I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
(S2) Episode 97 - Ospek


__ADS_3

Happy reading


🌻


"Sayang, kalau udah selesai kabarin mas ya. Nanti mas jemput" Ucap Bayu seraya membukakan sabuk pengaman pada tubuh istrinya dan gadis itu hanya terdiam, memperhatikan wajah suaminya yang begitu dekat.


"Iyaa" Mengelus sebelah pipi kirinya Bayu lalu mendaratkan ciuman singkat disana, "Terima kasih, sayang" Imbuhnya.


"Oh iya mas, jangan lupa bekalnya dihabisin ya. Jangan pelit, bagi-bagi sama kak Andra dan mbak Khanaya. Aku udah bikin banyak dan pisahin buat mereka" Kata Griz seraya merapikan kembali penampilannya.


Sedangkan Bayu, laki-laki itu terus saja memperhatikan nya dengan tersenyum-senyum. Ia tidak begitu mendengarkan istrinya yang terus mengoceh. Matanya hanya fokus pada wajah istrinya yang tetap terlihat sangat cantik walaupun menggunakan pernak-pernik yang tidak biasa di tubuhnya. Rambutnya juga bahkan terlihat lucu dengan kepang dua disebelah kiri dan kanannya. Orang yang melihatnya pasti tidak akan percaya jika gadis itu sudah memiliki suami.


"Aku turun ya mas, hati-hati dijalan nya. Kabarin kalau udah sampai kantor, I love you, mas Bayu"


Baru saja tangannya akan membuka handle pintu mobil, tiba-tiba Bayu menahannya, "Kenapa mas?" Griz heran.


"Kamu lupa sesuatu?" Tanya Bayu yang membuat gadis itu berpikir. Melihat wajah istrinya yang bingung, Bayu malah mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir istrinya. "Kamu lupa kasih ini" Imbuhnya setelah ciumannya terlepas.


"Ya ampun mas, kirain apa" Terkekeh lucu dengan tingkah suaminya.


Saat Griz keluar dari dalam mobil, ada beberapa senior yang memperhatikannya. Bayu yang melihatnya langsung menelpon seseorang, "Tolong awasi" Perintah nya, "Jika ada yang mencurigakan, cepat hubungi saya!" Imbuhnya.


Griz melambaikan tangan saat melihat mobil suaminya pergi, dan beberapa senior yang memperhatikannya pun saling bertanya, "Siapa?" Tunjuknya pada Griz yang sedang melambaikan tangan pada mobil berwarna mewah berwarna putih. "Tapi kayak yang gak asing deh mobil itu" Imbuhnya kemudian.


"Masa si?" Heran teman disebelahnya yang bernama Mela.


"Iya" Sementara perempuan yang bernama sisil itu sedang mengingat-ingat dimana ia pernah melihat mobil itu, Mela malah berceletuk mengomentari wajah Griz dengan santainya, "Cantik banget ya, kayak Barbie. Saingan Lo nih, sil" Ucapnya setengah meledek.


"Cih! Gak bisa!"


Silsila Andriana, panggil saja Sisil. Primadona Angkasa mahasiswa tingkat 3 yang terkenal sangat pedas ketika berbicara. Tidak ada yang berani berurusan dengannya, siapa saja yang mengganggu nya akan mendapatkan masalah yang besar, bahkan pernah ada yang pindah gara-gara tidak kuat mendapat ancaman darinya.


"Tapi bener 'kan apa yang gue bilang, dia cantik?" Sontak rindy langsung mencubit tangan Mela karena melihat sisil yang terlihat marah.


"Gak ada yang lebih cantik dari gue dan gak ada juga yang bisa gantiin posisi gue, ngerti?" Ucapnya setengah mengancam. Mela yang kadang jika berbicara ceplas-ceplos pun mengangguk takut.


