
Happy reading
🌻
Setelah mengetahui istrinya sedang mengandung, Bayu semakin posesif. Bahkan ia melarang istrinya untuk beres-beres atau apapun yang akan membuat nya lelah. Wanita hamil itu hanya diperbolehkan untuk duduk dan santai saja, bahkan ketika ingin makan pun, Bayu akan segera mengambilkannya.
Dan sekarang pun mereka tinggal dirumah mama Raisha, karena jika di apartemen, Bayu khawatir bila nanti dirinya bekerja lembur tidak ada yang memantau istrinya.
"Mas aku tuh lagi hamil ya, bukan sakit!" Grizelle protes, kesal juga dengan semua larangan-larangan yang dibuat oleh suaminya yang menurutnya berlebihan. Tetapi disisi lain, ia juga merasa bahagia mempunyai suami yang begitu mengkhawatirkannya.
"Apa. Mau protes lagi?"
Seketika mulut wanita hamil itu tertutup rapat, percuma saja jika terus protes, suaminya tidak akan mendengarkannya sama sekali.
Sudahlah, pasrah saja dan turuti semua permintaan suamimu yang semakin gila itu, Grizelle.
Jenuh mulai melanda, seharian hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun ternyata membuat badannya pegal dan tidak nyaman. Rasanya ingin sekali berjalan-jalan di taman ataupun mall, tapi sepertinya itu tidak akan mungkin.
Wanita hamil itu mulai berpikir, bagaimana cara nya agar ia bisa keluar untuk jalan-jalan.
"Mas" Panggilnya pelan.
"Hm"
Hm saja? Lihat, bahkan laki-laki itu tidak menoleh sama sekali dan tetap fokus pada laptopnya. Dasar nyebelin!
"Awas! Aku kerjain loh" Gerutunya kesal.
"Mas aku mau-"
"Jangan ngerjain mas ya, Grizelle. Mas tahu rencana licik kamu!"
Sepertinya Bayu sudah bisa menebak rencana sang istri. Padahal Griz ingin sekali mengerjai suaminya untuk memanjat pohon mangga dibelakang sana, tapi sayangnya rencananya gagal sebelum dilakukan.
"Mas mah gitu, aku gak boleh ngapa-ngapain tapi kamu sibuk terus sama kerjaan kamu. Hari libur tuh waktunya buat istri, ini kerja terus sampe istrinya dilupain. Duit mau disimpen dimana lagi mas dah banyak juga" Keluh Griz.
Mendengar semua keluhan istrinya, Bayu mulai menutup laptopnya lalu memperhatikan istrinya yang masih mengomel panjang lebar. Sejak dinyatakan hamil, wanita itu jadi lebih cerewet tetapi anehnya, Bayu seperti ketagihan membuatnya mengomel terus-terusan, yang katanya lucu.
Dasar bucin emang!
"Mas tuh dengerin aku engga sih!" Imbuhnya kesal. Sedangkan Bayu hanya diam, menyangga sebelah wajahnya sambil terus memperhatikan istrinya yang semakin hari semakin bertambah cantik.
"Denger sayang, denger. Ayo ngomel-ngomel lagi, tambah cantik"
HA?
"Orang tuh diomelin gak mau, ini minta nambah" Heran Griz. Benar-benar suami yang aneh.
"Kamu kalau lagi banyak bicara tuh gemesin, kalau aja dokter gak bikin larangan buat-" Griz sudah melotot, wanita hamil itu beringsut sedikit menjauhkan posisinya, "udah abis kamu" Imbuhnya.
Bayu terkekeh setelah mencium pipi istrinya, ia beranjak dari sofa lalu pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu dan Griz mengekorinya dari belakang. Sambil terus memohon-mohon dan terus merengek meminta jalan-jalan sampai Bayu yang akan mengambil minuman didalam kulkas pun kesulitan karena terus dihalanginya.
"Iya sayang"
Kalau tidak di iya-kan, istrinya itu tidak akan berhenti berbicara.
"Iya-iya bohong mas tuh!"
Astaga! Kenapa seperti bocah meminta jajan mainan kepada bapaknya sih. Maid yang tidak sengaja melihat saja sampai tersenyum-senyum.
