I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
(S2) Episode 96 - MENJELASKAN


__ADS_3

Happy reading


(Fiona&Shawn) Aku mau menyelesaikan masalah mereka dulu ya, baru episode selanjutnya fokus lagi sama pengantin baru. Mereka masih hot-hot nya, jadi biarkan dulu aja ya, hehe


🌻


Laki-laki yang biasanya akan selalu menggodanya sampai dirinya merasa kesal bahkan marah, hari ini laki-laki itu terlihat lebih banyak melamun. Janinne yang baru selesai menjalankan kemoterapi nya mengerti, pasti ada yang sedang dipikirkannya.


"Why?" Tanya Janinne lemah. Tubuhnya masih terasa lemah sekali, bahkan nada bicaranya pun sedikit tidak jelas terdengar.


Tubuhnya sedikit terlonjak saat Janinne menyentuh tangannya, laki-laki itu gelagapan. "Eh" berdiri panik, "Ada yang sakit?" Memeriksa wajah Janinne yang sangat pucat.


Hari ini Shawn menemani Janinne untuk melakukan kemoterapi, mengingat Janinne hanya sendirian di Indonesia, ia dengan senang hati menemaninya.


Janinne menggelengkan kepalanya lemah, "Jangan pernah membohongi perasaan kamu, atau nanti kamu akan menyesal" Kata Janinne mengerti apa yang sedang dipikirkan Shawn.


"Maksud kamu apa, aku tidak mengerti" Bohong Shawn sehingga Janinne terkekeh pelan.


"Hey Alex, kita sudah saling mengenal bukan sebulan ataupun 2 bulan. Kau sangat tidak pandai menyembunyikan perasaanmu" Goda Janinne lagi


Shawn tertawa, mengusap lembut kepala Janinne yang tertutup Beanie berwarna pink pemberiannya. "Berhenti berkata yang tidak jelas, Janinne"


"Kau lucu jika sedang jatuh cinta"


"Siapa juga..."


"Jangan berbohong! Kejar dia, atau aku yang akan mewakilkanmu untuk mengatakannya" Potong Janinne. Shawn bukannya tidak mengerti kemana arah pembicaraannya dengan Janinne, tetapi ia merasa tidak enak jika membicarakannya sementara Janinne dalam keadaan kritis seperti ini.


"Janinne, bicaramu semakin melantur! Sebaiknya kau istirahat saja"


"Alex, mungkin ini terlalu menyakitkan untukku tetapi aku tidak ingin egois. Kejarlah dia, Lex. Fiona gadis yang baik, aku akan lebih tenang jika kau bersama nya"


🌻


Sangat melelahkan sekali setelah seharian sibuk mencari bahan-bahan untuk ospek, apalagi saat mengingat kembali masalahnya dengan Fiona.Rasanya kepalanya mau pecah saja


Shawn juga tidak mengerti ada apa dengan hatinya, kenapa dia begitu tidak suka jika Fiona menjauhinya. Seperti ada yang hilang dalam hidupnya.


"Apa gue udah mulai... Enggak-enggak!" Menggelengkan kepalanya berulang-ulang, "Gak mungkin!" Imbuh laki-laki itu.


"Apanya yang tidak mungkin, sayang?" Heran mommy Ayumi yang mendapati putra nya berbicara sendiri, ia jadi khawatir.


"Eh mommy, kaget aku!" Mengelus dadanya.


Ayumi duduk disebelah Shawn yang masih berbaring ditempat tidurnya. "Lagi ada masalah?" Tanyanya sedikit khawatir.


Shawn mengangguk lalu memindahkan kepalanya pada pangkuan mommy Ayumi. Ah, rasanya sangat nyaman sekali ketika tangan lembut itu menyentuh wajahnya. "Sedikit" Sahut Shawn.


"Pasti tentang perempuan" Tebaknya. Shawn mengangguk membenarkan nya.


"Yash! Mereka selalu membuat aku bingung"


"Bukan mereka yang membuat kamu bingung, tetapi..." Tunjuknya pada dada Shawn, "Hati kamu sendiri yang menjadikannya rumit. Padahal Tuhan sudah menentukan rasa yang kamu miliki untuk siapa, tetapi kamu selalu menampiknya. Coba, apakah perkataan mommy ini benar?" Imbuh wanita itu.


Seketika Shawn terduduk, tetapi ia memilih diam dan tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi, "Aku masih belum yakin, apakah ini cinta atau hanya sekedar rasa pertemanan biasa atau juga rasa yang lain"


"Kadang, lidah dengan hati sering tidak sejalan, sayang. Lidah akan lebih sering berdusta, sedangkan hati? Meskipun jarang mengungkapkan kejujuran, tetapi ia tidak pernah berdusta meskipun kamu terus menampiknya"


Sesaat Shawn terdiam merenungi ucapan sang mommy yang terdengar sedikit memojokannya. Apakah benar Shawn tidak jujur dengan hatinya?


