
Pukul sembilan malam, Mawar beserta Juna baru sampai kontrakan. Cherry yang mendengar suara ketukan pintu langsung terbangun dari pembaringan setelah hampir beberapa menit terlelap. Sigap, Cherry langsung membuka pintu dan menyambut bayi tampannya yang ternyata sudah merentangkan tangannya minta digendong.
"Ya ampun anak bunda"
Cherry memeluk erat bayi nya yang seharian ini tidak bersamanya. Ia sangat rindu dan juga merasa tidak enak karena mungkin Juna telah merepotkan Mawar juga bos nya. Tetapi kata Mawar tidak apa-apa, malahan dia dengan sang bos merasa senang atas kehadiran Juna ditengah-tengah mereka - yang membuat keduanya semakin dekat.
Mawar jadi ingat kejadian diparkiran tadi, hihi.
"Hey tampan, kau tidak merepotkan aunty Mawar, kan?"
Bayi itu tersenyum, memeluk erat leher sang bunda sambil bergumam. Entahlah, ocehan seorang bayi kadang membuat Cherry sendiri bingung. Mungkin jika dicontohkan bayi itu sedang menjawab, "Tidak, Juna anak baik" Seperti itu kira-kira.
"Juna anak baik, anak pintar. Sama sekali tidak merepotkan kita, Mbak. Malahan aku berterimakasih karena adanya Juna, kita semakin dekat." Ujar Mawar tersipu malu.
Oh jangan lupakan dengan wajahnya yang memerah menahan malu.
Lucu sekali.
"Syukurlah. Mbak ikut senang mendengarnya"
Mawar semakin menunduk malu. Kemudian berpamitan untuk istirahat karena besok dia harus berangkat pagi-pagi sekali. "Aku masuk dahulu ya mbak, bye Juna tampan" Sedangkan Cherry, wanita mungil itu langsung membawa Juna ke dalam kamar setelah Mawar masuk ke dalam kamarnya.
Sambil berjalan ke kamar setelah mengunci rapat pintu dan memastikan semuanya aman, Cherry membawa Juna ke kamar untuk menidurkannya lagi.
"Kau ingin bercerita apa huh? mulutmu yang kecil itu terus saja mengoceh. Uh! Bunda gemas sekali" Cherry memekik gemas, menciumi pipi gembul itu berulang kali sampai ia terdiam ketika menyadari sesuatu yang berbau aneh.
Cherry menatap putranya lekat - aroma maskulin pada pakaian anaknya begitu tidak asing untuk hidungnya. "Wangi ini-" Ia sangat mengenal aroma ini, wangi parfum Ferarri black favoritenya dan juga seseorang yang sangat dicintainya.
Cherry kembali mengendus baju anaknya yang menatapnya polos, wangi itu semakin menguat pada daerah dada anaknya - kemudian bayi itu tersenyum seraya memeluk erat leher sang bunda sambil berceloteh menyebutkan, "Ayah" Dengan jelas, hingga jantung Cherry berdegup kencang.
Apakah ini yang dinamakan ikatan batin seorang anak dengan sang ibu? Bisa merasakan apa yang ibunya rasakan, bahkan pikirkan?
Cherry sampai shock karena baru pertama ini Juna bisa menyebutkan kata ayah dengan begitu jelas.
"Iya sayang, ini wangi ayah. Apakah bos nya aunty Mawar memakai parfum ini juga?"
Bayi itu mengerjap lucu, kembali tersenyum saat Cherry mengendus badannya. "Bunda jadi kangen ayah nih, tanggung jawab kamu ya anak bayi gembul!" Serunya seraya menghujani kembali pipi gembul bayi itu dengan ciumannya.
Juna, bayi itu sendiri terus tertawa lucu sampai sang bunda menatapnya dengan sendu. Juna juga ikut balik menatapnya seakan berkata, "Jangan sedih bunda, ada Juna" Tangan mungilnya bergerak, membelai sebelah wajah Cherry dengan lembut.
