
Bayu sedang sendirian di kamar karena Grizelle akan mengantarkan Megan dahulu ke bawah yang katanya akan pulang, gadis itu terus merajuk karena merasa jengah dijadikan nyamuk oleh sepasang kekasih baru jadian itu.
Karena tidak mau waktu menunggunya terbuang sia-sia, Bayu mengambil ponsel Grizelle yang tergeletak diatas kasur lalu mencuri beberapa foto baru gadis itu. Bayu juga beberapa kali iseng memotret dirinya sendiri karena foto yang berada dalam galeri kekasihnya hanyalah hasil curian ketika ia mengajar.
Nakal! Tolong ingatkan Bayu untuk menghukumnya nanti.
"Hey ponsel siapa itu foto-foto sembarangan!"
Bayu menoleh, langsung mendudukkan dirinya setelah gadis itu mendekat.
"Ini lebih sopan daripada diam-diam mencuri foto seorang pria yang sedang mengajar. Dasar pencuri!"
DEG!
Grizelle mendekat dengan panik, berusaha merebut ponsel miliknya dari tangan pria yang tengah menatapnya.
"Mas sini!" Pinta Grizelle setengah memaksa. Karena ia sangat malu telah ketahuan sering mencuri fotonya dahulu sebelum mereka dekat seperti sekarang.
"No!"
Bayu menyembunyikan ponsel tersebut dari balik tubuhnya, Grizelle yang melihatnya berusaha mengambil sehingga tidak menyadari jika secara tidak sengaja telah memeluk tubuh pria itu.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Grizelle menarik tubuhnya namun dengan cepat ditahan oleh pria yang kini balik memeluknya. Grizelle terpaku, jantungnya selalu berantakan berada dalam jarak dekat seperti ini. Dia berusaha melepaskan, namun Bayu semakin mengeratkan.
Menatap lekat wajah gadis yang sangat dicintainya, menyingkirkan helaian anak rambut yang menghalangi wajahnya - wajah yang beberapa hari kemarin pucat kini telaj kembali merona, Bayu selalu menyukainya. Mata itu terpejam rapat kala kecupan lembut mendarat tepat pada dahinya. Sebelum akhirnya terbuka dengan seuntai kata, "I love you" Ungkapnya begitu lembut.
Grizelle terpaku, menatap mata yang penuh dengan ketulusan disana. Dan Grizelle yakin sekarang jika dirinya benar-benar percaya dengan cintanya, kesungguhannya.
"Me too my teacher"
Grizelle membenamkan wajahnya pada dada bidang sang pria, menyembunyikan kebahagiaan yang teramat disana.
🌻
Setelah hampir seminggu beristirahat dirumah, hari ini gadis itu sudah kembali bersekolah dan kembali bertemu teman-teman yang sangat dirindukannya.
Mereka yang tidak ikut kemarin langsung mengerumuni, menanyakan bagaimana keadaan tangannya sekarang.
Apakah sudah benar-benar sembuh atau masih dalam masa pemulihan?
"Aku sudah sembuh, kalian tidak perlu khawatir"
Mereka yang mendengarnya bernafas lega. Untung saja tidak terjadi apa-apa, apalagi setelah mendengar kabar jika uratnya kena, mereka takut luar biasa.
"Aku panik banget pas liat tangan kamu saat itu, darahnya banyak! Tapi untungnya pak Bayu langsung sigap bawa kamu" Ucap salah seorang temannya khawatir.
Grizelle menggigit bibirnya takut. Semoga saja mereka menganggapnya hanyalah sebuah pertolongan saja, tidak lebih. Dia belum sanggup kalau hubungan nya diketahui sampai dirinya lulus nanti.
"Tapi aneh gak sih?"
"Kenapa?"
"Aku kasih tau, ya! Hampir 3 tahun aku sekolah disini dan baru pertama kali lihat pak Bayu benar-benar panik nolongin muridnya!"
"Refleks seorang guru itu namanya, Dhea"
"Masa sih?! Bukan karena sesuatu, ya?"
"M-mana ada. Pak Bayu cuma menolong saja, jangan berpikiran yang tidak-tidak!"
Grizelle gugup, namun tetap berusaha tenang atau mereka akan mencurigainya. Megan sendiri hanya diam, memberikan senyuman mengejek karena merasa tidak ada yang perlu dibantu.
Biarkan saja, dia masih jengkel karena hampir pingsan melihat bagaimana lembutnya seorang guru yang terkenal paling dingin itu bersikap terlampau lembut hanya kepada murid yang dipacarinya saja.
