I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
154


__ADS_3

Cupcake yang sedang dihiasinya dengan berbagai toping itu, terjatuh. Hatinya mendadak berdebar tidak karuan, kenapa pikirnya. Ini sejak pagi, hatinya tidak bisa ia tebak dengan jelas. Apakah dia bahagia atau- entahlah, seperti ada rasa sesak dibalik kebahagiaan itu.


Sekelebat wajah putranya terlihat.


Mata bulat yang selalu berhasil meluluhkan amarahnya ketika ia berada pada level tertinggi menghadapi kenakalannya mendadak dirindukannya.


Kenapa ini?


Apakah putranya baik-baik saja?


Oh ya tuhan, dia tidak bisa tenang dengan perasaan ini jika belum menanyakan apakah semuanya baik-baik saja.


^^^Me :^^^


^^^[Dad, sedang sibuk apa tidak?]^^^


^^^[Apakah Juna berada disana? mommy membawanya setelah pulang sekolah.]^^^


Dad :


[Send a picture]


[Daddy masih meeting]


Kekehan kecil terdengar dari bibirnya, mengundang atensi beberapa pegawai yang melihatnya. Dalam layar ponsel yang sedang ia genggam, ia dapat melihat bagaimana wajah putranya yang terlihat ditekuk di sofa sana.


"Anak kamu lucu banget, Ar. Sudah tau Daddy sedang rapat penting, masih saja ingin ke sana untuk menemuinya" Kalimat tersebut terlontar begitu saja dari mulutnya. Wanita itu terdiam, baru menyadari apa yang dikatakannya barusan. "Hush, ngomong apa kamu Cherry!" Sambil memukul pelan bibirnya.


Ditengoknya jam yang melingkar pas pada pergelangan tangannya. Ternyata sudah pukul sebelas dan sebentar lagi waktunya makan siang.


"Aku harus cepat bersiap-siap, atau perempuan cerewet melebihi bebek itu akan mengomeli ku tanpa henti"


Cherry beranjak dari duduknya, memanggil salah satu pegawai untuk meneruskan pekerjaannya.


"Tolong selesaikan ya, Wid. Mbak akan menemui seseorang dahulu" Ucapnya seraya pergi setelah mendapatkan anggukan dari pegawai yang dipanggil Widy itu.


Tidak lupa dengan paper bag berwarna peach ia bawa, berisi beberapa cupcakes dengan bahan dasar buah peach dan juga toping yang serupa. Hmm~ Perempuan hamil itu memang banyak kemauannya.


Dia memasuki taksi yang sudah dipesan sebelumnya. Menginterupsi kan pada pengemudi untuk menuju sebuah restaurant Jepang yang tidak jauh dari lokasinya.


Ponselnya berdering, ia tersenyum lalu menggeser tombol hijau untuk menyambut suara seseorang diseberang sana.


"Kakak masih dalam perjalanan, kenapa kau cerewet sekali!"


"Hey aku sudah menunggu setengah jam ya, bagaimana aku tidak cerewet!"


"Okay, kakak sedikit melupakan janji kita tadi. Sorry, hehe~"


"Keterlaluan!"


"Ibu hamil dilarang marah-marah, kau mau anaknya jelek?"


"Tidak ada sejarahnya, jangan membual. Cepatlah, aku ingin makan cupcake buatan mu"


"Iya cerewet, satu belokan lagi sampai"


"Ya sudah, bye!"


Wanita itu menggeleng seraya terkekeh. Memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Dasar, dia selalu saja bertingkah kalau umurku lebih kecil darinya. Mentang-mentang aku pendek, menyebalkan!"


🌻


Sudah seminggu Arjuna berada dirumah dan sudah selama itu juga ia tidak pernah melihat Daddy serta mommy nya berada disana. Mereka akan pergi pagi-pagi sekali dan kembali jika sudah larut. Entah kemana, mereka hanya mengatakan akan menemui seseorang. Ya begitulah jawabannya.


Sangat singkat, padat dan tidak jelas sama sekali.


Dia berpikir setelah dirinya sembuh, mereka akan memperhatikannya. Namun nyatanya tidak! Sekarang saja kedua orangtuanya sudah tidak ada dan berakhir dengan dirinya sarapan seorang diri di meja makan sana.


"Pergi lagi mereka, mbok?" Arjuna bertanya pada maid yang dipanggilnya mbok. Wanita paruh baya itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan sang tuan muda padanya.


Setelah selesai menghabiskan sarapannya, Arjuna segera beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju garasi, memasuki mobil mewahnya dan melajukan nya ke suatu tempat yang sudah diperintahkan seseorang untuk ke sana. Entah untuk apa, lagi, Arjuna tidak mau terlalu memikirkan. Itu membuat otaknya sakit.


Cukup lama dia terjebak oleh kemacetan ibukota. Hal yang tidak pernah ia lewatkan ketika berada di kota kelahirannya.