Seakan mengerti dengan perlakuan Juna, Cherry berkata, "Bunda tidak sedih, sayang. Bunda hanya merindukan ayah saja. Jika ayah tau bunda sedih, kau tau Jun, dia langsung membelikan bunda ice cream satu mangkuk penuh dan juga coklat batangan"
Cherry berdecak kesal melihat satu mangkuk ice cream coklat dengan toping kacang almond dihadapannya, dan jangan lupakan satu batang coklat besar!
"Arjuna! Kau mau membuatku gendut huh?" Astaga! Cherry tidak mau pipinya membengkak hanya karena harus menghabiskan ice cream beserta coklat besar itu. Ingat! Besok jadwal pemotretan, Cherry. Tetapi sayang juga kalau tidak disentuh - ya, Cherry merana memikirkannya.
Sedangkan Arjuna, pria itu dengan santainya mengambil sendok lalu menyuapi Cherry dengan santai tanpa memperdulikan ocehannya yang - membuatnya ketagihan. Arjuna kembali terkekeh, bisa-bisanya dengan bibirnya mengoceh dan menolak tetapi tetap membukanya lebar-lebar saat sendok itu tepat dihadapannya. Astaga lucu sekali kekasihnya itu.
"Makan saja sih sayang, biasanya juga habis kan?"
"Tetapi besok aku ada jadw-"
"Jangan menyiksa dirimu sendiri sayang. Jika kau mau, makanlah. Dan berhenti bersedih! Lihat, hidungmu merah, jelek sekali!"
Cherry memberengut sebal, namun tetap membuka mulutnya saat Arjuna menyuapinya. "Arjuna! Kau mengejekku?"
"Tidak sayang, tapi itu fakta"
"Ya! Arjuna Alaric Rahardian, kau benar-benar menye-"
"Iya sayang, love you too"
Cherry terkekeh pelan mengingatnya, Arjuna itu selalu membuatnya kesal tetapi Cherry akui, dengan semua tingkah absurd nya itu, Cherry merasa menjadi wanita paling dicintai - ya meskipun sangat tidak romantis, diam-diam Cherry suka. Arjuna selalu mempunyai cara sendiri untuk membuatnya merasa istimewa.
"Ayah kamu tidak romantis, bunda sebal!" Tapi Cherry cinta. "Lalu, dia juga tengil dan sedikit gila! Masa bunda omelin malah senyum-senyum sambil bilang 'Lanjutin sayang, aku ketagihan diomelin kamu'" Juna yang sedang menyusu tersenyum geli, mungkin mengerti dengan cerita sang bunda tentang ayahnya, namun bayi itu tidak bisa mengungkapkannya selain tersenyum. "Setiap hari selalu mengganggu bunda!"
"Arjuna! Diam di pantry dan duduklah. Kalau kamu mengganggu aku terus, masakannya tidak akan pernah selesai!"
Cherry kembali melanjutkan aktifitas memasaknya, sudah satu jam namun sampai sekarang belum juga selesai karena Arjuna terus saja mengganggunya. Sambil memasukan semua bahan-bahan nya, mulut mungil itu tidak hentinya mengomel dan sekali-kali memukul pelan kepala Arjuna yang sengaja mencuri ciuman di pipinya dengan sendok sayur.
Kalian pikir pria itu akan diam setelah berapa kali kepalanya mendapatkan benturan kecil dari perabotan dapur? Jawabannya tentu tidak! Pria itu tetap saja mengganggunya sampai Cherry pasrah dan merasa lelah terus mengomel namun pria menyebalkan itu malah sengaja semakin mengganggunya.
"Nenek kamu sampai turun tangan bantuin bunda agar ayah kamu berhenti mengganggu, tapi-"
Cherry kembali menerawang kejadian dua tahun lalu saat dirinya sedang berkunjung ke rumah Arjuna setelah mendapatkan telpon dari Diana kalau putra semata wayangnya itu flu dan mau makan hanya Cherry yang memasaknya. Padahal dia baru saja pulang dari pekerjaan yang melelahkan.
"Nenek kamu juga sama-sama frustrasi, Jun"
Tawa kecil dari Juna membuat Cherry terkejut, apakah bayi itu mengerti tentang apa yang sedang diceritakan nya?
"Tetapi meskipun ayah kamu selalu bikin bunda kesal setengah mati, bunda sayang sekali dengan dia - sampai sekarang"
Dan benar, sampai sekarang Cherry masih sangat mencintai Arjuna, kekasihnya. Meskipun takdir sudah jelas memisahkannya, namun takdir tersebut tidak bisa mengubah perasaannya.
