
"Jangan menggangguku!" Teriak gadis kecil dengan kuncir dua yang sedang berjongkok. Dia terus berteriak saat beberapa anak laki-laki nakal terus mengganggunya. Mereka menjambak rambutnya, mengambil uang saku dan juga mengacak-acak tasnya. Gadis itu terus menangis, menutup telinganya rapat.
Dia adalah Airin Vigatama, putri orang terkaya didaerah xx. Penampilannya yang culun membuat ia sering diganggu oleh anak-anak nakal yang mengatakannya jelek dan tidak sesuai dengan penampilan orang kaya lainnya.
Bukan kali ini Airin diganggu oleh mereka, dalam kesempatan apapun mereka akan tetap mengganggunya.
"Mereka sudah pergi, jangan takut aku akan melindungi kamu" Ucap bocah laki-laki berparas tampan yang sudah mengusir anak-anak nakal yang mengganggunya itu. "Mereka tidak akan mengganggu kamu lagi" Kemudian dia berjongkok, berusaha membujuk gadis itu agar berhenti menangis dan mengajaknya untuk duduk dibangku taman.
Akhirnya gadis itu berhenti menangis ketika bocah laki-laki tampan itu membelikannya eskrim rasa coklat. "Berhenti menangis, dan makanlah eskrim nya. Kata mama Raisha, kalau kita sedang sedih, kamu makan eskrim atau coklat saja, dan sedihnya akan berubah menjadi manis." Ujar bocah laki-laki tersebut. Airin tersenyum lalu mengambil eskrim dan memakannya.
"Terima kasih ya, Bayu"
DEG!
Bayu menoleh sarkas sehingga eskrim nya belepotan sampai ke pipi ketika gadis itu mengetahui namanya, padahal Bayu baru kali ini berbicara dengannya meskipun mereka berada dalam kelas yang sama. "Kamu tahu namaku?" Tanya Bayu tidak menyangka, dan Airin tertawa lalu mengambil tissue dalam sakunya dan membersihkan bekas eskrim tadi.
"Tahu, kita kan sekelas"
Dan sejak saat itu Bayu menjadi lebih dekat dengan Airin. Tidak ada lagi anak-anak yang mengganggu Airin karena mereka takut dan segan terhadap Bayu.
Setiap hari, Bayu akan sekalu menjemput Airin untuk pergi ke sekolah dan mengantarkannya pulang. Jika weekend mereka akan pergi bersama, menghabiskan waktu berdua. Sampai akhirnya ketika kelulusan tiba, Airin mengatakan kepada Bayu jika dirinya akan pergi dan meneruskan pendidikan di Rusia.
"Lalu bagaimana dengan kita?"
Bayu tidak bisa membayangkan, dia menangis sambil merunduk karena tidak sanggup jika berjauhan dengan gadis yang amat dia sayangi. Bayu merasa semenjak dirinya dekat dengan Airin, gadis itu seolah menjadi obat di segala suasana.
"Tunggu aku kembali jika kau mau"
Dan akhirnya hari itu mereka benar-benar berpisah, Bayu mengantarkan Airin ke bandara untuk terakhir kalinya. Mereka saling berpelukan dan mengucapkan kata perpisahan.
"Aku pasti kembali Bayu, entah kapanpun itu, aku harap kau masih menungguku"
"Aku akan menunggumu karena aku menyayangimu"
🌻
"Mas kamu kenapa sih, semenjak pulang dari mall kamu diem-"
"Gak apa-apa" Potong Bayu.
Seketika Grizelle bungkam, ia merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya yang sedari tadi hanya diam terus. Bahkan saat dirinya keluar dari toilet pun, suaminya mengatakan jika dia menunggunya di parkiran. Apakah telah terjadi sesuatu dengan perusahaan atau?
"Tangan kamu kenapa merah?" Tanya Grizelle khawatir. Bayu yang sedang duduk memangku laptopnya menepis saat Grizelle akan menyentuh tangannya.
"Mas bilang gak apa-apa, Grizelle" Ucap Bayu sedikit membentak, "Itu artinya mas baik-baik saja!"
