I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
144


__ADS_3

Note : [Punya lagunya breath - Sam Kim, gak? Dengerin ya kalau baca TAKDIR .. Aku always nangis tiap ngetik kalau play lagu itu, hiks]


Tadinya aku mau buat cerita ini biasa aja, tapi karena aku lumayan kejam, maksudnya suka bikin tokoh utamanya menderita, jadi aku putuskan mau bikin cerita penuh bawang hehe .. Please kalau yang gak kuat baca selanjutnya mending gak usah, takut ganggu pikiran kalian karena asli ini bakal nguras emosi sama air mata banget.


Aku gak bakalan bikin banyak chapter kayak ILYM, karena emang udah nulis singkat banget gak nyampe 10 chapter deh kayaknya [Dipersingkat] tapi lihat nanti aja ya, takut ketagihan nerusinnya hehe.


Dan untuk ILYM, mungkin akan sedikit Fluff karena mereka udah happy ending.


Lanjut baca.


Pelan-pelan aja, Hayati setiap narasinya.


🌻


Bayi yang berada dalam gendongan Mawar terus memperhatikan Arjuna. Matanya yang bening mengerjap lucu, dengan tangan yang menjulur - meminta untuk digendong.


Awalnya bayi itu seperti ketakutan, namun semakin lama, Juna memperlihatkan ketertarikannya. Senyum tipis tercipta, Arjuna terus menatapnya entah dengan perasaan apa, sekelebat bayangan wanita di masalalu yang dicintainya terbayang dalam otaknya. Mungkin anaknya akan sebesar ini kalau masih ada?


"Kau mau uncle gendong?" Tanya Mawar karena Juna itu terus meronta.


Awalnya tawa bayi itu yang terdengar, namun semakin lama karena menyadari pria di hadapannya tak kunjung meraihnya, Juna mulai merengek akan menangis. Mulutnya yang kecil bahkan tanpa diduga mengatakan, "Yayah" Dengan bibir menukik tajam setelahnya.


Mawar sendiripun merasa terkejut mendengarnya, apalagi Arjuna yang mendapat panggilan seperti itu saat otaknya terus memikirkan seseorang dari masalalu yang sangat dicintainya. Entah, saat mendengar panggilan itu kepada dirinya, Arjuna merasakan hatinya sesak. Ia melihat kesakitan dalam mata bayi yang masih berada dalam gendongan mawar, bahkan merasakannya juga.


Arjuna menyentuh dada sebelah kirinya, merasakan detakan jantungnya yang hebat dan berdenyut ngilu. Kenapa ini? Kenapa rasanya sakit sekali melihat wajah itu.


"Wah tuan, sepertinya Juna menyukai tuan. Tidak keberatan kan kalau tuan menggendongnya?"


Lagi, bibir Juna kembali meyebutkan 'yayah' dengan mata yang sudah memerah. Sorot mata nya seperti berkata, "Aku merindukanmu, ku mohon, gendong aku"


Ragu, tangan Arjuna mulai terangkat. Namun kembali ia turunkan. Katanya, "Saya tidak tau bagaimana menggendongnya" Yang sontak membuat tawa Mawar meledak.


Perempuan itu berdiri, memberikan Juna setelah Mawar memberitahukan caranya. Kepala bayi berumur empat bulan itu menyandar pada dadanya yang bergemuruh hebat. Arjuna tidak mengerti, kenapa jantungnya merespon seramai ini hanya karena menggendong seorang bayi yang tidak ada status apapun dengannya. Mungkin ia merasa tersinggung dengan masalalu nya.


Lihat, bayi itu begitu nyaman berada dalam pelukan Arjuna. Tangan mungil itu begitu erat memeluk leher sang pria. Kepalanya pun sudah bersandar nyaman pada leher kokohnya, membuat Arjuna gemas untuk mengusap lembut punggung nan mungil itu.


"Tuan sudah cocok menjadi seorang ayah, Juna saja sampai anteng tuh"


Arjuna mendadak tuli, tidak mendengar apapun yang dikatakan wanita dihadapannya. Tidak ada sepatah kata apapun yang terlontar, hanya hening yang terasa. Fokus Arjuna seluruhnya pada bayi itu, baru beberapa menit bertemu kenapa bisa senyaman ini - sesayang ini?


Bukan hanya Arjuna, nyatanya bayi itu juga diam. Merasakan kenyaman yang diberikan pria yang sering dilihatnya dalam sebingkai figura dikamarnya. Matanya yang bulat mulai meredup, seiring usapan lembut yang diberikan Arjuna pada kepalanya - juga beberapa kecupan lembut yang ia daratkan disana.