Sampai kapanpun.
Apalagi sekarang ada pengikat diantara mereka, yaitu Juna.
Bagaimana Cherry bisa melupakan perasaannya yang setiap hari semakin bertambah, sedangkan wajah sang putra selalu mengingatkannya setiap saat pada pria itu.
"Kalian mirip sekali" Cicitnya pelan, takut mengusik mata mungil yang mulai meredup memejamkan keindahannya.
Pelan Cherry mengusap Surai lembut putranya, mengecupnya sampai Juna bener-bener memejamkan matanya dengan sentuhan kelembutan yang bundanya berikan.
"Bagaimana bisa bunda melupakan nya? Bunda terlampau mencintainya"
Cherry tersentak kaget saat Juna terbangun, bibir mungilnya merengek dan mulai menangis karena Cherry tidak sengaja meneteskan air matanya yang mengenai pelipis putranya.
Dengan gerakan lembut Cherry menggendong Juna, menimangnya sampai anaknya kembali terlelap, Cherry kembali membaringkannya ke kasur dan menyelimutinya dengan selimut kesayangannya.
Arjuna, apakah dia tau kalau Cherry masih ada disekitarnya?
Apakah pria itu tau kalau anaknya sudah terlahir ke dunia dan sangat mirip dengannya?
Apakah pria itu masih mencintainya? sama sepertinya?
Bagaimana kabarnya?
Bagaimana pria itu menjalani hari-hari tanpanya?
Apakah sama hancur sepertinya?
Mungkin jawabannya, tidak. Pasti dia baik-baik saja tanpanya. Buktinya setelah dia berhasil mengobrak-abrik rumah almarhumah bi Marni dulu, sampai saat ini Cherry merasa pria itu tidak lagi mencari nya.
"Apa kamu sudah melupakan aku? Melupakan bahwa aku sedang berjuang membesarkan anak kita? Lihat Ar, dia sangat mirip dengan kamu. Wajahnya, semuanya sangat mirip dengan kamu"
Cherry terkekeh pelan, menepis rasa sesak hebat pada dadanya namun tidak berhasil. Air matanya kian mendesak, ia menangis.
"Dia sudah bisa memanggil kamu ayah dengan sangat jelas"
"Hampir setiap waktu yang dipanggilnya hanya ayah"
Cherry terkekeh lagi, air matanya semakin deras keluar membasahi bingkai foto seorang pria dengan balutan jas yang sangat tampan.
"Kita merindukan kamu"
Kita merindukan kamu
Kita merindukan kamu
Kita merindukan kamu
DEG!
"CHERRY!"
Arjuna terbangun dari tidurnya, nafasnya tersengal berat dengan peluh yang membanjiri dahinya.
Sial!
Kenapa mimpi itu hadir lagi disaat dirinya sudah lelah dan menyerah?
Apakah keputusan Arjuna untuk mengakhiri semuanya tidak pernah ter-restui oleh tuhan?
Kenapa takdir seolah tidak membenarkan keputusan nya?
Arjuna mengusak rambutnya gusar. Ia bangkit dari kasur, berjalan menuju jendela kamar yang ternyata ia lupa menutupnya. Setelah itu, Arjuna berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Ia merasa tenggorokannya sangat kering setelah berteriak tadi.
"Jun-"
Arjuna tersentak ketika menutup pintu kulkas ada sosok wanita disebelahnya, "Astaga mommy, mengagetkan saja!" Mendengkus kesal, Arjuna mengusap dadanya terkejut. Hampir saja dia membanting gelas yang dipegangnya jika telat menyadarinya.
"Siapa suruh melamun didepan kulkas malam-malam begini? Kerasukan setan disini baru tahu rasa!"
__ADS_1
"Emang ada?"
Pertanyaan konyol Arjuna membuat Diana tertawa.
"Mana ada Arjuna, mommy bercanda"
Arjuna yang sudah selesai meneguk air nya sampai habis hanya mendelik sebal, ia yang semula ingin kembali ke kamar ditahan oleh Diana.