__ADS_1


Akhirnya setelah tiga jam menerjang kemacetan, dia terbebas juga dan sampai pada tempat tujuan. Meminta kepada petugas untuk memarkirkan mobilnya, Arjuna berjalan kesebuah cafetaria yang berada dalam gedung tersebut sebelum menuju ruangan yang berada dilantai paling tinggi itu.


Gila, akibat ada kecelakaan minibus yang menabrak pembatas tadi membuat dirinya harus sabar terjebak dalam mobil selama tiga jam lamanya.


"Dimana kau?" Tanya seseorang dalam sambungan telpon.


"Dibawah. Aku akan membeli minuman dahulu, dad"


"Okay. Jangan lama-lama dan- oh astaga dimana cucuku?!" Teriaknya tanpa sengaja terdengar oleh Arjuna dan bersamaan dengan itu, seorang bocah berumur empat tahun tidak sengaja menabraknya.


Untung saja ia menggunakan earphone, jadi tidak ada yang terjatuh tetapi anak itu, "Hey kau tidak apa-apa?" Tanya Arjuna khawatir.


Ia berlutut, membantu bocah yang terjatuh tadi untuk berdiri dan mengabaikan panggilan Daddy nya dalam telpon.


"Aku tidak apa-apa uncle" Sahut bocah tersebut.


Kepalanya masih menunduk dan sedikit meringis saat Arjuna membantunya untuk berdiri. Nampaknya lututnya akan memar karena benturannya lumayan keras tadi.


"Arjuna apa terjadi sesuatu, suara siapa itu?!"


"Diam lah dahulu dad!" Lalu beralih menatap kembali bocah itu, "Jangan berlarian seperti itu ya, berbahaya untuk kamu"


"Arjuna kau berbicara dengan siapa?"


Arjuna tidak menyahutinya, ia hanya fokus pada bocah berambut ikal itu. Kenapa ini, kenapa dengan hatinya? Kenapa ia sakit ketika mendengar ringisan kecil yang keluar dari mulut bocah itu.


"Ugh maafkan aku," Bocah itu mendongak, "Uncle..." Mata bulatnya memerah, seakan dari sana terpancar rasa sakit bercampur kerinduan yang siap diledakkan.


"Tidak ap-"


DEG!


Tangan kokoh yang memegang erat pundak sang bocah itu terlepas. Tatapan khawatir yang ia berikan kini berubah menjadi sebuah tatapan yang ia sendiripun tidak bisa diartikan.


Kenapa?


Kenapa mata itu?


Kenapa tiba-tiba mengingatnya lagi kepada seseorang, seseorang yang begitu dicintainya.


Kembali, Arjuna menatap bola mata bocah laki-laki itu dengan lekat.


Hidungnya?


Bibirnya?


Bahkan rambutnya? Kenapa sama persis sepertinya saat masih kecil dahulu. Bahkan jika bisa dia ukur dari 1-100, Arjuna akan memberikan angka 99,99 karena hampir semua yang terpahat dalam jelmaan seorang bocah dihadapan itu begitu menyerupai dirinya.


Apakah dia?


Benarkah dugaannya kalau dia-


"Juna?"


Dan seiring dengan setetes air mata yang jatuh membasahi pipi gembul nya, sebuah anggukan pelan dari bocah itu diberikan.


"Halo Arjuna, kau memanggil siapa barusan? Dimana kau sekarang?!"


Suara yang berada dalam sambungan telpon itu terus memanggil, namun tentu tidak Arjuna dengarkan sama sekali. Pria itu hanya fokus kepada bocah laki-laki yang kini sedang ia usap pipi gembul nya itu.


Arjuna sesak bukan main ketika bagaimana sosok yang sangat dirindukannya itu menangis. Bagaimana mata bulat penuh luka itu mengeluarkan kesedihannya, dihadapannya - begitupun dirinya, yang tidak bisa menahan lagi laju air yang sudah memupuk disudut matanya.


Butuh beberapa detik untuk Arjuna kembali bersuara, menetralkan rasa sesaknya yang sedari tadi memberontak ingin ia keluarkan.


"Kau-"


Cairan bening itu menyeruak dari balik kelopak matanya, menciptakan lelehan kecil pada pipinya. Arjuna kembali mendongak sesaat setelah tadi menundukkan kepalanya, usapan lembut dari tangan mungil bocah itu mampu menggemparkan hatinya.


"Don't cry, bunda tidak suka pria cengeng."


Juna masih menyentuh wajah pria tampan dihadapannya itu, menghapus air matanya dengan tangan mungilnya, pelan. Sedangkan Arjuna, pria itu memejamkan matanya, menikmati setiap usapan lembut yang kini telah mengembalikan kehidupannya.


"Sorry..." Arjuna menyahut lirih, "Apakah lutut mu sangat sakit, jagoan?" Lagi, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan yang kini dibarengi dengan isakan tertahan.


