
Karena hari ini Bayu tidak ada jadwal mengajar di sekolahnya, dia akan segera berangkat ke kantornya. Menjalankan peran yang sesungguhnya, menjadi CEO sekaligus pemilik perusahaan terbesar BA Development.
Rasanya sangat malas untuk berangkat, pria berjas hitam itu hanya duduk bersantai dimeja makan tanpa berekspresi apapun. Bayangan gadis yang dipeluk oleh pria lain kemarin membuat dirinya sangat malas untuk melakukan apapun, otaknya seperti terkuasai oleh gadis yang baru beberapa hari ini terus mengganggu pikirannya.
Oh ya ampun, Bayu merasa aneh dengan dirinya sendiri. Perasaan menggelitik yang sering muncul nyatanya membuatnya bingung. Apakah ini benar-benar perasaan cinta atau sekedar suka. Tetapi saat gadis itu dekat dengan pria lain, hatinya menggeram tidak terima.
Kedekatan mereka pun masih sebatas guru dan murid, belum menunjukan peningkatan sama sekali. Meskipun kadang setiap malam Bayu suka iseng mengiriminya pesan, nyatanya itu tidak mempengaruhi apapun. Mereka terlalu menjaga jarak meski hati berontak.
"Pagi-pagi udah galau" Suara lembut wanita yang ikut duduk disebelahnya mampu membuyarkan lamunannya, pria itu menoleh, lalu mulai melahap sarapannya. Jangan sampai mama nya tahu, jika ada perempuan lain yang sedang dipikirkan nya atau kejadian kemarin pagi terulang lagi.
"Galau apaan lagi"
"Itu mukanya lesu banget"
"Cuma males ke kantor"
"Kenapa?" Lalu menggeser tempat duduknya. "Gak ada penyemangat ya kalau dikantor?" Kemudian kembali menggeser tempat duduknya. Maksudnya apa coba. Tapi ada benarnya juga sih apa yang dikatakan sang mama.
"So tahu!"
Matahari yang begitu terik tidak membuat gadis yang sedang terduduk ditaman itu merasa kepanasan. Ia melihat parkiran guru, disana ia tidak menemukan mobil pria yang belum terlihat batang hidungnya dari pagi. Mungkin karena tidak ada jadwal, pikirnya.
Semenjak pria itu menyelamatkannya beberapa hari lalu, Grizelle terus ingat dengan semua sumpahnya. Sumpah yang akan menjadikannya suami.
"Astaga! Sekolah aja belum lulus Grizelle!" Lalu ia harus bagaimana. Grizelle bingung sendiri jadinya. "Kenapa juga harus bersumpah seperti itu, susah sendiri kan akhirnya!" Ah menyebalkan! Pria itu benar-benar menyebalkan.
"Susah kenapa?" Tanya seseorang pemuda yang dengan sengaja menempelkan minuman dingin ke pipi gadis yang selalu terkejut dengan kehadirannya.
"Ih Nathan! Kamu tuh ngagetin terus ya." Nathan terkekeh pelan, kemudian duduk tepat disebelahnya.
"Hehe maaf" Menyodorkan minuman tersebut setelah membantu membukakannya. "Jangan ngelamun sendirian dibawah pohon gini, nanti kesambet setan siang bolong"
"Mana ada siang-siang begini setan"
"Iya juga sih, hehe"
🌻
Selain warna biru dan putih, warna lainnya akan sangat menakjubkan saat momen matahari terbenam. Langit tersebut akan berubah warna menjadi sangat indah. Itulah senja. Grizelle sangat menyukainya, terlebih udara diatas sana sangatlah sejuk.
"Sayang"
__ADS_1
Gadis itu menoleh ketika suara lembut memanggilnya. "Masuk saja mommy, tidak dikunci ko" Sahutnya.
"Kau bisa membantu mommy?"
"Kenapa tidak. Memangnya ada apa?"
Aiko memberikan secarik kertas berisi bahan-bahan yang harus dibeli di supermarket. "Bahan-bahan yang harus kamu beli" Lalu memberikan beberapa lembar uang padanya.
"Dengan senang hati mommy"
"Terima kasih sayang"
Karena masih tidak diperbolehkan untuk membawa mobil sendiri, Grizelle berbelanja diantar pak Doni, sopir pribadinya. Sesampainya disana, Grizelle menyuruh pak Doni untuk menunggunya diluar saja. Sementara dirinya sendiri langsung membeli bahan-bahan makanan yang sudah tertulis di kertas yang dipegangnya.