"Ada apa? Kenapa wajah kamu gelisah sekali?"
Menghembuskan nafasnya kasar, Arjuna hanya menggelengkan kepalanya pelan. Lalu berbalik dan pergi kembali ke kamarnya.
Sedangkan Diana, wanita itu terus memandangi punggung sang putra dengan perasaan khawatir dan Diana tau, siapa satu-satunya orang yang bisa membuat putranya seperti itu.
"Kau lihat, putraku begitu menderita setiap hari" Gumamnya pelan setelah Arjuna memasuki kamarnya. "Semoga dengan kehadiran Mawar, perlahan Arjuna dapat melupakan kamu Cherry. Kami hanya ingin Arjuna bahagia"
🌻
Mawar sedang sibuk di mejanya, membereskan berkas-berkas yang akan dibawanya untuk sebuah pertemuan penting sang bos dengan pimpinan perusahaan di kota Bogor. Tidak boleh ada satupun yang lupa, ingat! Ini adalah proyek besar sang bos.
"Sepertinya sudah siap semua, aku hanya tinggal menunggu bos datang dan pergi. Tetapi aku lapar, tidak apa kan aku- Astaga!"
Tiba-tiba saja ucapannya terpotong dengan kehadiran sang bos yang tiba-tiba ada dihadapannya sedang menopang dagu memperhatikan.
"S-sejak kapan tuan disana?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Mawar, Arjuna menatap Mawar tajam.
"Kau belum sarapan? Kenapa? Bukankah saya sudah mengatakan kalau pekerjaan ini akan sedikit melelahkan dan butuh banyak energi karena kita akan terjun langsung ke lapangannya, tapi-"
Hup!
Mawar memasukan sesendok nasi goreng kedalam mulut bos nya yang terus mengomelinya dan, "Masih pagi tuan, jangan banyak mengomel. Bagaimana, enak?" Tanya Mawar dengan cengiran lucu nya setelah berhasil membungkam mulut pedas sang bos yang kini terkatup rapat sambil mengunyah.
Arjuna terdiam, merasakan nasi goreng yang sangat ia kenali.
Rasanya seperti, "Siapa yang memasak nasi goreng ini?" Tanya Arjuna serius.
"Bunda nya Juna, tuan. Mbak cher-"
Belum sempat Mawar menyelesaikan kalimatnya, Arjuna mengisyaratkan Mawar untuk berhenti berbicara karena ada panggilan masuk dari sekretaris CEO perusahaan xx.
"Baik, saya akan berangkat sekarang"
"Tidak apa-apa, sekalian saya juga ingin melihat villa yang berada di puncak"
"Hm"
Arjuna memutuskan sambungan telponnya, memasukannya ke dalam jas. Pria itu berdiri, "Kita berangkat sekarang" Lalu melenggang terlebih dahulu, meninggalkan Mawar yang gelagapan merapikan bekas sarapannya.
Untung saja Mawar berangkat pagi-pagi sekali dan untungnya juga ia mendapatkan bekal sarapan special dari Cherry yang katanya 'Ucaoan terimakasih karena sudah membawa Juna berlibur kemarin'. Ingin menolak tapi sayang, masakan wanita mungil itu sangat nikmat, sayang sekali jika menolaknya.
Didalam mobil Mawar beberapa kali menguap, tidur jam satu malam membuat matanya kembali mengantuk dan ingin tertidur.
Perjalanan masih lumayan lama, apalagi keadaan jalan tol yang mendadak macet, katanya ada mini bus yang keluar jalur dan menabrak beberapa mobil lain pada dihadapannya, Mawar menjadi tidak yakin jika mereka akan sampai dengan tepat waktu.
So, tidak apa-apa kan kalau dia tidur sejenak?
Baru saja Mawar akan memejamkan matanya yang sangat lelah, suara disebelahnya membuat matanya kembali terbuka lebar. Mawar menoleh, menunduk takut karena ketahuan beberapa kali mencuri waktu untuk tidur.
"Maaf tuan" Cicit Mawar pelan.
"Semalam tidur jam berapa?" Tanya Arjuna tanpa mengalihkan tatapannya dari layar iPad.
Sedangkan yang ditanya mulai gugup, takut terkena omelan nya lagi seperti tadi.
