I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
(S2) Episode 132


__ADS_3

"Aku harus segera pergi" Ucap Andra tergesa-gesa.


Malam itu Andra sedang berada di kamar apartemen Diandra, membicarakan tentang rencana untuk menikahinya beberapa bulan lagi.


Setelah Andra berhasil membujuk serta menyakinkan Pradipta jika Diandra merupakan perempuan yang baik, Pradipta mulai merestui hubungan keduanya.


Tentu tidak semudah yang dibayangkan seperti membalikan telapak tangan, Andra harus mati-matian membujuk mereka dan dia juga sedikit mengeluarkan jurus andalannya yaitu mengancam tidak mau meneruskan perusahaan Pradipta yang berada di Spanyol.


Ah licik sekali memang. Namun berkat kelicikan itulah yang membuat mereka mendapatkan restu.


"Kemana? Kenapa kau panik sekali, apakah telah terjadi sesuatu?" Diandra bertanya. Kenapa setelah menerima telpon dari Hendry - Andra gelisah sekali.


"Grizelle diculik oleh saudaramu yang telah menyamar menjadi seorang dosen di kampus nya, dan sekarang aku dan juga yang lainnya akan mengepungnya. Keberadaannya sudah ditemukan" Andra segera berdiri, memakai jaket serta membawa tas yang selalu ia bawa kemanapun.


DEG!


Ternyata rencana ini yang tempo dulu Jasson katakan padanya jika dia akan membawa Grizelle pergi.


Ternyata dia menyamar menjadi seorang dosen di kampus dimana Grizelle berada. Pantas saja saat Diandra berkunjung ke apartemennya - ia pernah melihat beberapa tumpuk buku bisnis, dan sekarang ia tahu itu alasannya.


Diandra benar-benar tidak menyangka jika saudaranya akan segila itu.


"Jasson benar-benar sudah gila, sama saja dia menyerahkan nyawanya kepada Samuel dan juga Bayu. Dia benar-benar salah memilih musuh" Desis Diandra dalam hati. "Aku akan ikut bersamamu, Andra" Ucapnya seraya mengambil mantel miliknya.


Andra yang hendak pergi berbalik, "Tidak sayang. Ini akan bahaya untuk kamu" Andra tidak mau terjadi sesuatu jika Diandra tetap keukeuh ingin ikut, apalagi sebentar lagi mereka akan menikah. "Kau diam saja disini ya, setelah selesai aku akan langsung pulang kesini"


Diandra menggeleng cepat, menarik tangan Andra yang hendak pergi. "Please sayang ijinkan aku untuk ikut. Jasson adalah saudaraku - ijinkan aku membantu kalian untuk menghancurkannya. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku kepada kalian semua karena kelakuan biadabnya" Ujar Diandra.


Menghembuskan nafasnya pasrah, mau bagaimana lagi jika Diandra sudah memohon seperti itu - ingin menolak pun tidak tega.


"Baiklah. Tapi berjanjilah untuk tetap hati-hati"


"Terima kasih sayang"


🌻


Barusan Jasson mendapatkan telpon dari anak buah yang sudah ia perintahkan untuk mengecek keberangkatan mereka ke Italia, namun orang tersebut mengatakan jika penerbangan malam ini mendadak kacau. Tentu Jasson merasa kesal, kenapa tiba-tiba sekali, pikirnya.


"Brengsek! Kenapa seluruh penebangan mendadak kacau seperti ini!"


Jasson berdecak, melempar ponselnya pada atas meja - membuat Grizelle yang sudah lemah dan kelelahan tersenyum meremehkan. Gadis yang sudah tidak punya tenaga itu tersenyum miring, menatap Jasson begitu puas karena rencana nya telah gagal sebelum dilakukan.


"Menurutmu siapa dalang dibalik kekacauan ini, Jasson?" Tanyanya santai, "Bukankah suamiku sangat keren?"


Jasson berdecih tidak suka, menghampiri Grizelle yang masih ia ikat pada kursi lalu berjongkok dihadapannya.


"Keren darimana, dia lalai menjaga kamu. Buktinya aku bisa membawamu ke tempat seperti ini" Sahut Jasson.


