
Hari ini adalah hari libur, hari dimana orang-orang meluangkan waktu yang bebas dari pekerjaan atau dunia persekolahan untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang terkasih.
Mereka akan kompak bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat wisata yang akan membuat mereka melepas rasa letih karena kesibukan bekerja maupun yang lainnya.
Namun berbeda dengan wanita hamil yang masih meringkuk dibawah selimut kesayangannya, meskipun suaminya sudah memberitahukannya untuk bersiap-siap dan akan mengajaknya ke suatu tempat, tapi yang namanya mager sudah menguasai ia tidak perduli.
Pria itu sendiripun sudah bangun satu jam yang lalu, bahkan ia baru saja selesai berolahraga bersama orangtuanya diruangan bawah tanah yang memang terdapat fasilitas fitnes disana.
"Lusa kita harus ke Surabaya" Theo berkata setelah keduanya berada dimeja makan - meminum jus yang telah Raisha siapkan.
"Kita?" Bayu menoleh heran, apakah dirinya harus ikut?
Theo mengangguk.
"Ini kan proyek besar, mertua kamu juga akan berangkat bersama kita" Ujar Theo.
"Berapa lama kita disana?"
"Hanya tiga hari"
Sejujurnya Bayu tidak ingin ikut karena merasa tidak tega meninggalkan Grizelle yang kadang setiap malam ingin di elus-elus perutnya, namun ia juga tidak ingin mangkir dalam pekerjaan tersebut.
"Mama akan menjaga Grizelle, kamu pergi saja dan bekerjalah" Kata Raisha yang baru saja ikut duduk bersama putra juga suaminya dimeja makan. Ikatan batin anak dengan ibu memanglah sangat kuat, bukan? Raisha bisa mengerti apa yang sedang putranya khawatirkan.
Tetapi kenapa rasanya begitu berat, Bayu merasa kekhawatiran nya kepada sang istri begitu berlebihan.
"Apa yang sedang kamu khawatirkan, kalian pernah kan berjauhan selama seminggu lebih dan kalian bisa?"
"Ya itu beda lagi pa, itu tuh terpaksa" Entahlah, mungkin ini hanya sebuah rasa tidak rela saja jika harus berjauhan kembali dengan istrinya. "Ya udah, aku mau bangunin Grizelle dulu" Pamit Bayu.
Begitu pintu kamar terbuka, Bayu pikir istrinya sudah bangun dan mandi, tetapi apa yang ia lihat saat ini? "Ya tuhan sayang, masih belum gerak juga?" Katanya.
Pria berkaos polos hitam tersebut menggelengkan kepalanya lucu ketika mendapati sang istri masih meringkuk dibawah selimutnya.
Namun sebelum ia membangunkannya lagi, Bayu memilih mandi terlebih karena badannya terasa sangat lengket setelah berolahraga tadi.
"Yang"
Bayu yang baru selesai mandi dengan rambut setengah basah bergerak mendekati lalu berbaring dibelakang punggung polos Grizelle yang terbuka. Argh, pagi-pagi sudah disodorkan pemandangan yang membuat libido nya naik. Segera Bayu mengalihkan pandangannya, daripada rumit urusan nya.
Ditatapnya begitu lekat wajah polos tanpa polesan make up apapun pada wajahnya, membuat Bayu merasa tenang dan kagum secara bersamaan. Ia selalu menyukai wajah polos istrinya yang seperti ini - seperti bayi.
"Grizelle istriku sayang" Bisiknya.
"Ng"
Di rapihkan nya helaian rambut yang menutupi sebagian wajah dan juga lehernya, tidak lupa ia berikan ciuman kecil pada pundak, leher serta telinga yang membuat Grizelle bergeliat kegelian. "Mas geli" Gumamnya.
Bayu tersenyum, lalu membalikan tubuh Grizelle dan menghadapkan ke arahnya, membuat mereka saling berhadapan. "Kapan jeleknya sih, cantik terus - gak bosen?"
