
Sebuah jas tersampir pada sofa yang berada di ruangan tersebut. Denting jarum jam dari ruangan kantornya menemani keseriusan seorang pria dari pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya.
Jika pekerjaan telah selesai, dia akan mencari pekerjaan lain untuk menyibukkan dirinya dari segala sesuatu yang bahkan sangatlah tidak penting untuk di kerjakan. Yang terpenting, otaknya jangan sampai dikosongkan.
Bahkan ruangan kantornya menjadi saksi, betapa gilanya pria itu bekerja dan selalu menyibukkan diri sebisa mungkin dari pikirannya yang terus dihantui oleh rasa bersalahnya kepada seseorang.
Selama 3 tahun belakangan ini, dia tidak pernah pulang ke rumah maupun apartemennya, dia lebih sering tinggal di kantornya setelah kejadian beberapa tahun lalu - dimana bayang-bayang wanita bersama anaknya selalu menghantuinya dan tidak hentinya rasa bersalah itu terus menyudutkannya.
Butuh waktu dua tahun lebih lama dari sebelumnya pria itu bisa melanjutkan kembali aktifitas normalnya, ya setidaknya ia ingin terlihat baik-baik saja oleh orang lain meskipun kenyataannya hidupnya sangat hancur sampai sekarang saat sebuah pertanyaan terus ia lontarkan pada dirinya sendiri.
Bagaimana kabar mereka?
Apakah mereka tinggal dengan layak?
Apakah mereka tidak kedinginan?
Apakah mereka makan makanan yang bergizi?
Dan, apakah mereka merindukannya sama sepertinya?
Meskipun setiap harinya dia selalu disibukan dengan berbagai macam dokumen-dokumen penting, namun pikiran dan hatinya terus berputar memikirkan dimana ia bisa menemukan hidupnya kembali.
Cherry
Sudah selama ini wanita itu menghilang. Tidak ada jejak apapun yang bisa ia temukan tentang keberadaannya, seolah tuhan telah menyembunyikan dia darinya dan hanya dirinya lah yang tidak diperbolehkan menemuinya.
Diana. Ibunya pun sama, wanita itu berubah diam setelah kejadian dimana ia mengamuk didepan kontrakan yang pernah Cherry tinggali. Begitupun dengan Rahardian.
Menghembuskan nafasnya perlahan, Arjuna melonggarkan dasinya yang terasa mencekik erat lehernya. Ia melirik jam tangan yang menunjukan sudah pukul 1 dini hari dirinya bekerja, lalu tersenyum kecil saat matanya menatap pigura kecil yang terpajang rapih di atas meja kerjanya.
Tangannya menjulur mengambil pigura tersebut. Pigura dengan sebuah foto dimana wanita yang paling dicintainya sedang tersenyum cantik bersama anaknya - yang ia dapatkan dari Mawar dahulu.
Arjuna mengelus bingkai itu dengan lembut, hatinya kembali berdenyut sakit seiring pandangannya yang berubah nanar.
"Aku merindukan kalian. Kembalilah-"
Dalam ruangan satu-satunya lampunya yang masih menyala, Arjuna menangis.
Setelah kepergian Cherry, Arjuna berubah seperti mayat hidup.
Benar kata Bayu, Arjuna menjadi sangat minim berbicara, tidak pernah mau jika di ajak berkumpul dengan teman-temannya bahkan saat Darendra menawarkan sebuah villa yang selalu menjadi incarannya pun, dia sudah tidak berminat.
Dan berkata "Untuk apa jika wanita yang aku harapkan bisa menghabiskan liburan bersama disana sudah tidak ada." Dan selalu Cherry yang menjadi alasannya.
Mawar juga sudah tidak bekerja dengannya. Perempuan itu memilih diam di rumah menjadi seorang ibu rumah tangga setelah seseorang menikahinya.
Arjuna tertawa, mengingat kembali bagaimana perempuan yang hampir menjadi istrinya itu dulu dilamar oleh seseorang dihadapannya - dalam keadaan lemah karena baru sadar dari koma nya pada hari itu, Arjuna menyaksikan bagaimana Mawar mengatakan iya dan menerima pinangan pria yang menjadi sahabatnya itu.
Dia tidak tahu alasan mereka melakukan itu untuk apa. Apa karena mereka memang saling mencintai atau sama-sama saling lelah semata? Yang jelas, Arjuna bahagia melihatnya.
