I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
Episode 8 - SALAH MENELPON ORANG


__ADS_3

Jalanan ibu kota yang selalu macet membuat orang-orang yang hendak ingin berangkat bekerja maupun pulang menjadi terlambat. Banyaknya kendaraan dan pedagang kaki lima membuatnya semakin macet.


Mereka seakan tidak perduli dengan keselamatan mereka sendiri saat motor dan mobil saling menyalip satu sama lain. Bahkan Grizelle merasa kesal ketika melihat beberapa pengendara memasuki jalur yang seharusnya bukan untuk mereka.


Bukan hanya itu, Grizelle kembali mengeluh ketika merasakan perutnya yang kembali lapar. Padahal baru saja ia memakan siomay yang dibelinya tadi didekat kantor saat dirinya mengambil berkas tadi. Namun nyatanya makanan tersebut tidak membuat perutnya lebih lama kenyang.


"Andai punya Doraemon, enak kayaknya bisa ambil sesuatu di kantungnya. Aku mau makan masakan Jepang, udah lama banget enggak makan sushi sama yakitori buatan nenek."


"Nanti suruh mommy bikin ah"


Ngomong-ngomong soal nenek, Grizelle menjadi rindu dengan nenek dan kakeknya yang berada di Jepang. Mereka sudah hampir setahun tidak bertemu karena mereka juga sibuk menjalankan bisnisnya. Tetapi meskipun sama-sama sibuk, mereka selalu menelponnya.


Sudah 20 menit Grizelle terjebak dalam kemacetan, daerah ini memang termasuk titik terparah saat macet karena jalan ini merupakan jalur utama.


Takut jika Daddy nya akan khawatir, Grizelle mencoba menelponnya untuk memberitahukan jika dirinya masih terjebak macet didaerah xx.


Seorang pria yang tengah bersiap-siap untuk pulang dibuat terkejut dengan panggilan seseorang yang akhir-akhir ini terus memenuhi pikirannya. Jas yang akan dipakainya ia simpan kembali pada lemari baju.


"Kenapa tiba-tiba gadis itu menelpon?"


Bayu mendudukkan dirinya pada sebuah kursi santai, ia sedikit ragu harus mengangkat nya atau tidak. Tetapi bagaimana kalau ini penting? Akhirnya Bayu menggeser tombol hijau dan mengangkatnya.


"Daddy!"


Daddy?


Jangan katakan kalau gadis itu salah menelpon dan menyangka jika nomor dirinya adalah Daddy nya? Memangnya nama apa yang sudah gadis itu simpan untuk menamai kontak dirinya sampai salah sambung seperti ini.


Bayu terkekeh pelan, ia masih diam tidak bersuara. Ia ingin tahu hal apa saja yang akan ia katakan kepadanya.


"Aku terkena macet didaerah xx dan sudah 20 menit tidak bergerak sama sekali. Aku juga sangat lapar, somay yang aku beli tadi tidak bisa di andalkan sama sekali"


Oh jadi gadis itu sedang dijalan rupanya. Oke! Bayu masih penasaran hal apalagi yang akan dikatakan gadis itu.


"Pokoknya Daddy harus membelikan ku makanan Jepang. Dan bilang pada pak Yohan tolong belikan cilok yang berada dikantor Daddy ya?"


Yohan? Sepertinya nama itu tidak asing untuknya. Ia seperti nama orang kepercayaan rekan bisnisnya.


"Jangan lupa ya dad, sebentar lagi aku sampai"


"Kamu salah sambung ya?"


Matanya terbelalak ketika mendengar suara pria lain dalam telponnya. Ia memeriksa kembali nomor telpon tersebut untuk memastikan jika dirinya tidak salah sambung. Namun saat nama 'MY COLD TEACHER' Tertera disana, cepat-cepat Grizelle mematikannya.


"Mampus!"


Argh! Kenapa juga sampai salah sambung seperti ini sih, mana tadi dia sudah banyak berbicara. Pasti guru menyebalkan itu sedang mentertawakan nya.


"Malu banget ya tuhan, kenapa juga aku bisa ceroboh"


Saat sedang merutuki dirinya sendiri karena ceroboh, ponselnya kembali berbunyi dan ternyata guru tersebut menelponnya.


"Maaf pak, saya pikir bapak adalah Daddy saya karena kontak bapak dengan Daddy saya bersebelahan"


"Tidak apa-apa. Saya pikir kamu memang sengaja menelpon"


"Tidak seperti itu!" Kilahnya. Grizelle tidak mau guru tersebut beranggapan jika dirinya hanya mencari perhatian dengan berpura-pura salah menelpon.


"Oke-oke! Memangnya kamu mau kemana?"


"Ke kantor Daddy saya"


"Masih macet?"


