
"Aku akan menikah lagi"
Karina tidak tau kalau ucapan yang beberapa hari lalu terlontar kini terjadi begitu nyata di hadapan matanya. Jevan, suami yang telah hidup bersamanya selama dua tahun ini, membawa seorang perempuan manis ke hadapannya.
Bukan hanya itu yang membuat Karina tidak kuat menahan laju air matanya, tapi karena perempuan bernama Giselle itu tengah mengandung anak dari suaminya yang kini berusia 4 bulan.
Mulutnya seakan terkunci oleh gembok kehancuran. Tidak dapat mengatakan apapun selain hanya diam dan menerima semua keputusan. Terlebih lagi kedua mertuanya sangat terlihat bahagia menyambut kedatangan calon menantu dan juga cucu mereka.
Karina bisa apa memangnya?
Berteriak?
Menolak?
Rasanya percuma. Ingat! Dia menikah saja karena syarat, bukan karena murni dari cinta. Ya lebih tepatnya hanya Karina saja yang cinta, Jevan tidak.
"Mulai sekarang kau akan tinggal disini, Giselle"
Dan saat kalimat tersebut terlontar dengan lantang dari mulut nyonya seo, saat itu juga Karina merasa dunianya benar-benar hancur dan tidak ada harapan lagi untuk dirinya tetap tinggal disini.
"Kau tidak keberatan kan, Karina?"
Karina hanya menggelengkan kepala sebagai respon. Ia tidak tau harus berekspresi apalagi disaat semuanya benar-benar menghancurkan seluruh perasaannya.
Kepalanya pusing, perutnya kembali mual melihat bagaimana suaminya bersikap manis kepada perempuan bernama Giselle tersebut. Lantas dengan gerakan cepat, Karina pamit ke belakang, ia sedikit berlari menuju kamar mandi karena gejolak pada perutnya terasa lagi.
Hiks
Karina memegangi perutnya setelah memuntahkan semua makanan yang sempat ia santap pagi tadi. Ia meringis, menatap pantulan dirinya sendiri didepan cermin dengan sendu. Tatapannya kini tertuju pada perutnya yang tertutup, mengusap perut rata itu dengan lembut.
"Tidak apa-apa sayang, ada bunda disini"
🌻
Pagi-pagi sekali Karina sudah berkutat di dapur di saat semua orang masih begitu Lena dalam mimpi indahnya. Dia memang terbiasa bangun pagi sekali, bebersih rumah, menyapu, mengepel, mencuci, menyiram tanaman bahkan menyiapkan semua keperluan orang rumah.
Seperti sekarang misalnya, tangan cantiknya dengan cekatan memotong bahan-bahan yang akan ia masak untuk sarapan penghuni rumah mewah ini setelah sebelumnya sudah beres membersihkan beberapa sudut rumah dan juga mencuci.
Kenapa Karina melakukan itu semua? Alasannya adalah karena ia terbiasa melakukan pekerjaan tersebut sejak kecil, jadi ini sudah menjadi kebiasaan untuknya dan Karina pun tidak pernah masalah karenanya.
"Aku harus cepat menyelesaikannya"
Tidak butuh waktu lama, cukup satu jam semua sarapan sudah tersaji rapih di atas meja. Karina bertepuk bahagia melihat semua hasil masakannya terlihat menggugah selera.
"Aku akan segera pergi ke kamar sebelum semua orang terbangun" Karina sedikit membenarkan letak masakan yang ia rapikan tadi, "Semoga semuanya makan dengan lahap" kemudian ia benar-benar menghilang setelah mendengar suara langkah kaki seseorang menuruni tangga.
"Mas, hari ini jadwalku memeriksakan baby. Apakah kau mau menemaniku?" Kata Giselle.
"Tentu aku akan ikut, sayang. Aku juga ingin melihat bagaimana perkembangan anakku" Sahut Jevan penuh kelembutan.
"Terimakasih, mas."
Dibalik pintu kamar yang bersebelahan dengan dapur, Karina meremat keras kain yang menghalangi perutnya. Air matanya kembali menetes mendengar kalimat lembut terucap dari bibir suaminya.
"Apakah kau juga akan menemaniku ke rumah sakit kalau aku mengatakan aku sedang mengandung anakmu, tuan?"
Jangan harap Karina, mengakuinya saja tentu tidak akan pernah.
🌻
"Mau kemana kau?"
Karina menghentikan gerakan langkahnya tepat pada ambang pintu. Ia menoleh mendapati suaminya sedang menggandeng mesra Giselle, calon istrinya.
"Keluar sebentar, tuan." Sahut Karina, pelan.
Kepalanya terus menunduk, takut walau hanya menegakan sedikit wajahnya saja.
"Kemana?" Jevan bertanya lagi, sedikit penasaran melihat penampilan istrinya sekarang.
Pria bermata sewarna madu itu tidak henti menatap penampilan istrinya, Karina, yang sedikit berbeda. Ah mungkin hanya perasaannya saja kalau Karina lebih sedikit berisi.