"Jadi?" Menatap Ayumi, meminta penjelasan untuk kedepannya.


"Kamu sudah besar, Shawn. Ikuti kata hatimu sendiri, dia tidak pernah berbohong. Ya namanya juga memilih, akan selalu ada yang tersakiti, bukan?"


Shawn tertawa, sepertinya mommy nya tahu siapa orang yang Shawn maksud. "Memangnya siapa yang mommy maksud, kayak yang tahu aja!"


"Tau lah" Sahut Ayumi percaya diri, membuat Shawn berhenti tertawa.


"Apa harus mommy sebutkan?" Godanya.


Shawn menggeleng, memeluk pinggang Ayumi dengan manja. "Tidak-tidak! Mommy hanya tinggal menunggu saja dirumah"

__ADS_1


"All right, the sooner the better. Before it's too late." (Baiklah, lebih cepat akan lebih baik. Sebelum semuanya terlambat) Kata mommy Ayumi sebelum wanita itu keluar dari kamarnya. "Good luck, honey" Imbuhnya.


🌻


"Loh! Ponsel gue mana ya?" Fiona yang baru selesai mandi dan berniat menelpon Grizelle terkaget-kaget saat mengetahui ponselnya tidak ada. Perempuan yang masih menggunakan handuk langsung berlari mencari tasnya lalu membongkarnya.


"Gak ada!" Paniknya.


Perempuan itu duduk terdiam, berpikir dimana terakhir kali ia memakai benda berbentuk pipih tersebut.


Sambil menggunakan baju sampai selesai mengeringkan rambutnya, "SHAWN!!!" Teriaknya ketika mengingat jika saat mereka berdebat tadi siang, Shawn merampasnya.


"Aduh bahaya banget kalau sampai dibuka, mana gue gak pernah pake password lagi!" Gelisah.


Dengan perasaan deg-degan dan takut jika Shawn membuka-buka dan menemukan sesuatu yang akan membuatnya malu, Fiona segera merapikan rambutnya.


"Apa gue ke rumahnya aja gitu ya?"


Terus mondar-mandir, "Ah gue malu sama orangtua nya, nanti nyangkanya anak gadis ngapel lagi!" Bergidik ngeri dengan pikirannya sendiri.


"Bodo amat lah! persetan dengan gengsi"


Akhirnya setelah berperang dengan kegengsiannya, sampailah Fiona didepan rumah megah Shawn. Ia membuang semua rasa malu nya demi ponselnya terhindar dari kekepoan Shawn, atau dirinya akan malu sampai mati jika sampai Shawn melihatnya.


"Aaaaa, mudah-mudahan dia belum sadar ponsel gue ada ditas nya" Teriak Fiona sehingga satpam penjaga rumah Shawn berlari keluar dari pos.


"Neng fio ngapain teriak, bikin mamang kaget aja" Ucapnya dengan nafas terengah, satpam yang memang sudah mengenal Fiona merasa kaget karena mendengar teriakan dari depan gerbang rumah majikannya. Ia pikir ada tindak kejahatan namun nyatanya hanya teman dari anak majikannya saja.


Fiona yang menangkup telinganya menoleh saat satpam yang bernama Mamat menegurnya, "Gak apa-apa mang, Shawn ada 'kan?" Sahutnya malu.


"Ada non, silahkan masuk saja" Mengelus dadanya lega, "Kirain kenapa" Imbuh pria separuh baya tersebut.


Dengan perasaan berdebar, Fiona berjalan memasuki rumah Shawn yang ternyata diruang tamu, mereka sedang berkumpul bersama. Termasuk Shawn, laki-laki itu hanya diam dengan senyum yang begitu menakutkan.


"Om, Tante" Kata Fiona gugup. Perempuan itu mendekat untuk mencium tangan kedua orang tua Shawn.


"Fiona? Masuk sayang" Kata Ayumi ketika melihat Fiona mendekat. Wanita cantik itu berdiri, menyambut kedatangan teman putranya itu.


Fiona tersenyum lalu duduk disofa yang bersebrangan dengan Shawn. Laki-laki itu hanya diam dengan terus memperhatikannya, "Sialan! Kenapa jantung gue rame banget? Udah kayak mau diintrogasi sama calon mertua aja" Gumamnya.


