
Grizelle memasuki rumahnya tergesa, dengan mulut yang terus menggerutu, "Awas saja kalau kesini, aku tidak akan menemuinya!" dan mengabaikan sapaan para maid yang sedang bertugas di ruang tengah. Mereka menatap sang nona bingung, tidak biasanya nona yang terkenal pecicilan dan riang itu terlihat tidak bersahabat sekali.
Maklum, mereka terbiasa dengan tingkah riang nona mudanya yang kelewat jahil. Tapi sekarang?
"Kenapa?"
Atensi ke tiga maid tersebut kini beralih kepada sang nyonya besar yang baru saja datang dari arah dapur. Ketiganya membungkuk hormat sebelum akhirnya menjawab.
"Tidak nyonya, hanya nona Grizelle terlihat seperti sedang emosi"
Wanita berdarah Jepang itu mengerutkan keningnya, heran.
"Emosi?" Ucapnya memastikan.
"I-iya nyonya besar"
Aiko mengangguk tanpa ingin bertanya lagi, ia memilih melangkahkan kakinya untuk menghampiri putrinya untuk menanyakan hal apa yang telah membuatnya emosi. Namun baru selangkah kakinya memijak anak tangga, suara deru mobil di halaman mansion mengalihkan atensinya.
Aiko berbalik, menoleh untuk menanyakan kepada maid siapa yang bertamu.
"T-tuan Bayu, nyonya" Jawab maid tersebut.
Oh calon menantunya, ternyata. Tapi tumben sekali sore-sore begini berkunjung? Apakah ada kaitannya dengan sang putri yang katanya emosi, tadi? Ah, biar Aiko tanyakan saja nanti.
Sementara Aiko menemui calon menantunya, dikamar, Grizelle membanting tubuhnya di atas kasur, kedua tangannya mengepal erat memukul-mukul sisi kasur dengan kesal.
"Benci mas Bayu!" Iya, benar-benar cinta, maksudnya. "Awas ya kamu mas!" Grizelle benci, ia kesal setengah mati saat mengingat pria yang berstatus tunangan nya itu mengusirnya. Bukan mengusir sih, ya tapi tetap saja Grizelle benci.
Ia merogoh ponsel pada saku jas almamater, melihat beberapa notifikasi masuk memenuhi room chat nya.
^^^SHAWN :^^^
^^^[Bersiaplah dengan permohonan seorang pria bucin, aku sudah menjelaskannya tadi. Tengok ke bawah, pasti ada mobil calon suamimu!]^^^
^^^[Masakan aku daging sapi Wagyu. Malam aku akan ke rumah]^^^
Grizelle bangun dari pembaringan nya setelah membaca pesan tersebut, dia membuka tirai jendela kamar hanya untuk memastikan apakah benar calon suaminya itu berada dibawah? Dan ternyata, mobil pria itu benar-benar ada disana.
Memilih mengabaikan ketukan pintu dari mommy nya, "Sayang, buka pintunya sayang. Tumben dikunci? Ada calon suamimu tuh" Biarkan saja! Grizelle ingin memberi pelajaran pada pria menyebalkan itu.
Ponsel yang sempat ia simpan pada meja diambilnya lagi, membaca puluhan pesan masuk dari calon suaminya yang sempat ia abaikan tadi.
^^^CALON SUAMI :^^^
^^^[Angkat telpon mas, sayang. Mas benar-benar minta maaf]^^^
^^^[Mas sedang di jalan, tunggu mas di rumah]^^^
^^^[Sayang, mas dibawah]^^^
"I don't care!"
Setelah membaca deretan pesan tersebut, Grizelle kembali membanting ponselnya. Menyimpannya dibawah bantal, tidak lupa mematikan sinyal agar tidak ada seorangpun yang mengiriminya pesan lagi. Hari ini Grizelle ingin tidur tanpa diganggu siapapun, termasuk juga mommy nya yang sedari terus mengetuk pintu kamarnya, memanggilkan namanya serta memberitahukan bahwa ada calon suaminya dibawah.
Menarik kembali selimut bulu untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya AC, Grizelle memilih kembali memejamkan matanya setelah menyumpal telinganya menggunakan ear plug.
