I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
155


__ADS_3

Turun dari taxi, Cherry berjalan memasuki sebuah cafe yang sering ia kunjungi ketika membuat janji dengan seseorang yang akan ditemuinya hari ini. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh dan juga jalanan tidak macet seperti biasanya, cukup sepuluh menit saja ia bisa sampai dan menjejakkan kakinya disana dengan selamat. Ya, meskipun sedikit terlambat.


Setelah seorang penjaga membukakan pintu, seruan seseorang membuatnya tersenyum disertai lambaian tangan. Sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk menenteng sebuah paper bag berwarna peach, berisikan beberapa cupcakes pesanan gadis yang memanggilnya itu.


"Kakak, disini!"


Seorang gadis berambut coklat yang duduk di bangku paling pojok berdekatan dengan taman samping berteriak, membuatnya segera menghampiri.


"Kau telat!"


Gadis itu merajuk, menyilang kedua tangannya didepan dada. Bibirnya mengerucut lucu namun tidak lama setelah itu berganti dengan senyuman yang begitu manis setelah Cherry memberikan paper bag yang dibawanya tadi.


"Gila! Ini wangi sekali kak. Kalau suamiku tau, bisa bahaya tau!"


Cherry menggeleng pelan, mencubit gemas pipi yang semakin hari semakin bulat itu. Ia tau maksud ucapan dari gadis yang tengah mengandung tujuh bulan itu.


"Nanti kakak buatkan lagi, ibu hamil jangan pelit"


Gadis itu berdecak sebal seraya mengusap pipinya yang dicubit tadi. Bukannya dia pelit, tetapi kalau bersangkutan apapun dengan buah tersebut, mendadak suaminya itu akan sangat menyebalkan.


"Kalau itu harus! Buatkan aku lebih banyak lagi"


Cherry mengangguk.


"Baiklah"


"Tapi aku masih kesal, kenapa Kakak lama sekali. Aku hampir setengah jam menunggu!"


Lagi, cubitan gemas dari Cherry dapatkan, membuat gadis itu mengeluh keras. Kesal, kenapa akhir-akhir ini orang-orang lebih sering mencubit pipinya sih?! Apakah benar ucapan kedua putranya tempo lalu kalau pipinya sebesar Bakpao?


"Siapa suruh datang lebih awal, nyonya Grizelle Bagaskara. Kakak sedang ada orderan tadi. Jadi sedikit lupa, hehe" Cherry menjawab.


Memutar bola matanya malas, ia sudah menduganya sejak awal. Selalu saja begitu, kalau sudah memegang adonan kue atau berada di dapur, wanita itu akan melupakan segalanya.


"Menyebalkan sekali!"


Desisnya pelan namun masih dapat terdengar oleh Cherry. Wanita itu hanya tersenyum sebelum akhirnya meminta ijin untuk mengangkat telpon dari seseorang. Beberapa menit berlalu, Cherry kembali duduk dan mengatakan tidak bisa berlama-lama karena anaknya sudah ada dalam perjalanan pulang dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Setelah mengucapkan, "Hati-hati dijalan" kepada Grizelle, Cherry memasuki taxi yang sebelumnya ia pesan.


Tidak lama setelah itu, ponselnya kembali berdering dan Cherry yakin jika itu adalah putranya. Dan benar saja tebakannya, putranya sudah berada di rumah dan mengatakan untuknya agar cepat sampai sana.


"Sebentar lagi bunda sampai, kau ingin memesan sesuatu?" Cherry bertanya, sedikit mengernyitkan alisnya ketika mendengar suara bisik-bisik yang sedikit terdengar. Juna sedang bersama siapa, pikirnya?


"Tidak bunda, cepatlah pulang"


Cherry tersenyum, menganggukkan kepalanya meskipun tau jika putranya itu tidak akan melihatnya.


"Iya sabar anak tampan, jalanan sedikit macet. Ya sudah, bunda tutup dahulu telponnya ya? Bye sayang"


Menghembuskan nafasnya pelan, Cherry termenung menatap jalanan. Pikirannya berkelana entah kemana disaat hatinya berdebar tidak karuan. Ada perasaan aneh yang sejak pagi ia rasakan, namun Cherry berusaha tetap mengabaikan.