"Bertemu temanku sebentar. Boleh?"
__ADS_1
"Pergilah!"
Karina tersenyum lebar sehingga cacat pada kedua pipinya terlihat, membuat Jevan yang baru pertama kali melihatnya sedikit terpana dan dia akui kalau istrinya itu sangat cantik.
Jevan selalu mengakui bahwa Karina adalah wanita cantik yang memiliki kulit seputih susu yang pernah Jevan temui. Hidungnya sangat mancung, bulu matanya amat lentik dengan rambut hitam panjang, pasti sangat halus jika ia usap.
Badannya memang sedikit agak tinggi, jauh berbeda sekali dengan Giselle yang terbilang mungil. Tapi, tubuh Karina sangat pas dalam pelukannya.
"Terimakasih, tuan"
"Hm"
Setelah mendapatkan ijin dari suaminya, Karina langsung berjalan menuju halte yang lumayan jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Senyum cantik pada bibirnya tidak pernah luntur sedikitpun, tangan lentiknya terus mengusap perutnya tanpa henti dengan diiringi kata-kata kebahagiaan karena hari ini Karina merasa sangat tidak sabar akan melihat perkembangan bayi nya.
"Bunda tidak sabar melihatmu, sayang. Sehat-sehat ya bayi"
🌻
Kalimat syukur tidak pernah henti Karina panjatkan kepada Tuhan, ia masih tidak menyangka kalau ada janin berusia 8 Minggu dalam perutnya. Dia juga sehat, semuanya sempurna kata dokter yang memeriksanya.
"Kau ibu yang hebat, Karina" Kata dokter bernama Jenandra itu.
"Syukurlah kalau begitu dok, aku sempat khawatir karena selalu saja muntah ketika mencium aroma nasi dan yang lainnya" Ungkap Karina khawatir.
Tadi pagi saja dia hanya sarapan roti bakar karena tidak kuat menahan aroma nasi yang selalu membuatnya mual. Semoga saja bayi nya selalu sehat meskipun akhir-akhir ini ia sering sekali muntah.
"Itu biasa terjadi pada trimester pertama, Karina. Yang terpenting kau jangan melewatkan meminum obat yang aku resepkan."
"Baiklah, dokter"
"Dan ini hasil USG nya"
Karina menerima beberapa lembar foto hasil usg nya, tidak tahan untuk tidak menangis karena saking bahagianya. Namun, "apakah tuan akan sama bahagianya saat mengetahui bahwa ada anakmu dalam rahimku, tuan?" Batinnya.
🌻
"Sedang apa kau malam-malam begini di dapur?"
"T-tuan..."
"Kau memasak? Apa kau buta ini jam berapa? Ini jam 2 pagi, Karina!"
Karina menggeleng takut, ia hanya memenuhi keinginan anaknya saja yang menginginkan makan nasi goreng mentega disaat semua orang sedang Lena dalam mimpinya. Entah kenapa tadi dia bermimpi memakan nasi goreng itu, dan ketika bangun dia sangat ingin memakannya.
"Maaf karena mengganggu, tapi aku sangat ingin makan ini, tuan."
Karina menunjuk pada nasi goreng yang hampir jadi. Wangi makanan tersebut membuat Jevan sedikit tertarik untuk mencicipinya, sepertinya enak sekali.
"Cepat selesaikan! Jangan sampai orang lain terganggu karena kegiatan aneh mu itu!"
Jevan berjalan menuju meja pantry dan duduk disana, memperhatikan bagaimana Karina mengaduk makanan tersebut setelah sebelumnya mengambil minuman dalam kulkas.
Sial, kenapa perutnya tiba-tiba lapar seperti ini. Tidak mungkin kan dia meminta bagian nasi goreng tersebut. Ingat, Jevan tidak pernah mau makan apapun makanan yang dibuat oleh istrinya itu.
"A-apakah tuan memerlukan sesuatu?" Tanya Karina setelah menyelesaikan masakannya dan membawanya ke meja makan, melewati Jevan yang masih duduk anteng di kursi pantry.
Jujur, Karina sedikit risih karena Jevan terus memperhatikan nya. Bagaimana ini, bagaimana kalau suaminya itu masih marah? Sungguh! Karina hanya ingin makan saja, dia mengidam untuk yang pertama kalinya.
"Cepat makan!" Perintah Jevan datar.
Karina langsung membawa nasi goreng tersebut ke meja makan dan memakannya disana. Jevan sendiri masih diam, memperhatikan bagaimana lahapnya Karina yang sedang makan.
Sepertinya nasi goreng itu sangat lezat, Jevan jadi ingin mencicipinya.
"T-tuan mau?" Tawar Karina pelan saat ekor matanya tidak sengaja memergoki Jevan terus memperhatikannya makan.
"Kau menawarkan nasi goreng yang hanya sedikit itu kepadaku? Kau bilang kau ingin sekali memakannya, bagaimana kalau aku menghabiskannya?!"
