
Tungkainya lemas bukan main, bahkan Cherry merasakan kepalanya sangat pusing sekali kali ini. Doa yang selalu ia panjatkan kepada Tuhan-Nya setiap waktu, tidak disangka semuanya terkabul begitu cepat.
Bukannya Cherry tidak tau kalau Arjuna telah kembali dari pengobatannya, Cherry tau, sangat tau. Bahkan beberapa hari lalu dia sempat menitipkan nasi goreng buatannya kepada sahabatnya, Bayu, untuk diberikan kepada Arjuna sebagai kode kalau dia ada disekitarnya. Karena Cherry yakin Arjuna dapat mengenali masakan buatannya.
Cherry juga sengaja melarang Diana dan Rahardian agar tidak memberitahukan kebenarannya karena Cherry ingin Arjuna mengetahuinya sendiri dengan semua kode-kode yang terus ia berikan selama seminggu ini.
Tubuhnya gemetar saat merasakan tangan hangat itu menyentuh kembali sebelah wajahnya. Suaranya seakan hilang padahal ia ingin sekali memaki dengan semua kekesalan yang ia tahan selama empat tahun ini kepada pria yang kini tengah menghapus air matanya.
"Cherry"
Sekuat tenaga ia mempertahankan pijakannya agar tidak limbung, bahunya bergetar hebat, sesak di dadanya semakin menjadi saat ia juga menahan tangisnya agar tidak menciptakan kegaduhan dihadapan anaknya.
Cherry selalu menyebut dirinya kuat, bahkan di saat titik hancur paling dalam, dalam hidupnya, air matanya masih ia bisa tahan agar tidak keluar. Tetapi, mendengar suara lembut itu, suara yang selalu membuat Cherry kesal sekaligus jatuh cinta secara bersamaan, semuanya runtuh begitu saja.
Cherry sangat merindukannya, jujur! Meskipun banyak sekali amarah yang ingin ia lampiaskan pada pria itu, namun semua itu tidak sebanding dengan cinta, sayang dan kerinduannya.
"Arjuna" Panggilnya terlampau pelan, sampai Arjuna harus mendekatkan wajahnya untuk menatap Cherry dalam setelah menangkup wajah cantik itu.
"Iya, sayang" Jawab Arjuna juga pelan.
Tangan kekar Arjuna bergerak, kini berganti mengelus pelan bibir mungil yang nampak kembali bergetar menahan isakan.
"Jangan menangis" Suara yang sekian lama tidak didengarnya semakin membuatnya terisak. Saat tangan kekar itu menangkup wajahnya, Cherry hanya bisa diam, membiarkan pria itu mengusap lembut seluruh wajahnya, "Kalau kau menangis, disini sakit" Arjuna menunjuk tepat pada dadanya sendiri. Kemudian melanjutkan kalimatnya, "Jangan pergi lagi, Cherry" sebelum akhirnya menarik tubuh mungil itu masuk kedalam dekapannya. Cherry diam, membiarkan pria itu memeluknya, menumpahkan segala kerinduan yang selama empat tahun ini mereka pendam begitu dalam.
Tidak ada kalimat apapun yang keluar selama beberapa menit, mereka hanya saling memeluk satu sama lain. Juna sendiri hanya diam, memperhatikan bunda serta ayahnya dengan perasaan sesak.
Mungkin ia masih sangat kecil untuk memahami apa yang sudah terjadi, tetapi bukankah ikatan batin anak dengan orangtuanya sangatlah kuat? Juna bahagia, tangan kecilnya menopang lucu wajahnya, memperhatikan kedua orang dewasa itu saling menyalurkan kerinduan.
"Jangan pergi lagi ya sayang?"
Arjuna mengulang kembali permintaannya.
"Pergi kemana?"
Cherry bertanya sedikit menggoda, menatap wajah Arjuna yang sudah memerah karena menangis setelah berhasil merenggangkan sedikit pelukannya.