Apa yang harus dikhawatirkan memang? Juna bersama nenek dan kakeknya, tidak seharusnya semua itu mengusik hati dan juga pikirannya, kan? Pasti putranya itu baik-baik saja.


"Tapi kenapa rasanya aneh sekali. Ada apa ini?"


🌻


Masih berlutut dengan tatapan penuh rindu dalam balik manik hitam tersebut, cairan bening terus menetes tanpa bisa ia hentikan. Dadanya terasa sesak, begitu sakit sekali walau hanya untuknya bernafas saja.


Matanya reflek terpejam, saat merasakan jari mungil itu mengusap pipinya pelan. Sentuhan yang pernah ia rasakan saat ia belum mengetahui sebuah kebenaran, dahulu.


"Bunda benar. Selain manja, kau juga sangat cengeng!" Begini saja menangis!" Bocah tampan itu mencibir dengan manik sewarna madu yang berkilap, bibirnya mengerucut lucu.


Arjuna terkekeh pelan, menggenggam tangan mungil bocah itu dan menciumnya beberapa kali. Selain pandai berbicara, anak ini pintar sekali mengejek dirinya, persis seperti ibunya.


"Apalagi yang wanita itu katakan, huh?!"


Bocah itu menunduk, memilih memainkan kancing kemeja sang pria daripada menatap matanya.


"Menyebalkan!" Cicitnya pelan.


Arjuna terkekeh pelan. Sudah dirinya tebak, pasti wanita itu tidak akan pernah tertinggal menyebutkan dirinya itu menyebalkan, dan sekarang anaknya pun mengatakan hal yang sama.


"Lalu?"


"Sedikit gila"


"APA?!"


Juna tersenyum, menampakan deretan gigi-gigi kecilnya membuat Arjuna mencubit pipinya gemas.


"Dan juga kau sangat mencintai, kami"


Mendengar pernyataan bocah itu, Arjuna menarik tubuh mungil tersebut untuk didekapnya. Membubuhi pucuk kepala anak itu dengan ciuman kerinduan.


"Iya, dia benar. Aku sangat mencintai kalian" Ucap Arjuna setengah berbisik.


"Jangan pergi lagi" Juna membalas.


"Tidak akan, ayah tidak akan pergi lagi sayang"


Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin Arjuna tanyakan kepada putra maupun orangtuanya saat ini. Ini terlalu mengejutkan dan membingungkan untuknya. Bagaimana putranya bisa berkeliaran di perusahaan sang ayah seorang diri.


Apakah wanita yang begitu dicintainya juga sedang berada disini? Lalu untuk apa dan dimana dia sekarang? Kenapa membiarkan Juna berkeliaran seorang diri?


Sebenarnya fakta apa yang sudah Arjuna lewatkan selama pengobatannya ke luar negri? Sungguh, ini semua masih sepeti mimpi baginya, bisa bertemu dan memeluk putranya seperti ini. Takdirnya memang terlihat lucu, disaat dia mati-matian mencari keberadaan anak dan juga wanita yang begitu dicintainya dulu, sekarang malah mereka seolah menyerahkan diri untuk ditemui.


"Aku tau semua yang berada di kepala mu, tetapi, bolehkah membelikan aku susu dulu? Aku haus" Cicit Juna ragu. Manik bulatnya menatap Arjuna ragu.


"Kau pintar sekali berbicara, anak tampan. Ayo! Kita membeli susu untukmu dahulu"


Juna mengangguk antusias, matanya seketika berbinar, tangan mungilnya ia lingkarkan pada leher kokoh pria yang sedang menggendongnya itu. Membawanya masuk ke dalam cafetaria lalu membelikan beberapa kotak susu segar dan juga makanan ringan sebelum Arjuna membawanya sebagai permintaan penjelasan kepada orangtuanya.


Setelah berada didalam cafetaria tersebut, Arjuna segera menurunkan Juna dan membiarkan bocah tampan itu berlari menghampiri pelayan dan meminta susu kepada pelayanan yang berjaga.