"Sayang awas, mas mau minum dulu sebentar"
Tetapi Griz menggeleng, "Gak mau, janji dulu?" Katanya sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Menghembuskan nafasnya pelan, sudah pusing sedari pagi dengan rengekan sang istri, akhirnya Bayu mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya.
"Yaudah, sana siap-siap. Untuk hari ini mas akan menuruti semua keinginan kalian"
Satu kecupan lembut diberikan tepat pada bibir suaminya sebagai hadiah karena akan mengajaknya jalan-jalan, "I love you, mas Bayu Aji Bagaskara" Kemudian pergi untuk bersiap-siap. Sementara Bayu, laki-laki itu masih terdiam, ia selalu saja terkejut dengan perubahan sikap istrinya yang selalu berhasil membuatnya terpesona dan merasa dicintai.
"Love you too Grizelle Jovanka, istriku"
🌻
Malam itu hujan turun begitu deras, wanita dengan perutnya yang buncit itu terus mondar-mandir didepan pintu, mencemaskan suaminya yang belum pulang juga.
__ADS_1
Sudah beberapa kali ka menelpon, namun tidak diangkat sama sekali.
"Ya tuhan, semoga mas Theo baik-baik saja" Ucapnya begitu cemas.
Hampir setengah jam Raisha berdiri, menunggu nya sampai ia merasa lelah dan akhirnya tertidur disofa ruang tamu.
mendengar suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumahnya, Raisha merasa begitu lega. Itu artinya suaminya baik-baik saja.
"Mas kamu baru pu-" Ucapannya terhenti ketika melihat keadaan suaminya yang setengah tidak sadar diantar pulang oleh seorang perempuan yang sangat dikenalnya.
"Yoona!"
Seharusnya Raisha tidak perlu kaget melihatnya, karena Yoona merupakan sekretaris suaminya dan juga sahabatnya. Tetapi melihat keadaan keduanya yang sama-sama mabuk, Raisha tidak dapat berpikir positif.
"Simpan rasa penasaran mu Raisha, lebih baik kau tunjukan dimana kamar mas Theo"
Mas?
Kenapa terdengar begitu menjijikan jika Yoona yang mengucapkan nya, apakah Yoona sudah terbiasa memanggil suaminya seperti itu jika diluar jam kerja?
"Apa yang terjadi?" Tanya Raisha. Yoona terkekeh pelan, mendekatkan dirinya pada Raisha yang masih diam menunggu jawabannya.
"Kau tidak melihat, kita mabuk Raisha"
Meskipun sudah terjadi 25 tahun yang lalu, tetapi ketika mengingatnya lagi, hatinya terasa sakit kembali. Apalagi dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
"Kau tahu ay, aku sedang mengandung Bayu saat itu. Ketika melihat mereka datang, rasanya seluruh duniaku begitu hancur. Dada aku sesak, bahkan untuk berbicara pun tidak bisa"
Meskipun hanya mendengar ceritanya saja, Aiko dapat merasakan bagaimana hancurnya Raisha saat itu. Ia tidak menyangka jika rumah tangga sahabatnya pernah bermasalah serumit itu. Dan juga Aiko tidak menyangka jika Yoona seperti itu.
"Lalu apa yang terjadi, mereka- selingkuh?"
"Aku pikir begitu, tetapi setelah mas Theo membuktikan jika kejadian sesungguhnya tidak seperti yang aku tuduhkan, aku percaya jika mas Theo tidak mungkin mengkhianati pernikahan kami"
Satu Minggu Raisha mendiamkan Theo, tetapi ia tetap melayaninya dengan baik meskipun air matanya tidak dapat dibohongi, Raisha berusaha tegar demi kesehatan bayi nya.
Ia begitu kaget ketika dokter mengatakan jika janinnya lemah karena pada saat itu Raisha benar-benar stres memikirkan prahara rumah tangganya.
Setiap hari, Theo selalu memohon kepada Raisha untuk mendengarkan penjelasannya. Namun Raisha yang saat itu hatinya benar-benar hancur, ia selalu menghindar.
