
Sesuai permintaan Megan tadi pagi yang mengajaknya untuk mengikuti ekskul, kini Grizelle berada dibarisan kursi bersama dengan teman-teman yang lainnya. Meskipun sedikit malas, tetapi daripada tidak ada kegiatan lain, tidak ada salahnya juga mengikuti ekskul ini.
"Selamat sore semuanya"
Loh, itukan-
Jadi yang mengajar ekskul ini adalah pak Bayu? Grizelle terus menatap pria yang terlihat membawa sebuah gitar ditangannya, apakah benar pria yang dilihatnya sekarang adalah pak Bayu.
"Maaf saya sedikit terlambat. Ada sedikit urusan tadi"
"Oke semuanya. Apakah kalian sudah siap?"
"Siap!"
Namun satu hal yang baru ia sadari, ternyata pada deretan kursi ke 3 terlihat sosok gadis yang sedang fokus memperhatikannya. "Grizelle" Gumamnya.
Ditatap seperti itu membuat Bayu menjadi salah tingkah, lantas ia berdehem dan segera memulai pelajarannya.
"Kalian tahu apa yang sedang saya pegang ini?"
"Gitar"
"Betul sekali! Alat musik gitar sangat populer apalagi di kalangan kaum muda. Gitar dapat menghasilkan berbagai musik populer yang tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita.
Selain itu, alat musik ini masuk ke semua jenis genre musik. Contohnya pop, jazz, Rock, metal dan juga yang lainnya. Jadi hari ini kita akan belajar kunci-kunci gitar terlebih dahulu."
Masing-masing murid sudah memegang gitar ditangannya, mengikuti arahan guru pembimbing yang mengajarkannya. Disaat yang baru pertama mempelajarinya sedikit kesusahan, Grizelle sendiri nampak enjoy memainkannya.
Megan hanya tersenyum melihatnya, ia sudah menduga jika Grizelle bisa memainkannya. Karena dia sendiri sudah tahu jika Grizelle sering memainkannya dulu.
"Kamu udah bisa maen gitar?" Tanya seorang pemuda yang duduk disebelahnya.
Dia adalah Nathan, murid kelas 12 B yang sama-sama sudah lihai dengan alat musik petik tersebut. Tujuannya mengikuti kelas ini hanya karena jenuh saja, dan juga karena ada seorang gadis yang sudah mencuri hatinya.
"Lumayan, gak jago-jago banget ko" Sahut Grizelle.
"Itu udah jago loh"
"Bisa aja kamu"
Obrolan tersebut terus berlanjut, keduanya saling memberi saran agar permainannya semakin bagus. Grizelle yang mudah bergaul menjadi tidak canggung saat Nathan mengarahkan jari-jarinya untuk mempelajari kunci-kunci yang belum ia tahu.
"Coba sekarang pakai lagu" Titah Nathan.
"Nyanyi maksudnya?"
"Iya"
"Gak bisa aku, kamu aja yang nyanyi"
"Ya udah aku bakalan nyanyi sedikit lagu buat kamu"
"Buat aku?"
Nathan mengangguk, kemudian mulai memetik senarnya sehingga menciptakan alunan nada merdu.
Have I ever told you
I want you to the bone?
Have I ever called you
When you are all alone?
And if I ever forget
To tell you how I feel
Listen to me now, babe
I want you to the bone
I want you to the bone, ooh, ooh, ooh, ooh
I want you to the bone, oh, oh, oh, oh
CIH! Pemandangan apa ini, kenapa terasa gerah sekali melihatnya. Pria yang sedang mengajarkan beberapa murid lainnya mendengkus, rasanya ingin segera mengakhiri kelas ini.
"Oke. Apakah ada yang mau maju ke depan untuk bernyanyi?" Namun semua murid hanya diam, sampai akhirnya Bayu sendiri yang menunjuk salah satu diantara mereka semua.
__ADS_1
"Grizelle"
"Aku?"
"Iya, memangnya siapa lagi disini yang bernama Grizelle!" Ah mendadak hatinya kembali kesal ketika melihat pemuda yang berada disebelahnya memegang jari-jarinya tadi. "Silahkan maju" Lalu meyerahkan gitar yang dipegangnya kepada Grizelle.
Ya tuhan tidak biasanya Grizelle menjadi gugup seperti ini. Padahal ia sering bernyanyi dihadapan teman-temannya saat ia masih menetap di Amerika, namun kenapa rasanya kali ini sangat berbeda. Apa karena pak Bayu yang terus memperhatikannya, sehingga ia merasa gugup? Oh ayolah Grizelle, bahkan pria itu hanya diam saja tidak melakukan apapun.