Dan dari kejadian itu Arjuna dapat menyimpulkan bahwa dirinya memang benar-benar tidak mencintai Mawar sama sekali, ia hanya merasa melihat Cherry dalam diri Mawar saja - bukan karena Arjuna mencintainya, bukan.
Selama ini Arjuna selalu menyibukkan diri untuk bekerja. Jenis pekerjaan apapun akan ia lakukan bahkan yang menurutnya tidak penting pun. Seperti ; Membereskan meja kerjanya, padahal selalu dalam keadaan sangat rapih.
Arjuna juga sempat mengalami depresi berat setelah kepergian Cherry untuk yang kedua kalinya. Dia juga sempat dirawat beberapa bulan karena mengalami penurunan kesehatan akibat selalu menolak makanan, minum-minuman keras sampai pernah melakukan percobaan bunuh diri dua tahun lalu dengan luka sayat pada pergelangan tangannya sampai membuatnya koma beberapa hari.
"Cherry, jika kamu terus membenciku seperti ini" Arjuna mengusap bingkai foto tersebut, "Lebih baik aku mati daripada harus hidup tersiksa oleh rasa bersalahku. Kalau kamu ingin pergi, setidaknya maafkan dulu aku"
Air matanya mulai membasahi pipi yang terlihat lebih tirus itu, Arjuna menangis dalam keheningan malam tanpa ada siapapun yang menguatkannya. Perasaan sesal, sakit dan putus asa seolah berlomba-lomba menyalahkan dirinya.
Perlahan, Arjuna meraih gunting yang tergelatak di atas mejanya itu dengan gemetar. Haruskah Arjuna mengulangi perbuatannya beberapa tahun lalu, sekarang? Sungguh, Arjuna tidak sanggup lagi walau hanya untuk bernafas saja. Rasa bersalahnya kepada Cherry seolah ingin membunuh hidupnya, mentalnya.
Jadi tidak ada gunanya lagi jika Arjuna tetap hidup kalau tujuannya untuk hidup saja membencinya.
"Aku mencintai kalian"
__ADS_1
🌻
"Bos, ada yang ingin bertemu denganmu"
Arjuna mendongak, menatap Dion yang sedang berdiri didepan mejanya, ia mengangguk dan memerintahkan sekretarisnya itu untuk mempersilahkan tamu nya masuk.
Ketika pintu itu terbuka, Arjuna di kaget kan dengan suara teriakan ke tiga bocah tampan yang mana salah satunya lebih muda satu tahun itu. Ketiganya berlari, saling merentangkan tangannya meminta dipeluk olehnya.
"Uncle Arjuna!" Seru ketiga bocah tersebut. Arjuna terkekeh pelan sebelum akhirnya berdiri dan berjongkok dihadapan mereka untuk menerima pelukan sayang dari para keponakan lucunya itu. "Kami merindukan, uncle" Sambungnya dengan suara yang terdengar sedikit cadel.
Arjuna tersenyum, memeluk ketiga bocah tampan itu bersamaan setelah setahun tidak ditemuinya.
"Uncle juga merindukan kalian. Bagaimana kabar kalian, Kenzo - Kenzie dan Dikta? Uncle dengar kalian sudah bersekolah ya?"
Ketiganya mengangguk antusias lalu berceloteh menceritakan bagaimana mereka bersekolah bersama dalam satu kelas yang sama, sebelum akhirnya Arjuna menyuruh ketiganya untuk bermain karena ia juga merasa rindu dengan kedua sahabatnya yang sudah duduk itu.
"Kalian bermain dahulu ya, uncle mau mengobrol hal penting dengan kedua Daddy kalian"
Setelah ketiga bocah itu pergi ke luar, Arjuna menghampiri kedua sahabatnya itu dan duduk dihadapan mereka. Tidak ada yang berbeda dari kedua pria yang sudah mempunyai masing-masing anak itu, yang membedakan adalah mereka terlihat semakin tampan. Haha, Arjuna akui itu.
"Apa kabar?" Tanya Arjuna pada kedua sahabatnya itu.
Salah satu dari pria itu berdecak malas, mendelik sebal menatap Arjuna yang semakin hari semakin menyebalkan itu.
"Tidak perlu basa-basi, kita melakukan video call setiap hari Arjuna!" Sahut pria yang berstatus ayah dari bocah yang bernama Dikta itu.