Sedangkan didepan kamarnya, Aiko mengerutkan dahinya bingung, tidak biasanya Grizelle mengunci pintunya. Bahkan ketika malam pun, putri satu-satunya itu tidak pernah menguncinya jika bukan Aiko sendiri yang mengingatkan. Katanya, kalau ada hantu bisa langsung lari tanpa harus ribet membuka kunci.
Ada-ada saja alasannya.
"Apa dia tertidur?" Monolog Aiko.
__ADS_1
Karena tidak mendapatkan respon apapun, wanita itu berbalik menuruni tangga. Dia kembali menghampiri calon menantunya dengan tidak enak hati.
"Apakah kalian bertengkar?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Bayu tentu saja bingung harus menjawabnya seperti apa. Pasalnya ini adalah kesalahannya karena terlalu terbawa emosi mendengar gosip tersebut. Wajar saja kalau sekarang Grizelle marah dan tidak mau menemuinya karena perlakuannya tadi siang yang sedikit dan terlalu kekanak-kanakan.
"Hanya sedikit salah paham, mom"
Aiko mengangguk paham, ternyata benar seperti apa dugaannya.
"Ya sudah biarkan saja Grizelle sendiri dulu. Dia kalau marah memang suka menyendiri dan tidak mau diganggu." Kata Aiko memberi pengertian kepada calon menantunya itu.
Bayu mengangguk pasrah. Sejujurnya jika di ijinkan, dia ingin pergi ke kamar calon istrinya itu untuk memohon atas segala kesalahannya. Tapi mendengar Aiko berkata seperti itu, sepertinya Bayu harus menahan diri untuk tidak menemuinya sampai esok hari.
"Ya sudah, Bayu pamit ya mom"
"Iya"
Aiko menepuk pelan pundak menantunya, kemudian menghantarkannya ke depan.
Tapi sebelum Bayu menyalakan mobilnya, dia menengok ke arah kamar Grizelle.
[Mas pulang ya sayang. I love you, Grizelle Jovanka. Kalau sudah tidak marah beritahu mas ya]
🌻
Sejak pulang sekolah, putrinya itu belum keluar kamar juga. Aiko khawatir, dia takut kalau Grizelle sakit karena belum makan sama sekali sampai sekarang. Sudah beberapa kali Aiko menelpon namun tidak tersambung.
"Kenapa, mom?"
Aiko mendongak, menatap si penanya dengan riak wajah terkejut.
"Reviano?"
"Yes mom, how are you?" Shawn bertanya.
"Seperti yang kamu lihat. Kapan kau datang?" Aiko menarik Shawn untuk duduk, ingin bertanya banyak hal kepada anak dari kakak yang hanya berbeda sepuluh menit darinya itu.
"Seminggu lalu--"
"Dan kau tidak memberitahukan kami?"
Shawn meringis mendengar teriakan yang kata Grizelle lebih bising dari suara terompet itu menyela kalimatnya. Kupingnya ia tutup rapat, takut gendang telinganya pecah nanti.
"Mom, aku sibuk mengurus segalanya seorang diri. Mommy and Daddy tidak membantuku karena mereka tidak setuju aku ke Indonesia. Makanya aku sibuk mengurus ini dan itu"
Lagi-lagi Shawn menutup telinganya rapat-rapat. Teriakan yang terdengar lebih nyaring kembali menggema dalam mansion mewah itu, Shawn rasa jika sekali lagi wanita itu berteriak, gendang telinganya akan benar-benar pecah kali ini.
"Keterlaluan! Biar mommy yang akan memarahi mereka!"
Ini yang Shawn suka jika berada disekitar keluarga Jovanka, semua akan memanjakan dan membelanya. Berbeda sekali dengan orangtuanya yang mendidiknya cukup keras.
"Aku juga satu sekolah dengan Grizelle"
"Bagus kalau begitu. Jaga adikmu lebih ekstra, seseorang terus mengancamnya"
Shawn tidak perlu bertanya siapa seseorang yang Aiko maksud, karena dia tau siapa orang tersebut. Dia hanya mengangguk, mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja selama Grizelle berada didekatnya.