Sedangkan saat berbicara kepada dirinya, pria itu akan kembali berubah menjadi sebongkah es batu yang dingin.
"Ya gimana gak berpikir kesitu. Tatapan pak Bayu ke kamu itu sangat dalam dan penuh cinta, tau!"
__ADS_1
Grizelle terkekeh, mengeluarkan sekotak besar kue yang sengaja ia bawa dari rumahnya. Kata mommy aiko suruh dibagikan ke teman-teman sekelas, oleh-oleh dari Jepang.
"Daripada gosip terus, lebih baik kalian makan ini. Mommy aku bawain kue buat kalian semua"
"Wow! Muso castella cake"
"Ada juga Tokyo banana sama momiji manju. Eh ini apa?"
"Daifuku cream. Kalau disini seperti mochi"
"Alright. Aku makan ya, Grizelle? Terimakasih"
"Sama-sama"
Bel istirahat berbunyi membuat teman-teman sekelas pergi berhamburan ke luar sehingga menyisakan Grizelle seorang diri didalam kelas. Megan sendiri sedang ke toilet, katanya kebelet.
"Haus! Megan lama sekali"
Sebenarnya Grizelle bisa saja pergi ke kantin, namun dia masih sedikit takut jika Fiona kembali mengganggu atau mencelakai nya. Mengingat 3 hari lagi adalah pertunangannya dengan Bayu, Grizelle harus menjaga dirinya sampai hari itu tiba.
Nampaknya aman-aman saja jika dirinya pergi sendiri, meskipun kemungkinan besar bertemu, tetapi semoga saja Tuhan ikut serta melindunginya sampai ia kembali lagi.
Semuanya berjalan biasa saja, dia berhasil sampai ke kantin tanpa halangan apapun. Kini tenggorokannya sudah tidak kering lagi setelah membeli minuman dingin favoritnya.
"Terimakasih, Bu" Ucapnya pada ibu kantin.
Dia berbalik untuk kembali ke kelas, namun sepertinya dia akan menemui kesulitan kala netra sewarna madu itu bertubrukan langsung dengan tatapan penuh kebencian terhadapnya.
Grizelle masih diam, kakinya terasa kaku untuk melangkah sampai suara berat seseorang dibelakangnya terdengar buat Grizelle menoleh terkejut.
"Dimana Megan, kenapa sendirian?"
"P-pak Bayu?!"
Grizelle terkejut dan juga lega disaat yang bersamaan. Dia mendongak dan kembali berkata, "M-megan di toilet, a-aku sendiri kesini terus l-liat mereka" entah kenapa menjadi gugup seperti ini. Apakah karena ada Fiona dihadapannya, atau karena Bayu yang berada disampingnya?
"Maaf tapi, haus" Grizelle berkata pelan, wajahnya mendongak untuk menatap pria tinggi didepannya dengan mata yang mengerjap polos.
Ya Tuhan! Imut sekali.
Menghembuskan nafasnya kasar, Bayu mengisyaratkan kepada Grizelle untuk berjalan. Melewati beberapa murid yang sedari tadi menatap interaksi keduanya, lalu melewati Fiona juga kawan-kawannya.
Bisik-bisik mulai terdengar dari beberapa murid setelah mereka berjalan memasuki lift yang sama.
"Kalau ada kabar mereka jadian gue enggak kaget sih"
"Yap, beberapa kali gue liat kedekatan mereka"
"Apalagi pas kejadian beberapa hari lalu, gue yakin emang ada apa-apa diantara mereka"
"Iya. Tunggu kabar panas aja sih!"
"Gue setuju sih kalau beneran. Keluarga mereka ternyata sahabatan. Bisa aja ada semacam perjodohan, kan?"
"Baca novel mulu loe!"
"Ye! Liat aja nanti"
"Yaudah, pura-pura gak tau aja!"
Dan bisik-bisik itupun masih berlanjut sampai seseorang yang mendengarnya mengepalkan tangan, menahan emosi yang sedari tadi ia tahan.
"Sudah berani menunjukan rupanya. Oke kalau begitu, jika aku tidak bisa memiliki dia, maka kamu juga tidak!" Batinnya.
🌻
Bayu mengantarkan Grizelle sampai ke depan kelas, meskipun ia sudah melarangnya karena takut jika semua murid curiga, tetapi Bayu tidak perduli.