"Apalagi ya?" Memeriksa troly yang didorongnya, takut jika ada bahan-bahan yang lupa dimasukannya. "Udah semuanya deh. Cus tinggal bayar!" Lalu mendorongnya menuju kasir yang antri.
Untung saja barang belanjaan mereka yang mengantri tidak terlalu banyak, jadi Grizelle bisa lebih cepat melakukan pembayarannya. Pak Doni yang sudah menunggunya sigap menolong, membawakan barang-barang belanjaan lalu memasukannya kedalam mobil. Sementara itu, Grizelle sendiri pergi ke sebrang jalan untuk membeli es yang begitu menarik perhatiannya.
"Bang es kelapanya 2 ya"
"Siap Miss"
Tidak butuh waktu lama, 2 bungkus es kelapa dingin bercampur susu yang diinginkannya sudah ada dalam genggamannya. Gadis itu tidak sabar untuk mencicipinya, pasti akan sangat segar sekali melintasi tenggorokannya.
"Aduh!" Keluhnya ketika menyadari lengannya berdarah. Luka benturan aspal yang merobek kulitnya terasa sangat perih. "Dasar motor sialan!" Desisnya pelan.
"Tante gak apa-apa?" Grizelle sangat cemas, hampir saja wanita yang seumuran dengan mommy nya tertabrak motor jika dirinya telat menariknya.
Wanita yang masih shock itu hanya diam sampai akhirnya Grizelle membawanya ke pinggir jalan dan duduk pada bangku yang tersedia disana.
"Tante minum dulu" Grizelle memberikan air mineral setelah membelinya tadi. Nampaknya wanita itu masih shock dengan kejadian tadi.
"Ya tuhan sayang, siku kamu" Paniknya.
"Tidak apa-apa Tante"
"Terima kasih ya nak sudah menolong Tante. Kalau tidak ada kamu tadi, mungkin motor itu sudah menabrak Tante" Ucapnya setelah selesai mengobati siku Grizelle yang berdarah. Untung saja ia selalu membawa kotak obat dalam tasnya, nyatanya berguna juga.
Menatap gadis yang sudah menolongnya, wanita itu begitu terpesona dengan kecatikan dan juga kebaikannya. Andai saja gadis yang akan dijodohkan dengan putranya adalah dia, tentu dirinya akan sangat bahagia.
"Sama-sama Tante. Lain kali hati-hati ya, disini agak bahaya"
__ADS_1
"Iya sayang"
"Em, Tante mau kemana?"
"Tante lagi nungguin putra Tante yang mau menjemput. Sebentar lagi pasti datang"
"Oh begitu. Ya sudah, aku pamit dulu ya Tante, sopir aku udah nungguin daritadi"
"Iya sayang kamu hati-hati ya. Sekali lagi terima kasih, gara-gara Tante tangan kamu jadi luka kayak gini"
"Iya tidak apa-apa"
Menatap punggung gadis itu sampai jauh, dia terus tersenyum saat sebuah mobil mewah yang ditumpangi gadis tersebut melambaikan tangan kepadanya. Andai saja calon menantunya adalah gadis itu.
"Udah cantik, baik, sopan banget lagi"
Seseorang yang baru datang turun dari mobil terlihat panik ketika melihat ada luka goresan pada tangan orangtuanya. Pria tersebut langsung membawanya kedalam mobil dan tidak lupa mengobatinya.
"Apa kata aku, jangan so-soan mau belanja sendiri, belum apa-apa udah lecet. Coba ini kenapa sampai begini?" Meskipun suara pria tersebut terdengar dingin, namun terdengar begitu jelas nada kekhawatiran didalamnya.
"Motornya aja yang ugal-ugalan, mama udah hati-hati ko."
"APA, MAMA KESEREMPET?"
"Hampir. Untung saja ada malaikat cantik yang nolongin mama, kalau enggak, udah dirumah sakit kayaknya"
"Malaikat?"
"Iya. Coba aja gadis itu yang akan dijodohkan dengan kamu, bahagia banget deh kayaknya. Udah cantik, ramah, sopan, ah! Pokoknya sempurna"
"Kenalan dong?"
Menepuk jidatnya berkali-kali, ia yang terlalu terpesona dengan gadis itu sampai lupa menanyakan siapa namanya. "Mama lupa. Tapi kayak bukan orang Indonesia gitu"
"Bule maksud mama?"
"Hooh. Cantik banget pokoknya, kayak ada perpaduannya gitu"
"Iyain aja deh biar cepet pulang"
"BAYU!!"
__ADS_1
🌻
REVISI