"Dia tidak pernah lalai mengawasi aku Jasson, kau saja yang bodoh" Ya, bodoh karena pria itu masih belum menyadari jika ada alat penyadap dan juga GPS yang terpasang pada kalung yang dipakainya. Bagaimana Jasson sampai tidak bisa menyadarinya, bahkan bentuk kalung yang dipakainya sangat mencolok sekali dengan kalung biasanya.


"Jika aku bodoh, menyamar menjadi dosen tidak akan pernah terpikir olehku!"


CIH!


Kalau hanya begitu saja, Grizelle juga bisa!

__ADS_1


"Apakah kau bangga dengan semua kejahatan mu selama ini?"


"Tentu. Aku bisa memiliki apa yang aku inginkan!"


"Termasuk merebut hak orang sekalipun?"


"Apapun!"


Grizelle terkekeh pelan, mengalihkan pandangannya pada sebuah bayangan yang tidak sengaja ia lihat pada pintu. Apakah itu suaminya, pikirnya. "Kau benar-benar menjijikan Jasson, aku merasa sangat sial telah dicintai pria seperti mu" Ucapnya.


"Jangan naif Grizelle, kau akan bahagia bila ikut bersamaku"


"Bahagia?" Menggelikan sekali. "Lebih baik aku mati daripada harus hidup dengan pria bajingan sepertimu" Desisnya.


"Benarkah?"


"Ya, aku tidak pernah berbohong dengan ucapanku"


Jasson tertawa pelan, dikeluarkannya pistol dari balik jaketnya lalu menodongkannya pada wajah Grizelle. "Bagaimana jika aku melakukannya?"


"Lakukan saja"


"Jangan meremehkan aku Grizelle. Kau pikir aku tidak berani menyakiti kamu?"


"Bukan aku yang meremehkan mu Jasson, tetapi hatimu sendiri. Hati kecilmu masih mempunyai rasa cinta yang tulus, berbeda dengan isi otakmu yang sudah sangat kotor itu! Otakmu hanya berisi dendam, dendam dan dendam!"


"Kau padai sekali mengintimidasi perasaan orang lain gadis kecil. Kau sedang bernegosiasi agar aku melepaskan kamu?"


"Untuk apa? Sebentar lagi juga suamiku datang. Iya kan mas?" Ucapnya dengan suara yang sengaja ia kencangkan agar Bayu bisa mendengarnya.


"Kau berbicara kepada siapa?" Heran Jasson mulai panik. Ia celingukan melihat keadaan sekitar, takut jika ucapan Grizelle benar-benar terjadi.


"Menurutmu? Kepada suamiku, siapa lagi?"


Bayu, Samuel dan juga Theo berangkat dalam satu mobil yang sama. Sedangkan Hendry dan yang lainnya mengikutinya dari belakang.


Kurang lebih lima belas menit lagi tempat dimana Grizelle diculik sudah dekat, daerah pinggiran kota yang sangat jauh dari manapun.


"Cih! Kau berbicara menggunakan telepati?" Ucap remeh Jasson.


"Ya bisa dibilang seperti itu, kami mempunyai ikatan batin yang sangat kuat - terlebih lagi aku sedang mengand-"


Belum sempat Grizelle menyelesaikan kalimatnya, suara pot terjatuh membuat keduanya menoleh terkejut. Jasson langsung menodongkan pistolnya ke arah sumber suara. "Kamu diam disini, jangan berisik. Aku akan ke luar untuk mengecek keadaan disana" Ucap Jasson seraya membekap mulut Grizelle dengan lakban yang dibawanya.


"Semoga itu mas Bayu" Batinnya penuh harap.


Ketika Jasson memeriksa keadaan di luar, pria berambut gondrong yang sedari tadi bersembunyi dibelakang pintu menerobos masuk lalu menguncinya dari dalam.


Grizelle sempat terkejut dengan kehadiran pria tersebut, "Kak Reymond?" Batinnya.


"Hay, apakah aku telat?" Bisiknya pelan.


Rey langsung menghampiri Grizelle lalu membuka seluruh tali yang mengikat tangan dan juga kaki Grizelle serta melepaskan lakban yang membekap mulutnya. "Kamu gak apa-apa? apakah pria itu macam-macam? Apa dia menyakiti kamu? Katakan, dimana yang sakit?" Panik Rey.