"Cherry sayang, apakah anak kita sudah sebesar ini? Bisakah kau kembali, disini, bersamaku?" Batinnya terisak pilu.


Untung saja Mawar tadi berpamitan untuk ke dapur, Arjuna lega karena tidak ada yang melihatnya menangis.


****! Aku sambil nangis ngetiknya - Author :'(


Mawar merasa tidak enak karena sedari tadi Juna terus menempeli bos nya, bahkan bayi itu sudah tertidur pulas dalam gendongannya.


"Tuan, tangan anda bisa pegal, berikan saja Juna kepada saya. Saya akan menidurkannya dikamar"

__ADS_1


Sebuah lagu yang sedang dinyanyikan Arjuna seketika terhenti bersamaan dengan kepalanya yang menggeleng ribut.


"Tidak, biarkan Juna tertidur baru kamu pindahkan ke kamar"


Hujan begitu deras, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam namun ibu dari bayi itu belum kembali juga, membuat mawar khawatir. Lantas mengambil ponsel yang tergeletak di meja dan menelponnya.


"Mbak masih dimana, hujannya deras sekali dan juga anginnya kencang. Mbak tidak apa-apa?" Mawar sangat khawatir, pasalnya toko itu lumayan jauh dengan jarak dua ratus meter dari kontrakannya.


Di sebrang sana Cherry menyahut terkejut karena suara petir yang lumayan kencang, Juna yang hampir tertidur dalam pelukan Arjuna pun terkejut dan hampir menangis namun dengan sigap Arjuna menenangkan nya dan membuat bayi itu terlelap kembali.


"Mbak masih di toko, kenapa? Apa Juna rewel?"


"Tidak mbak, Juna tertidur" Sahut Mawar.


Mawar terus tersenyum melihat bos nya begitu nyaman mendekap tubuh mungil itu. Jika orang asing yang melihatnya mungkin akan menyangka mereka adalah ayah dan juga anak, begitupun dengan mawar. Ia melihat keanehan, namun tidak terlalu memikirkan dan akhirnya mengabaikan.


"Syukurlah. Sebentar lagi mbak pulang, tunggu hujan dan angin sedikit reda." Sahut Cherry disebrang sana.


"Iya hati-hati menyebrang nya, jalanan licin"


"Iya"


Setelah mengetahui Cherry baik-baik saja, mawar cukup tenang. Ia meletakan kembali ponselnya dan duduk kembali, memperhatikan bos nya yang terus menimang bayi dalam pelukannya.


"Wajah tuan dengan Juna terlihat mirip" Celetuk mawar. Posisi yang tadinya membelakangi mawar akhirnya berputar arah, menghadap wanita itu yang sedang tersenyum. "Saya sempat menyangka kalian anak dan ayah, hehe"


Arjuna tidak terkejut ketika mawar mengatakannya, sejak awal Arjuna juga menyadari jika wajah bayi ini sama persis sepertinya ketika kecil. Bahkan jika dihitung persen, kemiripan itu hampir delapan puluh. Yang membedakan hanya matanya saja, dan lagi, kelebat wanita itu kembali memenuhi pikirannya.


DEG!


Cherry merasa dadanya ngilu, seperti ada tinjuan kecil yang membuatnya terasa sesak. Ia menatap langit, tidak ada satupun bintang yang terlihat disana. Ah iya lupa, hujan. Pasti awan pekat itu telah menghalangi kehadirannya.


Hampir satu jam Cherry berdiri didepan toko, menunggu angin tenang dan tetesan hujan mereda. Ia tersenyum, lalu membuka payungnya dan berjalan ketika semua penghalangnya untuk pulang mulai hilang.


Untung saja meskipun hujan jalanan tidak sepi, Cherry tidak perlu khawatir akan ada yang mengganggunya. Kaki mungilnya terus melangkah menyusuri trotoar jalan setelah berhasil menyebrang, dari jarak kurang lebih lima puluh meter, ia dapat melihat samar pemilik mobil yang sedari tadi terparkir dihadapan kontrakannya mulai memasuki mobilnya. Mawar juga terlihat menemani dan Juna? Ah bayi itu pasti sudah tidur saat di telpon tadi mawar memberitahukannya.