"Turuti kemauannya" Titah Arjuna kepada pelayan tersebut. Ia memilih duduk pada salah satu bangku, memperhatikan bagaimana putranya dengan lucu meminta ini dan itu.


Kalau dilihat-lihat, putranya seperti biasa meminta ini dan itu kepada pelayan yang bahkan Arjuna sendiri tidak mengenalnya. Keduanya begitu sangat akrab, terlihat dari cara Juna memanggilnya dengan sebutan Uncle.

__ADS_1


"Uncle Jo, Juna haus. Boleh meminta susu seperti biasanya? Dan juga kue pie yang ada buah-buahan nya?"


Pria yang dipanggil uncle Jo itu membungkuk, mengusap rambut ikal bocah tampan cucu dari pemilik perusahaan itu gemas.


"Siap laksanakan tuan muda. Ada lagi?"


Pelayan yang bernama Jonathan itu bertanya, ramah.


"Itu saja, uncle. Nanti ayah yang membayarnya ya, kakek masih rapat"


Pria itu terkekeh pelan sebelum akhirnya mengangguk. Melirik sekilas anak dari pemilik perusahaan ini yang sedang duduk memperhatikan. Ah dia sampai lupa jika anak tuan Rahardian sudah kembali dan sembuh. Dan sepertinya pria berkulit Tan itu juga sudah mengetahui semuanya. Syukurlah.


"Tunggu sebentar ya, kau boleh duduk. Nanti uncle akan mengantarkan nya kesana"


Setelah memesan dan mengucapkan terimakasih pada pelayan tersebut, Juna berjalan menghampiri ayahnya. Pria itu mengangkat tubuh mungil Juna dan membiarkannya duduk nyaman dalam pangkuannya. Sambil mendengarkan putranya berceloteh, Arjuna mulai menanyakan sedikit bagaimana dia bisa berkeliaran seorang diri disini.


Dengan semangat bibir mungil itu mulai menceritakan bagaimana ia yang bosan menunggu sang kakek yang sedang rapat, lalu ia berinisiatif keluar tanpa berpamitan.


"Lain kali jangan berkeliaran sendiri ya, ayah tidak mau kamu kenapa-napa" Ucapannya dengan nada yang terdengar begitu khawatir.


Bagaimana jika ada penjahat? Bagaimana jika ada yang menculiknya? Ya meskipun perusahaan ini begitu ketat akan penjagaan nya, tetap saja kan bahaya.


"Tapi kakek sangat lama, Juna kehausan"


Kakek?


"Maksud kamu kakek Rahardian?" Tanya Arjuna dengan ragu namun mendapat anggukan menyakinkan dari putranya.


"Iya. Nenek sedang keluar, tidak tau pergi kemana"


Ya tuhan, Arjuna benar-benar sudah tertinggal begitu banyak kejadian. Apa selama itu dia sakit dan menjalani pengobatan sehingga hanya dirinya yang tidak tahu?


"Ayah ingin bertanya kepada kamu, boleh?"


Kepala mungil itu mengangguk, menatap netra legam milik sang pria yang sedang menatapnya itu.


"Bagaimana kamu dan bunda bisa kembali?"


"Kakek dan nenek menjemput kami"


Menjemput?


"Sejak kapan?"


Juna mengangkat jari telunjuknya, menyentuh dagu dengan pose berpikir. Sebenarnya Juna juga tidak terlalu ingat dengan kejadian itu, tetapi kepala kecilnya menangkap memori kalau saat itu dia sudah bisa berjalan.


"Sudah lama sekali, ayah pun masih dirawat karena sakit. Saat itu ayah diikat dan terus berteriak, Juna takut dan bunda terus menangis" Juna menjawab dengan pelan. Di usapnya setetes cairan bening yang melaju cepat dari sudut mata putranya dengan lembut. Juna kembali berkata, "Ayah jangan sakit lagi, Juna dan bunda sedih melihatnya" lalu memeluk Arjuna dan menenggelamkan wajahnya ke dalam dekapannya.


Sejenak Arjuna tertegun mendengar kalimat yang terlontar dari bibir mungil itu, kepalanya menunduk untuk menatap putranya yang sedang menangis itu.