"Jam satu, saya menunggu balasan pesan dari tuan"
Ya memang faktanya seperti itu, bukan hanya sebuah alasan saja. Mawar yang tadinya akan tidur setelah satu jam menugngu balasan sang bos, nyatanya ia tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun sampai jam satu malam.
Mendengar jawaban Mawar, Arjuna mematikan iPad nya dan memposisikan tubuhnya menghadap Mawar. Diraihnya tangan Mawar dan menggenggamnya lembut, "Maaf, semalam saya tertidur" Ucap Arjuna penuh sesal. Ia tidak mengira jika Mawar akan menunggu balasannya sampai jam satu malam seperti itu.
"Tidak apa-apa tuan, saya sudah menduganya hehe"
"Ya sudah, kau tidur saja. Sepertinya kemacetan ini akan sedikit lama, tidak ada jalan sebelum polisi dan tim SAR datang untuk mengurusnya, karena ada beberapa korban yang terluka parah bahkan meninggal. Jalanan juga semuanya tertutup oleh kecelakaan tadi" Ujar Arjuna panjang lebar dan Mawar hanya mengangguk paham saja.
"Tidak apa-apa tuan jika saya tidur?"
Mawar menoleh penasaran.
"Saya serius dengan kata-kata saya yang semalam"
DEG!
🌻
"Daren, mending kamu turunkan Juna saja. Dia tidak memakai pempers, nanti dia-"
"Tidak apa-apa Cher, santai saja"
"Ayah, ayah, ayah"
Juna begitu bahagia karena sudah dua bulan ini tidak bertemu dengan Darendra, bayi yang sudah bisa merangkak itu terus meminta digendong dan tidak mau melepaskannya sedikitpun, bahkan terus menolak ketika Cherry akan menyuapinya.
"Iya sayang, ayah tidak akan menurunkan kamu. Abaikan saja kecerewetan bunda kamu ya? Ayo biar ayah yang suapi kamu, jangan memainkannya ya?"
Juna hanya mengangguk, lalu membuka mulutnya lebar-lebar ketika sendok terakhir mengisi penuh mulut mungilnya.
"Anak pintar, habis semua loh Jun"
"Ayah, piis hehe" (Ayah, pipis, hehe)
Darendra membeku ditempatnya saat merasakan daerah pinggangnya menghangat merembes ke celana.
"Juna, kau mengompoli ayah? Oh ya tuhan-"
Cherry yang melihatnya tidak mampu menahan gelak tawanya, "Aku bilang juga apa- Hahaha bagus Juna. Pria sepertinya kadang harus diberi sedikit sentilan untuk mendengarkan omongan oranglain!" Ucap Cherry disela tawanya.
Wanita mungil itu terus tertawa, melihat bagaimana lucu nya ekspresi Darendra. "Kau lucu sekali Daren, ya ampun perutku sakit"
Sedangkan sang tersangka, hanya menyengir saja, menampakan empat gigi yang baru tumbuh dengan gemas.
"Ayo sayang turun dari pangkuan ayah tipu-tipu mu itu, biarkan dia membersihkan dirinya terlebih dahulu"
Juna merangkak menjauhi Darendra dan mendekati Cherry yang sudah mengambilkan handuk untuk diberikannya kepada Darendra.
"Kau membawa baju ganti?" Tanya Cherry setelahnya.
Darendra mengangguk, "Di mobil, tolong ambilkan ya? Hehe"
"Iya, ya sudah cepatlah ke kamar mandi, kau bau ompol Darendra!",
"Ya! Cherry Aurelie Herlambang, ini semua gara-gara bayi mu yang tampan dan menggemaskan itu. Tega sekali kamu Juna mengompol di baju ayah, hiks" Darendra Mencebik sebal seraya menciumi pipi gembul Juna tanpa henti.
"Mpun ayah, mpun" (Ampun ayah, ampun)
"Baik lah, baik lah. Karena kamu tampan dan sangat lucu, ayah memaafkan kamu sekarang"
Cherry hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Darendra. Ada saja kata-kata nya yang membuat dirinya tertawa. Dasar!
Setelah selesai membersihkan dirinya, Darendra meminta ijin untuk menggunakan kamar Cherry - mengganti bajunya yang sudah Cherry letakan di atas kasur.