"Enggak sih, ini udah mau masuk tol"


"Ya sudah hati-hati"


"Iya"


Akhirnya setelah hampir satu jam Grizelle terjebak kemacetan, ia bisa sampai juga ke kantor sang Daddy yang baru pertama kali ia kunjungi. Ternyata kantor cabang ya di Indonesia tidak kalah besar dengan kantor pusat yang di Amerika.


Gadis itu berjalan masuk setelah memerintahkan orang untuk memarkirkan mobilnya. Sampai didepan lift, Grizelle menoleh ketika ada seseorang yang menegurnya bahkan melarangnya untuk masuk.


"Maaf nona, anda mau kemana? Anda tidak diperbolehkan untuk masuk sembarangan jika ada keperluan"

__ADS_1


Astaga! Grizelle sampai lupa jika mereka belum mengenalinya. Pantas saja resepsionis tersebut menegurnya sampai dia berlari dari tempatnya.


"Bertemu Daddy saya mbak"


"Maaf nona, anda tidak boleh masuk. Jika ingin bertemu orangtua anda, katakan saja siapa dan dari bagian apa orangtua anda bekerja, biar saya yang menyuruhnya untuk kesini"


"Oh begitu ya"


"Iya"


Grizelle menjadi bingung, kalau dia mengatakan jika pemilik perusahaan ini adalah orangtuanya pasti wanita itu tidak akan percaya.


"Kalau saya bilang pemilik kantor ini adalah Daddy saya bagaimana?"


"Jangan bercanda nona!"


"Tapi saya tidak bercanda"


"Nona jika tujuan anda kesini hanya untuk bermain-main, saya bisa memanggilkan keamanan untuk mengusir anda keluar!"


"Jangan dong, saya kan mau memberikan berkas ini untuknya"


"Iya nona tinggal katakan saja siapa-"


"Itu Daddy saya" Tunjuknya pada pria gagah dan tampan yang baru saja keluar dari lift. Pria tersebut terlihat sedang mengantarkan klien nya yang akan pergi. "Daddy!" Teriaknya. Grizelle berlari menghampiri pria itu lalu memeluknya.


"Hai anak cantik, kenapa kau baru sampai?"


"Kau pun tahu sendiri jalan disini tidak seperti jalan di Amerika!"


"Kasihan sekali putriku ini. Maafkan Daddy ya sudah merepotkan mu"


"Tidak masalah asalkan Daddy memberikanku makanan sekarang, karena perutku sangat lapar sekali"


"Jangankan makanan, restoran nya saja bisa Daddy belikan untukmu sayang"


Resepsionis yang telah menegur bahkan memarahi Grizelle merasa malu, ia tidak menyangka jika gadis tersebut benar-benar putri dari pemilik perusahaan ini. Dirinya berpikir jika gadis itu hanya bermain-main saja.


"Maafkan saya nona, saya-"


"Terima kasih nona"


Sesaat setelah itu, Samuel langsung mengajak putrinya pergi ke restoran yang berada disebrang kantor nya.


"Mau makan apa?"


"Sushi saja dad"


Sementara Samuel sedang memesan makanan nya, Grizelle yang akan bermain ponsel mendesah kesal ketika baterai nya tidak cukup untuk bermain game favorite nya. Terpaksa ia kembali menyimpannya ke dalam tas karena ternyata dia juga lupa membawa power bank.


"Ada apa sayang, kenapa Isabel meminta maaf tadi?"


"Dia menyangka aku berkata bohong kalau aku anaknya Daddy"


"APA?"


"Tenanglah Daddy. Itu berarti dia sudah menjalankan perintah Daddy dengan baik, buktinya saja aku sampai ditegur saat akan masuk ke dalam lift"


"Setelah ini Daddy akan mengenalkan mu kepada seluruh pegawai Daddy agar kejadian seperti tadi tidak terulang lagi. Bisa-bisanya dia meragukan kau anak Daddy, wajah kita juga mirip, ya meskipun hanya 15% saja dan selebihnya kau sangat mirip dengan mommy mu"


Grizelle terkekeh lucu, ia memeluk Samuel yang berada disebelahnya.


"Hidung kita saja yang sangat mirip dad, 15% dari mananya"


"Ah! Kau menyebalkan sekali!"


"Hahaha aku bercanda!"


Setelah selesai menemani putrinya makan, Samuel mengajak Grizelle berkeliling kantor dan memperkenalkannya ke seluruh pegawai disana.


"Apakah kau kesulitan untuk mengambil berkas ini?" Tanyanya setelah berada diruangan pribadi Samuel yang berada dilantai paling atas gedung dengan ketinggian mencapai


230 meter dan mempunyai 56 lantai tersebut.


Grizelle membuka tirai yang berada disebelah meja kerja Daddy nya dan disana terdapat jendela kaca yang sangat besar sekali. Sehingga gedung-gedung pencakar langit terlihat begitu jelas. Apalagi lampu-lampu malam yang sebagian sudah menyala.