"Meninggalkanku lagi" Arjuna juga tidak tau pergi kemana Cherry pergi selama ini, "pokoknya jangan pergi lagi!" Imbuhnya dengan sedikit nada merajuk, membuat Cherry tertawa dengan air mata yang seolah enggan untuk berhenti menetes.
"Jadi, aku harus disini, bersamamu?"
Arjuna selalu menyukai saat Cherry tertawa, seolah semua beban dalam hidupnya sirna dengan senyuman yang terlihat begitu tulus. Dia tarik kembali tubuh mungil itu, rasanya enggan sekali melepaskan walau hanya sedetik saja.
"Harus! Atau aku akan memborgol tanganmu agar tidak pergi lagi"
Arjuna menarik lembut tangan Cherry untuk mengajaknya duduk di sofa sana. Cherry hanya menurut, duduk dengan nyaman dalam pangkuan Arjuna tanpa penolakan apapun dengan tangan saling bertautan, menggenggam satu sama lain.
"Merindukanku?" Tanya Arjuna begitu lembut. Tangannya dengan telaten merapikan helaian poni yang menutupi sebagian wajah Cherry, "Cantik sekali" Imbuhnya pelan.
"Sangat!" Sahut Cherry.
Kepalanya ia sandarkan pada ceruk leher sang pria, merasakan aroma tubuh yang selalu ia rindukan.
"Aku juga merindukanmu, sampai rasanya aku ingin mati karena terlalu lama menahannya" Ungkap Arjuna, jujur.
Suasana kembali hening, keduanya sama-sama menutup mulut, hanya merasakan kenyamanan satu sama lain. Bahagia, tentu itu yang mereka tengah rasakan. Cherry merasa bersyukur karena bisa bertemu kembali dengan Arjuna, begitupun dengan Arjuna yang merasa dunianya telah kembali karena kembalinya Cherry ke dalam dekapannya.
Bertahun-tahun tidak bertemu membuat keduanya dilanda rindu setengah mati. Mereka juga saling mengucap janji dalam hati tidak akan saling melepaskan kembali, cukup sekali Cherry pergi, sekarang tidak akan pernah lagi. Dan cukup dua kali Arjuna kehilangan Cherry, sampai ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya sebab tak mampu, sekarang ia tidak akan pernah membiarkan Cherry nya pergi lagi. Tidak akan.
"Kurus sekali"
__ADS_1
Cherry menatap khawatir pria yang masih memeluknya. Wajahnya memang tetap tampan, bahkan bertambah tampan, tetapi tubuhnya terlihat sangat kurus. Sampai pipi yang dulu pernah terlihat chubby, kini tidak lagi.
"Aku tidak memperhatikan hidupku, semuanya hanya berpusat kepadamu"
"Bohong sekali!"
Cherry mencubit lengan kekar Arjuna, membuatnya berpura-pura meringis oleh cubitan yang tidak seberapa sakitnya itu.
"Aku jujur, sayang"
Arjuna memelas, memeluk pinggang ramping serta membenamkan wajahnya pada ceruk leher Cherry. Menghirup aroma tubuh yang selalu membuatnya tenang.
"Jangan menyiksa dirimu lagi, kalaupun tuhan mentakdirkan kita tidak bersama--"
"Kau takdirku dan kita akan bersama!" Sela Arjuna.
Cherry terkekeh pelan mendengarnya.
"Arjuna" Panggil Cherry pelan. Sepertinya ia telah melupakan sesuatu.
"Iya, sayang?"
Arjuna mendongak, menatap wajah Cherry yang terlihat bingung.
"Dimana Juna?"
DEG!
Jangan tanyakan dimana Juna, si kecil nan tampan itu sudah keluar ruangan tersebut saat nenek dan kakeknya memanggilnya dengan isyarat. Mereka tidak ingin mengganggu putra dan juga menantunya yang baru kembali bertemu setelah bertahun-tahun berpisah karena perbuatannya.
"Nenek-kakek, mereka melupakanku!"