Grizelle terkekeh pelan mendengarnya. "Satu-satu kak, gimana aku ngejawab pertanyaan kakak kalau diborong begitu" Rey terkekeh juga, ia terlalu panik melihat keadaan Grizelle yang terikat.

__ADS_1


"Aku terlalu panik"


Rey sudah mengunci ruangan tersebut agar Jasson tidak bisa masuk kedalam. Kebetulan disebelah sana ada jendela yang lumayan besar, Rey akan mengajak Grizelle kabur melewati sana.


"Aku gak apa-apa kak, aku cuma butuh makan soalnya bayi-"


Brug!


Grizelle dan juga Rey panik ketika mendengar pintu yang berusaha didobrak dari luar. "GRIZELLE! JANGAN MACAM-MACAM KAMU YA!" Teriak Jasson murka.


Rey panik langsung menyuruh Grizelle naik ke punggungnya untuk melewati jendela yang lumayan tinggi. "Cepat naik Grizelle, atau kita akan mati!" Ucap Rey tergesa-gesa.


Grizelle yang ikutan panik langsung naik tanpa berpikir jika Rey akan keberatan dengan berat badannya. "Maaf kak, aku berat ya?"


Rey terkekeh. Dalam situasi seperti ini saja masih membicarakan berat badan, ya ampun Grizelle. "Lumayan!" Ucapnya tertahan karena menahan berat yang menghujam pundaknya.


Sore itu Rey baru keluar dari perpustakaan, ia yang hendak pulang tidak sengaja melihat Grizelle sedang berdiri sendirian diparkiran. "Pasti belum dijemput supirnya deh"


Rey sudah siap akan memakai helmnya, rencananya ia akan menawarkan tumpangan kepada Grizelle dan mengantarkannya pulang. Rey tidak perduli jika akhirnya ia ditolak. Ingat kata Rendy tempo dulu "Loe gak akan tahu rasa gula itu manis kalau loe gak nyoba! Sekalipun rasanya bakalan pahit, seenggaknya loe udah nyoba!"


Baru saja Rey akan menghampiri Grizelle, ia mematikan lagi mesin motornya ketika melihat dosen baru itu mendekati Grizelle. "Telat lagi aja gue! Banyak banget sih Griz yang deketin kamu, ya ampun!" Ucapnya jengkel.


Rey tidak buru-buru pergi, apalagi melihat Grizelle yang dibawa masuk oleh dosen tersebut - membuat perasaan Rey tidak terima. Kenapa hatinya mendadak tidak tenang seperti ini.


"Ikutin jangan ya?"


Ah tapi untuk apa, dia kan seorang dosen, tidak mungkin bermacam-macam.


"Tapi kenapa gue gak enak hati gini? Terus kalau gue ikutin buat apa coba, gak ada kerjaan banget!"


Untung saja Rey memutuskan untuk mengikuti mobil dosen tersebut, ternyata dugaannya benar. Grizelle dibawa ke suatu daerah yang entahlah - jauh dari manapun.


Didepan sana, Bayu dan yang lainnya sudah datang. Ia yang sudah panik langsung turun dan mencoba menerobos masuk jika Hendry dan Andra tidak menahannya. "Jangan gegabah, Jasson bersenjata!" Ucap Hendry seraya menyerahkan pistol miliknya.


"Loe bisa mati kalau gak pegang itu" Tambah Andra.


Meskipun Bayu sudah menggunakan jaket anti peluru, tetapi bagaimanapun juga dia butuh senjata - mengantisipasi jika Jasson melakukan penyerangan nanti.


"Sebagian lewat belakang!" Bayu mengisyaratkan tangannya kepada para pengawalnya, "Sebagian lagi lewat samping dan depan"


Grizelle sudah berhasil keluar dari dalam ruangan tersebut, ia terkejut ketika melihat beberapa orang berseragam hitam menghampirinya.


"Kalian?"


🌻


...yarraanaya_...


...Yang belum follow Ig, follow ya guys .. Aku sering kasih spoiler ep selanjutnya disana. Mau tanya-tanya seputar ILYM atau takdir boleh banget ya .. Aku pasti bales DM kalian....



...REYMOND LIONARD...


...[Kim Tae-hyung/V]...

__ADS_1


__ADS_2