Dan ini kali pertama semenjak mereka saling mengenal sampai menikah, pria itu berani membentaknya tanpa ia tahu apa kesalahannya.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan hati wanita hamil itu, ia merasa ada sebilah pisau menancap dalam disana. Nafasnya mulai tersengal, dengan genangan airmata yang sudah memupuk disudut mata, siap terjatuh hanya dengan satu kedipan mata.
Grizelle mencoba berpikir positif, membuang jauh pikiran buruknya dan memilih untuk keluar saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Biarkan saja suaminya sendiri dulu, mungkin pekerjaannya sedang mengalami masalah, pikirannya.
__ADS_1
"Mas Bayu lagi ada masalah pekerjaan aja Grizelle, ya hanya itu" Yakinnya untuk dirinya sendiri.
Malam tiba setelah Grizelle selesai dengan ritual mandinya, ia melihat sang suami yang sedang duduk ditepi ranjang, masih dengan laptop dalam pangkuannya. Tangannya sangat sibuk mengetik, beberapa kertas berserakan disekitarnya. Pasti dia sibuk sekali pikirnya.
Grizelle berjalan mendekati suaminya, lalu mengambil selimut kesayangannya. "Mau kemana?" Bayu bertanya, namun matanya tetap fokus pada laptop dihadapannya.
"Aku mau tidur sama mama, aku takut ganggu kamu lagi kerja" Sahutnya. "Lagian papa Theo lagi di luar kota kan, jadi gak masalah kalau aku tidur disana nemenin mama" Imbuhnya seraya berjalan ke arah pintu, tanpa ingin menatap wajahnya.
"Dan ninggalin mas tidur sendirian?" Tambahnya.
Tangan yang sudah menyentuh gagang pintu ia jauhkan dan berbalik arah menatap sang suami yang sudah berdiri di hadapannya.
"Kan aku udah bilang, aku - takut - ganggu - kamu - kerja" Sahutnya dengan menekan setiap kalimatnya.
Cih! Grizelle benci sekali dengan sikap suaminya yang terkesan dingin, kenapa sih pria itu? Jika bisa ia bongkar otaknya untuk mengetahui apa penyebabnya, sudah ia belah daritadi.
"Kamu marah?"
Grizelle kembali menoleh, air mukanya mendadak masam begitu mendengar pertanyaan yang sudah jelas pria itu tahu siapa penyebab kemarahannya, dan haruskah ia menjawabnya?
"Enggak, justru aku ngerti kamu"
Ah sialan! Jika saja membentak suami tidak berdosa, sudah Grizelle balas dengan bentakan juga.
"Tapi gak usah tidur sama mama juga" Protesnya. Namun karena Grizelle masih merasa kesal, ia tidak perduli dengan ucapan suaminya itu dan memilih tetap pergi.
🌻
Grizelle yang sedang berbaring menghadap mama Raisha tersenyum, memberitahukan jika tidak ada sesuatu dan semuanya baik-baik saja. "Gak apa-apa ma, cucu mama nih yang manja katanya pengen tidur sama mama cantik" Sambil mengelus-elus perutnya yang sedikit bulat itu.
Ugh! Gemas sekali, Raisha menyentuh perut Grizelle dan mengelusnya. Raisha tahu jika menantunya sedang berbohong dan bukan itu alasan yang sebenarnya, namun Raisha tidak mau ikut campur selama pertengkaran putra dan juga menantunya masih dalam batas normal. "Kalau ada masalah, kamu boleh cerita sama mama, jangan memendamnya sendiri. Kamu putri mama, dan sudah seharusnya mama membantu"
Grizelle paling tidak bisa begini, air mata yang mati-matian ia tahan agar tidak terjatuh seketika luluh dengan usapan lembut seorang ibu terhadap putrinya. Grizelle sangat bersyukur bisa mendapatkan mertua seperti mama Raisha yang begitu menyayanginya dan juga menganggapnya sebagai anaknya.