"Pasti ada maunya nih kalau udah ngegombal gini" Ucap Grizelle namun matanya masih tertutup rapat.
Terkekeh pelan, Bayu menarik istrinya kedalam pelukannya, "Tau aja kalau mas lagi pengen" seraya mengelusi punggung mulusnya. Bahkan tangannya sudah menyingkap selimut yang menghalangi kaki mulusnya.
Sontak, kalimat tersebut membuat mata yang tadinya terpejam rapat kini terbuka begitu lebar. "Gak ya mas!" Grizelle beringsut, menghindari suami yang menatapnya begitu mesum. "Semalam aja aku baru kamu ijinin tidur jam dua pagi loh! Gak kenyang apa?!"
"Just one more time, I'll do it gently (Sekali lagi saja, aku akan melakukannya dengan lembut)" Tidak butuh persetujuan apapun untuk Bayu melakukannya lagi sekarang, ia dengan sigap membaringkan tubuh Grizelle perlahan lalu Bayu menarik dirinya untuk berdiri dengan kedua lututnya.
Ia melepaskan kaos berwarna hitam yang melekat pada tubuhnya lalu melemparkannya ke lantai, sehingga terlihat begitu jelas oleh Grizelle otot-otot perut nya yang semakin hari semakin atletis. Ya! Grizelle selalu lemah jika sudah melihatnya.
"Mas-"
"Don't speak, just feel (Jangan berbicara, rasakan saja)" Bisiknya.
Bayu mulai menciumi setiap inci wajah Grizelle, tidak ada satupun yang terlewatkan - semuanya harus terjamah oleh bibirnya. Hisapan serta *****-an membuat Grizelle mencengkram erat pundak Bayu disertai leguhan yang selalu membuat Bayu semakin tidak bisa menahan gairahnya.
Meskipun sudah sering melakukannya, namun rasanya bercinta disaat sedang hamil membuat Grizelle merasakan ada yang berbeda dan ia menyukainya. Apalagi Bayu melakukannya begitu lembut, sehingga ia lebih bisa merasakannya.
"Ahhhsss"
__ADS_1
Desahan yang Grizelle tahan tidak bisa ia sembunyikan lagi ketika tangan Bayu sudah menyusup dibalik selimut - menyentuh perut serta dua buah benda sintal yang selalu menjadi favorit nya. Bibirnya merambat turun, mengecupi setiap inci kulit mulus pada leher serta tepat berhenti pada benda tersebut.
"Massss"
"Apa?"
Bayu mengerti, istrinya paling tidak bisa menahan jika ia sudah bermain-main dengan benda itu. Lantas Bayu menurunkan kembali ciumannya, menuju perut yang sudah terlihat sedikit membuncit. Ia tersenyum melihatnya. "Hai sayang, Daddy jenguk lagi ya?" Disertai dengan kecupan lembut yang beberapa kali ia daratkan disana.
Grizelle hanya pasrah, dengan tatapan sayu serta gairah yang sudah memburu - Keduanya hanyut dalam pergulatan panas pagi itu. Membuat jadwal yang sudah Bayu rencanakan menjadi mundur total.
🌻
"Mas kita mau kemana?"
Grizelle masih belum mengetahui suaminya akan membawanya kemana hari ini, tetapi jika melihat arah jalan yang di lalui nya seperti menuju tempat pembangunan rumah yang sudah lama mereka rencanakan.
"Lihat rumah kita, katanya sudah selesai"
Tuh kan benar dugaannya.
"Wah beneran nih?"
"Iya sayang. Nanti kamu atur sesuka kamu, pilih barang-barang yang menurut kamu bagus. Mas sengaja gak pake designer biar kamu yang atur sesuai keinginan kamu"
Ah senangnya.
"Tapi kamar untuk baby?"