"Tidak apa-apa, tuan. Nanti aku akan membuatnya lagi besok" Jawab Karina dengan senyum manisnya. Lagi, Jevan sedikit terpesona dengan senyum yang begitu tulus itu.
"Jangan salahkan aku kalau nasi goreng yang kau ingin itu habis."
Tidak, malahan Karina sangat senang melihat suaminya begitu lahap memakan nasi goreng buatannya. Dan mendadak Karina juga tidak menginginkan makanan tersebut, sepertinya bayi nya senang karena keinginannya dipenuhi oleh ayahnya.
__ADS_1
Akhirnya nasi goreng tersebut termakan habis oleh Jevan, sampai tidak ada satu bulir nasi tersisa pada piring tersebut.
Jevan doyan atau lapar, sih?! Karina jadi gemas melihatnya.
"Apa?! Kau menyesal karena memberikan nasi goreng tersebut kepadaku?!"
Kalimat tersebut membuat Karin menggeleng ribut. Menahan sekuat tenaga agar tidak tertawa atau pria dingin itu akan memarahinya.
"Tidak tuan"
Karin segera mengambil piring bekas itu, membawanya ke wastafel lalu mencucinya dengan cepat.
Selesai mencuci piring, Karin kembali terkejut karena mendapati Jevan yang masih berada di dapur. Apakah suaminya itu masih membutuhkan sesuatu?
"Tuan, apa masih ada sesuatu yang tuan inginkan?"
"Tidak, aku menunggumu selesai mencuci piring. Sekarang pergilah tidur"
Tanpa berkata apapun lagi, Karina langsung pergi ke kamarnya setelah berpamitan kepada suaminya. Jevan sendiri masih bingung, kenapa dia mau menunggu Karina selesai mencuci piring dan bahkan tadi dia dengan lahap memakan masakan istrinya itu. Padahal dia ke dapur karena merasa sangat haus dan hanya ingin minum saja, tetapi kenapa melihat Karina sendirian, ia ingin sekali menemani.
Tidak, Jevan menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin dia mulai menaruh perhatian kepada wanita yang berstatus istrinya itu kan?
🌻
Salah tidak jika Karina berharap suaminya tidak jadi menikahi Giselle dan mengetahui bahwa dia juga sedang mengandung anaknya? Dan salah tidak jika Karina juga berharap perasaannya terbalaskan?
Selama dua tahun menikah dengan Jevan, Karina selalu memberikan dan mematuhi semua perkataan suaminya. Karena apa, karena dia mencintainya.
Bahkan saat Jevan memberikan syarat mereka tidak akan berada dalam satu kamar pun Karina menyanggupinya. Dengan lapang dia bersedia tidur di kamar pembantu, karena apa? Lagi, cinta yang menjadi alasannya.
Selama 25 tahun Karina hidup, tidak sedikitpun ia bermimpi untuk menjadi seorang istri dari pengusaha kaya raya seperti Jevan. Karina cukup sadar diri, dia hanya orang biasa.
Bisa menikah dengan Jevan saja itu hanya sebuah perjodohan atas dasar syarat karena ayahnya menolong Jevan yang pada saat itu sangat membutuhkan donor ginjal dan berharap Jevan bisa menjaga Karina setelah kepergian ayahnya.
"Karin, kalau lelah istirahat saja. Biarkan kakak yang menyelesaikannya. Wajahmu pucat sekali, apakah kau sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit?"
Karina sedikit tersentak saat lengannya di usap oleh seseorang. Dia adalah Krystal, kakak kandung Jevan yang sedang berkunjung ke rumah karena terpaksa harus membantu persiapan adiknya yang akan menikah lagi.
Jangan kira Krystal senang mendengar berita ini, dia marah bahkan sempat bertengkar dengan Jevan karena ia merasa adiknya benar-benar pria brengsek. Dia sangat malu kepada Karina karena memiliki adik yang begitu bajingan.
"Tidak apa-apa kak, aku hanya masuk angin saja"
"Kau yakin?"
"Iya kak, jangan khawatir aku sudah meminum obat ko"
"Syukurlah kalau begitu"
Karina bersyukur karena mendapatkan kakak ipar seperti Krystal, dia wanita yang cantik dan juga baik. Satu-satunya keluarga Jevan yang menerima keberadaan dan statusnya sebagai istri Jevan.
"Karin"
"Iya kak?"
"Kau baik-baik saja?"
Krystal bertanya dengan khawatir. Merasa sama hancurnya melihat mata bening itu terlihat penuh dengan luka.
...----------------...
...****************...
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TES TES TESSSSSS!!!!
Cerita lama yang bulukan di draft, aku coba publish disini pada suka gak ya?
Apa ada yang minat baca, ini udah tamat btw .. Cuma ada kurang lebih 10 Chapter doang wkwk.
Kalau pada suka aku publish secepatnya nih dengan book yang berbeda, kalau enggak ya udah gpp .. Tinggal copy paste aja dari draft, gak usah nunggu. Buat selingan nunggu Cherry sama Arjuna Update setelah tahun baru gitu, hshshshss.
__ADS_1