Juna mengangguk pelan. Hidungnya memerah dengan bibir mungil yang mengerucut lucu.

__ADS_1


"A little. Tapi tidak apa-apa, anak bunda harus jagoan dan tidak boleh cengeng"


"Pintar sekali anak bunda satu ini" Arjuna tertawa, namun air matanya seperti tidak mau berhenti menetes membuat Juna terus mengusap lembut wajah pria dihadapannya itu. "Bagaimana kabar kalian?" Tanyanya lembut.


Juna mengentikan gerakan tangannya, memandang sendu pria di hadapannya. Dadanya dipenuhi rasa sesak.


"Baik"


Arjuna tersenyum, masih dengan posisi berlutut dihadapan bocah itu.


"Apakah kalian merindukan orang jahat ini?"


Juna mengangguk, pelan. Menundukkan kepalanya, menyembunyikan air matanya yang semakin membanjiri pipinya.


"Mau peluk tidak?"


Juna mendongak, mata bulat nya berbinar menyejukkan.


"Boleh?" Tanyanya pelan.


Arjuna mengangguk, merentangkan kedua tangannya lebar, siap menyambut tubuh kecil sang bocah yang sangat dirindukannya itu.


"Kemari!"


Bruk! Juna menubruk kecil tubuh tegap pria itu, memeluknya erat dengan penuh kerinduan. Bibir mungilnya bergetar hebat dengan isakan tertahan, air matanya menetes begitu deras - melupakan kalau anak bunda tidak boleh cengeng.


Arjuna sesak bukan main, jari-jari tangannya terus mengusap lembut tubuh kecil dalam dekapannya. Mencium pucuk kepala bocah itu sambil menangis mengundang kalimat tidak terduga dari bocah itu.


"Ayah... Ayah...Ayah..." Panggilnya pelan disebelah telinga Arjuna.


Arjuna semakin mengeratkan pelukannya, isakannya kini terdengar nyaring.


"Iya sayang, iya. Ayah disini, ayah akan bersamamu"


🌻


"Tuan Rahardian, cucu anda pergi ke cafetaria bawah-"


Wanita yang sempat membantu Juna untuk menekan tombol pada lift itu berkata, memberitahukan pemilik perusahaan yang sedang ketar-ketir mencari keberadaan cucunya.


Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, umpatan kecil yang keluar dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu membuatnya berjengit ketakutan.


"Oh ****! Kenapa kau membiarkannya. Bagaimana kalau dia hilang?! Meskipun cucuku yang nakal itu sangat pintar, tetapi dia masih berumur empat tahun. Tenaga nya tidak cukup kuat untuk melawan penculik"


Rahardian buru-buru berjalan menuju lift, kembali mengumpat ketika pintu tersebut tidak kunjung terbuka.


"Sialan, kenapa lama sekali!"


"Tuan-"


"Diam! Kau tidak tau bagaimana rasanya khawatir- sialan! Kenapa pintu ini tidak kunjung terbuka!" Erang nya frustasi.


TING!


Baru selangkah Rahardian akan memasuki lift, namun pemandangan didepan matanya membuat kakinya terasa kaku. Jantungnya berdetak tidak karuan.


"Kau mencari bocah nakal ini, dad?" Tunjuknya pada bocah yang berada dalam gendongannya. Bocah itu tersenyum, membuat mata bulatnya tenggelam oleh senyumannya. Arjuna kembali berkata, "Aku menemukannya di cafetaria seorang diri. Dia kehausan menunggumu rapat. Keterlaluan! Kalau kau sibuk seharusnya kau menitipkannya pada pegawai mu, jangan membiarkannya sendiri-"


"Ar-"


Rahardian kembali menelan kalimatnya ketika sebuah telunjuk mengisyaratkan nya untuk tidak berbicara.


"Bagaimana kalau dia tersesat? Bagaimana kalau dia di culik?"


Bocah dalam gendongannya memukul pelan pundak kokoh pria tersebut dan berkata, "Juna sudah besar ya dan bisa melawannya!" dengan bibir yang mengerucut lucu.


Kenapa orang tua se-lebay itu, padahal dia hanya ingin membeli susu saja. Lagi pula mana ada penculik di kantor seketat ini, kalaupun ada nyari mati namanya.


"Diam kau bocah nakal!" Arjuna mencium gemas dan bahkan hampir menggigit pipi bocah itu karena gemas, membuat bocah itu merengek mengusap pipinya yang hampir dimakan tadi.


"Kakek~"


"Ar-"


"Simpan dahulu penjelasan mu untuk malam nanti pak tua. Kau berhutang begitu banyak penjelasan kepadaku. Aku akan menemui ibu dari bocah nakal ini dahulu"

__ADS_1


Arjuna kembali memasuki lift tersebut, mengabaikan teriakan sang ayah.


🌻


__ADS_2