"Maafkan ayah"


Melihat pasangan ayah dan anak itu sedang berpelukan, beberapa pelayan yang melihatnya merasa terharu. Bahkan pelayan perempuan tidak kuasa menahan tangisnya.


"Akhirnya, mereka bertemu"


"Tolong ambilkan tissue, air mataku terus saja mengalir seperti keran bocor"


"Semoga semuanya berakhir bahagia"


Setelah semua penderitaan yang di alami Arjuna maupun anak dan wanita yang bernama Cherry, mereka semua berdoa agar mereka bisa bertemu dan berakhir bahagia.


Bukan rahasia lagi tentang berita beberapa tahun lalu yang menyatakan bahwa Arjuna Alaric Rahardian mengalami gangguan kejiwaan karena ditinggalkan kekasih dan juga anaknya, bahkan beberapa kali mencoba bunuh diri dengan meminum obat melebihi dosis. Mereka mengetahui karena beritanya tersebar begitu luas, bahkan sampai masuk tv, majalah dan juga beberapa koran.


Efek dari berita tersebut sangatlah besar. Perusahaan Rahardian mengalami banyak penurunan, para petinggi secara mendadak menarik saham dan membuatnya sempat kolaps dan hampir bangkrut. Mereka secara terang-terangan menyalahkan Rahardian atas kejadian tersebut karena tau bagaimana watak keras yang dimiliki pemilik perusahaan tersebut.


Dan bermula dari sana lah Rahardian maupun Diana gencar mencari keberadaan Cherry. Dia meminta tolong kepada siapapun, mencetak Poto Cherry, di tempel di manapun dan menjanjikan sebuah uang bernilai besar bagi siapa saja yang menemukannya.


Dia juga meminta tolong kepada sahabat-sahabat Arjuna yang terkenal sangat cerdas, terutama kepada Bayu Aji Bagaskara. Namun tidak semudah itu tentunya meminta bantuan kepada pria pemilik perusahaan terbesar di Asia itu.


"Apa harus membuat Arjuna gila dulu baru om menyadari kesalahan om? Kemarin-kemarin kemana saja disaat Arjuna jelas terlihat hancurnya?!" Kalimat Bayu membuat Rahardian tertampar. Pria paruh baya itu menunduk, menyesali semua kesalahannya. "Om terlalu egois!"


Bayu tertawa sarkas, merasa muak dengan watak egois pria yang jauh lebih tua dihadapannya. Grizelle mengusap tangan suaminya, menenangkan agar tidak berlaku kurang ajar kepada mereka. Bagaimanapun mereka lebih tua darinya.


"Kalaupun mereka berhasil ditemukan, om pikir apa mereka mau kembali setelah apa yang telah om lakukan?"


Apalagi dengan ancaman nya dulu, ancaman yang membuat wanita itu terus dihantui rasa takut jika mereka akan melukai putranya.


"Pertemuan terakhir kalian saja dia ketakutan setengah mati, apalagi sekarang saat dia mengetahui bahwa kalian sudah tau jika dia tetap mempertahankan anaknya! Apa om menganggap rasa trauma seseorang itu mudah disembuhkan?! Tidak, om"


Rahardian semakin menunduk, semua kata-kata Bayu memang benar. Tetapi jika tuhan memberikan satu kesempatan untuknya agar lebih baik, Rahardian ingin sekali berubah dan yang paling utama tidak egois.


"Meskipun dia tidak akan memaafkan om, om tetap akan meminta pengampunan darinya"


Melihat kesungguhan Rahardian yang begitu menyesali perbuatannya dulu, akhirnya Bayu mengangguk dan menyetujui untuk membantu mereka menemukan keberadaan wanita itu. Lebih tepatnya Bayu melakukan ini hanya demi sahabatnya, Arjuna.


Dan sejak saat itu mereka mulai mencari, menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk melacak maupun mencari langsung ke seluruh pelosok kota maupun tempat terpencil sekalipun.


Dan setelah beberapa minggu berjuang mencari keberadaan Cherry, akhirnya mereka menemukan wanita itu dipedalaman sebuah desa yang berada di kota Bogor. Diana dan Rahardian langsung kesana untuk menjemputnya.