"Keluarkan saja sayang, tidak apa-apa" Semakin Raisha mengeratkan pelukannya, semakin besar suara isakan yang begitu menyakitkan untuk hati seorang ibu yang mendengarnya.
Akhirnya malam itu, Grizelle menangis sepuasnya dalam pelukan Raisha. Setidaknya ia sudah menumpahkan semua kesedihannya. Sampai akhirnya Grizelle merasa lelah dan tertidur, Raisha beranjak dari kasur dan menemui putranya sambil membawa sapu lidi ditangannya.
"Bayu!" Panggil mama Raisha begitu ketus. Raisha tahu jika putranya masih belum tidur, makanya setelah Grizelle tertidur dia langsung menghampirinya.
"Ada apa?" Sahut Bayu sekenanya.
"Bisa-bisanya kamu masih bisa bekerja disaat istri kamu-"
"Dia yang minta sendiri untuk tidur sama mama, aku gak bisa menolaknya" Potong Bayu begitu santai. "Mama kalau cuma mau bahas ini mendingan keluar aja, besok kita bicarakan, Bayu lagi pusing banget!" Imbuhnya.
Raisha menggeleng tidak percaya, "Kalau sampai menantu sama cucu mama kenapa-napa, mama tidak akan segan-segan untuk mengusir dan mencoret nama kamu dari daftar keluarga Bagaskara!" Ancam Raisha.
"Jangan membesar-besarkan ma, mama gak tahu masalahnya apa!"
"Mama tahu semuanya. Semuanya!"
__ADS_1
"Apa yang mama tahu?"
"Airin!"
🌻
"Mbok, Grizelle sama mama dimana?" Bayu bertanya setelah melihat kedalam kamar mama nya, dia tidak menemukan keberadaan istrinya.
"Sudah berangkat tuan"
"Berangkat?"
"Katanya mereka akan pergi untuk jalan-jalan"
What? Jalan-jalan tanpa mengajak dirinya?
Bayu langsung membuka ponsel dan mengecek keberadaan istrinya, namun sialnya GPS yang terpasang pada kalung sang istri menunjukan berada dirumah. Buru-buru Bayu mengecek kamar dan ternyata- "Grizelle kenapa dilepas sih kalungnya!" Oh sialan, Bayu menjadi tidak bisa melacaknya.
Bahkan ponselnya pun Grizelle tinggal bersebelahan dengan kalungnya. "Astaga!" Teriaknya frustrasi.
"Gimana sayang, seneng gak?" Tanya mama Raisha setelah sampai disebuah villa mewah milik keluarga Bagaskara yang berada di Bandung. Villa dengan pemandangan langsung menghadap kebun teh membuat Grizelle merasa nyaman dan sedikit melupakan kesedihannya.
"Mama punya villa di Bandung tapi mas Bayu gak pernah ngasih tahu aku" Grizelle heran. "Apa jangan-jangan mas Bayu enggak tahu?" Tebaknya yang membuat Raisha terkekeh geli.
"Iya sayang, suami kamu gak tahu. Mama sengaja gak ngasih tahu dia"
"Kenapa?" Grizelle yang sedang merapikan bajunya menoleh.
"Nanti dia pasti sering ajak kamu kabur kesini dan waktu kamu dirumah sama mama jadi sedikit"
"Ya ampun ma" Grizelle terkekeh mendengarnya.
"Dua hari cukup dong untuk kita ngabisin waktu berdua, nanti kita liburan ke Punclut"
"Ah kurang ma, seharusnya seminggu baru puas"
"Yang ada nanti suami kamu bisa gila kalau ditinggal lama-lama"
"Bener ma, sekarang aja kayaknya lagi teriak-teriak dikamar deh"
"Kenapa memangnya?"
"Aku gak bawa ponsel sama kalung yang dia kasih"
"Astaga, jahil sekali mantu mama"
Biarkan saja, Raisha sengaja membawa Grizelle ke Bandung karena ia takut jika Grizelle terus-terusan berada dirumah ia terus merasa sedih karena suaminya.
🌻
...Tahan emosinya guys, lagi puasa haha...
__ADS_1