"Sudah mas persiapkan sayang, tenang saja"
Hanya butuh waktu lima belas menit dari rumah utama, Grizelle dan juga Bayu segera turun untuk mengecek rumah yang baru selesai kemarin. Semuanya seperti perkiraannya, sesuai dengan rencananya.
Rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat mewah itulah yang akan menjadi istana untuk Grizelle nanti. Rencananya Bayu akan menempati rumah tersebut setelah Grizelle melahirkan, jadi meskipun ada kekurangan dalam pembangunan tersebut, Bayu bisa memperbaikinya - demi kenyamanan anak dan juga istrinya kelak.
"Ah ini akan menjadi tempat favorit aku"
Grizelle tertawa riang ketika melihat taman kecil yang indah disebelah ruang keluarga. Di sana terdapat gazebo kecil serta ayunan favoritenya.
Menunjuk air mancur yang menyatu dengan tembok, indah sekali.
"Bukan, tapi Leon" Sahut Bayu yang juga ikut duduk disebelahnya.
Duduk di ayunan ini mengingatkan kembali saat ia menyatakan perasaannya pada gadis berseragam SMA dulu. Gadis yang telah membuat jantungnya hampir meledak dengan permainannya yang katanya tidak ingin berpacaran - namun ingin menjadi istrinya. Dan sekarang benar-benar gadis itu telah menjadi istrinya bahkan sedang mengandung anaknya.
"Bang Leon?"
Bayu mengangguk, lalu berbaring meletakan kepalanya pada paha istrinya.
"Iya. Dia juga kan ikut andil dalam pembangunan rumah kita"
"Wah keren juga tuh tiang listrik, kejar setoran buat nikahin kak Naomi tuh" Ledek Grizelle terkekeh lucu.
Ngomong-ngomong soal Leon, pria tinggi itu sudah bekerja di perusahaan Daddy Joan. Dia tidak langsung menempati posisi sebagai CEO, namun sebagai tangan kanan Daddy Joan. Menurutnya, ia harus lebih banyak belajar lagi sebelum Daddy Joan menyerahkan seluruh kekuasaan kepadanya.
Setelah puas menikmati waktu berdua di taman, Bayu mengajak Grizelle untuk melihat-lihat keadaan didalam. Bayu juga menunjukan satu-persatu kamar yang sudah ia siapkan untuk anak-anak nya nanti.
"Perasaan kamarnya banyak banget. Aku hitung udah ada empat dan lima sama kamar kita" Heran Grizelle.
"Mas sengaja, kan kita mau bikin banyak anak. Ya mudah-mudahan aja dia," Menunjuk bayi yang masih berada didalam perut "Kembar. Kamu kan ada keturunan kembar yang"
"Wah iya juga ya, kita belum cek lagi setelah aku dinyatakan hamil" Mengusap-usap perutnya, terucap doa-doa tulus dari dalam hatinya. "Siapa tau aja kembar ya?" Tersenyum penuh harap, siapa.tahu saja gen dari orangtuanya melekat kuat dalam darahnya. "Lusa kita cek ya mas, aku kangen pengen liat baby - udah sebesar apa dia ya?" Imbuhnya begitu riang.
"Lusa?"
Grizelle mengangguk.
"Gak bisa sayang, mas ada kerjaan ke luar kota"
"Yah" Berdecak kecewa, padahal ia sudah membayangkan ingin melihat tubuh mungil anaknya.
__ADS_1
"Setelah mas pulang dari Surabaya saja ya, nanti kita langsung ke dokter kandungan"
Tidak ada pilihan lain selain mengiyakannya.
"Ya udah"
🌻
Sudah 3 hari Grizelle tidak bertemu dengan suaminya, meskipun mereka hampir setiap jam melakukan video call, namun nyatanya kerinduannya tidak mudah terobati begitu mudah. Dan apa obatnya? Apalagi kalau bukan bertemu dan kebetulan hari ini suaminya akan pulang.
"Pulang dijemput sopir kan?"