Awalnya Cherry ketakutan, takut jika mereka mencoba mencelakai putranya. Namun setelah Diana dan Rahardian meminta maaf sampai mereka bersimpuh, Cherry percaya kalau mereka tidak akan menyakitinya.


"Cherry sayang, pulang bersama kami ya?"


Cherry menggeleng, mendekap Juna lebih erat. Meskipun ia sudah percaya mereka telah berubah, jauh dari dalam hati Cherry, ia masih merasa ragu dan juga takut.


"Kenapa? Kami tidak akan melukaimu ataupun Juna. Percayalah, kami menyesalinya. Beri kami kesempatan untuk menebus segala kesalahan kami, Cherry."


Wanita itu tersenyum pahit, air matanya terus menetes melihat bagaimana anak dari sahabatnya menderita karena dirinya.


"Maafkan aku Katrina, aku melanggar janjiku" Batin Diana menjerit.


"Aku nyaman disini, Tante" Jawab Cherry pelan.


"Tapi Arjuna-"


"Jangan menyebut nama dia!"


Entah kenapa Cherry merasa terluka hanya mendengar namanya saja. Ia merasa terkhianati disaat dirinya mati-matian berjuang dan mempertahankan cintanya, tetapi dengan mudahnya pria itu melupakan segala tentangnya begitu saja.

__ADS_1


"Cherry, Arjuna-"


"Tidak om! sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali. Aku sudah memaafkan kalian semua dan silahkan pergi dari sini! Biarkan aku dan anakku hidup dengan tenang!"


Cherry bangkit dari duduknya, seketika air matanya menetes saat mengingat kembali bagaimana pria yang sangat dicintainya memanggil perempuan lain dengan ucapan sayang.


"Silahkan om dan Tante pergi sekarang!"


"Nak-"


"PERGI!"


"Cherry, Arjuna sakit. Dia depresi dan mencoba bunuh diri"


DEG!


Berhasil membawa Cherry kembali, Rahardian langsung mengadakan konferensi pers penting di kantornya. Dia menjelaskan memang kejadian ini adalah karena keegoisannya, tetapi dia sangat sangat menyesal. Tidak lupa, mereka mengenalkan Cherry sebagai menantu mereka dan Juna sebagai pewaris utama Rahardian group.


Bukannya mendapatkan cibiran atau apapun, mereka yang mengetahui itu begitu terluka melihat CEO perusahaan yang terkenal karena kedermawanannya menjadi seperti itu. Memangnya siapa yang tidak akan hancur jika kehilangan orang yang begitu dicintainya? Pasti mereka juga akan sama hancurnya.


"Hey berhenti bergosip dan antarkan pesanan tuan muda!" Kata pelayan yang bernama Jo kepada ketiga pelayan yang sedang memperhatikan keakraban ayah dan anak itu.


"Cih kau ini, apa kau tidak bahagia melihat mereka?"


"Siapa yang tidak bahagia, aku yang paling bahagia tentunya! Cepat antarkan sekarang, tuan muda kecil sudah kehausan"


"Iya-iya!"


🌻


"Sudah kenyang?"


Arjuna tertawa gemas melihat begitu banyak noda pada sudut bibir mungil itu. Dengan telaten pria itu mengusap, membersihkan sisa cream yang mengenai dagu dan pipinya.


"Sudah"


Arjuna mengangguk, mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongannya untuk membawanya ke atas. Namun sebelum dia membawanya pergi, Juna meminta ice cream vanilla dengan toping coklat.


"Ada lagi?"


Dalam gendongan Arjuna bocah tampan berambut ikal coklat itu menggeleng lucu, fokusnya mengarah kepada ice cream yang dipegangnya, memakannya dengan khusyuk tanpa terganggu oleh tatapan para pegawai yang menyapanya.


"Kita lihat, apakah Daddy akan terkena serangan jantung melihat cucu tersayangnya bersamaku. Kurang ajar sekali dia menyembunyikan rahasia besar selama ini! Pantas saja selama aku kembali mereka tidak pernah berada di rumah, ternyata. Awas ya kau pak tua!" Batinnya kesal.


