I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
(S2) Episode 102 - Danau


__ADS_3

Happy reading


🌻


Griz kembali ke tenda, perasaannya campur aduk setelah dirinya terpergok keluar dari ruangan dekan oleh salahsatu senior. Dan yang lebih parahnya, dia adalah Silsila Andriana.


Perempuan yang tidak henti-hentinya memarahinya sewaktu ospek.


"Kak Sisil?!" Griz terkejut dengan kehadiran Sisil yang tiba-tiba saja ada dibelakangnya. Perempuan itu tidak hentinya memperhatikan nya dari atas sampai bawah, membuatnya merasa risih dengan tatapan curiga yang diberikannya.


"Abis ngapain kamu dari ruangan dekan?" Tanya Sisil penuh selidik. Matanya menyipit mencari hal yang mencurigakan dari gadis yang berada dihadapannya, kenapa seorang Maba bisa keluar masuk dengan bebas dari ruangan tersebut.


"A-aku lagi lihat-lihat aja kak, I-Iya lihat-lihat doang" Sahut Griz gugup.


Sisil hanya mengangguk, berpura-pura mempercayai nya, agar gadis itu tidak merasa dicurigai. Meskipun banyaknya pertanyaan yang ingin dia berikan, tetapi akan percuma juga, gadis itu tidak akan mengaku.


"Ya udah, a-aku ke tenda dulu kak, permisi" Griz berlari, membuat Sisil yang melihatnya bertambah curiga. Perempuan itu terus memperhatikan Griz sampai tidak terlihat lagi, ia bergegas sembunyi saat seseorang keluar dari ruangan tersebut.


"Apa jangan-jangan?" Sisil berpikir, apakah benar dugaannya. Tetapi jika iya, tentu tidak masalah untuknya. "Hmmm, kayaknya bakalan seru nih!" Kata Sisil setelah melihat siapa orang tersebut. Perempuan itu tersenyum licik, mulai menyusun rencana untuk berjaga-jaga jika gadis itu berbuat ulah kepadanya.


"Cih! Gak nyangka, wajahnya aja yang keliatan lugu polos ternyata suka merayu-rayu suami orang"


🌻


Pagi menjelang, Griz yang biasanya bangun pagi-pagi sekali keluar tenda terlebih dahulu untuk merasakan udara yang begitu sejuk didekat danau. Suara kicau burung dan sejuknya kabut pagi melengkapinya menikmati ketenangan air danau disana.


Gadis itu memejamkan matanya, tangan nya terentang saat angin pagi begitu dingin terasa menelisik kulitnya.


"Sejuknyaa"


Dering pada ponselnya membuat gadis itu tersenyum saat sebuah panggilan dari seseorang yang begitu dirindukannya menghubunginya. Siapa lagi memangnya, kalau bukan suaminya yang sudah dia biarkan tidur sendiri. Ah, rasanya sangat merasa berdosa sekali. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, ini juga kegiatan wajib kampus nya.


"Selamat pagi istriku sayang"


Terdengar suara berat seseorang disana, sepertinya laki-laki itu belum melakukan apapun selain masih berbaring di ranjangnya dan pasti baru membuka matanya.


"Selamat pagi juga suamiku sayang, pasti belum ngapa-ngapain deh?" Griz menebak sampai suara gumaman terdengar disana, gadis itu menggelengkan kepalanya, "Astaga sayang. Nanti kesiangan ngantor loh mas!" Imbuhnya seraya melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya yang baru menunjukan pukul 6.


"Biarin, mas kan yang punya kantornya"

__ADS_1


Iya-iya. Mentang-mentang pemilik sekaligus CEO!


"Ya jangan gitu juga mas, seharusnya mas itu mencontoh yang baik buat para pegawainya, bukan seenaknya gitu. Ayok cepetan bangun, nanti pulang dari kampus aku ke kantor"


"Beneran?" Sahut Bayu. laki-laki yang tadinya masih meringkuk dibawah selimut itu langsung beranjak dari tempat tidurnya, ketika mendengar sang istri mengatakan akan berkunjung ke kantornya.


"Iya mas sayang. Cepetan gih, nanti aku bawain makan siang kesukaan mas" Merayu terus agar suaminya semangat bekerja. Kalau tidak begitu, laki-laki itu akan ogah-ogahan berangkat kerja seperti sebelum-sebelumnya.


Ya, semenjak menikah dengan Grizelle, Bayu menjadi sangat malas jika disuruh untuk berangkat ke kantor, alasannya tentu tidak mau jauh dari istrinya. Bahkan Griz hampir setiap hari ke kantor Bayu hanya untuk menemaninya makan siang.