Selama berkunjung ke kontrakan Cherry, baru pertama kali ini Darendra memasuki kamar Cherry yang menurutnya sangat rapih.
Tidak banyak barang dikamar kecil itu, hanya ada kasur yang tergeletak di lantai, serta dua lemari kecil - mungkin isinya baju Cherry dan juga Juna.
Semuanya sangat rapih dan bersih, Cherry memang seorang ibu rumah tangga idaman para suami, termasuk dirinya yang sampai saat ini masih belum bisa mengambil hati wanita cantik beranak satu itu.
Padahal Darendra sering mengajaknya untuk serius, namun jawabannya tetap sama, ia hanya akan menikah dengan ayahnya Juna saja.
Huh, jangan tanyakan apakah Darendra sakit hati? Jelas! Namun mau bagaimana lagi, dia terlalu menyayangi Keduanya dan tidak perduli sebanyak apapun Cherry menolaknya, yang terpenting dia terus berada didekat mereka, tidak perduli dengan apapun statusnya.
"Orang brengsek mana yang sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dan anak setampan Juna? Jika aku bertemu dengannya, sudah ku pastikan akan membuatnya merasakan bagaimana sakitnya hidup sebagai orang yang terbuang! Atau aku bunuh sekalian agar Cherry dan Juna menjadi milikku seutuhnya!"
Plak!
Darendra memukul bibirnya sendiri, "Bodoh! Jika aku membunuh, nanti masuk penjara. Lalu siapa yang akan melindungi mereka? Aish, dasar! Emosi memang membuat seseorang lupa akal sehat, sabar-sabar!"
Darendra sudah selesai memakai bajunya dengan rapih, dia berbalik untuk keluar dari kamar namun, seketika langkahnya terhenti saat matanya tidak sengaja melihat sebuah foto berbingkai putih yang tergantung rapih dekat pintu.
"Arjuna?"
Kenapa?
__ADS_1
Kenapa ada foto sahabatnya disana?
Maksudnya apa?
Kenapa Cherry menyimpan foto Arjuna di kamarnya?
Please! Darendra mohon siapa saja tolong tampar dia sekarang. Katakan jika semua yang ia pikirkan tidak benar dan ini hanya sebuah kebetulan saja namun saat Darendra mengambil bingkai tersebut yang ternyata terdapat dua foto dibaliknya, Darendra merasa jantungnya terjatuh seketika.
"J-Jadi?"
"Daren, kau sudah sele-"
Cherry terpaku ditempatnya saat melihat Darendra memegangi bingkai foto dirinya dengan-
"Cher?"
Darendra mengacungkan bingkai tersebut ke hadapan wajah Cherry, meminta penjelasan untuk semua rahasia besar yang selama ini wanita itu sembunyikan darinya.
"Kau-"
"JELASKAN SEKARANG JUGA!"
Menghembuskan nafasnya perlahan, Cherry menerobos masuk ke dalam kamar. Juna dalam gendongannya sudah ia turunkan dan membiarkan bayi tampan itu merangkak semaunya kemana saja.
Tidak ada lagi yang harus Cherry sembunyikan dari Darendra, semuanya sudah terbongkar. Dan sekarang, Cherry akan menjawab semua pertanyaan yang ingin Darendra ketahui tentangnya.
"Tidak perlu penjelasan apapun" Cherry menatap Darendra yang terlihat sedang menahan emosi nya, "Semua yang kau pikirkan, semua yang kau bayangkan dan semua yang berada dalam pikiranmu semuanya benar, Darendra. Arjuna Alaric Rahardian, ayahnya Juna"
DEG!
"Tetapi jika kau berpikir bahwa Arjuna tidak mau bertanggung jawab, kamu salah! Arjuna sangat bahagia ketika pertama kali mengetahui aku sendang mengandung anaknya"
Darendra menoleh, bingung.
"Bahkan dia sampai menangis saat melihat Juna ternyata benar-benar tumbuh di rahimku"
Cherry menunduk, merasakan dadanya yang terasa sangat sesak.
"Terus kenapa kalian berakhir seperti ini?"