Arjuna yang mendengar sahutan tersebut terkekeh pelan, menyodorkan minuman kaleng yang ia ambil dalam lemari pendingin disebelah sofa yang didudukinya itu yang mana langsung diterima oleh mereka.
"Jangan menggodanya Arjuna. Kamu tidak tau ya, Darendra sedang dihukum oleh istrinya karena tutup Tupperware kesayangannya hilang!"
"Hey diam kau, Bayu!"
Arjuna tertawa mendengarnya, selalu terhibur dengan rumah tangga Darendra yang sedikit konyol itu.
Arjuna masih ingat ketika wanita itu menceritakan lagi bagaimana Darendra mengajaknya untuk menikah tiga tahun lalu yang jauh sekali dari kata romantis itu, dan sialnya, Arjuna yang menjadi saksi ketidakromantisan sahabatnya itu.
"Hey sialan, jangan membuat kita khawatir!" Tegur Darendra panik, pria itu sedikit merapatkan duduknya ke sebelah Bayu karena merasa sedikit ngeri - lebih tepatnya Darendra trauma pernah menjadi sasaran amukan Arjuna dulu.
Melihat wajah panik dari sahabat-sahabat nya, Arjuna mengentikan tawanya.
"Aku hanya sedang mengingat bagaimana kau melamar istrimu dulu. Cih, dia mau saja lagi menikah dengan pria sepertimu!"
"Hey paling tidak aku sudah berusaha ya!" Balas Darendra ketus. Tidak tau saja mereka kalau Darendra juga bisa romantis, ya hanya saja ia terlalu malas menyiapkannya dan lebih suka yang simpel saja. Untung saja istrinya itu tidak pernah mempermasalahkan nya, ugh, wanita itu memang sangat santai. Saking santainya tidak pernah berhenti mengomel jika salah satu barang kesayangannya itu terganggu olehnya.
Ck! Dasar, penggila Tupperware!
Arjuna tidak membalas, tidak akan ada habisnya jika ingin meledek Darendra. Ia beralih menatap Bayu, sahabatnya yang sedang menantikan kelahiran putrinya beberapa bulan lagi.
"Bagaimana Grizelle, apakah sudah menunjukan tanda-tanda untuk melahirkan?"
Yap, Grizelle sedang mengandung anak ketiganya yang sudah dipastikan berjenis kelamin perempuan itu.
Bayu menggeleng pelan, "Belum, dia masih anteng dengan hobby merajutnya. Oh iya, dia menitipkan masakan ini untukmu" Bayu menyerahkan paper bag yang dibawanya tadi kehadapan Arjuna. Pria itu tersenyum, "Biasa, ngidam katanya" Lanjutnya.
Arjuna tersenyum, membuka paper bag tersebut dan melihat sekotak nasi goreng disana. Alisnya mengkerut, sebelum akhirnya mencicipi masakan dari istri sahabatnya itu.
Kenapa?
Kenapa rasanya-
"Habiskan ya, dia sudah susah payah membuatnya"
Arjuna mengangguk, meskipun ada satu pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan, namun rasa enak pada nasi goreng ini membuatnya lupa.
"Oke. Thanks ya"
__ADS_1
🌻
"Sayang, sudah jam berapa ini kenapa belum bangun juga?"
Wanita yang sedang membuat sarapan itu berteriak nyaring, memanggil semesta-nya yang hampir pukul 7 belum keluar kamar juga. "Arjuna" Panggilnya lagi dan lagi sampai pemilik nama itu terkekeh geli di dalam sana.
Ia tau kalau namanya sudah dipanggil lengkap, berarti wanita itu benar-benar sudah di ambang kesabarannya.
"Kau dengar, dia cerewet sekali! Ayok kita harus lebih cepat keluar, kau tidak mau kan me dengar bunda mengeluarkan lengkingan tujuh oktafnya lagi?" Katanya pada anabul putih kesayangannya yang bernama lion itu.
Namun sebelum ia keluar dari kamar, Juna menghentikan langkahnya. Bocah berumur empat tahun itu berbalik menuju lemari untuk mengambil sesuatu disana.
"Lion sebentar ya, aku akan mencari kaos kakiku dulu"
Meow~
Juna tersenyum, lalu membuka lemari yang bergambar kapten Amerika itu lebar-lebar untuk mencari keberadaan kaos kakinya.
Namun sudah satu menit mencari, ia tidak juga menemukannya.