"Ya udah, mas mandi dulu ya. I love you my wife, muach!"


Nah 'kan?


Gadis itu tertawa mendengar suaminya yang bersemangat. Akhirnya berhasil juga menggunakan jurus andalannya, jurus yang selalu membuat suaminya langsung menurut. Entah, Griz juga tidak mengerti kenapa suaminya sangat senang jika dirinya ke kantor. Tapi yang jelas, suaminya sering berkata, "Kamu adalah penyemangat disaat hati dan pikiran berkata lelah" Hmm, bukankah itu sangat manis?


"Even I love you very much, my husband" Ucap Griz setelah mematikan telponnya.


Sebelum memasukan kembali ponselnya, Griz menatap sejenak seseorang yang menghiasi layar ponselnya.


"Dasar suami! Hmm, jadi kangen aku mas"


"Kak Rey?" Griz bingung, sejak kapan laki-laki itu ada disana, apakah dia mendengar percakapannya dengan suaminya tadi?


"Sorry! Ngagetin ya?" Kata Rey.


Sebelum Griz ada, Rey memang sudah terlebih dahulu disana. Menunggu matahari terbit yang sering Rey lakukan setiap ada kesempatan, sambil membawa kamera kesayangannya.


"E-enggak ko, cuma dikit" Tersenyum canggung.


"Sama aja dong" Sahut Rey. Ia tersenyum, membuat gadis yang berada disebelahnya juga ikut tersenyum.


"K-kak Rey sejak kapan ada disini?" Tanya Griz memastikan jika dia tidak mendengar percakapannya tadi.


"Sejak tadi, santai aja. Aku gak denger apa-apa ko. Lagian aku tadi di ujung sana" Tunjuknya pada pohon rindang yang berada dipinggir danau, membuat gadis itu menengok melihatnya.


Ternyata cukup jauh juga.


Pyuh! Syukurlah.

__ADS_1


"O-oh! hm, kakak masih mau disini?"


"Kenapa emang?"


"Apalagi emang, aku mau pergi. Risih juga kalau ada yang lihat, nanti pada salah paham lagi" Batin Griz.


"A-aku-"


"Grizelle!" Potong seseorang dengan suara lantang, sehingga keduanya sama-sama menoleh. Rey menatap datar pada laki-laki tersebut, bukankah dia adalah orang yang pernah dilihatnya saat diparkiran beberapa hari lalu.


"Abang" Kaget Griz. Gadis itu segera menghampiri Shawn dan berdiri disebelahnya.


"Lagi ngapain disini?" Tanyanya penuh selidik. Matanya memicik tajam pada laki-laki yang sedang memegang kamera ditangannya.


"Ayo pulang!" Imbuhnya tegas.


"Iya ayok, duluan ya kak" Griz cepat-cepat mengajak Shawn pergi sebelum abangnya itu bertanya yang aneh-aneh pada Rey.


Rey hanya mengangguk dengan sedikit menyunggingkan senyumnya saat Griz mulai pergi. Entah kenapa ada rasa tak suka saat laki-laki itu merangkul Griz dan Griz melakukan hal yang sama padanya.


"Ngapain Lo sama tuh laki?" Shawn bertanya setelah mereka hampir sampai ditenda, mereka berhenti sejenak sebelum pergi.


Mendengar pertanyaan Shawn, gadis itu mendongkak dengan tangan yang dilipat didepan dadanya, "Lo pikir? Adek juga kaget tiba-tiba dia ada disebelah. Padahal lagi asyik telponan sama suami!" Katanya sewot.


Shawn tertawa, menoyor kening adiknya gemas. "Awas jaga jarak! Pembinor lebih berbahaya dari covid-19!" Bukannya Shawn tidak mempercayai adiknya, namun Shawn tidak percaya dengan laki-laki tadi.


"Yakali bang. Lagian nih ya, mau mereka gimana-gimana pun, bodo amat! Bayu Aji Bagaskara still number one in my heart" Ujar Griz dengan tertawa-tawa.


"Njir alay!" Ledek Shawn jijik. Laki-laki itu kembali berjalan sehingga Griz mengejarnya.


"Hey Alexi Reviano Shawn, gue doain Lo bucin sebucin-bucinnya sama Fio"


"Kagak usah didoain dek, udah bucin Abang"


"Hahaha, ya udah tungguin di mobil ya?"


"Iya bawel, cepetan ah"


🌻

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2