"Kau tau, om Rahardian begitu tegas dan cukup keras kepala dengan segala ucapannya.
Hari itu saat aku selesai memeriksakan kandunganku dengan Arjuna, kami diundang ke rumahnya tanpa mengatakan hal apa yang membuat mereka menyuruh kami agar cepat pulang.
Perasaan aku sudah tidak enak sejak mendengar Arjuna mengatakannya, tetapi aku selalu yakin jika semuanya akan baik-baik saja. Namun ketika aku sampai disana, perasaanku semakin tidak enak saat aku melihat beberapa mobil yang sangat aku kenali terparkir disana.
Awalnya aku berpikir, mungkin itu hanya mobil kolega nya om Rahardian yang sedang berkunjung saja namun semakin kita masuk kedalam- awal kehancuran aku bersama Arjuna tercipta.
Arjuna akan dijodohkan dengan sahabatku sendiri, Chelsea. Coba kau bayangkan bagaimana hancur nya hidupku, hidup Arjuna? Dia berteriak, mengamuk di depanku karena menolak perjodohan tersebut namun- Rahardian adalah Rahardian, seorang pria yang sangat kukuh memegang keputusan nya"
"Kau pergi? Tanpa Arjuna tau?"
Cherry mengangguk samar, air matanya semakin deras keluar namun tidak ada sedikitpun isakan yang terdengar.
"Ya. Aku pergi tanpa sepengetahuan Arjuna saat itu"
Memijat kepalanya pusing, Darendra sangat tidak menyangka jika-
"Kenapa kau tidak menceritakan semuanya dari awal, Cher. Kau tau aku sahabatnya Arjuna! Aku bisa membantu kalian untuk bersama"
Semua emosi yang menguasai Darendra hilang seketika. Pria itu melembut, menatap Cherry dengan tatapan iba.
Kenapa wanita sebaik Cherry bisa mendapatkan takdir sekeji ini?
"Justru karena aku tau kau sahabatnya Arjuna, aku tetap diam tidak berbicara. Setelah om Rahardian menyuruhku untuk membunuh Juna, aku memutuskan untuk tidak kembali lagi bahkan aku berharap aku tidak pernah bertemu lagi dengan mereka!"
"A-apa? Om Rahardian?"
"Ya Darendra, dia mengancam ku untuk menggugurkan kandunganku, dia memaksa aku membunuh Juna karena baginya Juna adalah kesalahan, bahkan sebelum aku pergi, dia melempari ku dengan sejumlah uang agar aku tidak pernah kembali dan menampakan diri dihadapan mereka!"
BRENGSEK!
Darendra benar-benar emosi sekarang!
"Kau sudah tau semuanya, Darendra. Aku sangat memohon saat ini juga, simpan semua emosimu untuk seterusnya. Aku sudah cukup menderita selama ini, aku tidak mau mereka mengetahui jika Juna ada diantara mereka. Aku takut mereka akan menyakiti hartaku, hidupku, nyawaku satu-satunya. Aku takut-"
Darendra menarik Cherry ke dalam pelukannya, mengusap punggung kokoh namun rapuh itu dengan lembut.
"Mereka tidak akan pernah bisa menyakiti kalian, aku yang akan melawan jika itu terjadi"
🌻
Dua bulan kemudian setelah pernyataan Arjuna yang serius dengan hubungannya dengan Mawar, Diana dan juga Rahardian tidak mau menunggu terlalu lama untuk meresmikan ini semua.
Mereka sepakat akan mengadakan pertunangan terlebih dahulu yang sudah direncanakan secara matang oleh keduanya.
Sekarang mereka sedang membicarakan hal tersebut disebuah cafe bernuansa klasik dengan Mawar yang masih meragukan tentang perasaannya.
Meskipun Mawar akui, dirinya memang telah jatuh dalam pesona seorang Arjuna Alaric Rahardian, namun disisi lain hati kecilnya merasa ragu tentang masalalu pria yang kini duduk disebelahnya.
Mawar merasa pria itu masih tenggelam dalam masalalu nya.
Bukan tanpa alasan Mawar berpikir seperti itu, seringnya Mawar memergoki Arjuna sedang merenung dengan memperhatikan sebuah bingkai foto kecil yang selalu disimpan di laci meja kerjanya membuatnya ragu.