"I-Iya sil, gue bercanda doang"


Sementara itu, Griz merasa kagum dengan gedung kampus yang terlihat sangat megah dan mewah dihadapannya. Ia jadi berpikir, "Aku curiga deh kalau ini punya papa Theo" Katanya sambil berpikir. "Tapi kayaknya bukan deh"


Gadis itu berjalan memasuki kampus, belum banyak orang yang datang dan hanya beberapa saja yang terlihat berkumpul dengan teman-teman nya. Griz merasa heran, kenapa mereka terus melihatnya, apakah ada yang aneh dalam dirinya? Namun itu tidak menjadi masalah, Griz tidak perduli meskipun agak risih juga.


Ia merogoh ponsel yang ada di tasnya untuk menghubungi Fiona dan Megan yang entah dimana.


"Si Megan sama si Fio kemana lagi belum datang juga!"


Karena terus fokus pada ponsel yang dipegangnya, Griz yang tidak memperhatikan jalan sampai tidak sengaja menabrak seseorang dihadapannya sampai mereka terjatuh bersama.


"Aduh" Keluh gadis itu saat tangannya yang terbentur lantai terasa nyeri.


Laki-laki yang lebih dulu bangun itu berjongkok mencoba membantu Griz untuk bangun namun Griz menolaknya. "Aku bisa sendiri, kak" Kata Griz sedikit kesusahan untuk bangun karena barang bawaannya yang lumayan banyak.


"Oh"


Setelah berhasil berdiri, Griz menatap laki-laki dihadapannya dengan wajah penuh dengan penyesalan. "Maaf kak, a-aku gak sengaja" Ucapnya gugup. Griz benar-benar ketakutan, ia takut jika mempunyai perkara dengan senior apalagi dirinya baru saja masuk.


"It's okay, tangan kamu?" Tunjuknya pada siku Griz yang sudah terlihat memerah. Laki-laki itu mencoba menyentuhnya namun lagi-lagi Griz menghindarinya.


"Cuma memar sedikit nanti juga hilang. Sekali lagi aku minta maaf ya kak?"


"Iya" Singkat pemuda itu. Ia masih berdiri memperhatikan Griz yang mulai pergi, namun baru beberapa langkah "Hey kamu!" Panggilnya. Seketika tubuh Griz membeku ketika suara dingin itu memanggilnya, apakah orang itu akan memarahinya?

__ADS_1


"A-ada apa?"


"Segera kumpul dilapangan, sebentar lagi mulai"


"I-Iya kak, terima kasih"


Griz langsung menuju lapangan yang berada tidak jauh dari tempat dirinya berdiri, sedangkan laki-laki itu terus memperhatikan Griz yang mulai jauh dari pandangannya. "Grizelle Jovanka" Tersenyum sambil memegangi name tag yang dipegangnya.


"Reymond Lionard!" Teriak laki-laki berambut ikal mengagetkan Rey yang terpergok melamun sambil memperhatikan peserta Maba. Dia adalah Rendy Pangalila, tapi bukan artis, hanya namanya saja yang sama. Bahkan wajahnya pun sangat jauh berbeda. Sebuah fakta yang menyakitkan.


"Gak usah teriak-teriak, bisa?" Rey bertanya.


"Hey tuan muda Reymond Lionard yang paling ganteng se-universitas Angkasa ini, daku sudah memanggilmu dengan suara yang begitu lembut sampai-sampai sutra saja iri melihatnya, tapi loe gak denger!" Kesal Rendy, "Lagi ngeliatin apa sih, serius amat?" Imbuh laki-laki tersebut.


"Kepo!" Sahut Rey acuh. Ia kembali berjalan menuju ruangan dimana teman-temannya berkumpul.


"Gue tau Lo pasti lagi merhatiin dedek-dedek gemes, 'kan?" Goda Rendy dengan menaik turunkan alisnya sehingga Rey jijik melihat tingkah sahabatnya yang kelewat narsis itu.