Dalam layar tersebut Bayu yang sedang berada dikantor Surabaya bertanya, sepertinya suaminya masih sibuk dan akan terlambat pulang, pikirnya.
"Iya mas, ini lagu nunggu. Mas masih sibuk ya?"
"Enggak sayang, ini lagi beresin berkas. Mas pulang malam ini juga"
"Ko malam, besok aja mas"
"Gak bisa sayang"
"Kenapa?!" Grizelle heran.
"Mas udah gak kuat lagi - pengen cium kamu"
"Ish dasar ya" Coba saja kalau suaminya ada disebelahnya, sudah pasti Grizelle akan mencubit pipinya yang bolong itu.
"Hehe. Ya sudah, mas siap-siap pulang ke hotel dulu ya sayang"
"Iya sayang, hati-hati ya"
Akhirnya pekerjaannya di Surabaya selesai juga, ia sudah tidak kuat ingin bertemu dengan istri dan juga anaknya. Rasanya sangat rindu sekali.
Koper beserta tas yang berisi berkas-berkas penting sudah ia bereskan dan tinggal menunggu Daddy Samuel dan juga Theo selesai bersiap-siap. Mereka bertiga memang menggunakan pesawat pribadi milik bayu, jadi mereka tidak perlu menunggu jadwal penerbangan sampai besok.
Sambil menunggu Daddy Samuel dan juga papa Theo selesai, Bayu yang menunggu mereka di lobi memeriksa GPS yang terpasang pada kalung istrinya dan melihat pergerakan aneh disana.
"Grizelle mau kemana?" Pikirnya aneh. Perasaan arah menuju rumah mama Raisha bukan kesana. "Apa dia mau ke rumahnya Megan?" Tapi seingatnya rumah Megan juga tidak mengarah kesana. Lalu mau kemana dia?
Karena khawatir, Bayu mencoba menelpon Grizelle namun tiba-tiba ponselnya dimatikan. Argh! Perasaan Bayu menjadi tidak tenang sekarang. "Apa ponselnya habis baterai ya?" Masih berpikir positif, membuang semua pikiran buruk yang akhir-akhir ini terus menguasai pikirannya. "Dia kan suka lupa charger ponselnya" Mencoba meyakinkan dirinya.
Selang beberapa menit, Bayu masih berpikir jernih meski tidak dapat dibohongi jika hatinya sedang kalut karena ponsel sang istri yang mendadak mati. Kemudian ia baru ingat belum mengecek alat penyadap yang ia tempelkan juga pada kalung istrinya.
"Bego! Kenapa baru inget"
Segera Bayu mengambil earphone yang entah ia simpan dimana, tas yang sudah rapih ia keluarkan lagi isinya. "Bangsat! Dimana earphone nya!" Menggeram kesal. Seingatnya ia simpan dalam tas kecil tetapi kenapa tidak ada. "Dimana sih, lagi genting gini malah ilang!"
"Mencari ini?" Kata Samuel yang baru saja datang bersama Theo.
Pria itu menyerahkan earphone kecil berwarna cream yang ia temui dimeja ruang tamu kamar hotel.
"Aduh dad, aku pikir hilang" Ucap Bayu lega ketika Samuel memberikan barang yang dicarinya.
"Daddy menemukannya di meja ruang tamu"
"Thanks dad"
"Kenapa panik begitu, apa terjadi sesuatu?" Theo bertanya.
"Cuma perasaan Bayu aja, pa"
"Jangan terlalu dipikirin, sekarang ayo kita pulang"
Sambil berjalan menuju pesawat, mendadak Bayu mendapatkan telpon dari sang sopir yang ditugaskannya untuk menjemput istrinya.
"Kenapa pak?"
"Tuan, nona Grizelle tidak ada di kampus. Saya sudah menanyakannya pada penjaga tetapi dia bilang nona sudah pergi setengah jam yang lalu menggunakan mobil mewah berwarna merah"
__ADS_1
DEG!