"Hati-hati dijalan"


Hanya kata-kata itu yang mampu mawar ucapkan saat mobil yang ditumpanginya melaju, perlahan menjauh semakin jauh. Memangnya kalimat apa yang ingin kamu ungkapkan mawar?


'Setelah sampai dirumah kabari aku ya' begitu? Hey memangnya kamu siapa? Pria itupun masih sangat mengharapkan kekasihnya. Kamu? Sadar diri!


Seketika kalimat beberapa menit lalu kembali berputar dalam otaknya, "Seharusnya anakku sudah sebesar ini jika wanita itu tidak pergi" yang membuat sebuah harapan seketika hancur.


Jujur, kedekatannya beberapa Minggu ini bersama bos nya membuat hatinya tersentuh. Sikap bos nya yang terlampau dingin mendadak berubah menghangat membuat mawar terlena dengan segala bahasanya.


Meskipun mawar sudah mengatakan pada hatinya untuk menjaga jarak hatinya agar tidak terpesona, tetapi seringnya bersama mengalahkan segalanya.


"Tidak seharusnya kamu berharap, mawar. Lihat kamu? terlalu dasar untuk dia yang tinggi"


Haha, kenyataan memang pahit! Mawar sampai lupa jika kedudukan seseorang juga mempengaruhi cinta. Ah sudahlah, lupakan! Semoga perasaan ini hilang dengan kenyataan jika pria yang disukainya ternyata bukan hanya memiliki wanita yang dicintainya, namun juga anak yang belum tahu keberadaan nya.

__ADS_1


Ketika badan itu akan berbalik masuk, Cherry yang sudah dekat memanggil.


"Mawar"


Perempuan yang masih menggunakan pakaian formal itu menoleh, "Eh? Mbak gak apa-apa kan?" Tanyanya khawatir.


Cherry menggeleng pelan.


"Gak apa-apa, tadi mbak nunggu hujannya sedikit reda dulu, anginnya juga kencang sekali. Mbak takut ada pohon tumbang" Sahut Cherry. "Juna tidur, gak rewel kan?" Imbuhnya.


Mawar menggelengkan kepalanya, menggandeng tangan Cherry lalu membawakan sebagian barang belanjaannya.


"Anteng banget sama bos aku mbak, sampe gak mau lepas" Ujarnya.


"Serius? Duh sampaikan maaf mbak buat bos kamu ya, mawar. Maaf merepotkan kalian"


"Ih mbak kayak sama siapa aja. Oh iya mbak-"


"Hm?"


"Juna panggil bos aku 'ayah' loh. Aku baru tau kalau Juna udah bisa ngomong, ya meskipun gak terlalu jelas, tapi berhasil bikin aku kaget" Kata mawar dengan kekehan kecil.


Cherry malah tertawa setelah meletakan barang belanjaannya di meja depan kamar, tidak kaget sih mendengar pengakuan mawar. Kemarin saja Juna memanggil Darendra seperti itu. Tapi ia takut bos nya mawar merasa tidak nyaman dipanggil seperti itu oleh anaknya.


"Terus tanggapan bos kamu apa?"


"Sama kagetnya tapi ya karena wajahnya emang datar, aku lihatnya biasa-biasa saja"


Syukurlah kalau tidak marah.


🌻


Suasana pagi ini begitu ramai dengan tangisan salah satu dari dua baby kembar. Grizelle yang sedang mandi dibuat geram oleh suaminya karena pria itu selalu saja mengganggu tidur kedua anaknya. Alhasil Grizelle yang baru lima menit masuk ke dalam kamar mandi harus keluar kembali untuk menenangkan salahsatu anaknya yang menangis.


Dengan menggunakan bathrobe, Grizelle keluar dengan tatapannya yang sangat membunuh. Tidak lupa, mulutnya terus mengomel bahkan telinga suaminya sudah memerah karena Capitan mautnya.


"Mas gemes sayang, gak tahan pengen cium terus"


"Tapi jangan diganggu pas lagi tidur dong mas! Gak kasihan nih liat mommy nya kelelahan kayak gini?"


"Maaf"


Ya ya ya!


Maaf terus yang dia bisa.


"Doyan gangguin tapi gak bisa nenangin!" Kesal Grizelle setelah meletakan kenzi ke dalam tempat tidurnya. "Awas kalau sampai bangun lagi, kamu tidur diluar!"


Ketahuilah, kalimat tersebut adalah ancaman paling mengerikan bagi Bayu setelah menikah.


"Iya-iya sayang"

__ADS_1


🌻


__ADS_2