Saat pintu lift tersebut terbuka, kebetulan sekali Rahadian berada dihadapannya dengan wajahnya yang panik, lalu berubah menjadi sebuah patung. Arjuna tersenyum miring, sambil menggendong Juna, pria itu berkata, "Kau berhutang banyak penjelasan kepadaku, dad! siapkan penjelasan untuk nanti malam, aku harus menemui ibu dari bocah ini dulu" dengan tenang. Sedangkan Rahardian sudah menegang sedari tadi.


Juna sendiri tampak acuh, atensinya tidak dapat teralihkan dari ice cream yang berada dalam genggamannya. Bocah bermata coklat itu hanya melirik sekilas sang kakek dan mengatakan, "Kakek, Juna pulang dulu ya? Bye kakek" sebelum akhirnya Arjuna kembali menutup pintu lift itu.


Rahardian memijit pelipisnya pusing, bagaimana ini? Cherry pasti akan marah karena Arjuna lebih tau lebih awal dari waktu yang ditentukannya.


"Apa harus aku menelpon Cherry?"


Benda berbentuk pipih sudah berada dalam genggamannya, namun saat memilah nomor untuk dipanggilnya, atensinya teralihkan eh seorang wanita yang baru saja datang dengan sebuah paper bag yang sudah dapat ditebak isinya apa.


"Saatnya makan siang Juna say- loh, Juna kemana?"


Diana meletakan paper bag yang dibawanya, menghampiri sang suami yang masih duduk tenang di kursi kebesarannya.


"Mas, Juna kemana?"


"Rencana kita melenceng"


Kalimat Rahardian sontak membuat Diana menaikan sebelah alisnya, heran.


"Maksudmu?"


"Arjuna sudah mengetahui semuanya. Dia, membawa Juna pergi untuk menemui Cherry"


🌻


Mobil?


Cherry yang baru turun dari taxi mengernyitkan alis nya heran. Mobil siapa itu, ia tidak mengenalnya. Apakah ada pelanggan? Tetapi ini kan jam nya makan siang, pegawainya juga pasti sedang beristirahat dibelakang.


"Masa mommy ganti mobil, sih?!"


Setelah membayar taxi yang ditumpanginya tadi, Cherry menyusun langkahnya memasuki sebuah rumah berlantai dua yang menyatu dengan toko kue dibawahnya. Ia menggeser pintu kaca, tulisan 'CLOSED' terpasang disana.


"Anin" Panggil Cherry kepada salah satu pegawainya, namun tidak ada sahutan dari gadis yang bernama Anin itu. "Ko sepi sih?!" Imbuhnya.


"Ayah curang!"


Itu suara Juna, putranya. Dengan siapa dia?


"Hey kau saja yang payah!"


DEG!


Cherry terdiam saat satu langkah kakinya ia pijakan pada anak tangga, jantungnya berdetak dengan kencang ketika mendengar suara yang sangat tidak asing oleh telinganya.


"Tidak! Ayah yang curang!"


Helaan nafas ia keluarkan perlahan untuk menetralkan debaran jantungnya yang menggila, Cherry kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang berada dilantai atas. Pikirannya begitu yakin ketika suara itu semakin jelas terdengar.


"Terima saja kekalahan kamu, Juna"


"Apakah itu, kamu?" Ucapnya pelan sebelum akhirnya mendorong pintu yang sedikit terbuka itu.


Cherry memperhatikan punggung kekar itu dengan seksama, jantungnya berpacu begitu cepat, aliran darahnya bergelombang tidak menentu. Cherry melihat dengan jelas bagaimana putranya sedang digelitiki oleh seorang pria yang-


"Ayah geli, kalau bunda tau telinga ayah bisa terlepas karena sudah menggelitiki Juna"


Seketika air matanya mendesak keluar, Cherry terdiam ditempatnya dengan perasaan tidak menentu.


"Arjuna" Panggilnya lirih.


Kedua orang yang sama-sama mempunyai nama tersebut menoleh serempak, ketiga nya sama-sama terpaku sebelum akhirnya Cherry berjalan mendekat dan-


PLAK!

__ADS_1


NT : Semoga enggak pusing ya bacanya soalnya pada nyambung sama flashback :)


HAPPY READING GUYS.


__ADS_2