Reymond Lionard adalah ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) universitas Angkasa. Ia juga merupakan mahasiswa tingkat 3 yang sangat famous karena ketampanannya. Tidak hanya tampan, Rey juga anak seorang menteri negara dan juga salah satu mahasiswa yang berprestasi dibidangnya. Tidak heran jika dirinya begitu di gilai oleh seluruh mahasiswi disana. Namun meski begitu, tidak ada satupun wanita yang mampu menarik perhatiannya yang katanya, biasa saja.


"Cantik-cantik ya?" Imbuhnya setelah mereka sampai digedung B dimana semua panitia berkumpul.


"B aja!" Cueknya.


"Heran gue, Lo tuh ganteng banget Rey. banyak banget primadona Angkasa yang ngantri nungguin cinta Lo, tapi gak ada satupun yang bikin Lo klepek-klepek? Selera Lo kayak gimana sih, biar gue cariin. Kasian ngejomblo terus" Rendy sungguh tidak mengerti dengan sahabatnya yang satu ini, menurutnya Rey terlalu dingin dan acuh pada wanita. Padahal jika dia berada di posisi Rey sehari saja, Rendy akan memacari semua primadona Angkasa yang terkenal dengan kecantikannya.


"Daripada Lo ngoceh dan gue sama sekali gak perduli omongan Lo, mendingan Lo urus tuh peserta Maba yang udah kumpul!"


"Iya-iya, untung temen gue Lo!" Sahutnya kesal.


Saat sedang memberikan pengarahan pada seluruh panitia, Rey berdecak malas saat Sisil berserta teman-temannya datang menghampirinya. "Uler sawah datang, butuh pawang?" Bisik Rendy tertawa-tawa. Ia tahu jika Rey sangat tidak menyukainya, tetapi perempuan itu terus saja mendekatinya.


"Terserah gue ya, mulut-mulut gue. Wlee" Mencebik sebal sebelum akhirnya pergi menyusul panitia yang lainnya yang sudah keluar lebih dulu.


"Dasar curut!"


"Hey Rey, udah sarapan? Nih aku bawain sandwich buatan aku sendiri. Dimakan yah?" Kata Sisil seraya menyerahkan kotak makanan nya.


"Gue udah sarapan!" Jawab Rey seraya pergi menyusul yang lainnya.


Sisil mendesah kesal, kenapa sulit sekali mendekati laki-laki yang terkenal sangat dingin itu. Meskipun segala cara sudah digunakannya, namun laki-laki itu tetap acuh.


"Sabar Silsila Andriana" Ucapnya seraya mengelus dadanya. Ia memasukan kembali kotak makanannya dan berlari menyusul Rey yang sudah keluar.


"Agak gak tahu malu ya, udah berapa kali ditolak tetap dideketin" Bisik rindy yang disetujui oleh Mela.


"Kata gue juga apa! Dah lah, kita susul aja. Semoga aja banyak berbondong-bondong imut, biar bisa gue gaet. Hahaha"


"Idih, inget umur! Lebih pantes jadi Tante nya iya!"


"Biarin, daun muda lebih mempesona, haha"


Tepat pukul 8 pagi, seluruh mahasiswa baru alias Maba berkumpul disebuah lapangan luas. Mereka akan mengikuti rangkaian kegiatan orientasi sebelum aktif memulai perkuliahan yang bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa pada kehidupan perkuliahan.


Sebelum pada kegiatan ospek, BEM kampus angkasa terlebih dahulu menyampaikan orasinya lalu menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2021.


"Gila! Ganteng banget, cool-cool manja" Bisik Megan pada Fiona yang berdiri disebelahnya. Bukan hanya mereka, bahkan banyak Maba lainnya yang begitu mengagumi ketampanan ketua BEM tersebut. Meskipun terkenal sangat dingin dan galak, namun itu yang menjadi daya tariknya dan mereka semakin bersemangat ketika mendengar jika ketua BEM tersebut belum mempunyai pacar.


"Si Bryand mana ya, gue bilangin ah" Goda Fiona.