__ADS_1
"Ya sudah masuk gih, jangan keluyuran sendirian lagi" Bayu memperingati sebelum dirinya pergi, Grizelle hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kelas. Untungnya saja dilantai tiga dimana kelas kekasihnya berada, tidak ada satupun murid di sana. Jadi Bayu tidak perlu khawatir jika ada yang melihatnya.
Dikelas Grizelle sudah ditunggu oleh Megan. Gadis itu panik setengah mati ketika menyadari Grizelle tidak ada di bangku nya. Padahal sebelum dirinya pergi ke toilet, sudah ia peringati jangan pergi sebelum dirinya kembali. Tetapi saat dirinya akan mencari, dia malah menemukan Grizelle sedang keluar lift berdua dengan kekasihnya.
"Go publick nih ceritanya"
Grizelle mendelik, meletakan minuman yang sudah ia beli saat dikantin tadi.
"Nyari mati namanya"
"Lah tadi, udah berani jalan berdua keliatannya"
"Itu gara-gara kamu ya! Aku haus, harus ke kantin sendirian dan bertemu Fiona tadi. Untung aja ada," Grizelle berbisik, "mas pacar tadi, aku aman sampai tujuan." Imbuhnya malu.
Megan terkekeh pelan.
"Yakin nih just boyfriend? kata denger sih tiga hari lagi bakalan ada yang tunangan"
PLAK!
Grizelle memukul pelan tangan Megan, memelototinya karena suara Megan benar-benar terdengar keras tadi.
"Pelankan suara kamu, Megan! Kamu mau aku mati gara-gara di amuk fans nya?! Astagaa~ kalau sudah tau diam saja!"
Megan menutup mulut dengan kedua tangannya, menengok kiri dan kanan dengan cengiran setelahnya.
"Serius ini mau tunangan? kamu- pak Bayu?"
"MEGAN!"
🌻
"Who do you keep looking at, Bayu? Bisa-bisa lehermu patah nanti!"
Hendry meletakan satu cup coffe americano dengan cemilan ringan yang dipesannya tadi. Pria berdarah Chicago itu nampak heran, akhir-akhir ini sahabatnya itu sering menghabiskan makan siang dikantin sekolah. Tidak biasa saja, pikirnya.
Tentu saja, keindahan disampingnya tidak mungkin ia lewatkan sedetikpun. Bagaimana seorang gadis sedang tertawa, lalu banyak berceloteh hal-hal receh dengan teman-teman nya dan itu sangat cantik. Bayu selalu menemukan energinya setelah seharian lelah mengajar maupun memeriksa urusan kantor dalam tabnya.
"Tidak ada"
Hendry memgedikan bahu, acuh.
"Yang lain mengajak keluar akhir pekan, ka-"
"Tidak, aku ada urusan bersama keluargaku."
Hendry menaikan sebelah alisnya. Tumben sekali seorang Bayu mau ikut dalam acara keluarganya. Biasanya pria berdarah Korea - Jawa itu selalu tidak tertarik.
"Tumben?"
"It's about my future." Bayu kembali melanjutkan kalimatnya sebelum Hendry memotongnya, "Simpan rasa keingintahuan mu untuk nanti, Hendry! Aku tau dari ekspresi wajahmu banyak sekali pertanyaan, bukan?!" Imbuhnya.
"Okay" Hendry mengangkat kedua tangannya, "Tapi semoga segala apa yang otak jeniusku pikirkan itu tidak benar. Kau berhak memilih sendiri pilihanmu" karena Hendry sangat paham dengan apa yang sedang dibahasnya ini.
Bayu terkekeh pelan, "Itu benar dan sayangnya aku tertarik dengan pilihan mereka. Huh, berhenti membahas!"
"Argh sialan, aku akan mati penasaran sepertinya"
Bayu hanya terkekeh sampai seseorang menghampiri meja mereka, dia kembali pada ekspresi datarnya. Dalam hati Bayu berdecak, ia tidak suka sesi istirahat nya terganggu. Itu alasan dia lebih sering beristirahat dalam ruangannya.
"Bolehkah aku duduk disini, Hendry?" Tanya seorang wanita berpakaian rapih. Wajahnya manis dengan rambut yang dibiarkan tergerai indah sampai pinggang itu. Hendry mengangguk, mempersilahkan wanita itu untuk duduk disebelahnya. Bayu sendiri tidak perduli, meski wanita itu terus memperhatikan. "Thanks"
"You're welcome, Miss Jessica"
🌻
\={R E V I S I}\=
__ADS_1