Tapi ngomong-ngomong soal Grizelle, kemana gadis cerewet itu? Kenapa batang hidungnya tidak terlihat sejak kedatangannya dua puluh menit lalu. Padahal dirinya sudah mengirim pesan kalau malam ini akan ke rumah dan meminta untuk di masakan sesuatu.
"Dimana dia?"
__ADS_1
"Di kamar. Sedang bertengkar dengan calon suaminya dan belum keluar sejak pulang sekolah. Bujuk dia untuk makan, mommy akan memasak spesial untuk kalian"
Aiko sudah pergi ke dapur, meninggalkan Shawn yang sekarang sedang berjalan menuju kamar yang berada dilantai dua mansion mewah tersebut. Pintu bercat putih bertuliskan 'Princess Grizelle' ia ketuk beberapa kali sampai pintu itu terbuka dan menampakan sosok mengenaskan seorang gadis yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya.
Rambut acak-acakan, seragam kusut, mata bengkak serta suara yang terdengar serak.
"Yang begini siap menikah setelah lulus sekolah?" Ucap Shawn setengah meledek.
Grizelle mendelik tidak suka, kemudian memukul keras kepala pria yang lebih satu tahun darinya itu. Biarkan saja, kakak sepupunya itu memang harus sedikit dikasih pelajaran. Mengganggu bobo cantiknya saja!
Lagian calon suaminya itu tidak akan mempermasalahkan hal seperti ini, Shawn saja yang lebay.
"Berisik! Sana keluar, bukannya kamu akan ke rumah nanti malam? Ini masih sore tau"
Mengabaikan pria yang sedang duduk disebelahnya, Grizelle kembali menarik selimut bulu guna menghangatkan tubuhnya. Entah perasaan Grizelle saja, atau memang iya udara nya terasa lebih dingin seperti malam.
Ah mungkin sedang hujan, pikirnya.
Tak!
Grizelle meringis saat Shawn dengan jahat menjitak kepalanya bahkan mengatainya bodoh.
"Ini sudah malam, bodoh! Kau tidur apa mati, sih?!"
🌻
Nampak seorang pria sedang duduk sendirian, gelas berisikan minuman hitam pekat nan berbau memyengat tersebut masih ia lihat dengan lekat.
Pikirannya kembali kacau setelah kejadian kemarin malam saat dirinya tidak sengaja bertemu kembali dengan sang mantan kekasih, dan berakhir saling berciuman didalam mobil. Dia juga terus memikirkan perkataan mantan kekasihnya yang menyatakan bahwa dia dijebak.
"Tidak mungkin Cherry sejahat itu" Gumamnya pelan.
Pria tinggi tersebut menggeram rendah, menjambak rambutnya frustrasi, kepalanya begitu pening memikirkan masalah tersebut.
"Sialan!"
Dengan sekali teguk, minuman beralkohol itu telah masuk melewati kerongkongan nya. Mengerinyit sesaat saat rasa pahit itu terasa mengganggunya. Leon jadi heran, kenapa orang-orang sangat suka sekali menenggak minuman tersebut untuk sedikit melupakan masalahnya? Padahal rasanya sangat tidak enak sekali.
Leon mendongak setelah seseorang menghampirinya.
"Tambah?" Tunjuk seseorang itu pada gelas yang sudah kosong, Leon menggeleng sebagai jawabannya.
Dia sedikit tidak percaya dengan kehadiran anak dari arsitektur terkenal itu berada ditempat club malam seperti ini.
"Cukup, rasanya sangat tidak enak!" Protes Leon.
Seseorang yang bernama Davin itu terkekeh geli menanggapi sebelum akhirnya bertanya, "Ada masalah, tumben sekali datang ke tempat seperti ini?"
"Sedikit!" Jawab Leon.
Davin hanya mengangguk, tidak ingin begitu tau ataupun mencampuri masalah temannya itu.
"Kalau sedikit, tidak mungkin tempat ini yang akan kau datangi, Leon. Pulanglah"
Leon tertawa mendengar kalimat dari Davin. Pria itu memang benar karena sesungguhnya masalahnya kali ini cukup mengganggu pikirannya.
"Sebentar lagi, aku belum mabuk"
"Jangan sampai mabuk!"
"Baiklah"
__ADS_1
🌻
\={ R E V I S I}\=