"Dia dijurusan arsitektur, yakali berdiri disini. Lagian gue cuma mengangumi aja, ko ada ya manusia seganteng itu ya meskipun lebih ganteng suaminya si Grizelle sih" Melirik Griz yang terhalang Fiona, "Heehe. Damai Griz" Mengangkat jarinya membentuk huruf v sebagai tanda perdamaian karena telah keceplosan menyebutkan suami.

__ADS_1


Griz menepuk jidatnya, untung saja suasana dilapangan cukup berisik karena kekaguman Maba terhadap ketua BEM yang sedang berbicara didepan sana, jadi Griz cukup tenang dan tidak takut jika ada yang mendengarnya.


"Si Megan bener-bener!" Kesal Griz dalam hati. Gadis itu kembali diam, tidak perduli seberapa tampan ketua BEM tersebut, menurutnya tidak ada yang lebih tampan selain suaminya seorang.


"Hazar Griz! Haha"


"Masih kalah jauh!" Ucapnya bangga pada Fiona dan juga Megan.


🌻


"Meg, name tag aku gak ada" Griz panik saat menyadari jika papan namanya tidak ada. Seingatnya ia sudah memakainya dan tidak sedikitpun melepaskannya.


Megan yang memang 1 kelompok bersama Griz ikut mencarinya didalam tas, namun hasilnya nihil.


"Gimana dong?" Semakin panik saat melihat pembimbingnya selesai berdiskusi. Aaa, kenapa harus ada masalah si?


"Kamu lupa bawa kali, Griz" Kata Megan.


"Enggak, aku pake terus tapi gak ada. Apa jatuh gitu ya?" Gadis itu kembali mengingat kejadian dimana dirinya sempat bertabrakan dengan seorang laki-laki dan mungkin terjatuh disana.


"Aduh! Aku baru inget. Pas tadi baru Dateng, aku nabrak senior di koridor sana. Mungkin jatuh disana kali ya, aku mau cari dulu deh" Namun saat Griz akan pergi, ia dihalangi oleh pembimbingnya yang terkenal sangat galak.


"Mau kemana Lo?" Ketus Sisil. Ternyata gadis yang disebut-sebut Maba paling cantik itu berada dibawah bimbingannya.


Ck! Menyebalkan.


"A-aku mau ambil name tag aku kak, kayaknya ada disana pas tadi jatuh" Sahut Griz gugup.


Sisil tertawa mendengar alasan basi gadis dihadapannya. "Alasan! Jatuh apa emang sengaja gak dibawa?!" Bentaknya lagi.


"Serius kak, jatuh"


Ini adalah kesempatan dirinya untuk menjahili Maba itu, ia mulai berpikir licik, kira-kira hukuman apa yang bisa membuatnya malu. Sisil sangat kesal karena memang Maba itu sangat cantik. "Apapun alasannya, kamu harus dihukum!"


"Enaknya diapain nih?"


"Suruh joged aja sil, seru kayaknya" Mela menyahut, ikut memberi saran.


"Terlalu gampang" Tolak Sisil.


"Terus?"


"Lo!" Menunjuk wajah Griz, "Cari yang namanya Reymond Lionard, Lo minta hukuman sama dia. Cepat!" Perintahnya tanpa ingin dibantah. Sisil yakin jika Rey akan memberikan hukuman berat, mengingat Rey termasuk orang yang sangat disiplin dalam hal apapun.


"I-Iya kak" Griz segera pergi, mencari orang yang disebutkan tadi yang ternyata sedang duduk dibangku taman seorang diri. Untung saja Griz sedikit hapal wajah ketua BEM tersebut, jadi ia tidak perlu bertanya kepada oranglain.


Dengan perasaan berdebar, Griz memberanikan diri untuk mendekati laki-laki tersebut. "Mas Bayu, doakan istrimu ini semoga hukumannya engga sulit" Doa Griz dalam hati.


"Kak" Panggilnya.


Rey yang sedang fokus mengambil Poto bunga pun menoleh.


DEG!


Bersambung!


Koment dong, gimana? Haha.



__ADS_1


__ADS_2