"Sayang, mas mohon dengarkan dulu penjelasan mas. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan" Mencoba mengehentikan Raisha yang terus memasukan beberapa bajunya ke dalam koper, sambil memohon Theo sempat menangis karena tidak tahu harus bagaimana lagi agar Raisha mempercayainya.
"Kau memberikan kesempatan kepada Theo untuk menjelaskan semuanya?" Aiko penasaran dengan kelanjutan cerita Raisha.
"Tadinya aku akan meninggalkannya menginap untuk beberapa hari, namun karena aku tidak tega melihatnya menangis sambil berlutut di hadapanku, akhirnya aku mau mendengarkan penjelasannya. Namun bukan dari mas Theo, tetapi langsung dari mulut Yoona sendiri"
"Maksudnya?"
Saat itu Theo membawanya ke sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari kantor, disana sudah ada Yoona dan kedua sahabatnya sedang duduk bersama. Dirinya sendiri sudah duduk disebelah, dengan penampilan yang sebisa mungkin mereka tidak mengenalinya.
Sayup-sayup mereka sedikit mendengar percakapan diantara mereka bertiga.
"Apa berhasil?" Tanya salah seorang temannya, melihat dari penampilannya, seperti nya wanita itu bukan pekerja kantoran. Apalagi dengan pakaian sexy seperti itu.
"Bagaimana wajahnya, dia pasti sangat terkejut, bukan?" Yang satunya lagi menimpali.
"Bukan hanya terkejut, bahkan dia menangis ketika melihat kami datang" Sahutnya begitu bangga. Dengan menyulut sebatang rokok ditangannya, mereka tertawa.
"Kau benar-benar jahat, Yoona!" Desis wanita sexy itu.
"Haha, demi mendapatkan Theo, aku akan melakukan apapun. Termasuk membuat Raisha hancur! Aku sangat membencinya jika kalian ingin mengetahuinya, sejak SMP kami bertiga berteman sangat dekat.
Aku sempat memberitahukan Raisha jika aku menyukai Theo dan Raisha pun mendukungnya, tetapi saat itu juga Theo mengatakan jika dia menyukai Raisha. Kalian tahu, aku sangat hancur!
Akhirnya aku memutuskan kembali ke Canada, aku benar-benar hancur saat itu. Butuh waktu bertahun-tahun untuk kembali menata hati, sampai aku berpikir untuk kembali ke Indonesia dan merebut Theo, lagi-lagi aku dibuat hancur karena dia sudah menikah dengan Raisha.
Selama ini aku hanya berpura-pura baik kepadanya, padahal aku sedang berusaha menghancurkannya dengan kedok persahabatan. Dan akhirnya aku baru berhasil membuat mereka bertengkar dengan memasukan obat kedalam kopinya malam itu"
DEG!
"Saat mendengar semua itu, aku benar-benar ingin melempar mulutnya dengan gelas jika Theo tidak menahanku. Aku benar-benar sangat marah, ay!"
"Tapi akhirnya kau percaya kan jika Theo tidak sedikitpun mengkhianatimu. Lalu apa yang terjadi selanjutnya, bagaimana dengan Yoona?"
"Theo sangat marah saat itu, bahkan aku baru melihatnya semurka itu. Wajahnya yang lucu berubah sangat mengerikan, aku saja tidak yakin jika itu adalah suamiku. Ya kau tahu sendiri bagaimana Theo, dia seperti pelawak jika bersama" Sahut Raisha sedikit terkekeh. Lalu ia melanjutkan kembali ceritanya.
__ADS_1
"YOONA!" Murka Theo. Raisha sangat terkejut dengan teriakan suaminya. Ia dapat melihat kobaran kemarahan dalam matanya.
"Theo!"
Ketiga wanita itu tersentak, berdiri dengan raut wajah yang pias ketakutan. Raisha dan Theo menghampiri Yoona dan tanpa disadari, Raisha menampar keras sebelah kiri pipi Yoona. Untung saja pengunjung cafe disana tidak terlalu banyak dan juga owner cafe tersebut sangat mengenal Theo.
