
Hari senin adalah hari dimana semua orang memulai kembali aktifitasnya setelah puas menikmati liburan bersama keluarga ataupun teman. Orang-orang akan kembali sibuk menjalani tugasnya masing-masing, begitupun dengan Bayu. Pria tampan itu sudah siap untuk menjalani kembali rutinitasnya sebagai seorang guru matematika.
Bayu terlihat bersemangat sekali, apalagi ketika mengingat jika hari ini dirinya akan mengajar dikelas gadis yang semalam ia ambil ciumannya.
Ugh, tidak sabar rasanya.
Semangat bercampur bahagia, itu yang Bayu rasakan ketika mengingat bagaimana semalam gadis itu mengatakan jika 'ciuman' semalam adalah pertama untuknya. Dirinya merasa menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan dunia.
Yeah, dia bangga tentunya.
Senyum yang menampilkan lesung pada pipinya itu begitu cerah, membuat kedua orang yang berada dikursi meja makan keheranan.
"Selamat pagi, semuanya!" Sapa si tampan dengan ramah, membuat wanita itu hampir menjatuhkan sendok nya, terkejut.
Bagaimana tidak? Sebuah kecupan yang mendarat pada pipi sebelah kirinya membuat wanita itu shock berat. Tidak biasanya, pikirnya.
"P-pagi, sayang" Sahut Raisha gugup.
Bayu tersenyum, mengambil setangkup roti yang sudah tersedia lalu memakannya dengan lahap. Tidak lupa meminum susu dan menghabiskannya. Papa Theo menatapnya aneh, apakah putranya sedang sakit atau bertukar arwah dengan malaikat murah senyum?
"Ada apa nih?"
Theo membuka suara. Sedikit kepo dengan perubahan sikap sang putra yang terkesan lebih banyak tersenyum dari biasanya.
Bayu menoleh, "Kenapa?" mata yang semula menatap layar iPad kini beralih. Ia kembali bertanya, "Apakah ada yang aneh?" Imbuhnya keheranan. Kenapa kedua orangtuanya terlihat khawatir?
"Menurut pengalaman papa sih," Tiba-tiba Theo ber-celetuk, membuat atensi Bayu pada iPad nya kembali teralihkan. "Ketika orang sedang jatuh cinta itu lebih banyak tersenyum. Bahkan tidak sedikit orang menganggapnya, gila. Apa sukses?" Imbuhnya dengan di akhiri suara cekikikan.
Tau! Bayu tau arah pembicaraan sang papa yang kini sedang menggoda nya. Namun Bayu memilih diam dan malah mengelak, "Tidak! Siapa juga yang mau pacaran?!" saat Raisha ikut menggodanya juga.
Raisha mengerinyitkan alisnya, heran dengan jawaban sang putra.
"Loh" lalu menatap Bayu, Lamat. "Bayu! Ingat ya, kalian itu sudah dijodohkan-"
"Yes I know it, ma'am. Maka dari itu aku gak mau pacaran"
"Terus?"
Kebingungan Raisha membuat Bayu terkekeh, ia kembali menatap layar iPad untuk mengecek email yang sekretarisnya kirimkan tadi.
Dengan santai Bayu menjawab, "Ya istri lah, ma!" Dengan kekehan pelan mengiringinya. Sampai akhirnya waktu sudah menunjukan pukul tujuh tepat, Bayu harus segera berangkat agar bisa bertemu dengan gadisnya - Gadis yang telah mengalihkan dunianya dan juga gadis yang semalam ia cium dalam mobilnya. Mengingatnya saja membuat Bayu menjadi candu, rasa manisnya masih sangat terasa.
🌻
Bugatti Chiron berwarna pekat itu telah memasuki gerbang utama Saint Peterson, membunyikan klakson ketika mendapatkan beberapa sapaan dari murid yang menyapa.
Namun ketika mobilnya akan memasuki area parkir, netra nya menangkap sesosok gadis yang terus berkeliaran dalam otaknya sedang berjalan keluar area. Dengan jahil, Bayu membunyikan klaksonnya kembali, membuat gadis itu berjengit kaget mendengarnya.
Dari dalam mobil Bayu terkekeh. Dapat ia tebak dengan tepat, bagaimana mulut itu menggerutu lucu, pasti beberapa umpatan lolos keluar dari mulutnya. Jika saja Bayu mendengar, pasti itu akan lucu.
Pria dengan kemeja hitam yang sudah memarkirkan mobilnya itu berlari kecil, mensejajarkan langkahnya yang lebar agar bersampingan dengan gadis itu dan mengabaikan beberapa tatapan murid lain.
"Kalau saingannya model si Grizelle, aku mundur!"
"Kerikil jalanan dimohon untuk sadar diri sebelum bersaing"
"Saingan terlalu berat, mundur!"
"Kalah sebelum bersaing tuh gini ya rasanya"
Dan mengabaikan kalimat-kalimat kecewa dari murid-muridnya.