Lihatlah, bahkan jari-jari cantiknya nampak gemetar ketika mulai memetik senar tersebut. Apa yang harus ia nyanyikan didepan sini? Tidak ada rekomendasi lagu apapun dalam otaknya.
Mengembuskan nafasnya perlahan sebelum memulai kembali permainan gitarnya, "Ada rekomendasi lagu?" Tanyanya. Karena ia benar-benar tidak tahu harus menyanyikan lagu apa.
"Apa aja Griz, yang penting lagu tersebut sedang menggambarkan orang yang sedang jatuh cinta" Usul Nathan yang tiba-tiba memberi ide.
Oh jatuh cinta ya?
"Ya udah, yang biasa aku mainin aja ya. Maaf kalau suaranya gak enak" Ucapnya seraya menatap Bayu yang juga tengah menatapnya.
I really wanna stop, but I just got the taste for it
I feel like I could fly with the boy on the moon
So, honey, hold my hand, you like making me wait for it
Entah kenapa Grizelle perlu menyanyikan lagu ini sekarang, yang jelas inilah yang sedang dirinya rasakan dalam hatinya kepada seseorang disana. Perasaan yang terlalu dini muncul pada seseorang yang baru dikenalnya.
I feel like I could die walking up to the room, oh yeah
Late night, watching television
But how'd we get in this position?
It's way too soon, I know this isn't love
But I need to tell you something
I really, really, really, really, really, really like you
And I want you, do you want me, do you want me, too?
Bayu tersenyum ketika tatapan mereka bertemu ketika sebuah reff pada lagu tersebut seperti untuknya, ia merasa gugup karena tatapan murid tersebut yang membuat hatinya kembali berdebar.
Dia tidak seyakin itu.
🌻
Nathan memarkirkan motor sport Yamaha R1 M miliknya di pinggir jalan setelah melihat Grizelle sedang berdiri didepan halte. Pemuda itu melepaskan helm yang melindungi kepalanya setelah berdiri dihadapan gadis yang menatapnya bingung.
"Nathan"
"Hai"
"Aku pikir siapa" Grizelle mengelus dadanya lega. Semenjak kejadian beberapa hari kemarin, ia sedikit trauma dengan pria yang memakai motor.
"Maaf, hehe. Kamu ngapain disini?"
"Nunggu supir yang mau jemput, belum datang"
"Oh. Mau bareng?" Tawarnya seraya menunjuk motornya.
"Terima kasih Nathan, tapi aku punya trauma dengan motor"
"Oh begitu, ya udah aku temenin ya sampai sopir kamu datang"
Bayu mencibir, pemandangan disebrang jalan sana membuat hatinya kembali dongkol. Lagi-lagi ia harus kalah dengan pemuda itu. Niat hati ingin menghampiri, namun ia kecolongan ketika sedang membeli minuman.
Terpaksa, minuman tersebut ia teguk sampai habis, lalu membuangnya ke tong sampah kecil yang tersedia didalam mobilnya. Ah rasa dingin minuman tersebut kenapa terasa panas begitu melewati tenggorokannya.
"Oke Bayu, kita pulang saja!" Ucapnya kesal. Namun nyatanya, sudah 10 menit berlalu pria itu masih tetap disana, memperhatikannya.
"Memangnya sopir kamu masih dimana?" Tanya Nathan.
"Kejebak macet, katanya ada kecelakaan mobil jadi sementara polisi membuka tutup jalannya"
Ya, tadi Grizelle sempat menelpon dan sopir tersebutpun mengatakan jika ada sebuah kecelakaan, jadi kemungkinan sopir tersebutpun akan telat menjemputnya.
"Ya udah aku anterin aja, gak apa-apa ko, percaya sama aku" Yakin pemuda tersebut.
"Tapi serius, aku takut Nathan"
__ADS_1
"Gak apa-apa, aku pelan-pelan bawa nya"
Ragu apakah harus menerimanya atau tidak, tetapi jika menolak dan menyuruh pemuda itu pergi mau sampai kapan dirinya menunggu seperti ini. Yang ada nanti dia diganggu lagi oleh berandalan jalan.
Grizelle bergumam, ya sudahlah, apa salahnya menerima niat baik seseorang.
"Bo-" Namun ketika kata tersebut belum selesai terucap, suara klakson mobil disebelahnya membuat keduanya terkejut.