"Kau bilang kau tidak begitu serius dan hanya penasaran dengan Theo saat itu, bukan? Makanya aku tidak begitu mendukungmu dengan Theo karena aku tahu Theo adalah pria yang baik. Dan kau juga bilang, kau lebih tertarik kepada Rayhan, tetapi kenapa sekarang kau begitu terobsesi dengan nya?
Aku benar-benar tidak percaya kau bisa sejahat ini, Yoona. Padahal aku sudah menganggapmu sebagai saudari Perempuanku, tapi-"
Ucapannya terputus, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Iya, aku jahat! Aku jahat karena kau sudah merebut Theo dariku!" Sergah Yoona.
Ucapan Yoona membuat Raisha terkekeh pelan, "Apa? Merebut? Apa aku tidak salah mendengar tuduhanmu itu, Yoona?" Melipat tangan didepan dadanya, "Lalu bagaimana denganmu, kau bahkan mengganggu suami sahabatmu sendiri! Lalu, jika Theo mencintaiku, apa itu salahku?" Imbuhnya.
Yoona tidak bisa berkata apapun lagi, ia beralih mendekati Theo dan berusaha meraih tangannya namun dengan cepat Theo menepisnya.
"Theo! Aku sangat mencintaimu dari dulu, aku mohon dengarkan penjelasan-"
"KAU TIDAK PERLU DATANG LAGI KE KANTORKU, YOONA. KAU KU PECAT!" Sela Theo dengan menekan setiap kalimatnya.
"Lalu?"
"Yoona pergi, dan sejak saat itu juga aku tidak pernah tahu tentang kabarnya. Tapi beberapa tahun kemudian, aku sempat mendengar beritanya dia menikah dengan Rayhan lalu selanjutnya aku sudah tidak perduli lagi" Ujar Raisha.
"Jadi begitu ceritanya" Akhirnya Aiko sudah tidak penasaran lagi, tetapi masih ada satu pertanyaan darinya, "Apa Yoona pernah meminta maaf sebelumnya?" Imbuhnya.
"Tidak dan tidak pernah!" Jawab Raisha.
"Aku yakin Yoona menyesali semua perbuatannya, aku bukan membelanya tetapi aku tidak mau kedua sahabatku terus bertengkar seperti ini" Ungkap Aiko, membuat Raisha menoleh sarkas.
"Dari cara bicaramu saja kau sudah membelanya, ay. Nyebelin banget!"
"Bukan begitu-"
"Ah aku sebel sama kamu" Potong Raisha berpura-pura marah. Sebenarnya Raisha tahu apa maksud Aiko, tetapi Raisha selalu senang ketika melihat wajah Aiko yang panik.
"Ra! Maksud aku-"
"Hahahaha"
🌻
"Mas, aku mau rujak yang disana" Tunjuknya pada tukang rujak.
Griz yang sedang makan tiba-tiba merasa ingin ketika melihat tukang rujak tumbuk yang ada disebrang jalan sana.
"Yang, masa rujak sih. Gak ya, itu pedes!" Tolak Bayu.
Mendengar penolakan dari suaminya, Griz merasa sedih dan lihatlah, matanya sudah memerah.
"Mas jahat. Katanya mau nurutin semua permintaan kita, tapi-" Ucap nya dengan suara isakan, "Daddy kamu nyebelin banget, sayang" Imbuhnya sambil mengusap-usap perutnya yang masih datar.
Astaga!
Jika sudah begini, Bayu juga tidak bisa menolaknya.
"Ya udah iya, mas beliin sekarang ya sayang" Ucapnya pasrah. Semoga saja tidak berdampak buruk bagi kesehatan keduanya.
"Asyik! 3 ya mas cabe nya" Pintanya.
"Satu!"
"Mas!"
"Iya atau gak akan mas beliin?"
2 pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan.
"Daddy kamu bener-bener nyebelin banget!" Desisnya kesal. Namun akhirnya Griz mengangguk pasrah, daripada tidak sama sekali, pikirnya.
"IYA!"
Rasanya sudah tidak sabar untuk memakannya, pasti sangat segar sekali jika tersentuh lidah. Griz dapat melihat samar-samar suaminya tersenyum dengan melambaikan tangannya, serta rujak yang ditentengnya.
__ADS_1
Bersambung guys .. haha