"Morning" Sapanya santai.
Sedangkan Grizelle, wajahnya mendadak memerah, terasa panas ketika mengingat kejadian malam tadi. Ugh, malu!
"Morning" Sahutnya pelan.
Bayu tersenyum simpul, melihat bagaimana gadis itu terus menunduk, seolah berusaha menghindari kontak pisik dengannya.
__ADS_1
"Ada apa dengan bibir kamu, Grizelle. Ko ditutupin terus?" Tanyanya menggoda. Bukannya Bayu tidak mengerti dengan sikap gadis disebelahnya itu, ia hanya senang menggodanya. Itu saja. "Mau lagi?" Imbuhnya.
Grizelle mendelik, menatap pria berstatus guru matematika itu geram. Bayu hanya terkekeh, melihat bagaimana bibir gadis itu terlihat sedikit berbeda karena ulahnya.
"GAK!"
Rrrr~ Grizelle kesal, masih pagi sudah menggoda!
.Sambil menghentakkan kakinya, Grizelle berlalu pergi, meninggalkan Bayu. Apa-apaan dia sampai menawarkannya lagi, bekas semalam saja masih sangat terasa dan sedikit aneh. Seperti ada yang mengganjal tidak nyaman.
Menatap cermin besar dihadapannya, Grizelle masih belum berhenti mengomel atas godaan gurunya tadi. Mencoba kembali membasuh bibirnya, agar rasa aneh pada bibirnya itu tidak terasa.
Sambil membasuh bibirnya, "Katanya sih first kiss memang begini, kerasanya lama. Padahal udah dari semalam, dibawa tidur, dibawa gosok gigi, but it still feels weird. Huh, kalau fans nya pak Bayu tau, bisa abis aku dikeroyok!"
Hah, percuma saja sampai ratusan kali membasuhnya pun, rasa aneh itu terus ada. Lebih baik ia kembali ke kelas, bel akan berbunyi sekitar 15 menit lagi. Dia akan membaca novel saja, agar sedikit mengalihkan rasanya.
Namun ketika dirinya berbalik, Grizelle tersentak ketika mendapati Fiona dan beberapa temannya sedang berdiri menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. Jujur, Grizelle sedikit takut melihatnya. Ia takut jika Fiona mendengar perkataannya tadi. Jangan sampai atau dia akan mendapat masalah besar. Grizelle terlalu malas jika harus berurusan dengan gadis berambut sebahu itu.
Grizelle berjalan, mencoba acuh melawan tatapan yang ditujukan untuknya. Namun, "Fiona!" geram Grizelle karena tangannya ditarik kasar, lalu mendorongnya sampai membentur tembok. Grizelle yang tidak terlalu fokus, membuat refleknya hilang, Fiona berhasil menjambak rambutnya. Ingin melawan pun tidak bisa karena kedua tangannya dipegang kuat oleh beberapa temannya.
"Lepas! Sakit Fiona, apa kamu sudah gila?"
"Shut up, *****!"
Melihat bagaimana amarah Fiona, Grizelle terdiam.
"Kasih tau gue sekarang kalau yang loe bilang tadi itu bohong!"
Grizelle terkekeh pelan. Ternyata penyebab kemarahan Fiona karena mendengar monolognya tadi.
"Jawab tolol!" Sentak yang lainnya.
"Urusannya sama kalian apa, hm?" Grizelle bertanya, nadanya terdengar santai namun terlihat menantang bagi Fiona dan juga teman-teman nya. "Gak terima?" Imbuhnya.
Grizelle berdecih tidak suka.
"Tentu gue keberatan karena pak Bayu bakalan di jodohin sama gue!"
Mendengar halusinasi Fiona, Grizelle yang masih tersudut oleh Fiona terkekeh geli - membuat Fiona kesal melihatnya.
"WAKE UP, HONEY!"
PLAK!
"Jaga ucapan loe, Grizelle Jovanka! Gue peringatkan loe sekali lagi. Jauhi pak Bayu atau loe akan tau sendiri akibatnya!"
Sialan!
🌻
Meskipun telah berhasil memperingati gadis blasteran Amerika itu, namun semua itu tidak cukup bagi Fiona. Ia merasa harus melakukan hal lain agar pria yang dicintainya tidak dekat dengan gadis lain selain dirinya.
"Awas aja kalau sampai gue liat lagi si Grizelle dekat sama pak Bayu, gue gak jamin dia selamat!"
Mendengar kalimat tersebut, beberapa temannya bergidik ngeri. Mereka sangat tau watak seorang Fiona Affandy Wijaya. Bukan hanya sekedar tukang bullying, namun juga seorang psikopat. Dia akan melakukan apa saja jika ketenangannya/kesenangan nya terusik.