"Woi-" Sungutnya berapi-api. Namun sebelum gadis itu melanjutkan umpatannya, pria tersebut keluar dengan tampang yang begitu menyebalkan seperti biasanya.
"Apa?! Mau ngomel-ngomel hah?" Sahut pria yang baru saja turun dari mobil tersebut. Dia menarik paksa Grizelle dan memeluknya begitu gemas. Sementara Grizelle, gadis itu mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Membuat Nathan dengan refleks hampir melayangkan pukulan jika Grizelle tidak menahannya.
"Nathan hey ini kakak aku"
"Maaf kak, aku pikir-" Ah shit! Nathan pikir dia adalah pria brengsek yang menginginkan Grizelle dengan paksa.
"Okay no problem." Sahut pria bertubuh jangkung tersebut. Dia adalah Leonardo Arion Jovanka, anak dari Ayumi, kakak perempuan Aiko. Kedatangan Leon merupakan pertolongan dari Tuhan, ia menjadi lega karena tidak perlu pulang dengan Nathan. Bukannya tidak mau, Grizelle benar-benar takut menunggangi kuda besi berbodi besar seperti itu.
"Lagi ngapain sih?" Tanya Leon.
"Nunggu pak Doni"
"Si botak ditungguin, pulang sama Abang aja yuk" Sudah menyeret tangan Grizelle tanpa memperdulikan Nathan yang berdiri disebelahnya.
"Nathan thanks udah nemenin aku" Teriaknya setelah Leon mendorongnya masuk kedalam mobil. Sementara Nathan, pemuda itu hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.
Oh sialan, siapa lagi pria itu?
Bayu sudah bersiap untuk mengikuti mereka. Ia hanya memastikan jika pria tersebut bukanlah kekasihnya.
Ya tuhan, Bayu merasa menjadi pria penguntit saat ini karena mengikuti mobil pria yang membawa muridnya.
"Loh bang, mau kemana dulu?" Katanya mau mengantarnya pulang tetapi malah berbelok pada sebuah universitas didekat sekolahnya.
"Jemput pacar Abang dulu ya dek, sebentar aja"
Heuh. Kenapa tidak bilang daritadi, kalau tahu begitu Grizelle mending pulang dengan Nathan saja daripada harus menjadi nyamuk diantara orang yang sedang jatuh cinta.
"Jangan lama-lama, laper!"
"Asyiap boskuh"
Terpaksa Grizelle harus berpindah ke jok belakang karena tidak mungkin dirinya memisahkan 2 sejoli tersebut.
"Gini nih jomblo, numpang mobil orang jadi obat nyamuk!"
Ck!
Dari kejauhan, Grizelle melihat Leon sedang menggandeng mesra kekasihnya. Penampilan wanita itu terlalu terbuka bagi seorang mahasiswi, bahkan terlalu sexy.
"Loh, bukannya pacarnya kak Naomi ya, kenapa-"
"Itu siapa sayang" Tanya wanita itu ketika melihat Grizelle turun dari mobil kekasihnya.
"Adik sepupu aku, kenalan gih"
Wanita cantik itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya begitu ramah. "Hello" Ucapnya. Wanita itu sempat bingung harus berbicara menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris setalah kekasihnya mengatakan jika dia baru datang dari Amerika.
"Hello kak, aku Grizelle"
"Salam kenal ya cantik, aku Cherry"
🌻
Tadinya Leon akan mengantarkan Grizelle terlebih dahulu karena gadis itu terus saja mengeluh kelaparan, namun Cherry mengusulkan untuk makan di cafe saja. Takut jika adik kekasihnya sakit jika tetap memaksa untuk mengantarkannya.
"Bayarin ya?"
"Sejak kapan kalau jalan-jalan gak pernah dibayarin, ha?" Pria yang sedang menyetir itu menoleh sejenak, lalu kembali fokus ke jalan setelah mencubit pipi adiknya.
"Kak Cherry ko mau sih sama bang Leon, dia kan buaya" Ya ampun Grizelle benar-benar, dikasih duit minta daun. Leon merasa menjadi pria brengsek jika sudah bersama adiknya.
"Apalagi kalau bukan cinta"
Cih! Cinta cinta taik kucing. Grizelle menjadi sebal mendengarnya. Tidak bisakah menghargai dirinya yang jomblo ini. Lihatlah mereka, bermesraan dihadapannya bahkan mengacuhkannya.
Menyebalkan!
🌻
__ADS_1
REVISI