahwa pemimpin perusahaan besar seperti dia akan lebih dewasa menanggapi masalah seperti ini, terlebih lagi ini hanya salah paham saja. Tapi nyatanya sama saja, selalu menyimpulkan dari apa yang didengar dari orang lain.
Tapi terlebih dari itu, Shawn juga senang karena kecemburuan tunangan saudaranya itu membuktikan bahwa pria itu benar-benar mencintai adiknya.
"Kamu tenang saja, nanti aku yang akan menjelaskannya"
Isak dari tangis gadis itu terhenti.
"Apa mau dia mendengarkan? Tadi saja aku diusir."
Shawn kembali tertawa, membuat Grizelle kesal melihatnya. Memangnya ada yang lucu apa?!
"Tidak ada yang lucu, Shawn!"
"Ada"
Shawn masih tertawa.
"Aku pikir orang dewasa seperti tunangan kamu itu tidak kekanakan saat cemburu, tapi ternyata sama saja hahaha~"
"Itu tandanya dia mencintaiku!"
"Tetap saja"
"YAK! DIAM KAMU SHAWN!"
Shawn segera bangkit dan berlari keluar kelas saat tangan Grizelle sudah melayang di udara, dia yakin kepalanya yang akan menjadi target pukulannya.
Melihat Shawn berlari, Grizelle ikut berlari untuk mengejar saudaranya. Mereka saling mengejar, menjitak satu sama lain dan tidak perduli dengan tatapan beberapa murid yang memperhatikannya.
"Fiona, maafkan aku. Aku tidak-"
"APA KAU BUTA, GRIZELLE?!"
Mendengar teriakan Fiona, Grizelle meringis pelan. Dia benar-benar tidak sengaja namun Fiona malah mendorongnya sampai Grizelle tersungkur dan membuat lututnya membentur lantai cukup keras. Bekas jahitan pada tangannya pun terasa linu kembali saat menahan beban tubuhnya tadi.
Seringai pada bibirnya muncul melihat Grizelle yang kesakitan, dia mengambil minuman milik temannya dan berniat menumpahkan minuman tersebut ke kepala Grizelle. Namun niatnya segera ditahan oleh seseorang yang menepis keras tangannya.
Fiona meringis ketika tangannya di cekal erat oleh seseorang. Dia mendongak, mendapati anak baru itu sedang menatapnya tajam.
"Secuil saja kau membuat adikku terluka lagi, ku patahkan tangan mu yang kecil ini sialan!"
DEG!
Setelah membantu Grizelle berdiri, Shawn segera mengajaknya pergi. Fiona sendiri masih diam, mencerna kembali ucapan pemuda yang mengatakan bahwa-
"Dia kakaknya Grizelle" Gumamnya pelan.
🌻
"Ada apa?!" Megan bertanya panik.
Dia yang sedang berada di perpustakaan langsung melesat ke ruang kesehatan saat Shawn memberitahukan bahwa Grizelle berada disana. Shawn sendiri tidak bisa menemani karena ia diminta untuk ke ruangan kepala sekolah.
"Tidak apa-apa, hanya terjatuh tadi"
Bohong! Megan tidak percaya, apalagi melihat rok sahabatnya itu penuh dengan noda minuman. Dia yakin kalau seseorang sengaja melakukannya.
Melihat reaksi Megan, Grizelle mendesah pasrah. Ia mana bisa berbohong kepada Megan, gadis itu terlalu peka.
"Aku tidak sengaja menabraknya, Megan" Sesuai dugaan Megan, tidak mungkin tidak terjadi sesuatu. "Wajar kalau dia emosi" Imbuhnya pelan.
Wajar?
"Sampai luka kamu hampir berdarah lagi?!" Tunjuknya geram pada bekas jahitan yang kembali memar.
__ADS_1
Kadang Megan aneh, sangat aneh kepada sahabatnya yang bernama Grizelle itu. Dia itu jago taekwondo, bergelar sabuk hitam dan mendapatkan sertifikat internasional di Amerika sana. Tapi kenapa? Kenapa selalu saja diam dan tidak menggunakan keahliannya untuk membalas?
Dia itu terlalu baik atau memang bodoh sih?!
"Meg-"
"Grizelle come on! Gadis itu akan semakin songong kalau terus di biarkan. Aku harus memberinya pelajaran!"
Melihat Megan yang mulai berdiri, Grizelle segera menahan lengan sahabatnya itu.
"Selangkah saja kamu keluar dari ruangan ini, aku pastikan kita tidak akan bertemu!"
What?
Menatap tajam Grizelle, Megan tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya yang bodoh itu.
"Jangan membesarkan masalah. Cukup!" Kata Grizelle lagi.
"Tapi, Grizelle-"
"Megan, please. Wajar dia marah karena aku yang menabraknya"
TERSERAH!
🌻
Ternyata diam disaat otaknya butuh penjelasan bukan pilihan yang tepat, Bayu dibuat benar-benar tidak fokus saat mengajar tadi. Pikirannya dipenuhi oleh segala pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan kepada kekasihnya tentang ada hubungan apa dan kenapa mereka bisa sedekat itu?
Tidak mungkin kan kalau baru mengenal?
"Aku harus menemuinya sekarang!"
Keluar dari ruangannya, Bayu berjalan menuju parkiran dan akan menunggunya disana. Tidak perduli jika mereka mengetahui hubungannya sekalipun, yang terpenting hatinya bisa tenang setelah mengetahui semuanya.
Sudah sepuluh menit berlalu, namun yang ditunggu tidak kunjung ada.
"Apa sudah pulang?" Monolognya.
Bayu menengok parkiran sebelah dan menemukan mobil kekasihnya masih terparkir disana. Apa ada kelas tambahan, pikirnya.
"Tapi tidak ada jadwal less apapun hari ini, kecuali tari"
Dan sepengetahuannya, kekasihnya itu tidak diijinkan mengikuti ekskul tersebut.
Akhirnya setelah setengah jam menunggu, gadis yang ditunggunya muncul juga. Tapi dia tidak sendiri, melainkan dengan beberapa teman sekelasnya.
"Selamat siang menjelang sore, pak" Ucap mereka serentak. Kebetulan parkiran mobil pelajar dengan parkiran guru bersebelahan. Tidak sopan kan melihat guru tampan tetapi di anggurkan? Hehe
"Sore"
"Sedang menunggu siapa, pak?"
"Tidak ada"
Kelima gadis itu mengangguk paham. Mungkin guru tampan itu hanya istirahat, pikirnya.
Sedangkan Grizelle. Gadis itu hanya diam mengacuhkan keberadaan pria yang sedari tadi terus menatapnya. Sampai akhirnya ia memilih berpamitan lebih dulu, Bayu tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat kepergian calon istrinya itu dan tidak lama setelah itu, beberapa murid yang menyapanya tadi juga ikut pergi.
"Aku harus ke rumahnya"
Bayu sudah bergegas membuka pintu mobil, namun ia menutupnya kembali saat mendengar seseorang memanggilnya.
Oh, murid baru itu.
"Ada apa?"
Shawn mendekat, mengulurkan tangannya.
"Alexi Reviano Shawn, kakak sepupunya calon istri bapak"
DEG!
🌻
\={R E V I S I}\=
__ADS_1