"Biarkan saja, jangan ganggu mereka dulu ya?" Bujuk sang kakek, "Dan malam ini kamu akan menginap di rumah kakek dan nenek" Imbuhnya.
Rahardian memangku bocah tampan itu, membawanya keluar untuk mengajaknya kemanapun agar tidak menganggu waktu berdua Arjuna dan juga Cherry.
"Serius, kek?"
"Tentu cucuku yang sangat tampan. Ayah dan bunda kamu pasti akan sibuk sekali malam ini, jadi lebih baik kau menginap saja ya?"
Sebenarnya Juna tidak mengerti sibuk apa yang di maksud oleh kakeknya, tetapi ia tidak peduli, yang terpenting ia akan menginap di rumah kakek dan neneknya yang berarti Juna akan bebas memakan apapun yang ia mau.
Ketahuilah, Cherry terlalu ketat kepada Juna masalah makanan. Apalagi Cherry tidak membenarkan Juna memakan makanan junk food, padahal Juna ingin sekali memakannya walau hanya sekali.
"Juna mau, Juna mau!"
"Anak pintar!"
🌻
Cherry menatap penampilan Juna dihadapannya dengan perasaan bahagia bercampur haru, senyum pada bibir anak laki-laki tampan itu membuat Cherry merasa semua kebahagiaan seolah berlomba mengelilingi dirinya.
Sembilan bulan Cherry mengandung putranya, dan tepat hari ini usianya kini genap empat tahun. Empat tahun juga sudah ia lewati, dengan begitu banyak pengorbanan dan kenangan buruk yang begitu pedih tak pernah hilang dari ingatan. Tangis, luka, ketakutan semuanya begitu pedih terasa.
Juna, nama bayi yang empat tahun lalu ia lahirkan memiliki wajah yang rupawan, sepenuhnya menurun dari ayahnya, bahkan hampir semuanya. Hah, mungkin karena Cherry begitu mencintai pria itu, sampai-sampai rupa anaknya sama persis seperti ayahnya.
Kesal, tentu.
Dia yang mengandung, membawanya kemanapun selama sembilan bulan lamanya, berjuang hidup dan mati saat melahirkan, tapi ketika lahir, anaknya tidak sedikitpun mirip sepertinya.
__ADS_1
Keduanya menoleh saat ketukan pintu terdengar.
"Cherry" panggil seseorang yang baru memasuki kamarnya.
Dua wanita cantik berdiri pada ambang pintu, melempar senyum lembut ke arahnya. Mereka, Naomi dan Mawar, mulai mendekat, mencubit gemas pipi Cherry dan juga sedikit menggoda Juna yang berada tidak jauh disebelahnya.
"Kita harus segera berangkat" Kata Naomi.
Mawar mengelus tangan Cherry, "Mbak sudah siap? Aku akan membawa Juna dan menunggu di luar, okay"
Setelah Mawar membawa Juna keluar, tinggal lah mereka berdua dalam ruangan sana. Cherry menundukkan wajahnya, tiba-tiba saja perasaannya begitu sesak. Ini seperti mimpi dan sulit sekali ia percayai.
"Jangan menangis"
Naomi menangkup wajah mungil Cherry, menghapus air mata yang terlihat memupuk dari netra bening itu. Adik mana yang tidak sesak melihat kakaknya menangis seperti sekarang? Meskipun Naomi tau air mata tersebut adalah air mata kebahagiaan, namun tetap saja, melihat lagi bagaimana menderitanya Cherry selama ini, Naomi sangat terluka.
"Aku tau kakak sudah melewati semuanya dengan tidak mudah. Banyak pengorbanan di setiap keputusan yang kakak buat. Semua yang sudah kakak lewati merupakan pembelajaran bagi kita semua. Ingat kak, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Jangan sekali lagi pergi tanpa menyelesaikannya, kami disini akan selalu ada untuk kakak, aku, mama dan ayah akan selalu mendampingi kakak" Cherry mengangguk, balik menggenggam tangan Naomi yang masih mengelus wajahnya, "jangan menangis lagi, cukup kak. Kau jelek!" Imbuhnya.
