I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
(S2) Episode 93 - HONEYMOON 2


__ADS_3

Happy reading


🌻


Setelah drama penyekapan seorang suami terhadap istrinya berakhir, akhirnya Griz bisa terbebas juga. Bayu benar-benar mengurung Griz seharian tanpa mengijinkannya keluar sedikitpun.


Bahkan Griz tidak diperbolehkan meninggalkan kamarnya sejengkal pun. Baginya honeymoon adalah cuddle like there's tomorrow. Menghabiskan waktu berdua untuk bermesraan bagaikan tiada lagi hari esok.


Jangan tanyakan bagaimana keadaan Grizelle sekarang, meskipun sangat kacau dan terlihat sangat lemah, Griz tetap keluar.


"Sayang, are you okay?" Bayu merasa cemas karena melihat istrinya sedikit berbeda. Apakah dirinya terlalu berlebihan?


"Masih nanya!" Sahut Griz kesal.


"Maaf"


"Maaf-maaf! Ini kalau mas ngurung aku lagi, bisa-bisa aku gak bisa jalan tau gak!" Mengomel dengan imut, "Bisa pake kursi roda aku!" Imbuhnya.


Sebagai permintaan maaf Bayu karena sudah mengurung Griz seharian kemarin, hari ini ia berencana akan mengajak Griz untuk melakukan kegiatan dipantai. Melakukan berbagai macam fasilitas yang tersedia disana.


Mulai dari sarapan pagi di Nihioka yang terletak disebuah tebing lalu aktivitas lainnya. Seperti mengunjungi rumah-rumah khas Sumba yang beratap tinggi serta membeli beberapa kain ikat khas Sumba yang terkenal itu. Lalu, karena hari sudah mulai sore jadi Bayu mengajak istrinya untuk menikmati Spa setelah beraktivitas seharian penuh.


Dan yang terakhir, Bayu mengajak Griz untuk berjalan-jalan menyusuri bibir pantai berpasir putih yang berbatas dengan deretan pohon nyiur hijau dan laut berwarna biru, sambil menikmati suasana yang begitu privat seakan hanya mereka berdua yang berada di tempat tersebut.


"WOW! exquisite"


Mereka berhenti saat melihat matahari yang mulai tenggelam, menikmati keindahan laut serta sejuknya angin yang menerpa tubuhnya.


Griz menoleh saat Bayu menggenggam erat tangannya, terdiam ketika Bayu menatapnya begitu lekat.


"I don't know if you're tired of hearing it or not, but I'll say it anyway. I love you so much" (Aku tidak tahu kamu bosan mendengarkannya atau tidak, tetapi aku akan tetap mengatakannya, aku sangat Mencintaimu)


"Terima kasih telah hadir dalam hidup mas dan menerima segala kekurangan yang mas miliki. Entah kenapa, mas selalu merasa bersalah karena sudah membuat kamu terlalu cepat melepas masa remaja kamu hanya untuk menikah dengan mas. Mas..."


Menutup mulut suaminya dengan telunjuknya.


"Mas ngomong apa sih!" Menangkup kedua pipi, "Gak pernah ada penyesalan apapun, mas. Yang ada aku bahagia karena memiliki suami yang..." Melihat wajah suaminya, lalu mundur satu langkah.


"Yang apa?" Menunggu jawaban istrinya.


"Yang ganteng banget dan yang paling penting yang harus digaris bawahi, kaya raya. Hahaha"


Setelah meloloskan diri, Griz langsung berlari karena sadar jika ucapannya telah membuat suaminya menggeleng tidak percaya, bisa-bisa nya ia menggoda laki-laki yang umurnya lebih tua darinya dan beruntungnya laki-laki itu adalah suaminya.


"Hey! Memangnya kalau mas miskin kamu gak mau?" Teriak Bayu saat melihat istrinya yang terus berlari menjauhinya.


"Gak mau mas, gak akan kenyang kalau cuma nikmatin kegantengan kamu doang!"


"Grizelle! Awas kamu ya!" Bayu mengejar Griz yang sudah menjauh darinya, perempuan itu masih tertawa-tawa saat Bayu berhasil menangkapnya dan karena badan mereka tidak seimbang, jadi mereka jatuh bersama diatas pasir putih.


Bukan kali pertama Bayu menatapnya seperti sekarang, tetapi kenapa hatinya selalu berdebar.

__ADS_1


"Mas, nanti ada yang lihat" Griz menahan bibir Bayu yang akan menciumnya. Tetapi Bayu tidak mendengarkannya dan beralih menghujani leher Griz dengan ciumannya.


"Mas" Ucap Griz begitu lirih.


"Hm" Gumamnya.


Bayu mendongkakan kepalanya, tidak perduli dengan ucapan sang istri yang memintanya berhenti. Ia beralih menciumi bibir ranum yang sudah seperti candu baginya, ********** dengan lembut namun begitu rakus.


"Ah" Desahnya.


Bayu semakin liar, tangannya mulai menjamah setiap jengkal tubuh istrinya dengan ciuman yang semakin panas. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa menahan dirinya, apalagi Griz memakai dress Sabrina dengan model rok slit berwarna putih kesukaannya.


"Mas jangan disini"


Griz mencegah suaminya yang akan membuka baju nya.


"Gak akan ada yang lihat, sayang" Sahut Bayu dengan suara beratnya, matanya terlihat sayu sehingga begitu menggoda. Apalagi rambutnya yang setengah basah, membuatnya terlihat semakin sexy.


Oh my goodnes!