Apakah benar Arjuna benar-benar serius ingin melanjutkan hidupnya dengan dirinya? Bukan karena ia membutuhkan seseorang untuk mencoba melupakan masalalu nya?
"Mawar kenapa sayang, ko melamun terus?"
Mawar sedikit tersentak ketika sebuah tangan menyentuhnya lembut, ia tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Tante, Mawar hanya merindukan seseorang saja" Sahutnya.
"Siapa?" Kini Arjuna yang bertanya.
Pria yang sedari tadi lebih banyak diam kini sudah membuka mulutnya, hanya sekedar bertanya dan itupun singkat. Mawar semakin tidak yakin dengan hubungannya jika Arjuna sendiri tidak menunjukan antusias nya dalam pertunangannya ini.
"Juna. Aku kangen sama dia, mas"
Ekhem.
Dan setelah pernyataan tersebut, Arjuna juga menyuruh Mawar memanggilnya dengan sebutan Mas, katanya lebih pantas.
Tidak hanya sebuah sebutan yang berubah, ternyata Arjuna juga membelikan Mawar sebuah apartemen mewah didekat kantor agar perempuan itu tidak jauh bolak-balik menggunakan angkutan umum untuk pergi dan pulang bekerja.
Awalnya Mawar menolak karena ia tidak mau berpisah dengan Cherry dan juga Juna yang sudah seperti saudaranya sendiri, namun setelah ia mendapatkan wejangan dari Cherry, dengan berat hati Mawar pindah ke apartemennya.
"Tapi kalau aku rindu dengan kalian, aku boleh kan mengunjungi kalian?"
"Boleh dong Mawar, memangnya kita siapa sampai melarang kamu menemui kita? Kapanpun kamu mau, datanglah kesini. Mbak akan selalu ada disini. Yang betah ditempat baru nya, belajar masak lebih sering agar calon suami kamu betah di apartemen kamu" Goda Cherry.
"Ih mbak!"
Mawar tersenyum pilu mengingat pertemuan terakhirnya bersama Cherry, wanita mungil itu terus meyakinkan Mawar dan membuat Mawar mencoba yakin dengan perasaannya, perasaan bos nya.
Meskipun jujur, sampai saat ini dirinya masih ragu.
"Ya sudah, setelah ini kita ke tempat kontrakannya ya?" Kata Arjuna.
Tangan kekarnya refleks mengusak lembut Surai hitam itu lembut, membuat Diana mengulum senyumnya bahagia dan yakin jika putranya sudah sepenuhnya lepas dari masalalu nya.
"Serius mas?" Tanya Mawar dengan mata yang berbinar bahagia.
Arjuna mengangguk dan tersenyum tipis.
"Iya sayang, nanti sekalian kita ajak bunda nya jalan-jalan"
Senyum secerah matahari terbit setelahnya, Mawar tidak menyadari telah memeluk lengan kekar pria disebelahnya dengan erat.
"Makasih mas"
Ke empat orang itu larut dalam obrolan, sesekali mereka tertawa dan bahkan berbicara serius. Tidak tertinggal dengan sebuah perdebatan kecil diantara Diana dengan Rahardian dalam memilih konsep pertunangan, yang wanita ingin mewah dan yang pria ngotot ingin sederhana namun masih terkesan mewah.
Mawar hanya ikut-ikut saja, sesekali mengutarakan penolakannya karena menurutnya sangat berlebihan hanya karena sebuah pertunangan saja. Namun lagi-lagi penolakannya berakhir sia-sia karena ia tidak cukup berani menolak kemauan orangtua calon tunangannya.
Mawar memilih diam saja, menjadi penyimak Budiman. Kepalanya terus mengangguk dengan semua usul calon mertuanya.
Sesekali Mawar menatap jalan yang penuh dengan pejalan kaki maupun kendaraan, didepan sana Mawar menangkap siluet seseorang yang sudah dua bulan ini tidak ditemuinya.
Karena posisi duduk mereka berada diluar cafe, tepatnya disebelah taman, Mawar dapat melihat dengan jelas siapa wanita mungil itu.
"MBAK CHERRY, JUNA!"
🌻
__ADS_1