"Wait. Tadi gue gak salah denger 'kan kalau dia bilang- Mereka, ciuman? And you know what that means, mereka bukan hanya sekedar guru dan murid saja jika diluar lingkungan sekolah"
"Bener tuh!"
"Itu artinya mereka, pacaran."
"Atau yang lebih parah, mereka dijodohin kayak loe dulu? Tapi sayangnya pak Bayu enggak nolak si Grizelle-"
BRAK!
"DIAM LOE PADA!"
🌻
__ADS_1
"Loe denger kan tadi ribut-ribut di toilet?"
"Iya ih. Kak Fiona tuh emang bener-bener jahat!"
"Setiap ada murid baru yang lebih cantik di labrak, dia pikir dia siapa!"
"Iya betul!"
"Kasihan kak Grizelle, mana tadi pipinya merah banget lagi. Pasti di tampar kak Fiona"
Beberapa siswi yang baru keluar toilet saling membahas apa yang didengarnya saat mereka hendak masuk tadi karena melihat Fiona dan beberapa dayang nya tadi. Mereka sudah menduga, pasti mereka berbuat ulah lagi dengan murid baru.
"Iya ih kasihan banget. Aku mau lapor tapi takut"
Nathan mengentikan langkahnya, berbalik arah karena tidak sengaja mendengar adik kelasnya sedang membicarakan Fiona. Jelas saja Nathan penasaran, Fiona masih kerabatnya.
"Kenapa?" Tanya Nathan tiba-tiba, membuat beberapa siswi itu tersenyum kikuk. For your information, Nathan termasuk dalam jajaran cowok ter-hitz Saint Peterson.
"Eh kak Nathan. Em, kenapa a-apanya ya kak?"
"Gue denger kalian ngomongin Fiona. Buat masalah lagi dia?"
"O-oh itu. Iya, kita gak sengaja denger kak Fiona berantem sama kak Grizelle di toilet tadi, terus kayaknya kak Grizelle juga ditampar deh soalnya tadi-"
Nathan menggerakkan tangannya, menyuruh adik kelasnya itu berhenti menjelaskan. Dia berlari ke arah tangga, ingin memastikan saja jika Grizelle baik-baik saja. Jika apa yang dikatakan juniornya itu benar, awas saja!
Pemuda berwajah manis itu lantas berlari ke lantai 3, dimana kelas Grizelle berada. Ia mengabaikan beberapa temannya yang bertanya, menemui Grizelle lebih penting ketimbang meladeni pertanyaan teman-temannya.
"Sialan di cuekin!"
"Mau kemana sih tuh anak? Buru-buru amat"
"Nemuin si Grizelle, paling" Bryand menjawab karena dia tau jika akhir-akhir ini Nathan terlihat sering mendekati gadis pindahan itu.
"Anjir, gue aja gak berani cuma sekedar dekat doang juga."
"Nyadar duluan ya, ngab?"
"Iya, haha"
Sesampainya didalam kelas, Grizelle langsung menutupi sebagian wajahnya menggunakan jaket. Ia tidak mau kalau sampai teman-temannya tau, apalagi sampai ketahuan penyebab bekas tamparan dipipinya adalah karena Fiona.
"Ugh, perih banget!" Batinnya.
Sumpah! Ini sangat sakit, Fiona menamparnya sangat keras tadi. Sepertinya pipinya membengkak, Grizelle bisa merasakan jika rasa panasnya terus berdenyut ngilu.
"Fiona sialan, awas aja!"
Beruntungnya didalam kelas tersebut belum terlalu banyak murid, mereka masih tersangkut dikantin jika pagi-pagi begini. Dikelas juga hanya ada beberapa, mereka terlalu sibuk ngerumpi jadi, mereka tidak mengetahui jika dirinya sedang menahan sakit.
Bel masuk sudah terdengar, Grizelle mulai was-was dengan pipinya. Apalagi jika Megan mengetahuinya, pasti dia tidak segan-segan menghajar Fiona saat ini juga.
"Griz- are you okay?" Tanya Megan saat dia melewati bangkunya. Megan curiga, kenapa sahabatnya itu terus menunduk dan menutupi kepalanya. "Kamu sakit?" Imbuhnya.
Grizelle menggeleng, "All is well is well"
Bohong!
Megan tau pasti telah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. Seakan mengetahui jika ada yang disembunyikan oleh Grizelle, Megan menarik jaket tersebut, Megan hampir saja berteriak saat melihat pipi Grizelle sangat merah.
"Siapa yang ngelakuinnya?" Tanya Megan penuh selidik. Grizelle hanya bisa mengembuskan nafasnya pelan, dia kembali menutupinya menggunakan jaket takut jika yang lain ikut mengetahui.
"Griz!" Megan kesal, ia sedikit menaikan nada suaranya karena sedaritadi sahabat nya itu terus diam dan Megan bersumpah akan menampar kembali orang yang sudah berani menganggu Grizelle.
"Aku-
🌻
\={R E V I S I}\=
__ADS_1