"Bunda" Teriak Juna dari dalam kamarnya. Tangannya yang mungil terus mengobrak-abrik seisi lemari miliknya. "Kaos kaki Juna tidak ada. Bunda menyimpannya dimana?" Sambungnya.
Dibawah sana orang yang dipanggil bunda itu berdecak pelan, menggelengkan kepalanya seraya mematikan kompor serta membuka apron dan menyimpannya pada kursi. Sambil melangkah menuju kamar sang putra Cherry menyahut, "Bunda sudah menyimpannya di laci, masa tidak ada? Cari yang benar sa- Astaga Arjuna! Kamu mencari kaos kaki atau seekor anak tikus, huh? Ya ampun Jun, baru saja semalam bunda merapikannya loh"
Sang pemilik nama berjengit kaget, mendengar lengkingan maut dari bundanya itu terlontar. Jika orang lain yang mendengarnya, mungkin mereka sudah kabur, pikirnya.
"Maaf bunda" Cicitnya pelan.
Menghembuskan nafasnya perlahan, Cherry mencoba sabar untuk tidak mengomeli putra tampannya itu. Wanita itu tersenyum, "Bunda sudah mengatakannya, kalau mencari kaos kaki itu di laci, begitupun dengan dasi. Lihat, mereka ada disini"
Juna menyengir kaku, mengambil kaos kaki tersebut.
"Serius bunda tadi Juna sudah mencarinya disana tetapi tidak ada. Tapi kenapa ketika bunda mencarinya, tiba-tiba ada ya? Bukankah itu aneh"
Cherry terkekeh pelan, mengelus lembut rambut ikal putranya dengan lembut. Juna sangat mirip sekali dengan ayahnya, hampir setiap hari ribut hanya untuk mencari dasinya.
Berdecak pelan, Cherry yang sedang memasak sarapan pun terpaksa mematikan kompornya. Ia menghentak kakinya sebal seraya menghampiri Arjuna yang sedang sibuk mencari kaos kakinya. Padahal sudah Cherry simpan di laci lemari, kenapa pria itu tidak pernah menemukan nya jika bukan Cherry yang mencarikannya.
Ck!
"Astaga Arjuna! Kamu tuh ya, sudah tau akan ada meeting penting tapi malah mengajakku bergadang semalam! Sekarang lihat, kita kesiangan! Mana lokasi pemotretan nya lumayan jauh lagi!"
Cherry membuka lemari, mendengkus kesal melihat keadaan isinya yang berantakan. Ingin sekali Cherry mengomeli pria itu tapi waktunya tidak memungkinkan karena ia juga harus buru-buru ke perusahaan untuk pekerjaan. Sedangkan Arjuna, pria itu menunduk dengan bibir mengerucut lucu - seperti anak yang sedang dimarahi induknya.
"Ya abisnya aku mau nonton film itu Cher, ke bioskop males banget!"
Memilih untuk tidak perduli dengan ocehan pria yang terus mengekorinya itu, Cherry menggeram kesal ketika apa yang menjadi sumber keributannya itu ia temukan dengan mudah.
"Ini apa, Arjuna?"
Cherry memperlihatkan kaos kaki yang dicari mati-matian oleh Arjuna tetapi langsung ditemukan dengan mudah oleh Cherry. Pria itu hanya menyengir kaku, mengambil kaos kaki tersebut dan langsung berlari keluar kamar karena takut terkena amukan wanita itu.
Alih-alih berterimakasih, Arjuna malah berteriak dari ruang tamu, "I love you sayang" Dengan diakhiri kekehan menyebalkan dari bibir pria yang sudah lima tahun ini hidup bersamanya. Cherry yang awalnya ingin menyiksa pria itu, mendadak lumer mendengar kalimat tersebut.
"I love you to-
"Bunda" Cherry tersentak kaget ketika tangannya digenggam oleh tangan yang lebih mungil. "Bunda marah ya? Maafkan Juna, bunda"
Cherry menggeleng pelan, tersenyum lembut pada putranya yang sama persis dengan ayahnya. Sungguh kejadian tadi mengingatnya kepada pria yang begitu dicintainya.
"Tidak sayang, bunda tidak bisa marah kepadamu. Ayo kita sarapan, sebelum ne-"
Tiin~
Juna tersenyum sumringah, segera berlari keluar kamar ketika mendengar bunyi klakson berbunyi didepan rumahnya. Juna yakin itu adalah-
__ADS_1
_____
CUT!