Naomi tertawa geli melihat wajah Cherry yang kembali garang, ia selalu suka kalau kakak cantiknya itu mengomel.
"Kau merusak suasana sekali!"
Suara tawa semakin terdengar, Cherry pun semakin sebal. Namun pada akhirnya, Cherry menarik tubuh Naomi ke dalam pelukannya, memeluk adik tersayangnya itu dengan hangat. Walau mereka tidak berasal dari rahim yang sama, namun mereka saling menyayangi.
"Terimakasih, adik"
Setelah semuanya tenang, Naomi mengajak Cherry untuk keluar. Mereka, cherry-naomi-mawar dan si kecil tampan Juna sudah berada dalam satu mobil mewah yang sudah terparkir didepan rumah.
Mobil tersebut mulai melaju pelan, dibelakang mereka juga ada beberapa iring-iringan mobil mewah lainnya. Cherry menatap pemandangan jalan, hatinya berdegup kencang saat mobil tersebut mulai memasuki pekarangan sebuah gedung yang sudah terhias begitu indah oleh bunga-bunga favoritnya.
Ini adalah hari penentuan bagi Cherry. Entah akan seperti apa setelah ini, bahagia ataupun sedih, Cherry tidak dapat memprediksikan. Namun melihat lagi bagaimana senyum semua orang untuknya, Cherry berjanji akan selalu bahagia selama berada di sekeliling mereka yang menyayanginya.
Naomi yang menyadari ketegangan Cherry mulai menggenggam tangan mungil itu, mengusapnya lembut, memberi ketenangan disana.
"Berbahagialah, kak" Bisik Naomi sebelum akhirnya menyerahkan tangan tersebut kepada seorang pria yang sudah tidak muda lagi, menunggunya didepan gedung sana. Pria dengan jas putih itu tersenyum, mengulurkan tangan layaknya menyambut putri kerajaan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, membuat Cherry terkekeh pelan melihatnya.
"Anak ayah sangat cantik sekali" Goda Danial pelan saat dia sudah menggandeng tangan Cherry, membuat Cherry memutar bola matanya jengah.
Kenapa sih ayahnya itu sangat senang sekali menggodanya? Menyebalkan.
"Ayah jangan mulai!"
Danial berhenti tertawa, menyuruh Cherry untuk mengapit lengannya. Mereka berjalan dengan beriringan, memasuki gereja yang sudah penuh dengan tamu undangan.
Hatinya kembali berdegup kencang, saat kurang dari sepuluh meter tempatnya melangkah, seorang pria memakai tuxedo senada dengannya tersenyum ke arahnya.
Dengan sedikit berat hati, Danial yang baru merasakan kebahagian bisa bersama kembali dengan putrinya, kini harus ikhlas menyerahkannya kepada pria yang akan merajut cinta dengan putrinya.
"Ayah percaya kau bisa membuat anak ayah bahagia, Arjuna"
Arjuna mengangguk yakin, menggenggam tangan mungil itu dengan erat.
"Cherry" Arjuna mengangkat dagu Cherry dengan lembut, "aku mencintaimu, sangat. Jangan pernah sedikitpun berpikir untuk pergi lagi ya?"
Cherry mengangguk yakin, lalu seorang pendeta mengatakan untuk memulai semuanya. Keduanya saling mengucap janji suci pernikahan, di saksikan seluruh tamu undangan yang senantiasa mendoakan kebahagiaan untuk mereka berdua.
"Terimakasih karena sudah menerimaku sebagai suamimu. Aku hanya pria yang banyak kekurangan, namun semampuku, selama kau bersamaku, aku akan menjamin kebahagiaan mu. Aku, Arjuna Alaric Rahardian sangat sangat sangat mencintaimu, malaikatku" Ucap Arjuna pelan sebelum akhirnya membubuhkan ciuman setelah mereka sah menjadi sepasang suami istri.
...END...
__ADS_1