"Shawn tidak perlu membawanya ke rumah 'kan, lihat! dia datang menyerahkan dirinya sendiri, haha"


Mengerinyitkan alisnya heran, Fiona sungguh tidak mengerti dengan perkataan Shawn. Memangnya dia penjahat apa sampai menyerahkan diri!


Ck! lupakan, yang penting ponselnya bisa kembali.


"Oke sayang, kita tidak akan mengganggu kalian. Berbicaralah dari hati ke hati, sayang" Kata mommy Ayumi kepada putra nya.


Ha?


Maksudnya apa si


"Tentu"


"Fiona, kita tinggal dulu ya"


"I-Iya Tante, om"


Setelah kedua orangtuanya pergi, Shawn berpindah tempat dan duduk disebelah Fiona. "Mau ngapelin gue?" Goda Shawn yang membuat Fiona mendelik kesal.


"Apaan! Gue mau ambil ponsel gue, mana balikin?!" Menadahkan tangannya dengan ekspresi wajah yang membuat Shawn terkekeh pelan.


"Lucu banget" Katanya dalam hati.


"Mana ih balikin!"


"Nih!" Memberikan ponselnya yang langsung direbut oleh pemiliknya.


"Lo gak buka-buka 'kan?" Menunjuk wajah Shawn.


"Ngapain, gak ada kerjaan!"

__ADS_1


"Bagus!"


Sementara Fiona yang sedang memeriksa ponselnya, Shawn yang duduk disebelahnya terus memperhatikan wajah nya. Ia baru menyadari jika Fiona sangat cantik dan juga imut. Rambutnya yang pendek membuatnya terlihat lucu.


"Kenapa ngeliatin Mulu, emang gue pisang!" Kata Fiona tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Monyet dong?"


"Pinter!"


Kurang ajar!


"Ya udah, gue pulang dulu" Baru saja Fiona berdiri, Shawn malah menarik tangannya dan membawanya ke taman belakang rumahnya. Fiona yang mendapat perlakuan seperti itu kaget, mau dibawa kemana pikirnya.


"Ih lepasin! gue mau pulang Shawn, udah sore!" Berusaha melepaskan dirinya namun Shawn menghalanginya.


"Dengerin dulu, gue mau ngomong"


Mereka duduk diayunan yang terbuat dari kayu jati,"Cepetan!" Titah Fiona kesal. Sebenarnya bukan kesal, dia hanya malu jika Shawn mendengar degup jantungnya yang berantakan.


"Gue mau minta maaf karena udah bohongin Lo, gue gak bermaksud seperti itu. Gue emang sama Janinne dan nemenin dia, tapi tanpa gue sengaja"


"Hm"


"Fi, gue bener-bener minta maaf"


Apa ini?


Shawn memegang tangan Fiona, laki-laki itu berlutut di depannya membuat Fiona kaget.


"Eh Lo ngapain sih?" Menyuruh Shawn bangun dan duduk kembali disebelahnya.


"Iya-iya gue udah maafin, gak perlu berlutut juga"


"Makasih ya" Kata Shawn begitu lembut, membuat Fiona menjadi salah tingkah.


"Mm, g-gue pulang dulu deh, udah kan? Gue udah maafin juga"


Fiona semakin salah tingkah saat laki-laki itu hanya diam dan memperhatikannya saja, "Kenapa sih?"


"Lo harus dihukum" Kata Shawn dengan senyum smirk nya. Ketahuilah, itu sangat menakutkan sekali.


"D-di hukum? Karena?"


"Karena gak ijin dulu nyimpen Poto gue, mana banyak lagi"


DEG!


Demi Neptunus, Fiona ingin sekali mengubur dirinya saat ini juga. Menghilang dari dunia tanpa jejak apapun. "Aaaaa ketahuan, malu banget!" Batinnya menjerit.


"G-gue..."


Sebelum Fiona berbicara, Shawn terlebih dahulu membungkam nya dengan ciuman dan itu adalah yang pertama untuk Fiona.


Fiona kaget dan ingin melepaskannya namun Shawn semakin menarik tengkuknya dan memperdalam ciumannya.


Setelah ciumannya sama-sama terlepas, bibir yang terlihat basah diusapnya begitu lembut. "Jangan pernah jauhin gue lagi, ya? Gue sayang sama Lo, Fiona Affandy Wijaya"


DEG!


Apakah ini mimpi?


"Tapi, Janinne..."


"It's just the past. Gue gak mau menyesal karena selalu menampik perasaan sayang gue buat Lo, fi"


🌻


Akhirnya ... Hehe.


Besok siapin hati karena akan lebih seru dan greget 😁

__ADS_1


__ADS_2