Meskipun pantai tersebut sudah dibooking penuh oleh suaminya, tetap saja Griz takut jika ada penjaga yang melihatnya.


"Tapi..."


🌻


Langkahnya terasa berat saat menyusuri lorong rumah sakit, perasaannya takut dengan hal yang akan didengarnya nanti. Janinne terus berjalan seorang diri, melihat pasien-pasien yang menderita penyakit yang sama dengannya.


Wajah gadis kecil itu tetap ceria meskipun beberapa selang infus menancapi tangannya yang mungil. Rambutnya pun sudah botak, sama seperti dirinya. Hanya saja Janinne menggunakan wig, jadi tidak ada yang mengetahui jika rambutnya sudah tidak ada.


Janinne merasa malu, ia merasa jika dirinya terlalu lemah menghadapi penyakitnya ini. Sedangkan gadis kecil itu, ia tetap terlihat ceria.


"Hay, What's your name?"


Janinne duduk disebelah gadis kecil yang sedang tertawa memperhatikan anak seumurannya sedang bermain bola disebuah taman yang terletak dilingkungan rumah sakit.


"Shaqeela" Jawabnya tersenyum, "Kakak?" Imbuhnya begitu manis sehingga Janinne tidak kuat untuk tidak mengelus kepala gadis kecil itu.


"Janinne, tapi kau bisa memanggilku Jen"


Gadis kecil itu tersenyum manis, "Kau cantik sekali." Kata Janinne. Shaqeela tersenyum lebih lebar lagi mendengar pujian dari Janinne.


"Rambut kakak indah sekali" Puji Shaqeela seraya membelai rambut Janinne.


Janinne tersenyum, "Ini rambut palsu" Ujarnya.


Janinne melepaskan wig nya, gadis kecil itu terkejut saat melihat kepala Janinne yang sama dengannya. "Kita sama, botak. Hehe"


"Apakah kakak sama sepertiku?" Maksudnya mempunyai penyakit yang sama.


"Ya, kita sama" Tersenyum pahit, "Apa kau percaya apa yang dokter katakan tentang penyakit yang kita alami?" Tanya Janinne. Ia hanya penasaran bagaimana gadis sekecil itu bisa setegar dan ceria dengan keadaannya yang seperti ini.

__ADS_1


Dirinya saja sudah menyerah saat pertama kali mengetahuinya, tetapi gadis kecil itu?


"Tidak! Qeela hanya percaya kepada Tuhan" Sahut qeela begitu polos sehingga Janinne tersenyum. Memang hanya tuhan yang berkehendak, dokter yang sama-sama manusia hanya memprediksi, bukan yang menentukan hidup dan mati manusia.


Tetapi, jika sudah seperti ini, untuk tidak percayapun rasanya mustahil. Penyakitnya semakin parah meskipun sudah ratusan obat yang masuk kedalam tubuhnya.


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, sehingga dengan terpaksa Janinne berpamitan kepada shaqeela untuk pergi.


"Nanti kita bertemu lagi, 'kan?" Tanya Janinne sebelum pergi.


Shaqeela hanya mengangguk lalu melambaikan tangannya saat Janinne beranjak pergi meninggalkannya.


"Yes mommy, I'm in the hospital right now" Sahut Janinne setelah sambungan telpon terhubung.


"Hm"


Sementara Janinne yang sedang berbicara dengan ibu nya, disisi lain ada seseorang yang terus memperhatikannya. Laki-laki itu heran untuk apa Janinne dirumah sakit.


"Apa dia sakit?" Entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang, apalagi melihat Janinne berjalan menuju ruangan dokter khusus Specialis kanker.


"Dr. Louis Bryanata Sp.PD-KHOM" Membacanya dengan teliti, "Inikah dokter kanker, memangnya siapa yang sakit? Masa... Gak! Gak mungkin!" Menggelengkan kepalanya, menampik pikiran negatifnya.


Karena rasa penasarannya, dengan sengaja dia mendengar percakapan antara Janinne dan juga dokter tersebut dibalik pintu ruangan yang sedikit terbuka sehingga laki-laki itu bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.


"Untuk apa dok? Penyakit saya sudah sangat parah. Bukankah dokter sendiri yang mengatakan meskipun saya di oprasi, kemungkinan saya akan selamatpun sangat tipis"


DEG!


"Penyakit?" Gumamnya.


"Jadi biarkan saja saya merasakan kesakitan ini, oprasi ataupun tidak, saya akan tetap mati 'kan?"


DEG DEG!


Jantungnya berdegup dengan sangat kencangnya, sampai aliran darahnya terasa sangat panas.


"Mati?"


Dokter itupun hanya diam saja. Benar apa kata Janinne, "Tapi jangan menyiksa dirimu sendiri!" Tegas dokter tersebut karena sudah seminggu Janinne menolak untuk berobat. Bahkan obat yang diberikannya kemarin belum disentuhnya sama sekali.


"Bukan aku yang menyiksa diriku sendiri, uncle. Tapi penyakit sialan ini!" Teriaknya frustrasi, "Sudah ratusan obat yang masuk kedalam tubuhku, tetapi mana? Obat itu hanya meredakan rasa sakitnya saja, bukan menyembuhkan. I'm tired, uncle"


"Janinne!"


🌻


Pengantin baru masih hot-hot nya jadi gak mengenal tempat wkwk.


Like, coment and vote nya ya sayang-sayangku ♥️


Terimakasih dan selamat malam semuanya.

__ADS_1


__ADS_2