__ADS_1


"Tidak terlalu, aku hanya disuruh diam di lobi dan menyuruhku untuk menunggu seseorang membawa berkasnya"


"Kenapa kau tidak masuk saja ke ruangan CEO nya?"


"Aku bahkan tidak tahu namanya, makanya aku ditahan disana"


"Astaga Daddy lupa tidak memberitahukan mu sayang"


"Tidak masalah dad, yang penting berkasnya sudah aku dapatkan"


"Memangnya siapa yang mengantarkannya?"


"Sepertinya dia bukan sekretarisnya, tetapi lebih tepatnya adalah tangan kanannya seperti Yohan"


"Kenapa tidak CEO nya sendiri yang mengantarkan nya?"


"Dia sibuk" Sahut Grizelle. Gadis itu masih menikmati pemandangan kota Jakarta dari atas tempat dirinya berdiri. "Ini keren tetapi tidak lebih dibandingkan dengan di Amerika" Ucapnya.


"Ini hanya kantor cabang sayang, jelas sangat berbeda dengan kantor pusat" Samuel kembali berkutat dengan laptopnya, membiarkan sang putri yang masih menikmati pemandangan di hadapannya. "Duduklah sayang, Daddy akan menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi. Ada beberapa dokumen yang harus ditanda-tangani.


"Baiklah Daddy, aku akan beristirahat sebentar sebelum pulang"


Gadis itu duduk disofa dan mengambil beberapa buku tentang bisnis dan properti yang tersusun rapih lada rak kecil yang berada disamping tempat duduknya. "Tidak ada novel?" Sontak pertanyaan tersebut membuat Samuel terkekeh lucu.


"Ini kantor sayang, bukan Gramedia"


"Oh membosankan sekali"


"Coba saja kau baca buku-buku itu, siapa tahu kau tertarik dan ingin mempelajarinya"


"Aku akan melihatnya saja"


Nyatanya bukan hanya melihat, tetapi gadis itu seperti menyukainya. Dari meja kerjanya Samuel tersenyum ketika mendapati putrinya terlihat serius membaca buku-buku tersebut.


"Katanya hanya melihatnya saja, nyatanya-"


"Daripada aku jenuh. Tetapi ini menarik juga dad, aku akan lebih mempelajarinya"


Perkataan Grizelle semata ingin membuat Daddy nya bahagia saja, sesungguhnya Grizelle lebih tertarik untuk menjadi seorang dokter anak, namun karena ia mengalami trauma darah, terpaksa ia harus mengubur keinginannya dalam-dalam. Grizelle akan mencoba untuk mempelajari semua keinginan Daddy nya, ia dapat melihat dari sorot matanya saja jika Samuel sangat berharap dirinya bisa meneruskan perusahaan ini suatu saat nanti. Jadi ia akan lebih sering mempelajarinya.


"Tetapi jika apa yang kau katakan tidak sesuai dengan isi hatimu, jangan pernah memaksakan nya sayang. Biarkan suamimu saja yang mengurusnya"


SUAMI?


"Daddy! Aku saja masih sekolah dan belum berkuliah, kenapa tiba-tiba membicarakan suami!"


Apa-apaan Daddy ini.


"Daddy sudah merencanakan semuanya sayang, kau pasti setuju"


Grizelle sedikit membanting buku tersebut ke atas meja, perkataan Daddy nya membuat dirinya mendadak kesal dan tidak mengerti apa maksud dari pembicaraan ini.


"Maksud Daddy apa?" Nada bicara Grizelle terdengar tidak suka dan sedikit ketus. Kenapa tiba-tiba Daddy nya berkata seperti seolah-olah dirinya sedang memberitahukan jika dia akan menjodohkannya. Apa semua ini ada kaitannya dengan perkataannya tadi pagi? Oh ya tuhan! Bahkan dirinya saja tidak benar-benar berkata seperti itu.


"Daddy mau jodohin aku, lagi?" Imbuhnya.


"Kenapa tidak, dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Pengusaha sukses dan kau pasti bahagia bersamanya"


Yang menentukan bahagia atau tidak nya tergantung yang menjalankannya, bukan yang mengaturnya!


"Gak bisa gitu dong dad, aku bisa mencarinya sendiri tanpa perlu campur tangan siapapun!"


Samuel tahu Grizelle sedang menunjukan keberatannya, namun sebisa mungkin ia harus memberitahukannya perlahan demi perlahan. Tidak masalah jika saat ini putrinya menolak, tetapi untuk beberapa hari ke depan saat mereka dipertemukan, keduanya sudah tidak bisa menolak lagi.


"Sebaiknya kau pulang sayang, kasihan mommy pasti sudah menunggumu daritadi"


Samuel menyuruhnya pulang sebelum putrinya benar-benar marah terhadapnya.


"Ya sudah aku pulang!"


"Hati-hati sayang. Telpon Daddy jika terjadi sesuatu"


"Ya!"


🌻

__ADS_1


REVISI


__ADS_2